Share

59. Membenciku

last update publish date: 2026-03-23 15:58:04

Chapter 59

Membenciku

Rumah Audrey gelap, lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada lampu teras, tidak ada musik lembut yang biasanya dibiarkan menyala seperti napas palsu agar rumah itu terasa hidup. Diego berdiri beberapa detik di depan pintu dengan rahang yang mengeras. Perasaannya sejak siang tidak karuan karena kabar penculikan Liam datang seperti pisau, dan meski anak itu sudah ditemukan, sesuatu di dadanya tidak ikut kembali ke tempatnya.

Ia mengetuk pintu beberapa kali tetapi tidak ada j
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   63. Wanita Misterius

    Chapter 63Wanita Misterius Udara di dalam gudang itu terasa berat, lembap, dan pengap serta berbau besi tua yang berkarat. Dinding-dindingnya dingin, penuh bercak kehitaman yang sulit ditebak asalnya. Tidak ada jendela dan tidak ada celah cahaya, hanya satu lampu redup yang menggantung tinggi, menyala seperti enggan, berayun pelan setiap kali angin tipis menyusup dari celah pintu besar yang selalu tertutup rapat.Beata duduk bersandar di sudut, lututnya ditarik ke dada. Tubuhnya terasa kaku, bukan hanya karena dingin, tapi karena waktu yang tidak lagi bisa ia ukur. Dua hari—atau mungkin lebih. Ia tidak tahu karena sinar matahari tidak terlihat dan tidak ada malam yang jelas, hanya jeda antara makanan yang datang dan pergi.Orang yang menangkapnya atau mungkin menyelamatkannya memberinya makan dengan layak dan ar bersih, bahkan selimut tipis yang kini melilit bahunya. Seorang pria penjaga yang berperawakan pria tinggi selalu datang tanpa suara, hanya meletakkan makanan, lalu pergi. T

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   62. Tak Lagi Sejajar

    Chapter 62Tak Lagi SejajarMalam yang sarat ketegangan berlalu digantikan pagi yang tenang, cahaya matahari menembus tirai tipis kamar, jatuh miring di lantai marmer dan dinding berwarna gading. Udara masih dingin, membawa sisa hujan semalam. Luna terbangun lebih dulu dan ia berbaring diam beberapa detik, menatap langit-langit, mendengarkan napas Luke di sampingnya yang teratur dan dalam seolah dunia masih berada di bawah kendalinya.Ia bangkit pelan, berhati-hati agar tidak membangunkan Luke. Ada sesuatu yang terasa canggung, tipis tapi nyata, seperti benang halus yang ditarik terlalu kencang. Luna tidak ingin membiarkannya membesar.Ia masuk kamar mandi, membasuh wajah dengan air dingin, menatap bayangannya sendiri di cermin. Wajah itu tampak sama, terlihat tenang dan terkendali, namun matanya menyimpan sesuatu yang lebih berat sejak semalam. Ia menarik napas panjang dan menunduk beberapa saat, namun ia terkejut saat merasakan pelukan dari belakang. "Apa yang kau pikirkan?" tanya

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   61. Cemburu

    Chapter 61CemburuLuna meninggalkan Luke di ruangan itu, pintu tertutup dengan bunyi yang tidak keras, tapi jelas disengaja. Bukan bantingan kasar, lebih seperti dorongan yang sedikit dilebihkan, seperti menandakan seseorang ingin didengar tanpa harus berteriak. Kemudian langkah kaki Luna menjauh dengan ritme berat di mana setiap pijakannya membawa beban yang ditahan.Luke tidak langsung bergerak, ia berdiri di tempatnya, satu tangan masih bertumpu di meja, menatap pintu yang sudah tertutup seolah menunggu pintu itu berubah pikiran dan terbuka kembali. Sayangnya tidak terjadi apa-apa, pintu itu tetap rapat, tidak ada pergeseran sedikit pun. Hanya keheningan yang kembali menyelimuti ruangan dan dipecah hanya oleh detak jam tua di dinding.Luke mengembuskan napas berat, ia tahu ada sesuatu yang salah, tapi tidak tahu tepatnya di mana karena pikirannya masih dipenuhi laporan, peta, dan nama-nama yang belum sepenuhnya hilang dari kepalanya. Silvana Bonnardo, kerja sama, dan sisa-sisa Nic

