Cursed by the Moon Goddess.

Cursed by the Moon Goddess.

last updateLast Updated : 2023-08-24
By:  AngeliCompleted
Language: English
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
115Chapters
4.2Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Born with a rare and dangerous hybrid blood, Zirah was thought to be the person cursed by the goddess, and this was not going to do her any good. Zirah was the only child of the Oakwood family and was the daughter of the then Alpha. Due to greed, her mom's lover attacks her father, and snatches the throne, killing both her parents. Zirah has to suffer under the torment of this man, and it was not going to be easy. Cursed for her bloody scent, and having the power to cause doom, Zirah is despised among her peers, and taken as a slave by her abusive stepfather who always tormented and abused her… Until she gets rid of him and decides to run away. Far away into the world where no one could find her, to run from her past, Zirah ran. Almost dying, she feels a majestic aura surrounding her, and the dominance sweeps from far away to her side. She found herself in the arms of Noah, one of the greatest Alphas of the city, Zirah passed out as Noah with lust-filled eyes, wanting to possess her and have her at all costs. But then, he scents her and notices she has a bloody aura.

View More

Chapter 1

Chapter one

Terik matahari siang memantul dari kaca jendela, menembus tirai tipis yang menggantung miring. Panas itu seolah merayap masuk hingga ke ruang tamu, membuat udara di dalam terasa lebih sesak, lebih menekan.

Namun, bukan cuaca yang membuat ruangan itu terasa seperti ruangan eksekusi—melainkan tiga pasang mata yang saling menghindar, seakan percaya bahwa dengan tidak saling menatap, masalah akan mengecil dengan sendirinya.

Sabrina Watson, perempuan cantik berkulit putih, memiliki wajah bulat, duduk di kursi kayu tua yang kaki-kakinya sedikit bergoyang. Jemarinya mengetuk meja ritmis—tak sabar, tertekan, marah—namun tak satu pun dari ketiga orang di ruangan itu berani menyahut duluan.

Ibunya—Taylor Rosi—sedang terbaring di rumah sakit. Napasnya lemah, tubuhnya dipenuhi selang-selang yang membuat Sabrina ingin memaki dunia.

Dan kini, perempuan itu sedang sendirian memperjuangkan sesuatu yang seharusnya diperjuangkan seluruh keluarga.

“Kenapa kalian cuma diam saja?” suaranya pecah. Datar, tapi getir.

Tuan George Watson—ayahnya—menghela napas panjang dari sofa usang yang warnanya mulai pudar. Asap rokok terakhirnya masih menggantung di udara sebelum dia menekan puntung itu kuat-kuat di asbak, seolah kemarahan Sabrina menular pada jarinya.

“Bukan diam, tapi Kita tidak ada uang, Sabrina.” suaranya berat, pasrah. “Biaya operasinya… sangat besar.”

Sabrina mengangkat wajah, menatap ayahnya, lalu menggeser tatapannya pada dua sosok di dekat jendela.

Cloe Watson, kakak perempuannya, bersedekap dengan wajah kesal yang berusaha menutupi rasa bersalah.

Henry Watson, si sulung, berdiri memunggungi ruangan sambil pura-pura sibuk menatap halaman.

Sabrina tersenyum miring—senyum yang lebih mirip luka.

Tentu saja mereka tidak menatap balik.

Tentu saja mereka menghindar.

“Kalau saja sisa harta keluarga kita tidak dipakai untuk investasi bodong,” katanya pelan namun tajam, “kita bisa pakai uang itu buat biaya operasi Mama.”

Cloe langsung menoleh, matanya menyala seperti api kecil yang tersulut ego.

“Kamu menyalahkan kita berdua?” tanya Cloe, nadanya meninggi.

“Kuanggap iya, kalau kalian merasa,” sahut Sabrina tanpa berkedip.

Henry mendengus tajam. “Kita cuma bermaksud membantu. Beberapa kali juga investasi itu menguntungkan.”

