Home / Romansa / DALAM DEKAPAN MAFIA / 70. Sesuatu yang Sempat Retak

Share

70. Sesuatu yang Sempat Retak

last update publish date: 2026-04-16 19:49:51

Chapter 70

Sesuatu yang Sempat Retak

Pintu ruangan itu terbuka tanpa ketukan terlebih dulu dan menghantam dinding dengan suara keras yang memecah ketenangan malam. Audrey masuk dengan langkah cepat dan tegas seolah setiap detik yang terbuang adalah penghinaan, ia tidak memberi waktu siapa pun untuk bereaksi, bahkan tidak memberi kesempatan bagi dirinya sendiri untuk menahan emosi yang sejak sore tadi mulai merayap naik ke permukaan.

Di dalam ruangan, Diego San Lorenzo berdiri di dekat meja panj
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   77. Tanpa Nama Genevece

    Chapter 77Tanpa Nama Genevece Ruangan itu dingin dan tenang, lampu putih menggantung di atas, cahayanya jatuh rata tanpa bayangan memperlihatkan setiap detail dengan jelas. Dindingnya bersih, lantainya mengilap, kursi-kursi tertata rapi seperti bagian dari ruang yang memang dirancang untuk sesuatu yang pasti, bukan sekadar kemungkinan. Di tengah ruangan itu, Audrey duduk dengan kedua tangan terborgol, tubuhnya tegak tapi jelas menahan sesuatu yang tidak lagi utuh.Kain hitam yang menutup matanya baru saja dilepas, dunia kembali dalam terang, tapi tidak membuatnya lega bahkan napasnya masih tertahan. Di depannya, beberapa langkah dari jarak yang tidak terlalu dekat tapi cukup untuk terasa, Luna berdiri.Tidak ada perubahan besar pada penampilannya yang tetap tenang, rapi, dan tetap seperti seseorang yang tidak perlu membuktikan apa pun untuk diakui. Namun, ada sesuatu yang berbeda dari caranya berdiri dan menatap. Bukan marah atau puas, tetapi lebih seperti seseorang yang akhirnya sa

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   76. Pasrah dan Lelah

    Chapter 76 Pasrah dan Lelah Langit mulai meredup ketika Draco menghentikan mobil tuanya di depan rumah kecil itu. Mesin masih menyala dengan getaran kasar seolah ikut menahan sesuatu yang tidak pernah benar-benar stabil. Ia tidak langsung turun, tangannya tetap menggenggam setir beberapa saat, dan rahangnya mengeras seperti sedang menahan keputusan yang sudah tidak bisa ditarik kembali. Ia kemudian keluar dari mobil dan mengetuk pintu, tetapi tidak terdengar langkah siapa pun dari dalam. Ia mendorong pintu kayu sederhana rumah itu dan melangkah masuk. Di dapur, Pietro mendapati Audrey berhadap-hadapan bersama Abigail. Putrinya tidak langsung menoleh. Tetapi, Abigail langsung menyambutnya dengan senyum yang dipaksakan. "Dia sedang menyalakan aku karena memberitahu keberadaannya padamu," kata Abigail dengan santai. Audrey menoleh dan tatapannya menyisakan sisa emosi dari pertengkarannya dengan Abigail tadi. "Untuk apa kau ke sini?" tanyanya dingin. Draco melirik sekilas pada

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   75. Pengkhianat

    Chapter 75Pengkhianat Di pinggiran kota yang jauh dari keramaian, rumah itu berdiri dalam kesederhanaan yang nyaris terasa asing bagi Audrey. Dindingnya kusam, lantainya dingin, dan udara di dalamnya tidak pernah benar-benar hangat. Sejak ia datang, tidak ada sambutan yang bisa disebut ramah, hanya ada toleransi tipis.Abigail memang membuka pintu untuknya, tapi tidak pernah benar-benar menerima kehadirannya. Dimulai dengan tatapan dingin, sindiran yang dibungkus dalam kalimat biasa, dan desahan panjang yang tidak pernah disembunyikan. Audrey tidak dimaki secara terang-terangan, tapi kata-kata Abigail selalu cukup tajam untuk menyentuh tepat di titik yang paling mengganggu karena ia "tiba-tiba muncul membawa masalah" membuat setiap detik di rumah itu terasa semakin sempit.Audrey berusaha menahan semuanya, bukan karena ia tidak mampu membalas, tapi karena tahu ia tidak punya pilihan lain. Ia hanya butuh tempat sementara beberapa hari, itu yang ia yakinkan pada dirinya sendiri meski

