Share

Bab 3: The Pieces (1)

Author: Key Blue
last update Last Updated: 2026-02-02 14:38:32

Ketukan di pintu kamar membuyarkan konsentrasi Raline. Ia sedang sibuk merapikan pakaian dan perlengkapan yang akan dibawanya untuk perjalanan dinas ke Roma. Begitu tahu siapa yang datang, Raline segera mempersilakan masuk.

Rayyan—kakak satu-satunya Raline, sekaligus putra dan pewaris Wijaya Grup—membuka pintu dan melangkah masuk. Pandangannya langsung tertuju pada koper terbuka dan pakaian yang tersebar di atas ranjang.

“Maaf, Kak. Kamarku sedang berantakan,” ucap Raline sambil terus melipat baju.

“Memang sangat berantakan,” balas Rayyan sambil tertawa kecil. “Jadi, besok berangkat ke Italia?”

Raline mengangguk singkat.

“Butuh bantuan?” tanya Rayyan.

“Tidak, kok. Sudah hampir selesai. Kakak duduk saja.”

Rayyan pun duduk di kursi meja rias, memperhatikan adiknya yang masih sibuk dengan koper.

“Bagaimana?” tanyanya kemudian. “Kau sudah bertemu Kenzo?”

Gerakan tangan Raline terhenti sejenak. Namun ia kembali melanjutkan pekerjaannya, seolah tak ingin terlalu memikirkannya.

“Sudah.”

Nada suaranya terdengar datar, tapi Rayyan menangkap perubahan kecil pada ekspresinya.

“Dari wajahmu, sepertinya tidak berjalan terlalu baik.”

Raline menarik napas pelan, lalu menoleh ke arah kakaknya. “Kak, tolong jujur. Sebenarnya Kakak, Ayah, dan Ibu… sudah tahu, kan?”

“Tahu soal apa?” Rayyan pura-pura bertanya.

“Lamaran pernikahan,” jawab Raline serius. “Sebenarnya sejak kapan?”

Rayyan terdiam sejenak, seolah sedang menimbang-nimbang.

“Sekitar tiga bulan lalu,” ujarnya akhirnya. “Kenzo datang ke rumah dan menyampaikan niatnya kepada kami. Saat itu kamu sedang sibuk pemotretan.”

Raline membeku.

“Tiga bulan lalu?” ulangnya pelan. Itu bahkan sebelum Kenzo putus dengan Kirana.

“Kenapa aku tidak diberi tahu, Kak?” tanyanya, tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

“Itu permintaan Kenzo sendiri,” jelas Rayyan. “Awalnya kami tidak setuju. Kakak tahu dia masih punya kekasih waktu itu. Tapi dia bilang hubungannya sudah berakhir dan dia mantap menikah denganmu.”

Rayyan tersenyum tipis. “Dia sangat gigih.”

“Gigih?” Raline mengernyit. Seorang Kenzo Marthaawan?

“Kenapa? Dia bersikap sok keren? Berlagak seperti raja?” goda Rayyan.

Raline hampir tersenyum. Bisa dibilang begitu, batinnya, tapi ia memilih diam.

“Aku hanya terkejut mendengar kata ‘gigih’,” ujarnya akhirnya.

“Kakak juga,” Rayyan mengangguk. “Aku tahu betul dia sangat mencintai kekasihnya dulu. Jadi saat dia bilang semuanya sudah berakhir, rasanya aneh. Tapi melihat caranya memperjuangkan ini… entah kenapa Kakak yakin, meski tetap menyebalkan.”

Raline kembali terdiam. Kepalanya dipenuhi pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban.

Semuanya terasa aneh. Membingungkan.

Rayyan mengusap lembut kepala adiknya. “Setidaknya Kakak tenang kalau kamu bersamanya.”

Ia tersenyum tulus. “Kakak bahkan senang dengan pernikahan ini. Dengan menjadi istri Kenzo, kamu resmi menyandang status Nyonya Marthaa Grup.”

