MasukSinar matahari pagi menyelinap melalui celah-celah gorden tebal, menerobos masuk ke dalam kamar dan menyapu wajah Evelyn dengan kehangatan yang ironis. Di balik kelopak matanya yang berat, cahaya itu terasa menyilaukan.
𝘌𝘮𝘮𝘨𝘩𝘩... Desahan lembut keluar dari bibirnya yang kering. Perlahan, ia membuka mata, mencoba menyesuaikan pandangan dengan ruangan yang asing. Kemudian ia sadar ia tertidur di kamar mendiang orang tuanya. Kamar yang masih menyimpan banyaknya kenangan. "Mom... Dad..." suaranya serak, tubuhnya terasa berat bagai dibebani batu. Ia menyandarkan diri ke kepala kasur yang megah, merasakan kesepian yang begitu dalam menyelimuti ruangan luas tersebut Dengan effort yang besar, Evelyn akhirnya turun dari tempat tidur. Kakinya masih terasa goyah ketika berjalan menuju kamarnya sendiri, kamar yang sudah jarang ia tinggali sejak memutuskan untuk tinggal terpisah dengan Adrian. Keputusan yang dulu diambil dengan penuh kebahagiaan, kini terasa seperti pisau yang mengoyak-oyak hatinya. Di lorong, seorang maid tua sudah menunggu dengan sikap hormat. "Nona Muda," ujarnya dengan suara lembut namun berwibawa. "Sarapan telah siap. Silakan turun bila sudah siap." Evelyn hanya mengangguk lesu. "Terima kasih, Bi Sukma." Tanpa menunggu respons lebih lanjut, ia terus berjalan, meninggalkan sang kepala maid yang telah puluhan tahun mengabdi pada keluarganya. Bi Sukma menghela napas, matanya berkaca-kaca. "Tuan Besar, Nyonya Besar... Tenang saja di sana. Aku akan menjaga Evelyn seperti anakku sendiri. Ini balas budi untuk segala kebaikan kalian." Bi sukma pun turun ke bawah menyiapkan makanan penutup untuk Nona Mudanya ~ Sesampainya di kamarnya, Evelyn membuka pintu dengan harapan tinggi. Mungkin saja Adrian sudah pulang dan sedang menunggunya. Tapi harapan itu pupus sudah. Kamarnya yang megah tetap sepi, tanpa tanda-tanda kehadiran suaminya. Dengan gemetar, ia mengambil ponselnya. Layar tetap gelap tidak ada notifikasi, tidak ada pesan, tidak ada telepon yang terlewat. Rasa cemas mulai menyelimutinya. "Kenapa mereka tidak peduli lagi padaku?" gumamnya lirih. Pikirannya mulai membayangkan skenario-skenario terburuk. Mungkin Adrian kecelakaan? Atau mungkin... Gruukk! Suara perutnya yang keroncongan memutus rantai pikiran negatifnya. Dengan langkah berat, ia berjalan menuju lift. Mungkin sarapan bisa sedikit mengembalikan tenaganya yang terkuras. ~ Sementara itu disisi lain tepatnya di Devereux Corporation, Gio sedang berhadapan dengan krisis keuangan yang sangat serius. Ruang kerjanya yang minimalis namun elegan kini berantakan dengan tumpukan dokumen dan layar komputer yang menampilkan grafik-grafik merah menyeramkan. Wajahnya tegang, matanya tak berkedip menatap laporan keuangan yang baru saja diterimanya. "Dasar manusia tidak tahu terima kasih!" hardiknya, meninju meja kayu mahogoninya hingga retak. Yang ia temukan membuat darahnya mendidih. Kepala departemen keuangan, orang yang dipercaya Tuan Damien selama 15 tahun, ternyata telah menggelapkan dana perusahaan hingga ratusan miliar. Korupsi sistematis ini terjadi tepat ketika Tuan Damien terbaring lemah di rumah sakit. "Dia pikir dengan Tuan lengah, dia bisa main-main?" geram Gio sambil meremas-remas laporan audit di tangannya. Dia segera mengambil telepon dan menekan salah satu nomor. "Siapkan tim audit khusus. Bekukan semua asetnya. Dan bawa dia ke markas, SEKARANG JUGA!" Di tengah amarahnya, Gio tak lupa pada janjinya. Ia harus membersihkan perusahaan ini sebelum diserahkan kepada Evelyn. Setiap masalah harus diselesaikan, setiap ancaman harus dieliminasi. Matanya beralih ke foto Tuan Damien dan Evelyn yang terpajang di mejanya. "Tenang saja, Tuan. Aku akan jaga semuanya sampai Nona Muda siap menerima warisan ini." Warisan yang ternyata tidak hanya berupa kekayaan, tetapi juga bahaya yang mengintai di