Share

Bab 2: Sang Calon Nyonya

Penulis: Key Blue
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-02 14:36:16

Mata Raline sibuk menjelajahi setiap inci ruangan megah yang baru saja ia masuki. Interiornya didominasi warna hitam dan abu-abu, dengan beberapa tanaman hias yang menjadi satu-satunya penyejuk suasana.

Sangat mencerminkan kepribadian Kenzo—maskulin, dingin, dan penuh kontrol.

“Sungguh kunjungan yang tidak terduga dari calon Nyonya Muda Marthaa Grup,” ujar Kenzo santai. “Apakah ini semacam inspeksi?”

Raline memperhatikan pria itu meletakkan dua cangkir kopi panas di atas meja, lalu duduk di sofa tunggal. Tatapannya tertuju pada Raline yang masih berdiri di depan jendela bergaya Prancis.

Tak lama kemudian, Raline menyusul duduk di sofa panjang dan menyeruput sedikit kopi yang masih mengepul.

“Kau sudah bertekad sekali, ya?” tanyanya, menatap lurus pria di hadapannya.

Kenzo membalas tatapan itu dengan senyum tipis. “Apa salahnya? Kenyataannya, kau memang calon Nyonya Muda Marthaa Grup.”

********

Beberapa saat sebelumnya…

Begitu Raline memasuki gedung perusahaan, seorang resepsionis langsung menyambutnya.

“Ada yang bisa saya bantu?”

“Saya ingin bertemu Ketua Muda Marthaawan. Apakah beliau ada?” tanya Raline tenang.

Resepsionis itu mengerutkan kening, menilai penampilan Raline dari ujung kepala hingga kaki.

Dalam benaknya, wanita dengan rambut disanggul—namun berwarna pirang pelangi—itu mengenakan jas putih formal dan tas mini senada. Penampilannya mencolok, terutama rambutnya.

Pegawai baru? Tidak mungkin. Jadwal rekrutmen masih lama.

Mitra bisnis? Tidak ada janji temu hari ini.

Lalu… wanita ini mencari Presiden Muda dengan ekspresi seolah menuntut pertanggungjawaban.

Jangan-jangan—

Korban one night stand?

Dan sekarang, setelah mengetahui identitas pria yang menidurinya, ia datang menuntut status dan ingin naik tangga sosial?

Apalagi pria di belakangnya tampak seperti penjilat.

Ekspresi jijik tanpa sadar terpampang jelas di wajah sang resepsionis.

Raline tentu menangkap tatapan itu. Ia paham maksudnya, namun memilih menahan diri. Bagaimanapun, ia tidak ingin harinya rusak sejak pagi.

Dengan senyum yang dipaksakan, ia kembali bertanya, “Jadi, apakah Ketua Muda Marthaawan ada di sini? Kebetulan saya memiliki urusan dengan beliau.”

Resepsionis itu mendengus pelan, tatapannya sinis.

“Presiden Muda sebentar lagi akan mengadakan rapat penting. Bagaimana kalau saya bantu sampaikan apa yang ingin Anda utarakan?”

Cukup sudah.

Raline tidak ingin berlama-lama menghadapi perlakuan seperti ini.

“Baiklah. Tolong sampaikan pada beliau bahwa Nona Raline datang—”

“Merupakan suatu kehormatan bagiku, di pagi yang cerah ini, bisa melihat calon Nyonya Muda Marthaa Grup hadir di sini.”

Raline berbalik.

Seorang pria berjas hitam berlapis berdiri dengan aura yang begitu kuat. Kacamata hitam menutupi mata elangnya. Di belakangnya, empat pria—yang jelas merupakan asisten dan pengawal—mengikutinya dengan langkah sigap.

Kehadirannya memancarkan kewibawaan yang membuat seluruh orang di lantai dasar gedung itu spontan membungkuk hormat.

“Selamat datang, Ketua.”

Tatapan pria itu beralih pada sang resepsionis. Suaranya dingin dan angkuh.

“Lain kali jika calon Nyonya kalian datang, sambut dia dengan baik. Langsung antarkan ke ruang presiden. Jangan buat dia menunggu seperti pagi ini.”

“Ba-baik, Ketua!”

“Ma-maafkan saya, Ketua!”

“Maafkan saya, Nona—eh, Nyonya!”

Tatapan Kenzo menyapu seluruh ruangan. “Hal ini juga berlaku untuk kalian semua.”

“Baik, Ketua!”

