Beranda / Romansa / Come Back To Where I Should Belongs / Bab 6: The night where everything felt like it was over (1)

Share

Bab 6: The night where everything felt like it was over (1)

Penulis: Key Blue
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-02 15:02:41

“Kau terlihat sangat gugup malam ini.”

“Terlihat jelas sekali, ya?” Raline tersenyum canggung, menatap pantulan dirinya dan Lula di cermin rias yang dipenuhi cahaya temaram.

“Apa riasannya kurang cocok untukmu?” tanya Lula lagi, nada suaranya sarat kekhawatiran.

Raline segera menggeleng, nyaris tanpa berpikir. “Tidak, tidak. Ini sangat bagus. Kau selalu yang terbaik dalam hal seperti ini.”

Gaun dan segala pernak-pernik yang membalut tubuhnya malam ini adalah pilihan terbaik—dipilih dengan penuh ketelitian sejak jauh hari.

Semuanya edisi terbatas, keluaran brand fashion ternama yang secara khusus mengundangnya hadir di malam istimewa ini.

Namun tetap saja, Raline menghela napas panjang.

Mengapa justru sekarang rasa percaya dirinya terasa goyah?

Mungkinkah...

“Karena pria menyebalkan itu?” gumamnya pelan.

Hanya dengan mengingatnya saja, senyum Raline meredup.

Lula yang mendengar gumaman itu menepuk bahu Raline dengan lembut. “Apa yang kau gelisahkan ini?” ucapnya pelan. “Raline yang kukenal adalah Raline dengan aura yang selalu bersinar. Dan malam ini, kau terlihat amat sangat menawan.”

Memang benar.

Gaun hitam berhias kristal itu memeluk tubuhnya dengan anggun, memantulkan cahaya di setiap gerakan. Semua detail—perhiasan, riasan, hingga tatanan rambut—menyatu sempurna. Sebelumnya, Raline yakin, ia akan melangkah dengan penuh percaya diri.

Hingga Kenzo kembali hadir dalam hidupnya.

Hingga pria itu berdiri di hadapannya—lengkap dengan ajakan untuk menjadi partner di acara malam ini.

Entah mengapa, setiap kali bersanding dengannya, selalu ada sekelebat rasa rendah diri yang menyusup diam-diam.

“Kau adalah calon Nyonya Marthaa Group,” lanjut Lula lembut. “Kau harus terbiasa dengan segala hal tentang calon suamimu, dalam segala sisi. Dan semua itu bisa dimulai dari sekarang.”

Raline mengusap tangan Lula perlahan. Wanita itu seolah benar-benar memahami kegundahan hatinya. Senyum canggung kembali menghiasi bibirnya. Apa yang dikatakan Lula memang kenyataan yang tak bisa ia hindari.

Meski tetap saja… perasaan itu masih ada.

“Baiklah.” Raline bangkit dari kursi rias, ekspresinya pasrah namun berusaha tegar. “Aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Penampilan ini adalah pilihan terbaik yang kita rancang jauh-jauh hari—bahkan sebelum aku bertemu kembali dengannya.”

“Setidaknya aku tidak akan mempermalukannya,” gumamnya. “Atau membuatnya merasa malu berjalan di sampingku nanti.”

Ia berhenti sejenak, lalu mendengus pelan.

“Dan kalaupun dia merasa malu, itu sepenuhnya salahnya sendiri. Mengapa harus mengajakku sebagai partner malam ini?”

Lula menggeleng sambil tersenyum lebar, menahan tawa melihat betapa cerewetnya Raline saat ini.

Ekspresinya begitu menggemaskan.

Seorang Raline—model papan atas, putri bungsu Wijaya Group—masih saja merasa kecil ketika berdiri sejajar dengan pria yang memiliki kedudukan setara dengannya.

Entah terbuat dari apa hati wanita itu sebenarnya.

.......,

Raline tak pernah menyangka bahwa begitu langkahnya keluar dari kamar hotel, sosok Kenzo sudah menantinya di sana.

Pria itu berdiri bersandar pada dinding putih yang menjulang gagah, mengenakan jas rapi yang dibalut blazer panjang hitam. Penampilannya begitu mencolok—bukan karena ia seorang model atau selebritas, melainkan karena aura yang ia bawa. Sebuah wibawa alami yang membuat siapa pun menoleh, bahkan tanpa sadar.