“Itu masa depan yang melegakan bagi kami,” lanjutnya. “Terutama untuk Kakak.”

“Tapi, Kak,” Raline menatapnya, “kita tidak pernah mempermasalahkan status.”

“Memang,” sahut Rayyan. “Tapi Kakak bahagia melihat kamu tetap bisa berdiri sendiri, meski sekarang posisimu jelas. Kamu selalu menolak terlibat langsung di perusahaan dan memilih berkarier sendiri.”

Rayyan terdiam sejenak. Ia selalu merasa sedikit bersalah pada adiknya—yang tak pernah ingin bersaing, bahkan menolak urusan hak waris, terutama soal perusahaan. Raline memilih jalan hidupnya sendiri sejak muda.

Meski begitu, Rayyan tetap memastikan adiknya memiliki bagian, setidaknya dalam bentuk saham.

Bagi Raline sendiri, semua itu tak pernah menjadi masalah. Dalam pikirannya, Rayyan-lah yang paling pantas meneruskan perusahaan ayah mereka.

Namun satu pertanyaan kembali mengusik benaknya.

“Jadi… apakah pernikahan ini ada hubungannya dengan bisnis?” tanyanya hati-hati. “Apakah keluarga benar-benar membutuhkannya?”

“Tidak,” jawab Rayyan cepat. “Perusahaan kami akan tetap bermitra, ada atau tidak ada pernikahan ini.”

Ia menatap Raline serius. “Ini murni keinginan Kenzo. Dan kamu tidak dipaksa. Kalau kamu tidak mau, kami tidak akan memaksamu.”

Raline mengangguk pelan. Ia lega—meski jauh di lubuk hati, ia tahu Kenzo sudah sedikit memaksakan kehendaknya.

“Ya… aku masih mempertimbangkannya,” ujarnya jujur.

Rayyan tersenyum. “Kakak mungkin tidak pantas bilang ini, mengingat pernikahan kalian mungkin tinggal seminggu lagi. Tapi menurut Kakak, Kenzo bukan pria yang sulit diajak bicara.”

“Cobalah terus berkomunikasi dengannya. Kakak selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian.”

Raline mengangguk. Semoga semuanya benar-benar bisa berjalan lancar.

“Tapi, Kak—”

Rayyan langsung mengerti. “Jangan berpikir yang tidak-tidak. Soal tradisi lama tentang melangkahi kakak, Kakak tidak ingin kamu memikirkannya. Fokus saja pada kebahagiaanmu. Kalau kamu bahagia, Kakak, Ayah, dan Ibu juga akan bahagia.”

Air mata Raline menitik. Ia memeluk Rayyan erat, dibalas dengan usapan lembut di rambutnya.

“Besok Kakak ikut mengantarmu ke bandara,” kata Rayyan. “Jangan berpikir pergi sendiri dengan manajermu.”

Raline mengangguk di dalam pelukan.

“Kapan Ayah dan Ibu pulang?” tanyanya kemudian.

Rayyan terkekeh. “Entahlah. Mereka terlalu menikmati Venesia. Kakak bahkan tidak akan terkejut kalau nanti pulang-pulang membawa hadiah… adik baru.”

“Apa kita akan punya adik lagi?” Raline tertawa. “Di usia kita yang sudah sebesar ini?”

Keduanya tertawa bersama.

********

"Sì, è proprio così, signore, ci sposeremo presto."

(Benar, ini adalah calon istri saya)

Tubuh Raline mendadak kaku saat Kenzo dengan tiba-tiba merangkul pinggangnya.

