MasukClara spontan menutup mulut, menyadari tindakannya mengundang perhatian semua orang. Tapi apa boleh buat, teriakan itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Dan yang terpenting, teriakan itu berhasil menghentikan langkah Zevko. Pria itu mematung di tempatnya. Emma, Melly, John dan kedua temannya terlonjak kaget, sedangkan orang-orang yang ada di restoran itu menoleh pada mereka. "Kamu kenapa, Cla?" tanya Emma nampak syok. "Lihat tuh, orang-orang semua melihat kemari."Clara menghela napas, is berdiri dan menggeser kursinya sedikit menjauhi John. "Tidak apa-apa, Emma. Aku hanya kaget aja.""Kaget? Kaget kenapa, Cla. John kan hanya memberi kamu kado, kenapa sampe teriak begitu.""Ya kaget lah, Em. Hari ini nggak ada yang spesial, kenapa juga repot-repot memberi aku hadiah.""Mungkin John mau memberikan ucapan selamat atas pertunanganmu Cla," celetuk Melly."Apa? Kamu tunangan, Cla?" John bertanya dengan wajah menegang."Ya," jawab Clara sambil menunjukkan cincin berlian di jari manisnya
Suara Zevko merendah, sarat dengan beban yang tak terlihat. "Duniaku tidak akan semudah dan tak seindah yang kamu bayangkan di kantor ini, Cla. Menjadi pendampingku artinya kamu harus meninggalkan semua pencapaianmu di sini, meninggalkan rutinitas analis yang kamu cintai. Apa kamu tidak akan menyesal?"Clara tertegun sejenak. Ia bisa merasakan kesungguhan bercampur dengan kekhawatiran dalam pertanyaan Zevko. Namun, bagi Clara, keputusannya sudah bulat sejak ia menerima cincin itu."Zev," Clara menyentuh lengan Zevko, mencoba menenangkan kegelisahan pria itu yang terasa begitu nyata. "Aku memang mencintai karierku, tapi aku jauh lebih mencintai masa depanku bersamamu. Aku sudah menganalisis risikonya, dan kesimpulannya tetap sama: aku ingin bersamamu, ke mana pun kamu membawaku pergi."Zevko terdiam, tenggelam dalam binar mata Clara yang penuh keyakinan. Ia ingin sekali berteriak bahwa "dunia" yang dimaksudnya adalah hutan, pertempuran antar-pack, dan tradisi kuno yang mungkin akan men
Clara masih berdiri sambil memejamkan mata, namun tiba-tiba hening tak terdengar suara Zevko lagi. "Zev, apa aku sudah boleh membuka mata?"Clara mencoba bertanya, namun tetap hening tidak ada jawaban dari pria itu. Perlahan Clara membuka matanya. Ia terkejut dengan apa yang ia lihat di hadapannya.Zevko berlutut dengan satu kaki. Di satu tangannya memegang kotak cincin berbentuk hati, sedangkan di tangan lainnya memegang setangkai mawar merah."Clara Morgan. Maukah kamu menikah denganku?"Clara terkesima, dia tidak menyangka jika Zevko akan melamarnya secepat ini. Clara menutup mulutnya karena terkejut. Kedua bola matanya berkaca-kaca."Zev…" ucapnya lirih. Zevko masih menatapnya dengan tatapan lembut penuh harap. Clara mengambil mawar merah dari tangan Zevko lalu mencium harumnya bunga itu. "Iya, Zev. Tentu."Zevko tersenyum. Dia segera berdiri lalu memakaikan cincin berlian indah itu ke jari manis Clara. "Terima kasih, sayang." Dia berbisik lembut sambil mencium punggung tangan Cl
Clara terbangun saat jam weker meraung-raung di meja nakas. Ia baru tertidur menjelang fajar karena harus menyelesaikan membuat laporan. Clara menguap, masih ada sisa-sisa kantuk, namun ia merasa tubuhnya lebih ringan meskipun dia kurang tidur.Clara terkejut melihat jarum jam, dia nyaris terlambat ke kantor. Tanpa buang waktu dia segera ke kamar mandi, berganti pakaian dan bergegas ke kantor. Untunglah lalu lintas hari ini tidak terlalu padat, sehingga dia tiba di kantor dengan waktu yang tepat."Weh analis kita baru datang," sambut Emma dan Melly yang masih berdiri di koridor depan ruangan mereka."Hai, bestie, selamat pagi. Kalian belum masuk?" tanya Clara sambil tersenyum pada kedua sahabatnya itu."Kami masih menunggu dan mau memastikan analis cantik kami tidak tersesat lagi di hutan," goda Melly sambil terkekeh."Ck, apaan sih? Memang kamu mau ya aku tersesat terus di hutan?" sahut Clara sambil cemberut tapi kemudian dia tersenyum."Duh, duh. Sepertinya makin energik nih yang ba
Zevko terpaku di tempatnya, otot-otot di rahangnya mengeras sesaat. Ia seolah lupa cara bernapas. Panggilan itu—Alpha—keluar begitu murni dari bibir Clara, tanpa ada nada ketakutan, tanpa ada beban kewajiban. Hanya nada kasih sayang yang tulus. Thor, serigala di dalam dirinya, mendengking rendah, merasa bangga sekaligus tersiksa secara bersamaan."Kenapa memanggilku begitu?" suara Zevko terdengar sedikit serak. Ia menatap Clara lurus, mencoba mencari sesuatu di mata gadis itu.Clara tertawa kecil melihat reaksi kaku Zevko. Ia melangkah mendekat, lalu merapikan kerah kemeja pria itu yang sedikit berantakan akibat perjalanan jauh tadi. "Loh, kamu lupa? Di kabin kemarin kan kamu sendiri yang bilang kalau keluargamu punya panggilan khusus itu untukmu. Menurutku itu unik. Dan karena sekarang kita... yah, kita sudah begini, aku merasa aku berhak memanggilmu dengan nama kecil itu, kan? Biar terasa lebih spesial."Zevko memejamkan mata, merasakan jemari halus Clara yang menyentuh kulit lehern
Gideon maupun Zevko terdiam sesaat mendengar pertanyaan Clara. Gideon baru akan membuka mulut untuk bicara, namun Zevko langsung mendahuluinya."Cla, nanti aku yang akan menjelaskan padamu. Tadi Gideon sudah menceritakan semua. Kita harus segera kembali ke kota, banyak yang harus kita kerjakan."Zevko berkata dengan wajah serius. Ia mengingatkan kembali pada pekerjaan mereka yang sudah menunggu. Zevko menatap Clara dengan otoritas seorang atasan yang menuntut profesionalitas.Clara mengangguk. Secara tidak langsung Zevko telah menegurnya untuk mengutamakan urusan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya."Baiklah, tuan Hallow. Aku tidak akan melepas kalung ini. Karena aku juga menyukainya.""Terima kasih, Nona."Clara dan Zevko segera masuk ke dalam mobil, sedangkan Gideon mengantar mereka sampai di halaman. Lelaki itu mengiringi kepergian Clara dengan tatapan yang berat, seperti tatapan seorang ayah yang melepaskan kepergian putrinya. Berkali-kali ia menghela napas, berusaha menetralk







![Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)