Share

169

Author: QUILLDREN
last update publish date: 2026-10-26 01:10:31

Film thriller berdurasi lebih dari dua jam itu sukses membuat kami terpaku di depan layar.

Plotnya yang penuh kejutan membuat kami beberapa kali saling melempar komentar dan tebakan.

Ditambah camilan yang terus berpindah dari meja ke mulut, waktu berlalu tanpa terasa.

Namun, saat credit title mulai bergulir di layar TV, perhatian kami teralihkan oleh suara gemuruh yang cukup keras dari luar jendela.

Aku menoleh ke arah balkon.

Langit yang tadinya hanya mendung kini berubah menjadi kelabu pekat.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   173

    Udara di sekitar kami menipis.Suara derau hujan di luar mengabur, tergantikan oleh degup jantungku sendiri yang kini berpacu liar.Malam ini, di bawah cahaya lampu pantry yang temaram, aku tidak ingin menghindar.Perlahan, aku mengangkat kedua tanganku.Mengabaikan sisa-sisa rasa gugupku, aku mencondongkan tubuhku ke depan dan mengalungkan kedua lenganku di lehernya.Gerakanku itu seolah meruntuhkan sisa pertahanan Kak Gavin.Terdengar erangan tertahan dari sela tenggorokannya.Ia memiringkan kepalanya, membalas ciumanku dengan lumatan yang jauh lebih dalam, menuntut, dan penuh gairah.Kedua tangannya langsung mencengkeram pinggangku.Dengan satu gerakan yang mulus dan bertenaga, Kak Gavin mengangkat tubuhku dari kursi, memutar langkahnya sejenak, lalu mendorongku mundur hingga aku terduduk di atas permukaan meja pantry yang dingin.Semuanya terjadi begitu cepat tanpa ia melepaskan tautan bibir kami sedikit pun.Kak Gavin memposisikan dirinya berdiri tepat di antara kedua kakiku, mer

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   172

    Aku menoleh ragu-ragu.Kak Gavin sudah mengenakan kausnya dengan benar.Ia berjalan mendekatiku, mengambil gelas bersih dari rak, lalu menuangkan air dari botol yang dipegangnya."Sini," panggilnya lembut sambil menyodorkan gelas itu padaku.Aku melangkah mendekat, menerimanya sambil menunduk karena pipiku pasti masih terlihat merah merona."Makasih, Kak."Aku meminum air itu perlahan untuk menetralkan debar jantungku yang masih tidak karuan, sementara Kak Gavin bersandar di tepi meja pantry, melipat kedua lengannya di depan dada, dan menatapku lekat."Nggak bisa tidur?" tanyanya saat aku meletakkan gelasku.Aku menggeleng pelan. "Nggak tahu kenapa. Matanya nggak mau merem dari tadi."Kak Gavin menatap jam di dinding, lalu kembali menatapku."Mau kubuatin susu hangat? Biasanya ampuh bikin ngantuk.""Nggak usah, Kak. Nanti ngerepotin lagi. Aku balik ke kamar aja coba merem lagi," tolakku halus, bersiap untuk berbalik.Namun, belum sempat aku melangkah, Kak Gavin menahan lenganku dengan

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   171

    Segelas teh hangat di tanganku sudah tandas seiring dengan berlalunya waktu.Di luar sana, badai belum juga menunjukkan tanda-tanda akan mereda.Kaca jendela apartemen sesekali bergetar pelan tiap kali angin kencang menghantamnya.Kak Gavin melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.Ia kemudian menoleh ke arahku."Ran, kamu udah ngabarin orang rumah belum kalau malam ini nginap di sini?" tanyanya, memecah keheningan yang sempat menyelimuti kami berdua.Aku mengerjap, baru teringat."Astaga, belum, Kak.""Kabarin sekarang, gih. Nanti Papa sama Bundamu nyariin. Apalagi cuaca lagi ngeri begini, pasti mereka khawatir," titahnya lembut.Aku mengangguk, lalu mengambil handphone dan langsung mengirimkan pesan."Bunda, maaf Rania baru ngabarin. Hujan di luar badai banget, Rania nginap di apartemen Kak Gavin ya, Bun.""Besok pagi kalau hujannya udah reda Rania langsung pulang."Tidak butuh waktu lama, balasan dari Bunda masuk.Bunda:Iya, Sayang. Syukurlah kalau kamu aman