Saat mata mereka bertemu, Kenzo segera melangkah mendekat dengan senyum menawan yang terukir sempurna di wajahnya. Dan entah mengapa, senyum itu berhasil membuat jantung Raline berdetak lebih cepat dari seharusnya.

Begitu tiba di hadapannya, Kenzo mengulurkan tangan. Sebuah isyarat sederhana, namun sarat makna. Raline menyambutnya, membiarkan jemarinya terjalin dengan jemari pria itu.

Mereka memasuki aula perjamuan berdampingan—tangan Raline melingkari lengan Kenzo yang terasa begitu kokoh, seolah memberi rasa aman yang tak ia sadari ia butuhkan. Senyum keduanya menghiasi wajah, sempurna di mata para tamu yang memandang.

‘Sadarkah kalian betapa serasinya kalian?’ batin Lula tersenyum, menatap punggung dua insan itu. ‘Mungkin beginilah maksudnya, jodoh memang selalu memiliki kemiripan.’

Lula dan Ganesh berjalan satu langkah di belakang mereka, ditemani asisten pribadi presiden muda itu—yang entah sejak kapan sudah bergabung tanpa banyak kata.

Tanpa banyak basa-basi, mereka diarahkan menuju kursi reservasi khusus. Padahal, Raline sendiri memiliki tempat duduk tersendiri sebagai tamu undangan. Namun entah bagaimana caranya, Kenzo berhasil membuat pengarah acara mengalah, membiarkan Raline duduk tepat di sebelahnya.

Pasti ada kekuatan uang di balik itu, pikir Raline singkat.

Acara dimulai dengan Fashion Show—atau lebih tepatnya runway show—yang berlangsung tak lebih dari satu setengah jam. Disusul Collection Show, lalu Trunk Show, hingga akhirnya mereka tiba di sesi terakhir: Cocktail Reception.

Sebenarnya, Raline tak berniat menghadiri sesi ini. Ia, Lula, dan Ganesh sudah merencanakan kunjungan ke Colosseum keesokan harinya. Namun apa daya, malam ini ia seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap urusan Kenzo—urusan yang baginya terasa membosankan.

Ia menatap sekeliling. Kalangan atas dengan segala arogansinya. Senyum-senyum palsu. Percakapan yang sarat kepentingan.

Raline berasumsi bahwa kehadiran Kenzo malam ini bukan sekadar sebagai tamu kehormatan. Ia datang untuk membangun koneksi—jejaring bisnis dengan para pengusaha yang hadir dalam peluncuran brand ini.

Naluri uang. Insting pengusaha. Bukankah itu fondasi utama dunia mereka?

Pemandangan seperti ini sebenarnya bukan hal asing baginya. Hanya saja, sejak lama ia menjauh dari dunia tersebut, memilih menenggelamkan diri pada kehidupan yang berbeda. Maka kini, suasana ini terasa ganjil—seolah ia kembali memasuki dunia lama yang sempat ia tinggalkan.

Mungkin, cepat atau lambat, ia harus kembali melatih kemampuan berbincang soal bisnis. Termasuk senyum kapitalis yang dulu begitu ia kuasai.

Semua itu semata karena satu hal: kelak, ia akan memikul peran sebagai Nyonya Muda Marthaa Group.

“Sì, è la mia futura moglie, ci sposeremo presto.”

(Benar, ini adalah calon istri saya. Kami akan menikah dalam waktu dekat.)

“Ohhoho, davvero? Abbiamo la possibilità di partecipare?”

(Benarkah? Apakah kami berkesempatan menghadirinya?)

“Naturalmente sarebbe un onore per noi se tu venissi.”

(Tentu. Akan menjadi kehormatan bagi kami jika Anda berkenan hadir.)

Itu hanyalah satu dari sekian banyak percakapan. Raline ikut tersenyum, meski tak memahami sepenuhnya bahasa yang mereka gunakan. Ia hanya mengikuti ritme—mengamati gerak tubuh Kenzo, membaca reaksi pria itu terhadap kolega-kolega asingnya.

Saat menyadari kelelahan yang tersirat di wajah Raline, Kenzo akhirnya memilih untuk undur diri. Ia merangkul pinggang ramping wanita itu dan membawanya ke balkon, menjauh dari hiruk-pikuk ruangan.

Begitu berada di sana, Raline menghela napas panjang—seolah melepaskan beban yang sedari tadi ia tahan.

Kenzo terkekeh pelan, lalu duduk di sampingnya.