Sabrina tertawa pelan—dan tawa itu jelas menyakitkan. “Oh, begitu? Dan sekarang ratusan juta hilang. Menurut kalian… kita harus apa?”

Diam.

Cloe membuang muka.

Henry menggeleng kecil, seperti anak kecil yang ketahuan melakukan kesalahan tapi masih mencoba membela diri dalam hati.

Sabrina mengepalkan jemarinya di atas paha.

Tak ada waktu untuk menyalahkan siapa pun.

Yang dia butuhkan sekarang adalah solusi.

“Nggak ada waktu, Pa.” Sabrina menatap ayahnya lurus-lurus. “Operasi harus dilakukan paling lambat besok.”

Keheningan lain jatuh.

Bukan hening yang penuh harapan—tapi hening orang-orang yang sedang diam karena tak punya pilihan.

Lalu…

Dering ponsel memecah udara.

Sabrina terlonjak kecil. Ia melihat layar ponsel, dan alisnya langsung berkerut.

Sebuah notif muncul.

Pengirimnya tidak memakai nomor.

Hanya satu nama.

Pasangan Hati

Sabrina meringis kecil. Biro jodoh itu—yang seminggu lalu didaftarkan oleh Amanda tanpa sepengetahuan Sabrina—kini menampakkan diri tepat di tengah kekacauan hidupnya.

Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka pesan itu.

Sabrina beranjak. Ia berlari cepat menaiki tangga kayu rumahnya menuju kamar. Tiga orang di ruang tamu saling pandang tanpa suara—entah merasa bersalah, atau pura-pura tidak peduli.

Setibanya di kamar, Sabrina menutup pintu dengan telapak tangan gemetar. Ponsel itu masih bergetar pelan, seolah memanggil-manggilnya untuk kembali melihat pesan yang ia buka tadi.

Kening Sabrina berkerut, alisnya saling bertautan. Perlahan ia mundur, pantatnya mendarat di tepi ranjang. Ia membuka ulang pesan itu, memastikan ia tidak salah membaca.

PASANGAN HATI – PEMBERITAHUAN RESMI

Dengan ini kami memberitahukan bahwa peserta atas nama: SABRINA WATSON telah memasuki tahap kecocokan virtual dan dijadwalkan untuk pertemuan perdana.

Waktu pertemuan: Minggu 24 Agustus 2025, pukul 21:00

Lokasi: Suite 1903, Hotel Margain

Di bawahnya, paragraf lain tampil seperti ancaman halus:

Perlu diingat bahwa seluruh peserta wajib mengikuti seluruh rangkaian pertemuan setelah menerima biaya awal fasilitas pencocokan. Pembatalan sepihak akan dikenakan konsekuensi berupa:

1. Pengembalian penuh biaya fasilitas senilai 45.000 USD, dibayarkan dalam 48 jam.

2. Sanksi administratif dan tuntutan pidana berdasarkan perjanjian privasi dan kontrak layanan bab 4, pasal 17.

3. Pembekuan akses layanan kesehatan premium yang telah diberikan selama masa keanggotaan awal.”

Sabrina membaca kalimat itu tiga kali. Dan tetap saja, jantungnya serasa berhenti.

45.000 USD?

Dia bahkan tidak pernah memegang uang sebanyak itu dalam hidupnya.

Dan ini semua ulah Amanda.

"Astaga! Aturan gila dari mana ini!" decaknya frustrasi, suara pecah oleh kemarahan yang menumpuk sejak pagi.

Dia menggigit bibir, lalu merengek sambil menjatuhkan diri di ranjang. Kedua kakinya menendang-nendang tak karuan seperti balita minta gendong, rambutnya berantakan di atas bantal.

"Amanda… apa yang sudah kamu lakukan padaku?" geramnya lirih, giginya mengerat kuat sampai rahangnya sakit.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
115 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status