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   74. Berakhir

    Chapter 74 Berakhir Pintu tertutup kembali dengan bunyi yang pelan, namun terasa mengunci seluruh ruang. Udara yang sejak tadi sudah dingin mendadak terasa lebih berat ketika Luna melangkah masuk sepenuhnya diikuti Luke yang berdiri sedikit di belakangnya, tenang seperti bayangan yang selalu mengawasi. Matt mengambil posisi di sisi pintu, memastikan tidak ada yang keluar, tidak ada yang masuk, dan memastikan tidak ada yang mengganggu apa pun yang akan terjadi di dalam ruangan itu. Beata tidak mampu berbicara, tubuhnya kaku, bahunya sedikit terangkat tanpa ia sadari, dan napasnya pendek-pendek seolah setiap tarikan udara membutuhkan usaha lebih. Matanya berpindah dari satu wajah ke wajah lain, tapi selalu kembali pada Luna seakan hanya perempuan itu yang benar-benar menentukan segalanya. Luna melangkah mendekat dengan ritme yang sama seperti malam sebelumnya. Tenang dan tanpa emosi yang terlihat, ia berhenti pada jarak yang sama seolah posisi itu sudah ditentukan sejak awal. Tatap

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   73. Retak

    Chapter 73 Retak Sore itu terasa berat seolah udara di dalam rumah kecil itu ikut menekan dada siapa pun yang bernapas di dalamnya. Draco duduk di kursi kayu yang sudah mulai lapuk, tubuhnya sedikit membungkuk, kedua tangannya saling bertaut di depan. Di atas meja, beberapa lembar kertas berserakan-lamaran kerja yang sudah ia kirim, beberapa bahkan kembali tanpa balasan. Sudah berhari-hari dan berkali-kali ia melamar pekerjaan, tetapi tetap tidak ada panggilan. Bahkan saat ia mencoba melamar pekerjaan menjadi buruh kasar sekali pun, tidak seorang pun memberinya kesempatan. Di seberangnya, Pietro berdiri dengan wajah yang tidak bisa lagi menyembunyikan rasa muaknya. Tatapannya tajam, bukan sekadar marah, tapi juga lelah-lelah karena merasa semua yang terjadi adalah akibat dari kesalahan yang tidak bisa ia perbaiki. "Kau masih di situ?" suaranya akhirnya pecah, beratm dan penuh sindiran. "Menunggu keajaiban jatuh dari langit?" Draco tidak langsung menjawab, hanya menarik napas pel

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   72. Kehilangan Kendali Sepenuhnya

    Chapter 72Kehilangan Kendali Sepenuhnya Udara pagi masih menyisakan dingin tipis ketika langkah Diego San Lorenzo memasuki lapangan tembak privat itu. Tempatnya luas dan bersih, dengan barisan lintasan yang rapi dan target yang berdiri diam di kejauhan. Bau mesiu samar masih tertinggal di udara bercampur dengan kesunyian yang terjaga.Di ujung lintasan, Silvana Bonnardo berdiri dengan postur sempurna, satu angannya memegang pistol dengan jari telunjuk berada di pelatuk. Rambutnya terikat rapi dan menyisakan beberapa helai halus yang membingkai wajahnya. Penampilannya sederhana, tapi setiap detail terlihat mahal dan elegan tanpa harus dijelaskan.Tembakan dilepaskan, suara peluru menghantam target terdengar bersih, nyaris presisi. Silvana menurunkan senjatanya perlahan dan tidak langsung menoleh seolah ia sudah tahu siapa yang datang."Kau terlambat," ujarnya ringan, masih menghadap ke depan. Diego berhenti beberapa langkah di belakangnya. "Aku tepat waktu," ucap Diego acuh.Silvana

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   32. Panggung dan Kekuasaan

    Chapter 32Panggung dan Kekuasaan Hari itu akhirnya datang, Nicolo San Lorenzo kembali mengundangnya, tentunya bukan tanpa tujuan dan tidak memberi ruang penolakan. Audrey tiba saat senja menggantung di perbukitan Palermo, villa Nicolo berdiri seperti benteng—terang dari luar, tetapi gelap dari da

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   31. Menginginkan Sesuatu yang Baru

    Chapter 31Menginginkan Sesuatu yang BaruDua pekan setelah akuisisi, Luke menjalani hari-hari seperti semula, mengurus bisnis legal dan ilegalnya yang terkadang membuatnya harus berurusan dengan beberapa pejabat kepolisian yang terkadang uang tidak bisa menjadi jalan pintas dalam urusannya.Sebelu

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   30. Tawaran Nicolo

    Chapter 30Tawaran NicoloAudrey menatap dirinya di cermin sederhana di tempat tinggalnya. Berita tentang kekayaannya keluarga Valerianus yang jatuh ke tangan pewaris asli menyebar cepat, seperti terbawa angin di musim panas. Tidak ada yang Audrey ingin lakukan, ia hanya menyaksikan semuanya dari

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   28. Pengampunan Paling Mahal

    Chapter 28Pengampunan Paling Mahal Lapangan panahan di belakang mansion masih basah oleh embun pagi ketika Luna berdiri dengan busur di tangannya. Sudah beberapa hari ia tidak menyentuhnya, tali busur terasa asing di jemarinya dan kaku seolah ikut menolak apa yang akan ia lakukan hari itu.Target

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status