Share

Bab 6

Author: Uti
last update Last Updated: 2025-09-25 21:28:13

Adrian kali ini datang ke kantor lebih lambat dari biasanya. Senyuman puas terlukis jelas di wajahnya yang tak bisa disembunyikan.

Di depan lift, Evan, tangan kanannya, sudah menunggu dengan sikap hormat. "Nyonya Evelyn menunggu Anda semalaman," lapor Evan dengan suara rendah.

"Biarkan dia menunggu," jawab Adrian singkat sambil menekan tombol lift. "Siapkan hadiah untuknya, perhiasan seperti biasa."

Evan mengangguk paham, sudah tak heran lagi dengan trik-trik Adrian yang kerap memakai cara romantis semacam itu untuk merayu Evelyn. Cara yang manis sekaligus membelit, meski semua tahu apa tujuan sebenarnya.

Lift naik ke lantai eksekutif dengan sunyi. Begitu pintu terbuka, mereka berpisah, Evan menuju ruangannya dan Adrian berjalan dengan langkah percaya diri menuju ruang direktur utamanya yang megah. Namun, senyum nafsu yang lebih dalam lagi mengembang di bibirnya ketika ia membuka pintu.

Di sofa kulit putih mewahnya, duduk seorang wanita dengan gaun mini berwarna merah darah yang nyaris tidak meninggalkan ruang untuk imajinasi. Gaun itu ketat, memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya yang sensual, dengan belahan dada yang dalam dan bagian bawah yang memperlihatkan paha mulusnya hingga ke pangkal paha. Wanita tersebut sudah menunggu dengan pose yang sengaja diatur untuk menggoda.

"Ih, Sayang, kok lama banget sih datangnya? Aku sudah menunggu dari tadi," keluhnya dengan suara dibuat-buat manja, matanya berbinar dengan permainan yang dia kuasai dengan baik.

Belum lagi Adrian bisa menyentuhnya, wanita tersebut dengan lincah mengangkat kakinya yang mengenakan high heels lancip. Telapak sepatunya menempel di dada Adrian, mendorongnya perlahan mundur. Gerakan itu membuat rok mininya tersingkap lebih jauh, memperlihatkan secuil renda celana dalam hitamnya. Wanita tersebut menggigit ujung jari telunjuknya, pandangannya menggoda dan penuh tantangan.

"Nakal ya kamu," gerutu Adrian, nafsunya langsung tersulut. Dia tidak bisa menahan diri lagi. Dengan gerakan cepat, dia menangkap pergelangan kaki wanita tersebut dan menunduk, menangkup bibir merahnya dalam ciuman yang dalam dan penuh hasrat.

Mereka seperti dua binatang yang kelaparan. Ciuman mereka bukanlah ciuman lembut, melainkan pertarungan lidah yang saling menaklukkan, disertai desahan dan erangan kecil. Tangan Adrian tidak tinggal diam. Dengan kasar, dia meremas payudara wanita itu yang montok melalui kain gaunnya yang tipis. Wanita tersebut mendesah pelan, mendongakkan kepalanya, memberikan akses lebih besar bagi Adrian untuk menelusuri lehernya.

"Kamar... sekarang," geram Adrian di sela-sela ciuman, nafasnya sudah tersengal-sengal.

Tanpa mengucapkan kata lagi, Adrian mengangkat tubuh Clara dengan mudah. Clara melingkarkan tangan dan kakinya di tubuh Adrian, tertawa kecil melihat kegesitan pria itu. Mereka masuk ke dalam kamar pribadi yang melekat pada ruang kerjanya sebuah ruangan yang dilengkapi dengan king-size yang seharusnya menjadi tempat istirahat, tetapi lebih sering menjadi tempatnya memuaskan nafsu gelap.

Pintu kamar tertutup, mengurung mereka dalam dunia mereka sendiri. Di balik pintu itu, pakaian berhamburan, desahan dan erangan semakin menjadi-jadi, dan dua manusia yang dikuasai nafsu itu saling memuaskan dengan liar. Adrian sama sekali tidak memikirkan Evelyn, yang dengan setia dan naif masih menunggunya di mansion, berharap suaminya pulang dengan selamat.

~

Di kediaman Montgomery Tuan Deren duduk santai di sofa, menyeruput teh hangat dengan ekspresi dingin yang penuh rencana. Nyonya Sinta muncul dengan membawa nampan perak berisi roti croissant yang masih hangat dan beberapa selai buatan sendiri.

"Setelah penantian yang lama, akhirnya tua bangka itu menyusul juga istrinya ke neraka,” kata Nyonya Sinta sambil tertawa puas, suaranya yang khas menyingkap amarah dan kebencian yang membara.