setiap sudut. ~ 𝗗𝗘𝗩𝗘𝗥𝗘𝗨𝗫 𝗖𝗢𝗥𝗣𝗢𝗥𝗔𝗧𝗜𝗢𝗡 bukan sekadar gedung pencakar langit ia adalah simbol kekuasaan yang menjulang angkuh di jantung kota, sebuah monumen modern yang memadukan arsitektur futuristik dengan elegannya gaya klasik. Dengan ketinggian yang menyentuh awan, menara ini berdiri sebagai raksasa kaca dan baja yang memantulkan kemilau matahari siang dan gemerlap lampu kota di malam hari. Desainnya yang ikonik, dengan lekukan spiral yang melingkar elegan ke puncak, membuatnya terlihat seperti pedang raksasa yang menancap perkasa di tengah skyline metropolitan. Namun, kemewahan fisik hanyalah kulit luar. DEVEREUX CORPORATION terkenal dengan sistem perekrutan yang sangat selektif dan eleitis. Mereka menganut filosofi "bibit, bebet, bobot" Bibit merupakan Latar belakang keluarga dan koneksi dinilai secara diam-diam Bebet merupakan Pengalaman nyata lebih dihargai daripada gelar akademik Bobot merupakan Karakter dan integritas diuji melalui tes psikologis rumit Gelar dari universitas ternama tidak menjamin masuk di sini. Perusahaan ini lebih memilih kandidat dengan portofolio kesuksesan konkret dalam dunia bisnis yang brutal. Program magang mereka dikenal kejam hanya yang tangguh yang bertahan. Di balik kemewahan yang terlihat, gedung ini menyimpan koridor rahasia dan lantai khusus yang hanya dapat diakses oleh orang-orang terpercaya. Di sinilah keputusan yang menggerakkan pasar global dibuat, jauh dari pandangan karyawan biasa. Bekerja di sini bukan sekadar tentang gaji fantastis, tapi tentang bagaimana menjadi seseorang yang selalu bertanggung jawab. Sebuah warisan yang kini harus diambil alih oleh Evelyn, siap atau tidak.Malam ini, aula megah di kawasan tersembunyi kota berubah menjadi medan pertemuan para penguasa dunia bawah. Puluhan pemimpin klan mafia dari berbagai penjuru negeri bahkan dari luar negeri telah berkumpul. Mereka datang dengan pakaian terbaik, ditemani para pengawal setia, siap untuk malam tahunan yang selalu penuh intrik dan bahaya.Lampu kristal berkilauan di langit-langit tinggi, meja-meja panjang dipenuhi hidangan mewah dan minuman termahal. Tapi di balik kemewahan itu, udara dipenuhi ketegangan. Semua orang saling mengawasi, semua orang saling curiga.Di sudut aula, beberapa pemimpin klan peringkat bawah berkumpul sambil menyesap wiski."Selama bertahun-tahun aku belum pernah bertemu atau melihat langsung pemimpin Crimson Fang," ujar salah satu dari mereka, pria paruh baya dengan bekas luka di pelipis."Seperti tahun-tahun sebelumnya, dia tidak akan hadir," sahut yang lain, pria bertubuh tambun dengan cincin emas di setiap jari. "Malam ini kita akan memanfaatkan peluang ini. Per
Pagi itu, kediaman Montgomery yang megah tampak tenang. Matahari bersinar cerah, menerangi taman luas yang dirawat dengan sempurna. Namun ketenangan itu hanya bertahan sampai sebuah paket kecil di titip kepada salah satu satpam. Seorang kurir berpakaian biasa mengantarkannya, lalu pergi begitu saja tanpa meminta tanda tangan atau konfirmasi penerima, tidak ada nama pengirim, tidak ada alamat kembali. Hanya sebuah kotak berukuran sedang, dibungkus kertas hitam polos, dan di atasnya dihiasi setangkai bunga mawar hitam yang kering mawar hitam asli, bukan buatan.Nyonya Sinta menerima paket itu dari tangan seorang satpam. Ia hanya memandangi benda itu dengan perasaan aneh. Jantungnya berdebar tak karuan, meskipun ia belum tahu apa isinya."Bawa masuk," perintahnya pada satpam itu.Setelah satpam itu pergi, Nyonya Sinta duduk di sofa ruang keluarga, menatap paket itu dengan intens. Bunga mawar hitam bukan simbol yang baik. Tuan Deren yang sedang bermain ponsel di sebelahnya, menyadari p