Pandangan Kenzo lalu tertuju pada manajer Raline. “Danu, tolong jamu tamu kita dengan baik.”

“Baik, Ketua. Mari ke sebelah sini.”

Raline mengangguk pelan sebelum manajernya pergi mengikuti asisten Kenzo.

“Rapat ditunda tiga puluh menit,” ujar Kenzo singkat. “Beritahu semua pihak untuk evaluasi ulang.”

“Baik, Presiden.”

Tiga pria lainnya segera meninggalkan tempat.

Kenzo mengajak Raline memasuki lift khusus presiden. Bahkan sebelum pintu lift tertutup sempurna, Raline masih sempat melihat orang-orang di luar membungkuk hormat—termasuk sang resepsionis yang tampak gemetar.

Benar-benar seperti presiden dalam drama.

Ditakuti, disegani, dan dihormati.

Sangat berbeda dengan masa kepemimpinan ayahnya dahulu.

***********

Kembali ke saat ini…

“Karena sudah seperti ini,” ucap Raline memecah keheningan, “bagaimana kalau kau jujur saja? Apa sebenarnya motifmu di balik lamaran ini?”

Kenzo menatapnya dalam-dalam. “Motif apa? Apa aku terlihat seperti punya niat tersembunyi? Kalau kau curiga, katakan saja.”

“Bagiku, semuanya terlalu tiba-tiba,” jawab Raline jujur. “Dan lamaranmu datang tepat setelah kau putus dengan Kirana. Apa aku hanya runner-up?”

“Sudah sebulan lalu.”

“Apanya?” Raline mengernyit.

“Aku dan Kirana. Putus sebulan lalu.”

“Jadi tetap benar, kan?” suara Raline meninggi. “Kau menjadikanku pelarian. Kau tak perlu melakukan ini kalau hanya butuh pengganti, Ken.”

“Pernikahan itu perkara serius,” lanjutnya, nada suaranya semakin tajam. “Jangan menyatukan dua hal yang bertentangan!”

Sadar emosinya naik, Raline menghela napas dan mengusap dahinya.

Menjadi pelarian? Tidak.

Ia tidak akan pernah mau.

“Kau datang hanya untuk menanyakan itu?” tanya Kenzo datar. “Kupikir kau ingin membahas detail pernikahan kita.”

“Hanya?!” Raline menatapnya tak percaya. “Kau tahu apa dampaknya jika ini terjadi bersamaan?”

Satu ibu kota akan gempar.

Dan dirinya akan menjadi pusat perhatian—dengan cara yang buruk.

Raline meneguk kopi itu hingga habis, tak peduli panasnya menyengat tenggorokan.

“Dengar, Kenzo Marthaawan. Timing-mu bisa menempatkanku di posisi yang sangat buruk. Bagaimana kalau dibatalkan saja? Atau kau menikah dengan wanita lain. Aku yakin banyak yang menginginkannya.”

“Kenapa justru kau yang mengatur dengan siapa aku menikah?” Kenzo menatapnya tajam. “Bahkan orang tuaku tidak pernah melakukannya. Aku sudah memilih sejak awal, dan itu adalah kamu, Raline Hana Wijaya.”

Ia menyilangkan jemarinya.

“Soal timing, menurutku ini sudah tepat. Kita cukup umur dan cukup matang. Jika rumor menjadi masalah, aku akan bertanggung jawab penuh.”

Raline terdiam.

Namun tetap saja, ia merasa semuanya tak akan sesederhana itu.

“Tidak bisakah kita tunda?” suaranya melemah. “Setahun saja…”

“Sebulan pun akan kutolak.”

Harapannya pupus.

“Aku berangkat ke Italia besok,” ucap Raline lesu. “Lima hari.”

“Kita bisa menikah sekarang.”

“KAU GILA?!”

Kenzo tetap tenang. “Atau setelah kau pulang. Sabtu kau kembali, Minggu kita menikah.”

Tatapannya mengunci Raline.

“Kupikir kau hanya ingin menghindar. Jadi kuberi dua pilihan. Menikah sekarang di KUA, atau menikah Minggu setelah kau pulang dari Italia. Hanya itu.”

Raline gelisah.

Satu pertanyaan terus bergema di benaknya—

Apa sebenarnya yang membuat Kenzo begitu ingin menikah dengannya?

************

Sementara itu, di lantai bawah…

Partner resepsionis yang baru kembali dari kamar kecil mendengarkan cerita tentang apa yang baru saja terjadi.