Tuan Deren mengangguk pelan, matanya berkilat penuh kebencian sekaligus harapan. "Sekarang tinggal bagaimana kita menyingkirkan Evelyn tanpa membuatnya curiga. Kalau itu berhasil, hidup kita akan benar-benar berjaya."

Nyonya Sinta mengibas-ngibas tangannya seolah mempersiapkan rencana licik yang sudah lama terpendam. "Dia itu batu sandungan terbesar selama ini. Setelah dia pergi, tidak ada lagi yang menghalangi jalan kita."

Tuan Deren tersenyum miris, tetapi penuh ambisi yang gelap. "Bayangkan saja, kita bisa menguasai bisnis ini, menghapus nama Evelyn dari segalanya, dan meninggalkan warisan yang abadi. Tidak akan ada lagi tangisan, tidak ada lagi penghalang."

Ucapannya seperti duri yang menusuk di balik ketenangan rumah besar itu. "Kita sudah lama menunggu saat ini, dan kini saatnya kita bertindak. Evelyn harus melihat neraka yang sesungguhnya," tambahnya dengan tatapan penuh dendam.

Nyonya Sinta mengangguk setuju, "Ya, dan aku yakin dengan rencana ini, kita akan jadi penguasa tanpa tanding. Hidup kita akan bersinar lebih daripada apa yang pernah kita impikan."

Kebencian dan amarah mereka tidak tersembunyi, seakan memasuki jiwa siapa saja yang mendengar kalimat itu. Mereka seperti monster dalam wujud manusia, memandang segala sesuatunya dengan kehausan akan kekuasaan, tidak peduli siapa yang harus dihancurkan demi merebutnya.

Tak ada yang tahu bahwa dari kebencian dan rencana licik itulah awal kehancuran mereka sendiri akan bermula, sebuah nasib yang terpatri dalam jejak gelap Montgomery.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DENDAM ISTRI YANG TERKHIANATI    Bab 12

    Evelyn duduk di tepi kasur king zisenya, berusaha menormalkan detak jantungnya yang berlomba tak karuan. Napasnya ditarik dalam, dihembuskan perlahan. Ia mencoba berpikir positif, meyakinkan diri bahwa mungkin ada penjelasan logis untuk semua ini. Tapi suara naluri seorang istri, naluri yang selama lima tahun ia pendam, berteriak keras. Tak akan ada ketenangan sebelum semuanya terang benderang.Dengan tangan yang masih sedikit bergetar, ia meraih ponselnya. Jari-jarinya menari di layar, mencari satu nama, Gio.Gio adalah tangan kanan mendiang Daddynya, sosok kepercayaan yang setia. Sejak kecil, Gio sudah berada di lingkungan keluarga Devereux. Gio tumbuh bersama bayang-bayang dunia yang sama. Usianya hanya terpaut beberapa bulan dari Evelyn, dan meski posisinya sebagai bawahan, kedekatan mereka lebih seperti saudara sepupu, namun saat Evelyn memutuskan untuk menikah kedekatan tak sama lagi. Namun saat di rumah sakit hanya Gio satu-satunya yang mengurus mayat Tuan Damien karena waktu i

  • DENDAM ISTRI YANG TERKHIANATI    Bab 11

    Mobil Rolls-Royce Phantom hitam milik Evelyn berhenti dengan sunyi di gerbang utama Mansion yang selama ini ia tinggalin bersama sang suami. Selama lima tahun terakhir, gerbang megah bergaya Eropa Klasik ini adalah simbol kehidupan barunya sebuah kehidupan yang ia pilih dengan meninggalkan segalanya. Kini, setelah berhari-hari di rumah masa kecilnya, gerbang itu terasa seperti pintu masuk menuju ruang hampa.Selama lima tahun itu, ia dengan setia menjalani peran sebagai istri yang patuh, ibu rumah tangga yang mengurus setiap detail rumah ini dengan cermat, menanti kepulangan suaminya dengan senyum yang selalu siap. Namun, sejak kematian sang Daddy, kenyamanan semua itu retak. Tak ada lagi telepon atau kunjungan dari mertuanya. Adrian, sang suami, menghilang bagai ditelan bumi, hanya menyisakan pesan singkat tentang urusan bisnis yang mendesak.Walaupun hati hancur dan kepala dipenuhi tanda tanya, Evelyn menarik napas dalam. Ia tetap harus pulang. Ini adalah rumahnya, setidaknya di ata