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   60. Garis yang Tipis

    Chapter 60Garis yang TipisLangit Sisilia siang itu kelabu, seperti abu yang hendak jatuh. Awan menggantung rendah, menekan bumi dengan kesunyian yang berat. Udara dingin menempel di kulit, membuat setiap tarikan napas terasa lebih panjang.Aami dimakamkan tanpa kemegahan. Tidak ada pidato panjang dari pastor dan musik pengantar. Hanya derit tanah basah yang disibakkan sekop dan suara angin yang menyapu pepohonan cemara di pemakaman kecil yang jauh dari kota dan keramaian seolah dunia sengaja disingkirkan agar kematian ini tidak perlu disaksikan terlalu banyak mata di pemakaman khusus milik Genevece.Luna berdiri paling depan mengenakan gaun hitam sederhana, tanpa perhiasan yang melekat di tubuhnya, dan rambutnya dibiarkan tergerai, tak diikat rapi seperti biasanya. Wajahnya pucat, matanya cekung, tapi tidak ada air mata yang jatuh. Bukan karena ia tidak berduka, justru karena dukanya terlalu padat untuk ditumpahkan.Di sampingnya, Liam digendong Luke. Anak itu terlalu kecil untuk me

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   59. Membenciku

    Chapter 59 Membenciku Rumah Audrey gelap, lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada lampu teras, tidak ada musik lembut yang biasanya dibiarkan menyala seperti napas palsu agar rumah itu terasa hidup. Diego berdiri beberapa detik di depan pintu dengan rahang yang mengeras. Perasaannya sejak siang tidak karuan karena kabar penculikan Liam datang seperti pisau, dan meski anak itu sudah ditemukan, sesuatu di dadanya tidak ikut kembali ke tempatnya. Ia mengetuk pintu beberapa kali tetapi tidak ada jawaban dan ia pun membuka pintu dengan kunci cadangan yang masih ia miliki. Bau rumah itu sama, bersih, dingin, dan rapi. Diego melangkah masuk, menutup pintu perlahan lalu berdiri di ruang tengah dengan tangan terkepal, Audrey kelihatannya tidak berada di rumah itu. Meja di ruangan itu kosong, tidak ada tas di atasnya sementara jam dinding berdetak, lambat dan menyebalkan. Diego duduk di sofa, menunggu dengan perasaan yang hampir tidak bisa dikendalikan. Orang-orang Genevece baru saja melongga

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   58. Bangun di Genangan Darah

    Chapter 58 Bangun di Genangan Darah Bangunan batu tua itu sunyi, Beata melangkah keluar dengan kaki gemetar dan sepatunya terasa berat seolah setiap langkah menariknya kembali ke dalam ruangan tempat Aami tergeletak. Bau besi masih menempel di tenggorokannya, ia menelan ludah, keras, tapi rasa itu tidak pergi. Udara malam Sisilia dingin dan lembap. Angin membawa suara serangga dan di kejauhan, ombak memukul batu. Beata memeluk tubuhnya sendiri, jaketnya tipis, tangannya masih bergetar—bukan karena dingin, tapi karena kesadaran yang datang terlambat bahwa setelah ini, tidak ada tempat pulang. Ia berjalan menjauh dari bangunan itu, menyusuri jalan tanah yang retak dan gelap. Setiap bayangan tampak hidup, setiap suara seperti langkah yang mengejarnya. Beata mempercepat langkah, napasnya memburu, pikirannya berantakan. Genevece pasti memburunya seperti memburu sisa-sisa pengikut Nicolo, ia benar-benar tidak memiliki tempat lagi di Sisilia. Tiba-tiba lampu menyala dan cahaya put

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status