Ia lalu mengambil ponselnya, mencari data tentang wanita yang disebut sebagai calon Nyonya Muda Marthaa Grup, dan menunjukkannya pada sang resepsionis yang masih pucat.

“D-dia… seorang model papan atas?” tanyanya gagap, matanya membelalak melihat deretan foto dan profil yang terpampang di layar.

“Bukan itu saja,” sahut rekannya. “Kabarnya dia juga berasal dari keluarga kelas atas. Kalau tidak salah, putri bungsu Wijaya Grup.”

“A-A-APA?!”

“T-tapi penampilannya—”

“Oleh karena itu,” potong rekannya, “jangan pernah menilai seseorang dari penampilannya. Bersyukurlah kau tidak dipecat.”

Ia tersenyum kagum.

“Nanti kalau aku bertemu dia lagi, aku ingin minta tanda tangan dan foto bersama.”

Sementara itu, sang resepsionis kembali gemetar. Tanpa sadar, ia menggigit kukunya—dilanda ketakutan sekaligus penyesalan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Come Back To Where I Should Belongs   Bab 6: The night where everything felt like it was over (1)

    “Kau terlihat sangat gugup malam ini.”“Terlihat jelas sekali, ya?” Raline tersenyum canggung, menatap pantulan dirinya dan Lula di cermin rias yang dipenuhi cahaya temaram.“Apa riasannya kurang cocok untukmu?” tanya Lula lagi, nada suaranya sarat kekhawatiran.Raline segera menggeleng, nyaris tanpa berpikir. “Tidak, tidak. Ini sangat bagus. Kau selalu yang terbaik dalam hal seperti ini.”Gaun dan segala pernak-pernik yang membalut tubuhnya malam ini adalah pilihan terbaik—dipilih dengan penuh ketelitian sejak jauh hari.Semuanya edisi terbatas, keluaran brand fashion ternama yang secara khusus mengundangnya hadir di malam istimewa ini.Namun tetap saja, Raline menghela napas panjang.Mengapa justru sekarang rasa percaya dirinya terasa goyah?Mungkinkah...“Karena pria menyebalkan itu?” gumamnya pelan.Hanya dengan mengingatnya saja, senyum Raline meredup. Lula yang mendengar gumaman itu menepuk bahu Raline dengan lembut. “Apa yang kau gelisahkan ini?” ucapnya pelan. “Raline yang ku

  • Come Back To Where I Should Belongs   Bab 5: The Pieces (3)

    Embunan air dari Air Mancur Trevi menyentuh kulitnya, menghadirkan kesegaran yang seolah meniadakan terik cuaca di sekitarnya. Raline berdiri terpaku, membiarkan matanya sibuk mengagumi keindahan yang terhampar di hadapannya—sebuah pesona alam dan sejarah yang tak lelah memikat siapa pun yang memandang. Kameranya tak pernah diam. Satu demi satu momen ia abadikan, seakan takut kehilangan serpihan kenangan dari tempat seindah ini. Area air mancur itu ramai oleh pengunjung. Wajar saja, pikirnya. Dengan panorama seperti ini, siapa pun pasti tergoda untuk berhenti lebih lama, sekadar menatap, atau berharap waktu berjalan lebih lambat. Sayangnya, ini hanyalah perjalanan dinas. Jika bukan karena pekerjaan, ia pasti sudah mengajak kedua orang tuanya dan kakaknya. Namun kakaknya kini tenggelam dalam kesibukan yang tak berkesudahan—pengangkatannya sebagai presiden baru saja terjadi, dan tanggung jawab itu menuntut seluruh waktunya. Orang tuanya? Raline terkekeh kecil. Kedua orang tuanya

  • Come Back To Where I Should Belongs   Bab 4: The Pieces (2)

    Pagi itu datang dengan udara yang masih dingin dan cahaya matahari yang belum sepenuhnya berani menembus langit. Danu sudah tiba lebih dulu di rumah Kenzo, berdiri tenang seolah tak ingin mengganggu ritme pagi yang masih pelan berjalan. Kedatangannya yang terbilang terlalu pagi membuat kedua orang tua Kenzo menawarinya sarapan bersama. Danu menolak dengan halus—perutnya sudah terisi, meski hanya oleh sebungkus roti dan sebotol susu jahe hangat yang diminumnya tergesa di pagi buta.Sekitar sepuluh menit kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah dalam rumah. Kenzo muncul sambil menyeret koper kecil, tas kerjanya tersampir di lengan kiri. Ia sempat melirik jam tangan di pergelangan tangannya, lalu mempercepat langkah. Menghampiri kedua orang tuanya yang masih duduk menikmati sarapan, Kenzo berpamitan singkat sebelum pagi benar-benar meninggalkan rumah.“Apakah kita akan langsung ke bandara, Ketua?” tanya Danu sekali lagi, sekadar memastikan. Tatapannya sempat melirik ke arah pria

