ANMELDENKeesokan harinya, Zevko telah bersiap untuk menghadap ke kantor pusat. Tujuan utamanya menyusup ke perusahaan properti itu telah tercapai; Menggagalkan project besar mereka.Kini, saatnya Zevko kembali ke dunianya yang sebenarnya. Kembali ke pack, membereskan berbagai isu tak sedap yang mulai merebak di kalangan para tetua.Zevko telah mengenakan stelan jasnya dengan rapi. Ia kembali duduk di meja kerjanya, memeriksa ulang draf pengunduran dirinya. Di sampingnya, ia juga mengambil map berisi berkas pengunduran diri Clara yang sudah ditandatangani oleh gadis itu jauh-jauh hari dan disimpan dengan aman oleh Zevko.Zevko tersenyum tipis. Sesuai rencana rahasia mereka, hari ini mereka akan mengajukan pengunduran diri secara bersamaan. Ia sama sekali tidak peduli pada penilaian manusia atau pertanyaan-pertanyaan kepo dari divisi HRD mengenai alasan seorang supervisor lapangan dan analis datanya keluar pada hari yang sama. Jika mereka berani bertanya macam-macam, Zevko tinggal melempar satu
Zevko tersentak. Ia langsung berdiri dari kursi kerjanya, matanya yang berkilat keemasan memindai setiap sudut ruangan. Kantornya tertutup rapat, pendingin ruangan pun diatur pada suhu normal, tapi bulu kuduknya meremang oleh rasa dingin yang sangat familiar.Hawa dingin yang membawa aroma musim dingin dan wangi tubuh Clara. "Cla?" bisik Zevko, suaranya tercekat di tenggorokan."Zev...!"Suara itu kembali terdengar, kali ini berupa bisikan halus yang menggema langsung di dalam kepalanya lewat jalur mate bond yang sempat tersumbat. Suara Clara terdengar samar, terengah-engah, dan sarat akan perjuangan, seolah gadis itu sedang mengerahkan seluruh tenaganya di suatu tempat yang jauh.Bersamaan dengan itu, dada Zevko berdenyut seolah dihantam gelombang energi perak. Sisi serigalanya di dalam dada langsung melolong resah, mencakar ingin keluar untuk melindungi pasangannya.Zevko tahu apa yang sedang terjadi. Clara sedang menghadapi ujian dari Gideon, dan di tengah rasa terdesaknya, alam baw
Setelah kepergian utusan pack, keheningan kembali menguasai ruangan. Zevko mengendurkan dasinya dengan kasar, lalu menjatuhkan dirinya kembali ke kursi kerja."Apa kamu baik-baik saja, Zev?" tanya Alec pelan, melangkah mendekat."Para tetua sialan itu mulai melunjak karena aku terlalu lama membiarkan mereka," geram Zevko. Ia meraih ponselnya di atas meja, berniat mengirim pesan atau menelepon Clara untuk menenangkan diri—seperti yang biasa ia lakukan setelah hari yang melelahkan.Namun, dahi Zevko mendadak berkerut dalam saat menatap layar ponselnya. Aplikasi komunikasi khusus yang terhubung dengan laptop Clara di kastil tiba-tiba mati total. Indikatornya menunjukkan status Disconnect secara paksa, seolah-olah seluruh jaringan di area kastil lenyap ditelan bumi.Zevko mencoba menekan tombol panggil ulang, namun gagal. Tepat pada detik itu, dada Zevko mendadak berdenyut nyeri. Lewat jalur mate bond, ia bisa merasakan ada riak energi yang sangat dingin, pekat, dan bergejolak hebat dari
Clara memejamkan mata di tengah kegelapan dan badai yang menusuk kulitnya. Ia menolak untuk menyerah. Alih-alih meraba-raba maju menggunakan kaki, Clara merentangkan kedua tangannya ke udara, membiarkan kulitnya merasakan arah hembusan angin sihir Gideon.Saat itu, Clara merasakan ada satu titik di sebelah kirinya di mana angin terasa berputar lebih keras—seperti menabrak sebuah dinding tak kasat mata.Sambil menggertakkan gigi menahan dingin, Clara memfokuskan pikirannya. Ia memanggil kembali aliran sungai es di dalam dadanya, lalu memaksanya mengalir deras menuju telapak tangan kanannya. Detik berikutnya, tangan Clara mulai memancarkan pendaran cahaya perak keunguan yang terang, disusul lapisan es padat yang mulai membungkus jemarinya seperti sarung tangan kristal.Dengan satu teriakan tegas, Clara melangkah maju dan menghantamkan telapak tangan kanannya yang membeku itu tepat ke arah pusaran angin di sebelah kirinya.PRANGGG!Suara nyaring seperti kaca raksasa yang pecah menggema d
