LOGINMas TianTubuhku seketika membeku.Seluruh kehangatan yang baru saja ditinggalkan Kak Gavin seolah menguap tanpa sisa, digantikan oleh hawa dingin yang mencengkeram dadaku.Papa pun tampak terkejut melihat kehadirannya. "Kamu sudah pulang, Tian?"Mas Tian mengangguk pelan. "Baru saja sampai, Pa."Tatapannya yang tajam langsung beralih padaku, lalu turun menyorot pergelangan kakiku yang dibebat perban.Raut wajahnya berubah makin serius. "Bagaimana keadaan Rania?""Bunda telepon aku pas lagi di jalan pulang tadi, katanya Rania sakit..."Aku tidak sanggup menjawab.Tenggorokanku terasa begitu kering hingga aku memilih untuk terus bungkam.Papa akhirnya mengambil alih situasi kecanggungan itu. "Cuma terkilir ringan."Mas Tian mengangguk-angguk pelan, walau matanya tak melepaskan pandangan dariku.Ia melangkah mendekat. "Kenapa bisa sampai begitu?"Papa kemudian menceritakan kronologi singkat kejadian di kampus, sementara Mas Tian mendengarkan dalam diam tanpa menyela sedikit pun.Begitu
Aku menatap dua pesan di layar handphone ku cukup lama."Kita perlu bicara."Lalu disusul pesan berikutnya, "Jangan menghindar dariku, Rania."Jari-jariku mendadak terasa dingin. Buru-buru kumatikan layar handphone dan meletakkannya kembali di samping piring, seolah benda itu bisa menyengatku kapan saja."Rania?"Suara Bunda membuatku tersentak kaget. Aku mengangkat wajah, berusaha menetralkan ekspresi. "Iya, Bun?""Kamu kenapa?"Aku menggeleng cepat. "Nggak apa-apa, kok."Bunda memperhatikanku lekat selama beberapa detik, tetapi untungnya beliau tidak bertanya lebih jauh.Aku kembali menyantap makan malam, walau pikiranku sudah melayang jauh dari piring di hadapanku.Pesan Mas Tian terus membayangi benakku.Aku sangat berharap dia benar-benar masih berada di luar kota, setidaknya agar aku punya waktu ekstra untuk menenangkan diri.Namun, harapan itu ternyata tak bertahan lama.Hari-hari berlalu lebih cepat dari dugaanku. Aku sengaja menyibukkan diri dengan urusan kuliah untuk mengali
Getaran itu berhenti dengan sendirinya. Aku menatap layar handphone yang kini kembali gelap. Nama itu sudah tidak lagi ada di sana, tetapi jejaknya masih tertinggal di dadaku. Mas Tian. Aku menarik napas pelan, lalu memasukkan handphone ke dalam tas. “Nggak diangkat?” Aku mengangkat wajah. Kak Gavin menatapku dengan alis sedikit terangkat. Tatapannya berpindah dari wajahku ke tas yang baru saja kumasukkan handphone. “Bukan yang penting,” jawabku cepat. Aku berusaha tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. Kak Gavin memperhatikanku beberapa detik, tetapi tidak bertanya lebih jauh. Dia hanya mengangguk pelan dan kembali melanjutkan makan siangnya. Aku menghela napas lega dalam hati. Namun, pikiranku tetap tidak bisa benar-benar tenang. Aku tahu satu hal. Mas Tian tidak akan berhenti hanya karena satu panggilan tidak kujawab. Sore itu, Kak Gavin mengantarku pulang. Sepanjang perjalanan, aku kembali memeluk pinggangnya. Ketika motor berhenti di lampu merah, tan
Motor berhenti di lampu merah.Aku masih memeluk pinggang Kak Gavin dan bersandar di punggungnya. Sejak meninggalkan mansion, aku memang lebih banyak diam.Pikiranku masih dipenuhi banyak hal.Kak Gavin melepaskan satu tangannya dari stang dan menggenggam tangan yang melingkar di pinggangnya.Hangat.Ibu jarinya bergerak pelan mengusap punggung tanganku.Aku membuka mata.Kak Gavin tidak mengatakan apa pun.Entah kenapa, perhatian kecil itu membuat dadaku terasa lebih lega.Aku mengeratkan pelukanku sedikit.Lampu berubah hijau.Genggaman itu terlepas, tetapi hanya sebentar. Setiap kali motor melambat, tangan Kak Gavin kembali menemukan tanganku.Seolah dia tahu aku sedang membutuhkan pegangan.Tidak lama kemudian, kami tiba di kampus.Kak Gavin memarkirkan motornya di dekat gedung fakultas dan menunggu sampai aku turun. Setelah itu, dia membantu melepaskan kaitan helm dari daguku.“Kamu tadi diam banget,” katanya sambil merapikan rambutku yang berantakan.“Ngantuk, Kak.”“Ngantuk ata
Aku meringkuk di atas kasur, menarik selimut hingga menutupi tubuhku. Tanganku masih gemetar, sementara pikiranku terus kembali pada kejadian beberapa saat lalu. Aku tidak ingin mengingatnya. Namun semakin berusaha mengusirnya, semakin jelas semuanya berputar di kepalaku. Malam ini berbeda. Amarah dan kecemburuan Mas Tian telah membuat semuanya berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi bisa kuanggap biasa. Aku memejamkan mata. Air mata kembali mengalir. Di tengah kekacauan pikiranku, wajah Kak Gavin tiba-tiba muncul. Kak Gavin. Rasa bersalah langsung memenuhi dadaku. Dia tidak tahu apa pun. Dia tidak tahu tentang rahasia yang selama ini kusimpan. Dia juga tidak tahu betapa rumitnya kehidupanku di rumah ini. “Kak Gavin…” Suaraku bergetar. “Maaf…” Aku menenggelamkan wajah ke bantal. Sampai beberapa saat kemudian— Tring... Tring... Suara dering handphone membuatku mengangkat kepala. Aku terdiam. Dering itu kembali terdengar. Tring... Tring...
Aku menatap matanya yang gelap itu. Kemarahannya sudah tidak lagi bisa ditahan. Rahangnya menegang, napasnya berat, dan tatapannya begitu tajam hingga aku merasa seperti sedang dilahap hidup-hidup. “Kamu milikku, Rania,” katanya dengan suara rendah yang menggetarkan. “Tidak ada laki-laki lain yang boleh-.” Nama itu terucap dengan penuh kebencian. Aku mendorong dadanya sekuat tenaga. Kali ini lebih keras. Tubuhnya sedikit terangkat, cukup memberiku ruang untuk berbicara dengan jelas. “Aku bukan milik Mas!” suaraku tegas, meski bergetar hebat. Mas Tian terdiam. Tatapannya berubah tajam. “Jangan coba-coba melawanku, Rania.” Aku terus mendorong, mencoba melepaskan cengkeraman di pergelangan tanganku. Air mata sudah mulai menggenang, mendesak di pelupuk mata, tapi aku menahannya sekuat tenaga. Mas Tian menatapku dalam diam beberapa detik. Lalu, seolah amarah dan rasa kepemilikannya meledak tanpa sisa, ia menekan tubuhku kembali ke kasur dengan lebih kuat. Satu ta