Tunggu, bagaimana bisa menjadi seperti ini?.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Come Back To Where I Should Belongs   Bab 6: The night where everything felt like it was over (1)

    “Kau terlihat sangat gugup malam ini.”“Terlihat jelas sekali, ya?” Raline tersenyum canggung, menatap pantulan dirinya dan Lula di cermin rias yang dipenuhi cahaya temaram.“Apa riasannya kurang cocok untukmu?” tanya Lula lagi, nada suaranya sarat kekhawatiran.Raline segera menggeleng, nyaris tanpa berpikir. “Tidak, tidak. Ini sangat bagus. Kau selalu yang terbaik dalam hal seperti ini.”Gaun dan segala pernak-pernik yang membalut tubuhnya malam ini adalah pilihan terbaik—dipilih dengan penuh ketelitian sejak jauh hari.Semuanya edisi terbatas, keluaran brand fashion ternama yang secara khusus mengundangnya hadir di malam istimewa ini.Namun tetap saja, Raline menghela napas panjang.Mengapa justru sekarang rasa percaya dirinya terasa goyah?Mungkinkah...“Karena pria menyebalkan itu?” gumamnya pelan.Hanya dengan mengingatnya saja, senyum Raline meredup. Lula yang mendengar gumaman itu menepuk bahu Raline dengan lembut. “Apa yang kau gelisahkan ini?” ucapnya pelan. “Raline yang ku

  • Come Back To Where I Should Belongs   Bab 5: The Pieces (3)

    Embunan air dari Air Mancur Trevi menyentuh kulitnya, menghadirkan kesegaran yang seolah meniadakan terik cuaca di sekitarnya. Raline berdiri terpaku, membiarkan matanya sibuk mengagumi keindahan yang terhampar di hadapannya—sebuah pesona alam dan sejarah yang tak lelah memikat siapa pun yang memandang. Kameranya tak pernah diam. Satu demi satu momen ia abadikan, seakan takut kehilangan serpihan kenangan dari tempat seindah ini. Area air mancur itu ramai oleh pengunjung. Wajar saja, pikirnya. Dengan panorama seperti ini, siapa pun pasti tergoda untuk berhenti lebih lama, sekadar menatap, atau berharap waktu berjalan lebih lambat. Sayangnya, ini hanyalah perjalanan dinas. Jika bukan karena pekerjaan, ia pasti sudah mengajak kedua orang tuanya dan kakaknya. Namun kakaknya kini tenggelam dalam kesibukan yang tak berkesudahan—pengangkatannya sebagai presiden baru saja terjadi, dan tanggung jawab itu menuntut seluruh waktunya. Orang tuanya? Raline terkekeh kecil. Kedua orang tuanya

  • Come Back To Where I Should Belongs   Bab 4: The Pieces (2)

    Pagi itu datang dengan udara yang masih dingin dan cahaya matahari yang belum sepenuhnya berani menembus langit. Danu sudah tiba lebih dulu di rumah Kenzo, berdiri tenang seolah tak ingin mengganggu ritme pagi yang masih pelan berjalan. Kedatangannya yang terbilang terlalu pagi membuat kedua orang tua Kenzo menawarinya sarapan bersama. Danu menolak dengan halus—perutnya sudah terisi, meski hanya oleh sebungkus roti dan sebotol susu jahe hangat yang diminumnya tergesa di pagi buta.Sekitar sepuluh menit kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah dalam rumah. Kenzo muncul sambil menyeret koper kecil, tas kerjanya tersampir di lengan kiri. Ia sempat melirik jam tangan di pergelangan tangannya, lalu mempercepat langkah. Menghampiri kedua orang tuanya yang masih duduk menikmati sarapan, Kenzo berpamitan singkat sebelum pagi benar-benar meninggalkan rumah.“Apakah kita akan langsung ke bandara, Ketua?” tanya Danu sekali lagi, sekadar memastikan. Tatapannya sempat melirik ke arah pria

  • Come Back To Where I Should Belongs   Bab 3: The Pieces (1)