  • Come Back To Where I Should Belongs   Bab 3: The Pieces (1)

    Ketukan di pintu kamar membuyarkan konsentrasi Raline. Ia sedang sibuk merapikan pakaian dan perlengkapan yang akan dibawanya untuk perjalanan dinas ke Roma. Begitu tahu siapa yang datang, Raline segera mempersilakan masuk.Rayyan—kakak satu-satunya Raline, sekaligus putra dan pewaris Wijaya Grup—membuka pintu dan melangkah masuk. Pandangannya langsung tertuju pada koper terbuka dan pakaian yang tersebar di atas ranjang.“Maaf, Kak. Kamarku sedang berantakan,” ucap Raline sambil terus melipat baju.“Memang sangat berantakan,” balas Rayyan sambil tertawa kecil. “Jadi, besok berangkat ke Italia?”Raline mengangguk singkat.“Butuh bantuan?” tanya Rayyan.“Tidak, kok. Sudah hampir selesai. Kakak duduk saja.”Rayyan pun duduk di kursi meja rias, memperhatikan adiknya yang masih sibuk dengan koper.“Bagaimana?” tanyanya kemudian. “Kau sudah bertemu Kenzo?”Gerakan tangan Raline terhenti sejenak. Namun ia kembali melanjutkan pekerjaannya, seolah tak ingin terlalu memikirkannya.“Sudah.”Nada

  • Come Back To Where I Should Belongs   Bab 2: Sang Calon Nyonya

    Mata Raline sibuk menjelajahi setiap inci ruangan megah yang baru saja ia masuki. Interiornya didominasi warna hitam dan abu-abu, dengan beberapa tanaman hias yang menjadi satu-satunya penyejuk suasana.Sangat mencerminkan kepribadian Kenzo—maskulin, dingin, dan penuh kontrol.“Sungguh kunjungan yang tidak terduga dari calon Nyonya Muda Marthaa Grup,” ujar Kenzo santai. “Apakah ini semacam inspeksi?”Raline memperhatikan pria itu meletakkan dua cangkir kopi panas di atas meja, lalu duduk di sofa tunggal. Tatapannya tertuju pada Raline yang masih berdiri di depan jendela bergaya Prancis.Tak lama kemudian, Raline menyusul duduk di sofa panjang dan menyeruput sedikit kopi yang masih mengepul.“Kau sudah bertekad sekali, ya?” tanyanya, menatap lurus pria di hadapannya.Kenzo membalas tatapan itu dengan senyum tipis. “Apa salahnya? Kenyataannya, kau memang calon Nyonya Muda Marthaa Grup.”********Beberapa saat sebelumnya…Begitu Raline memasuki gedung perusahaan, seorang resepsionis lang

  • Come Back To Where I Should Belongs   Bab 1: Fantastic Reuni

    “A-Apa?!”Raline sontak bangkit dari duduknya. Matanya membelalak, napasnya tercekat saat menatap sosok laki-laki berambut hitam klimis yang berdiri tenang di hadapannya. Setelan hitam formal yang dikenakannya membuat pria itu tampak rapi dan berwibawa, sangat kontras dengan keguncangan yang kini melanda hati Raline.Bagaimana mungkin?Lelaki yang sudah lebih dari sepuluh tahun tak pernah ia temui—lelaki yang dulu diam-diam pernah menjadi tambatan hatinya—kini hadir kembali dalam hidupnya. Bukan sendiri, melainkan bersama kedua orang tuanya. Dan bukan sekadar untuk bersilaturahmi, melainkan membawa sebuah proposal resmi.Lamaran pernikahan.Sebuah reuni yang terlalu fantastis… sekaligus mencengangkan.“Om, Tante… ini pasti bercanda, kan?” suara Raline terdengar rapuh, nyaris tak yakin dengan kata-katanya sendiri.“Lamaran pernikahan,” potong pria itu datar, “apakah itu bisa dijadikan bahan bercandaan?”Raline terdiam. Kata-kata itu menghantamnya telak, membuat lidahnya kelu. Namun kej

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status