“Kau harus mulai terbiasa dengan hal-hal seperti ini,” ujarnya lembut. “Ke depannya, kau akan menjadi istriku. Nyonya Muda Marthaa Group.”

Raline menoleh. Wajahnya tampak letih, matanya menyimpan kegundahan.

“Ya… tapi tahukah kau?” suaranya bergetar. “Hal-hal seperti ini terasa seperti beban bagiku. Mengapa kau memilihku? Mengapa aku harus memikul beban seberat ini? Aku tidak ingin menjalani hidup dengan beban yang tak pernah kuminta. Tidakkah kau bisa memilih orang lain untuk menjadi istrimu?”

“Kau sepertinya mabuk,” ujar Kenzo pelan, sembari membelai wajah Raline yang putih dan halus. “Ingin tahu alasannya?”

Di bawah cahaya bulan, Raline tampak begitu menawan—rapuh, namun anggun.

“Karena hanya kau,” lanjut Kenzo, menatapnya dalam, “yang pantas memiliki semua ini. Dan yang pantas mendapatkannya.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Come Back To Where I Should Belongs   Bab 6: The night where everything felt like it was over (1)

    “Kau terlihat sangat gugup malam ini.”“Terlihat jelas sekali, ya?” Raline tersenyum canggung, menatap pantulan dirinya dan Lula di cermin rias yang dipenuhi cahaya temaram.“Apa riasannya kurang cocok untukmu?” tanya Lula lagi, nada suaranya sarat kekhawatiran.Raline segera menggeleng, nyaris tanpa berpikir. “Tidak, tidak. Ini sangat bagus. Kau selalu yang terbaik dalam hal seperti ini.”Gaun dan segala pernak-pernik yang membalut tubuhnya malam ini adalah pilihan terbaik—dipilih dengan penuh ketelitian sejak jauh hari.Semuanya edisi terbatas, keluaran brand fashion ternama yang secara khusus mengundangnya hadir di malam istimewa ini.Namun tetap saja, Raline menghela napas panjang.Mengapa justru sekarang rasa percaya dirinya terasa goyah?Mungkinkah...“Karena pria menyebalkan itu?” gumamnya pelan.Hanya dengan mengingatnya saja, senyum Raline meredup. Lula yang mendengar gumaman itu menepuk bahu Raline dengan lembut. “Apa yang kau gelisahkan ini?” ucapnya pelan. “Raline yang ku

  • Come Back To Where I Should Belongs   Bab 5: The Pieces (3)

    Embunan air dari Air Mancur Trevi menyentuh kulitnya, menghadirkan kesegaran yang seolah meniadakan terik cuaca di sekitarnya. Raline berdiri terpaku, membiarkan matanya sibuk mengagumi keindahan yang terhampar di hadapannya—sebuah pesona alam dan sejarah yang tak lelah memikat siapa pun yang memandang. Kameranya tak pernah diam. Satu demi satu momen ia abadikan, seakan takut kehilangan serpihan kenangan dari tempat seindah ini. Area air mancur itu ramai oleh pengunjung. Wajar saja, pikirnya. Dengan panorama seperti ini, siapa pun pasti tergoda untuk berhenti lebih lama, sekadar menatap, atau berharap waktu berjalan lebih lambat. Sayangnya, ini hanyalah perjalanan dinas. Jika bukan karena pekerjaan, ia pasti sudah mengajak kedua orang tuanya dan kakaknya. Namun kakaknya kini tenggelam dalam kesibukan yang tak berkesudahan—pengangkatannya sebagai presiden baru saja terjadi, dan tanggung jawab itu menuntut seluruh waktunya. Orang tuanya? Raline terkekeh kecil. Kedua orang tuanya

  • Come Back To Where I Should Belongs   Bab 4: The Pieces (2)

    Pagi itu datang dengan udara yang masih dingin dan cahaya matahari yang belum sepenuhnya berani menembus langit. Danu sudah tiba lebih dulu di rumah Kenzo, berdiri tenang seolah tak ingin mengganggu ritme pagi yang masih pelan berjalan. Kedatangannya yang terbilang terlalu pagi membuat kedua orang tua Kenzo menawarinya sarapan bersama. Danu menolak dengan halus—perutnya sudah terisi, meski hanya oleh sebungkus roti dan sebotol susu jahe hangat yang diminumnya tergesa di pagi buta.Sekitar sepuluh menit kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah dalam rumah. Kenzo muncul sambil menyeret koper kecil, tas kerjanya tersampir di lengan kiri. Ia sempat melirik jam tangan di pergelangan tangannya, lalu mempercepat langkah. Menghampiri kedua orang tuanya yang masih duduk menikmati sarapan, Kenzo berpamitan singkat sebelum pagi benar-benar meninggalkan rumah.“Apakah kita akan langsung ke bandara, Ketua?” tanya Danu sekali lagi, sekadar memastikan. Tatapannya sempat melirik ke arah pria

