LOGINNadia dan Dona masih diam.Saka melangkah maju dua tapak, memanfaatkan lebar bahunya untuk memotong seluruh celah gerak di antara kedua gadis itu.Udara pengap di dalam kamar mandi kian menghangat saat tubuh tegapnya menekan maju, memaksa Dona dan Nadia mundur merapat hingga punggung mereka membentur dinginnya dinding keramik basah.Saka sedikit mencondongkan wajahnya ke depan, menatap manik mata Dona dan Nadia secara bergantian. “Kalian pikir, Kakak cuma bisa diam waktu kalian permainkan seperti orang bodoh, hah?”Kedua tangan Saka terangkat, menumpu kuat pada dinding semen di sisi kiri dan kanan kepala mereka. Jarak di antara mereka terkikis hingga hanya tersisa sejengkal, membuat hawa panas dari dada bidang Saka langsung menyapu permukaan kulit basah kedua adik tirinya.Nadia menelan ludahnya yang mendadak terasa tercekat di kerongkongan.Namun, bukannya menunduk takut, pandangan gadis bungsu itu malah turun menatap dada bidang berotot sang kakak angkat yang kembang kempis tepat di
Saka buru-buru menarik handuk itu ke atas, lalu menahannya sekuat tenaga untuk menutupi bagian depan celana pendeknya yang masih menegang keras. Dadanya naik turun memburu, merasakan hawa dingin lantai kontras dengan gejolak panas di sekujur tubuhnya.Hening mendadak menyergap kamar mandi berukuran dua kali dua meter itu, menciptakan suasana luar biasa canggung yang membuat telinga Saka berdenging.Suara tawa tertahan tiba-tiba pecah dari balik daun pintu kayu.Nadia menutupi bibirnya dengan punggung tangan seraya terkikik geli melihat kepanikan di wajah kakak angkatnya. “Tuh kan, beneran panik! Handuknya sampai mau lepas begitu!”Dona ikut tertawa renyah sembari menyandarkan bahunya yang polos ke dinding keramik basah. “Kak Saka lucu banget kalau lagi salah tingkah begini, baru kita pamerin dikit aja langsung tegak berdiri kayak tiang bendera.”Ditertawakan dua gadis polos seperti itu, tentu Saka merasa harga dirinya sebagai seorang Jawara tercoreng.Tapi coba keluar dari godaan ini
Saka mematung di dekat bak semen, memegang selembar handuk kecil seraya merasakan hawa dingin lantai menyengat telapak kakinya.Tidak menyangka, ternyata Dona dan Nadia sudah masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu.Celana boxer hitam yang melekat di pinggangnya menjadi satu-satunya penghalang, memperlihatkan garis otot dada yang bidang serta perut berlekuk tegas peninggalan tempaan silat masa lalunya.Saka mengembuskan napas panjang sembari menatap tajam ke arah kedua adik tirinya. “Buka kuncinya sekarang, Dona, Nadia. Jangan mulai bikin gara-gara lagi di rumah, apalagi sampai maksa Kakak kayak gini!”Nadia justru tertawa kecil. “Enak aja suruh buka! Pintu ini nggak bakal kubuka sebelum urusan kita bertiga selesai di sini!”Dona menyandarkan bahunya ke kusen pintu, memasang senyuman manja yang sarat muslihat. “Kalau Kak Saka berani ngusir kita keluar atau teriak, kita berdua bakal langsung jerit sekencang-kencangnya, biar Ibu dengar dari dapur. Hayoo, Kakak gimana kalau kita te
Sementara itu, Sarah menatap cipratan air bercampur tanah basah yang mengotori bagian bawah rok span kerjanya. Mengingat situasi rumah yang baru saja kacau, ia memutuskan untuk menunda keberangkatannya beberapa menit demi menertibkan keadaan. Tangannya bergerak memutar keran hingga aliran air berhenti, lalu menggulung selang yang tergeletak di atas rerumputan.Sebagai anak tertua, Sarah segera mengambil kendali situasi seraya menatap kedua adik tirinya dengan nada tegas. “Dona, Nadia, kalian berdua masuk sekarang! Cepat ganti baju basah itu sebelum masuk angin!”“Iya, Mbak Sarah…” Dona komen dengan nada kecewa.Nadia yang berdiri di sebelahnya ikut mencebikkan bibir. Kaus basahnya menempel transparan, mempertegas gundukan buah apel 34B miliknya saat ia merapatkan kedua tangan di depan dada. “Padahal kan masih mau lihat Kak Saka beraksi…”Sarah berkacak pinggang seraya mendelik ke arah kedua adiknya. “Nggak ada alasan lagi, kalian berdua harus siap-siap ke kampus sekarang. Ayo masuk!”
Saka bergeming di tempatnya tanpa melangkah mundur sedikitpun.Pengalaman bertarung di masa lalu membuatnya mampu membaca arah lintasan pukulan lawan bahkan sebelum kepalan itu mencapai titik tengah ayunan.Bersamaan dengan luncuran angin tinju yang luput itu, tangan kiri Saka menyusup cepat dari bawah ketiak lawan, menyapu sendi siku Paijo ke arah atas. Pada detik yang sama, telapak tangan kanan Saka mencengkeram punggung tangan pria itu dengan kuncian jemari baja.Saka menolehkan tatapannya ke arah pria gimbal itu dengan sorot mata yang membekukan dan sarat ancaman pembunuhan. "Maju satu langkah lagi, sendi bahu bosmu ini akan kubuat cacat permanen!"Saka sedikit mencondongkan tubuhnya ke bawah, mendekatkan bibirnya tepat di dekat lubang telinga Paijo yang masih mengaduh merayap di atas tanah.Tekanan jemari Saka menekan titik saraf sensitif di pangkal leher preman itu, mengirimkan gelombang ngilu yang melumpuhkan sisa kekuatannya.Saat ingatan Arsaka masuk ke dalam ingatan Saka, se
Brak! Brak! Brak!“Ipah, cepat keluar! Buka pintunya! Kalau tidak, kami akan rusak pagarnya!”Ipah terlonjak kaget dari balik tirai jendela ruang tamu, menatap dua sosok bertubuh gempal yang berdiri angkuh di luar pekarangan.Rasa panik seketika menjalar meremas ulu hatinya, membayangkan rasa malu yang tak tertahankan jika para tetangga keluar rumah dan menyaksikan keributan ini. Mengingat beban utang harian yang diam-diam menjerat lehernya tanpa sepengetahuan sang suami, wanita paruh baya itu bergegas menuruni anak tangga teras seraya meremas ujung daster batiknya dengan jemari dingin.Ipah dan Sarah saling berpandangan ketakutan.“Ya ampun! Mereka benar-benar datang!” seru Ipah, lalu buru-buru keluar dengan wajah panik sebelum para preman itu merusak fasilitas rumahnya.Saka yang masih berdiri di halaman pun menoleh untuk melihat sosok yang datang.Dari balik pagar, terlihat dua pria berdiri dengan wajah sangar. Salah satunya bertubuh besar, tatapan matanya tajam, dan dagunya ditumb