  • DENDAM ISTRI YANG TERKHIANATI    bab 10

    Setelah berjam-jam menyelami setiap folder, dokumen, dan foto digital di komputer sang daddy, Evelyn akhirnya menyandarkan tubuhnya yang lelah ke kursi kulit. Angin sepoi-sepoi masuk melalui jendela yang terbuka, membelai helai rambutnya yang mulai kusut dan menerpa wajahnya yang pucat pikirannya penuh data keuangan yang sehat, korespondensi bisnis yang rapi, dan ribuan kenangan yang tersimpan digital, semuanya menggambarkan Tuan Damien sebagai seorang pemimpin yang cermat dan seorang keluarga yang penuh cinta.Beberapa menit ia termenung, membiarkan angin dan kesunyian membersihkan kepalanya. Lalu, sebuah tekad perlahan mengkristal. Ia tak boleh terus terpuruk. Darah Devereux yang mengalir dalam nadinya, darah yang diajari sang Opa untuk tidak pernah menyerah, mulai bergejolak. Ia bangkit dari kursi, matanya yang masih merah namun sudah lebih tajam, mulai menyapu ruangan kerja itu dengan saksama.Ia berjalan perlahan, jari-jarinya menyentuh punggung buku-buku hukum tua, koleksi filsa

  • DENDAM ISTRI YANG TERKHIANATI    Bab 9

    Sementara itu, di Hospital Fortune Medika, suite VIP lantai paling atas…Suasana di dalam ruangan sama sekali tidak mencerminkan kesakitan atau keprihatinan. Justru, ada aroma sarapan kontinental mewah dan kopi spesialitas yang harum.Tuan Deren dan Nyonya Sinta duduk santai di sofa kulit suite mereka yang lebih mirip apartemen mewah. Sisa-sisa telur benedict dan croissant masih tergeletak di atas nampan perak. Wajah mereka segar bugar, tanpa sedikit pun tanda-tanda penyakit yang mereka keluhkan.“Dua hari terjebak di sini, sungguh membosankan,” gerutu Nyonya Sinta sambil memeriksa kuku barunya. “Aku sudah ingin kembali dan memastikan rencana kita berjalan lancar.”“Bersabarlah, Sayang,” jawab Tuan Deren, tanpa memalingkan pandangannya dari ponsel yang ia pegang. “Ini semua untuk pertunjukan. Kita harus konsisten. Jika anak sialan itu tiba-tiba muncul atau menelepon, setidaknya kita punya alasan yang terdokumentasi mengapa nggak datang melayat.”Tok.... tok.... tok... Tepat saat itu,

  • DENDAM ISTRI YANG TERKHIANATI    Bab 8

    Dua hari telah berlalu dalam kesunyian yang nyaris berbunyi. Dua hari di mana waktu merangkak pelan di Mansion Devereux, seolah ikut berduka atas kepergian tuannya. Bagi Evelyn, dua hari itu terasa seperti dua musim yang berganti dalam kesendirian yang menusuk.Tidak ada satu pun dari keluarga Montgomery yang datang. Tidak ada telepon yang menanyakan bagaimana kabarnya, atau setidaknya mengucapkan belasungkawa. Hanya angin yang setia masuk melalui jendela, membawa kabar sunyi dari luar.Alasannya selalu sama. Papa mertuanya Tuan Deren terkena serangan jantung, Mama mertuanya Nyonya Sinta gula darah rendah, sehingga mereka berdua harus beristirahat total. Dan Adrian Sang Suami , melalui pesan singkat yang dingin dan terburu-buru, hanya mengatakan ia sedang dalam perjalanan bisnis mendadak ke luar negeri. “Urusan sangat penting. Jaga dirimu.” Itu saja.Evelyn mencoba memahami. Mencoba menelan pil kepahitan itu dengan anggapan bahwa mungkin ini memang kebetulan yang malang. Tapi hati kec

  • DENDAM ISTRI YANG TERKHIANATI    Bab 7

    Kamar sunyi yang terasa padat, menyergapnya begitu kaki melangkah masuk. Ruang yang telah lama ia tinggalkan ini seketika menjadi galeri hidup yang memutar ulang film kehidupannya. Setiap sudut berbisik, setiap benda menyimpan cerita.Evelyn berdiri di tengah ruangan, membiarkan kenangan-kenangan itu mengguncang jiwanya. Dari kecil hingga dewasa, ia adalah pusat semesta keluarga Devereux. Sebagai anak tunggal, limpahan kasih sayang dari mendiang orang tuanya adalah udara yang ia hirup. Sang Daddy, Damien, tak pernah berhenti memanjakannya dengan segala kenyamanan dunia. Sang Mommy, Isabella, adalah pelabuhan hati yang selalu hangat.Namun, di balik kemewahan dan perlindungan itu, ada pendidikan lain yang lebih keras. Sang opa, Alistair dan oma Seraphina tidak membiarkannya tumbuh menjadi bunga rumah kaca. Sebagai cucu pewaris satu-satunya, mereka melatihnya dengan disiplin. Bukan hanya etiket dan akademik, tetapi cara membaca situasi, bela diri, mengendalikan emosi, dan memahami kekua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status