  • Come Back To Where I Should Belongs   Bab 3: The Pieces (1)

    Ketukan di pintu kamar membuyarkan konsentrasi Raline. Ia sedang sibuk merapikan pakaian dan perlengkapan yang akan dibawanya untuk perjalanan dinas ke Roma. Begitu tahu siapa yang datang, Raline segera mempersilakan masuk.Rayyan—kakak satu-satunya Raline, sekaligus putra dan pewaris Wijaya Grup—membuka pintu dan melangkah masuk. Pandangannya langsung tertuju pada koper terbuka dan pakaian yang tersebar di atas ranjang.“Maaf, Kak. Kamarku sedang berantakan,” ucap Raline sambil terus melipat baju.“Memang sangat berantakan,” balas Rayyan sambil tertawa kecil. “Jadi, besok berangkat ke Italia?”Raline mengangguk singkat.“Butuh bantuan?” tanya Rayyan.“Tidak, kok. Sudah hampir selesai. Kakak duduk saja.”Rayyan pun duduk di kursi meja rias, memperhatikan adiknya yang masih sibuk dengan koper.“Bagaimana?” tanyanya kemudian. “Kau sudah bertemu Kenzo?”Gerakan tangan Raline terhenti sejenak. Namun ia kembali melanjutkan pekerjaannya, seolah tak ingin terlalu memikirkannya.“Sudah.”Nada

  • Come Back To Where I Should Belongs   Bab 2: Sang Calon Nyonya

    Mata Raline sibuk menjelajahi setiap inci ruangan megah yang baru saja ia masuki. Interiornya didominasi warna hitam dan abu-abu, dengan beberapa tanaman hias yang menjadi satu-satunya penyejuk suasana.Sangat mencerminkan kepribadian Kenzo—maskulin, dingin, dan penuh kontrol.“Sungguh kunjungan yang tidak terduga dari calon Nyonya Muda Marthaa Grup,” ujar Kenzo santai. “Apakah ini semacam inspeksi?”Raline memperhatikan pria itu meletakkan dua cangkir kopi panas di atas meja, lalu duduk di sofa tunggal. Tatapannya tertuju pada Raline yang masih berdiri di depan jendela bergaya Prancis.Tak lama kemudian, Raline menyusul duduk di sofa panjang dan menyeruput sedikit kopi yang masih mengepul.“Kau sudah bertekad sekali, ya?” tanyanya, menatap lurus pria di hadapannya.Kenzo membalas tatapan itu dengan senyum tipis. “Apa salahnya? Kenyataannya, kau memang calon Nyonya Muda Marthaa Grup.”********Beberapa saat sebelumnya…Begitu Raline memasuki gedung perusahaan, seorang resepsionis lang

  • Come Back To Where I Should Belongs   Bab 1: Fantastic Reuni

    “A-Apa?!”Raline sontak bangkit dari duduknya. Matanya membelalak, napasnya tercekat saat menatap sosok laki-laki berambut hitam klimis yang berdiri tenang di hadapannya. Setelan hitam formal yang dikenakannya membuat pria itu tampak rapi dan berwibawa, sangat kontras dengan keguncangan yang kini melanda hati Raline.Bagaimana mungkin?Lelaki yang sudah lebih dari sepuluh tahun tak pernah ia temui—lelaki yang dulu diam-diam pernah menjadi tambatan hatinya—kini hadir kembali dalam hidupnya. Bukan sendiri, melainkan bersama kedua orang tuanya. Dan bukan sekadar untuk bersilaturahmi, melainkan membawa sebuah proposal resmi.Lamaran pernikahan.Sebuah reuni yang terlalu fantastis… sekaligus mencengangkan.“Om, Tante… ini pasti bercanda, kan?” suara Raline terdengar rapuh, nyaris tak yakin dengan kata-katanya sendiri.“Lamaran pernikahan,” potong pria itu datar, “apakah itu bisa dijadikan bahan bercandaan?”Raline terdiam. Kata-kata itu menghantamnya telak, membuat lidahnya kelu. Namun kej

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status