"Clavira!"Suara Gideon yang mendadak berat dan penuh penekanan langsung menghapus sisa senyum di wajah Clara. Ia menurunkan ponselnya, menatap sang paman yang kini berdiri tegak di dekat perapian dengan tatapan mata yang sangat tajam. Riak sihir yang melingkupi ruangan itu perlahan meremang, memancarkan aura dingin yang menuntut kepatuhan."Ada apa, Paman?" tanya Clara, mendadak merasa waswas.Gideon melangkah mendekat, tongkat kayunya mengetuk lantai batu kastil hingga memunculkan gema yang sunyi. "Pikiranmu terlalu bising. Detak jantungmu terlalu cepat. Rasa senang dan kerinduanmu pada Alpha itu... terlalu meluap-luap."Clara tertegun, refleks menyentuh dadanya sendiri. "Aku hanya baru saja selesai berbicara dengannya. Apa itu salah?""Bagi manusia biasa, itu hal yang wajar. Tapi bagi seorang pewaris darah Hallow, emosi yang tidak stabil adalah racun mematikan," ujar Gideon tanpa tedeng aling-aling. "Inti sihir es yang ada di dalam tubuhmu menuntut ketenangan mutlak. Jika hatimu te
Keesokan harinya, setelah sarapan Clara bersiap untuk meeting virtual dengan dewan direksi. Sebagai analis, dia harus mempresentasikan analisanya di hadapan mereka. Hari itu, ia meminta izin pamannya untuk menunda latihan.Clara telah bersiap dengan pakaian kerja, ia menghadap ke laptopnya. Sementara riak sihir pelindung dari Paman Gideon masih membungkus ruang tengah kastil dengan sempurna, memastikan bahwa sinyal digital yang dipancarkan dari laptop Clara terenkripsi sepenuhnya. Namun, atmosfer di dalam ruangan itu mendadak berubah tegang saat layar aplikasi rapat daringnya dipenuhi oleh belasan wajah serius dari jajaran dewan direksi perusahaan pusat.Di salah satu kotak layar, Zevko duduk dengan setelan jas formalnya, memasang ekspresi dingin yang tak tersentuh."Selamat pagi, Dewan Direksi," suara Clara terdengar tenang dan profesional saat ia memulai presentasinya. "Berdasarkan sampel tanah terakhir yang dikirim dari lokasi proyek wilayah barat, saya telah menyelesaikan analisa
"Cla, ada apa, sayang?" Zevko menepuk-nepuk pipi Clara pelan, suaranya yang berat dan serak khas bangun tidur terdengar begitu menenangkan.Clara membuka mata sepenuhnya. Jantungnya masih berdegup kencang seolah habis lari maraton. Ia langsung duduk, mengabaikan selimut yang melorot, dan memperhati
Clara membeku, tatapannya terpaku pada mata Zevko yang memendarkan gelombang yang besar, yang menghanyutkannya ke dalam gejolak yang tak bisa terbantahkan. Di dalam netra kelabu itu, Clara tidak lagi menemukan sosok sang supervisor dingin, melainkan putaran gairah yang menuntut penyerahan total.Zev
Hening. Seketika suasana di ruang kabin itu mendadak sunyi. Clara menatap Zevko, menunggu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang hampir membuatnya gila. Jantungnya berdegup keras, menunggu kenyataan apa yang sebenarnya dibalik itu semua.Di sisi lain, Zevko terdiam mendengar pertanyaan Clara. Sebe
Clara menjadi ciut mendengar geraman itu. Seketika ia teringat kembali kejadian beberapa hari lalu dimana dia nyaris tewas diterkam serigala buas. Clara memucat, tubuhnya gemetar, spontan ia merapatkan tubuhnya pada Zevko. "Tenang Cla, aku ada di sini." Zevko segera merangkul Clara untuk menenang