    Ketukan di pintu kamar membuyarkan konsentrasi Raline. Ia sedang sibuk merapikan pakaian dan perlengkapan yang akan dibawanya untuk perjalanan dinas ke Roma. Begitu tahu siapa yang datang, Raline segera mempersilakan masuk.Rayyan—kakak satu-satunya Raline, sekaligus putra dan pewaris Wijaya Grup—membuka pintu dan melangkah masuk. Pandangannya langsung tertuju pada koper terbuka dan pakaian yang tersebar di atas ranjang.“Maaf, Kak. Kamarku sedang berantakan,” ucap Raline sambil terus melipat baju.“Memang sangat berantakan,” balas Rayyan sambil tertawa kecil. “Jadi, besok berangkat ke Italia?”Raline mengangguk singkat.“Butuh bantuan?” tanya Rayyan.“Tidak, kok. Sudah hampir selesai. Kakak duduk saja.”Rayyan pun duduk di kursi meja rias, memperhatikan adiknya yang masih sibuk dengan koper.“Bagaimana?” tanyanya kemudian. “Kau sudah bertemu Kenzo?”Gerakan tangan Raline terhenti sejenak. Namun ia kembali melanjutkan pekerjaannya, seolah tak ingin terlalu memikirkannya.“Sudah.”Nada

  • Come Back To Where I Should Belongs   Bab 2: Sang Calon Nyonya

    Mata Raline sibuk menjelajahi setiap inci ruangan megah yang baru saja ia masuki. Interiornya didominasi warna hitam dan abu-abu, dengan beberapa tanaman hias yang menjadi satu-satunya penyejuk suasana.Sangat mencerminkan kepribadian Kenzo—maskulin, dingin, dan penuh kontrol.“Sungguh kunjungan yang tidak terduga dari calon Nyonya Muda Marthaa Grup,” ujar Kenzo santai. “Apakah ini semacam inspeksi?”Raline memperhatikan pria itu meletakkan dua cangkir kopi panas di atas meja, lalu duduk di sofa tunggal. Tatapannya tertuju pada Raline yang masih berdiri di depan jendela bergaya Prancis.Tak lama kemudian, Raline menyusul duduk di sofa panjang dan menyeruput sedikit kopi yang masih mengepul.“Kau sudah bertekad sekali, ya?” tanyanya, menatap lurus pria di hadapannya.Kenzo membalas tatapan itu dengan senyum tipis. “Apa salahnya? Kenyataannya, kau memang calon Nyonya Muda Marthaa Grup.”********Beberapa saat sebelumnya…Begitu Raline memasuki gedung perusahaan, seorang resepsionis lang

  • Come Back To Where I Should Belongs   Bab 1: Fantastic Reuni

    “A-Apa?!”Raline sontak bangkit dari duduknya. Matanya membelalak, napasnya tercekat saat menatap sosok laki-laki berambut hitam klimis yang berdiri tenang di hadapannya. Setelan hitam formal yang dikenakannya membuat pria itu tampak rapi dan berwibawa, sangat kontras dengan keguncangan yang kini melanda hati Raline.Bagaimana mungkin?Lelaki yang sudah lebih dari sepuluh tahun tak pernah ia temui—lelaki yang dulu diam-diam pernah menjadi tambatan hatinya—kini hadir kembali dalam hidupnya. Bukan sendiri, melainkan bersama kedua orang tuanya. Dan bukan sekadar untuk bersilaturahmi, melainkan membawa sebuah proposal resmi.Lamaran pernikahan.Sebuah reuni yang terlalu fantastis… sekaligus mencengangkan.“Om, Tante… ini pasti bercanda, kan?” suara Raline terdengar rapuh, nyaris tak yakin dengan kata-katanya sendiri.“Lamaran pernikahan,” potong pria itu datar, “apakah itu bisa dijadikan bahan bercandaan?”Raline terdiam. Kata-kata itu menghantamnya telak, membuat lidahnya kelu. Namun kej

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status