Pagi itu, Adrian tiba di apartemen Clara dengan perasaan ringan. Langkahnya riang, senyumnya mengembang, tak sabar untuk segera terbang ke luar negeri dan bertemu dengan putra kecilnya yang sudah lama tak ia peluk."Ayo sayang, aku sudah sangat tidak sabar untuk bertemu Kevin!" gegas Adrian begitu Clara membuka pintu.Clara hanya mengangguk cepat, tapi wajahnya sedikit pucat. Semalam ia tak bisa tidur memikirkan masa depannya dengan Adrian. Tapi melihat kekasihnya begitu bersemangat, ia memaksakan senyum dan menarik kopernya keluar dari kamar."Sebentar, Sayang. Aku cuma mau pastikan semua dokumen Kevin sudah lengkap."beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil. Adrian menyetir dengan kecepatan stabil, sesekali menggenggam tangan Clara yang duduk di sampingnya. Di kursi belakang, dua koper besar tergeletak tanda bahwa mereka berencana untuk tinggal cukup lama di sana.Sesampainya di bandara, mereka langsung menuju terminal keberangkatan internasional. Di sana, Evan su
Matahari mulai merangkak naik di ufuk timur, menerangi Mansion yang megah dengan cahaya keemasan. Namun pagi itu, mansion yang biasanya hangat dan ramai terasa berbeda, sunyi, dingin. Seperti rumah kosong yang kehilangan jiwanya.Adrian melangkah masuk melalui pintu utama setelah semalaman beristirahat di kediaman orang tuanya. Biasanya, begitu pintu terbuka, akan ada Evelyn yang menyambutnya dengan senyuman manis, tangan terbuka, dan pertanyaan-pertanyaan penuh perhatian. Biasanya, ada kehangatan yang menyambutnya.Tapi pagi ini, hanya ada kehampaan.Matanya menyapu ruang tamu luas yang tertata rapi. Para maid berlalu lalang dengan pekerjaan mereka masing-masing, membersihkan debu, merapikan vas bunga, mengepel lantai marmer yang mengilap. Mereka menunduk hormat saat melihatnya, tapi tak ada satu pun yang menyapanya lebih dulu."Evelyn kemana?" gumam Adrian, keningnya berkerut. "Tumben banget."Ini pertama kalinya dalam lima tahun pernikahan mereka, Evelyn tidak ada di rumah saat ia
Aletta Chellys Gracelya.Wanita imut dengan senyum manis yang selalu mampu membuat mood Evelyn membaik, bahkan di hari-hari terburuk sekalipun. Mereka bersahabat sejak kecil, tumbuh bersama bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Kedekatan mereka bukan sekadar pertemanan biasa mereka seperti anak kembar yang lahir dari ibu berbeda.Aletta adalah orang yang tahu segalanya tentang Evelyn. Rahasia, ketakutan, mimpi, bahkan kelemahan, sebaliknya, Evelyn juga tahu semua tentang Aletta termasuk masa lalu orang tuanya yang pernah menjadi anggota setia Crimson Fang sebelum Aletta lahir.Pertemuan mereka setelah enam tahun terpisah terasa seperti mimpi. Evelyn menatap sahabatnya yang masih sama seperti dulu imut, ceria, dengan mata yang selalu berbinar. Tapi kali ini, Evelyn melihat potensi lain di sana."Aku mau kau menjadi dokter bedah Crimson Fang," ujar Evelyn tiba-tiba, suaranya datar sambil menggoyangkan gelas wine di tangannya. Warna merah anggur itu berputar perlahan, memantu
"Apakah sudah lama menunggu?"Suara itu datang dari belakang. Dingin, tapi penuh kelembutan yang tak terbantahkan. Suara yang familiar, suara yang sudah enam tahun lamanya tak pernah lagi terdengar di telinga Evelyn. Suara yang selama ini hanya ada dalam mimpi dan kenangan masa kecil.Evelyn menoleh, dan dunia seolah berhenti berputar.Di belakangnya berdiri seorang wanita cantik, dengan rambut hitam legam terurai panjang hingga sebahu, wajahnya masih sama seperti dulu hanya lebih dewasa, lebih tegas. Matanya yang bulat berbinar menatap Evelyn dengan intensitas yang tak terlukiskan. Langkahnya tegas mendekati Evelyn yang masih berdiri mematung di samping meja.Evelyn mundur selangkah, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "A-Aletta?" Suaranya nyaris tak terdengar, hanya bisikan parau yang keluar dari tenggorokannya yang tiba-tiba tercekat.Matanya membelalak sempurna. Tangannya yang sedari tadi memegang ponsel kini gemetar hebat, sampai-sampai ponsel itu nyaris jatuh.Aletta terseny