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   170

    Aku terdiam sejenak, tak berani membalas tatapan matanya yang dipenuhi kekhawatiran pekat. Jari-jariku mencengkeram ujung handuk semakin erat. Aku bingung harus menjawab apa. Menjelaskan secara rinci hanya akan mengungkit kembali insiden dengan Kak Giselle dan reaksi Mas Tian yang membuat dadaku sesak. "Ran?" panggil Kak Gavin lembut, menyadarkanku dari lamunan. "I-ini... ketumpahan kopi panas, Kak," jawabku akhirnya, memilih setengah jujur tanpa menyebutkan siapa pelakunya. "Kemarin ada sedikit kecelakaan di rumah." Kak Gavin menghela napas panjang. Ia menatap permukaan kulitku yang memerah dengan raut wajah pias. "Kopi panas? Sampai begini?" gumamnya tak percaya. "Pasti rasanya perih." "Awalnya iya, tapi sekarang udah mendingan kok, Kak. Ini juga udah diresepkan salep sama dokter," sahutku berusaha menenangkannya, meski suaraku masih terdengar sedikit bergetar. Mata Kak Gavin beralih dari lukaku ke arah tube salep yang kupegang dengan tangan gemetar. Ia tahu aku sedang

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   169

    Film thriller berdurasi lebih dari dua jam itu sukses membuat kami terpaku di depan layar.Plotnya yang penuh kejutan membuat kami beberapa kali saling melempar komentar dan tebakan.Ditambah camilan yang terus berpindah dari meja ke mulut, waktu berlalu tanpa terasa.Namun, saat credit title mulai bergulir di layar TV, perhatian kami teralihkan oleh suara gemuruh yang cukup keras dari luar jendela.Aku menoleh ke arah balkon.Langit yang tadinya hanya mendung kini berubah menjadi kelabu pekat.Rintik hujan mulai menghantam kaca jendela dengan kasar, disusul kilatan petir yang menyambar di kejauhan.Kak Gavin meraih remote dan mengganti saluran TV ke siaran berita lokal."Peringatan dini cuaca ekstrem. Badai angin kencang disertai hujan lebat diperkirakan akan melanda sejumlah wilayah mulai sore ini hingga malam nanti. Warga diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan..."Suara presenter berita itu beradu dengan derau hujan yang semakin lama semakin deras menampar kaca aparteme

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   168

    Tepat pukul dua belas siang, kelasku akhirnya bubar.Aku merapikan buku-buku dan melangkah keluar dari gedung fakultas dengan perasaan lega.Helaan napas panjang meluncur dari bibirku.Setidaknya, selama beberapa jam terakhir, kesibukan di ruang kelas lumayan berhasil mengalihkan pikiranku dari suasana meja makan tadi pagi.Saat aku menghidupkan layar handphone, sebuah pesan dari Kak Gavin sudah menanti.Kak Gavin:Aku udah di kafe depan kampus. Makanannya juga udah kupesankan sekalian."Oke, Kak. Aku jalan ke sana sekarang."Hanya butuh waktu lima menit berjalan kaki untuk sampai di kafe langganan yang terletak tepat di seberang gerbang kampus.Begitu mendorong pintu kaca, aroma kopi dan mentega panggang yang menguar dari dapur sedikit mengurai ketegangan di bahuku.Aku langsung menemukan Kak Gavin.Ia duduk di sudut ruangan.Begitu melihatku mendekat, ia menarik kursi di hadapannya."Pas banget makanannya baru diantar," ucapnya.Dua piring fettuccine carbonara dan dua gelas iced car

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status