LOGIN
"Shit! Beraninya kau mengotori kakiku!" gertak Michele dengan mata berapi-api.
Wanita itu tergugup dengan mata yang basah."Tu-Tuan, maafkan saya. Itu terlalu kental dan banyak. Saya tak mampu menelan semuanya," lirihnya ketakutan. Masih dengan wajah yang dipenuhi emosi, Michele pun bangkit. "Itu bukan urusanku! Aku sudah membayar mu! Kau benar-benar payah!" gertaknya seraya melempar wanita itu sampai terjerembab ke sofa. "Ma-maafkan saya, Tuan." Wanita itu berusaha bangkit, lantas mundur ketakutan saat Michele mendekat. Pangeran Mafia Riciteli, dengan tubuh polos tanpa sehelai benang pun berdiri di depan wanita itu. Dia menatapnya sudah seperti iblis yang ingin makan orang. Percuma dia membayar mahal pada Madame Rose, ternyata wanita ini tidak mampu membuatnya merasakan kenikmatan sensasi yang diinginkan. Dengan gerakan tak terduga, Michele menyambar revolver yang tergeletak di atas meja. Dia lantas menodongkan ujung senjata itu ke wanita di depannya. Tepat di pertengahan kedua alisnya, ia mengincar. Wanita itu dibuat sangat terkejut sekaligus ketakutan. "Tuan, tolong maafkan saya! Jangan bunuh saya!" raungnya dalam tangis dan tubuh yang gemetaran. "Kau tidak mampu membuatku puas. Matilah kau." Duar! Mata wanita itu membulat penuh, dengan mulut yang terbuka tanpa suara. Tubuhnya yang polos terhempas ke sofa tanpa perhitungan. Lubang peluru tercetak di dahinya dengan sempurna bak sebuah maha karya. Matanya masih melotot saat tubuhnya terhempas tak bernyawa lagi. Mendengar ada suara tembakan dari dalam kamar VIP di mana bosnya berada, Sergio dan dua orang bodyguard bergegas memeriksa. "Bos, apa yang terjadi? Anda baik-baik saja?" tanya Sergio dengan wajah panik saat memasuki kamar. Semuanya dibuat terkejut saat melihat wanita muda yang semalam mereka bawa sudah tergolek di sofa dengan kondisi mengenaskan. Sementara Michele sedang berdiri sambil menutup kancing lengan kemejanya. Wajah pria itu tenang-tenang saja. "Cepat singkirkan sampah itu dari sini!" perintahnya acuh tanpa memalingkan pandangan dari siluet yang muncul pada standing mirror di depannya. "Baik, Bos!" Sergio segera menyuruh dua orang bodyguard untuk mengurus mayat wanita di sofa. Dia tidak banyak bertanya pada Michele. Sergio Lorenzo, pria itu sudah bekerja pada ayah Michele sejak lama. Hingga saat Bos Besar Mafia wafat, Sergio mengabdikan seluruh hidupnya untuk melayani Michele selaku ahli waris Kerajaan Mafia peninggalan Don Lazaro Riciteli selanjutnya. "Bos, Tuan Alberto ingin menemui Anda." Empat jam berlalu, Sergio menemui Michele yang sedang duduk santai di teras balkon sambil menikmati sebatang rokok. "Mau apa pria tua itu menemuiku? Apakah dia sudah bosan hidup?" Michele menanggapi dengan acuh. Bibirnya mengulas senyum getir melihat seekor kupu-kupu yang sedang hinggap pada kuntum-kuntum Jacaranda. Sedikit ragu Sergio menjawab, "Sepertinya Tuan Alberto ingin melihat putrinya." Michele masih bergeming dengan pandangan dingin ke arah makhluk indah di luar jendela. Entah apa yang pria itu sedang pikirkan. Ada rumor yang mengatakan jika Michele tak hanya mengidap penyakit langka, tetapi dia juga seorang psikopat. Menghabisi nyawa orang sudah menjadi passion pria itu. Bahkan, dia selalu membawa pistol ke mana pun dirinya pergi, dan menyimpannya di bawah bantal saat ia tertidur. Baginya, kupu-kupu tak berbeda dengan para jalang yang sudah dirinya bayar. Mereka payah dan tidak berguna. Sergio hanya memandangi dengan perasaan tak habis pikir. Kenapa Tuan Muda Riciteli memiliki kelainan aneh seperti itu? Tak hanya gemar menyiksa makhluk kecil semacam kupu-kupu, Michele juga sering menyayat lengan para pelayan di mansion jika sedang bosan. Bahkan menembak para bodyguard tanpa alasan. Dia tidak hanya psikopat, tetapi juga monster yang mengerikan! Sergio sangat terkejut saat Michele menoleh ke arahnya. Manik kebiruan pria itu membuatnya takut. Dia bergerak mundur satu langkah saat Michele mendekat. "Katakan, apa gadis bodoh itu masih hidup?" tanya Michele pada Sergio sambil memainkan pistol di tangannya. "Masih. Namun, sepertinya dia sudah sekarat." Sergio dibuat terkejut saat Michele melotot padanya. Apakah dia salah berucap? "Kenapa dia belum mati juga? Aku tak mau Alberto kembali berkumpul dengan putrinya," desis Michele ke wajah Sergio. "Jika itu keinginan Anda, maka aku akan menghabisinya." Sergio berusaha tenang meski tatapan tajam Michele nyaris membunuhnya dalam rasa ketakutan. "Kau sudah bekerja keras selama ini, kali ini biar aku yang mengurus gadis itu. Kau pergilah, hubungi Alberto dan katakan jika putrinya akan segera di pulangkan," ucapnya, lantas mundur dari hadapan Sergio disertai seringai tipis yang mengerikan. Sergio menghela nafas panjang. Apa yang mau Michele lakukan pada gadis malang itu? Dipandangi punggung lebar pria itu yang menjauh darinya. *** "Selamat sore, Bos!" "Silakan masuk!" Michele berjalan cepat memasuki ruangan yang berada di lantai bawah tanah sebuah markas ilegal. Dua orang bodyguard membuka pintu untuknya dan mengantarnya masuk. Ruangan dengan pencahayaan remang menyambut, Michele menghentikan langkah agak jauh dari beberapa pria yang sedang mengelilingi sebuah meja biliar. Di tengah meja biliar itu tampak seorang gadis yang terlentang pasrah tanpa busana. Tangan dan kakinya terikat ke masing-masing sisi meja. Kondisinya sangat mengenaskan. "Berikan aku kabar terbarunya," ucap Michele seraya menaruh sebatang cerutu di mulutnya dengan santai. "Gadis itu sudah tidak dibutuhkan lagi. Orang-orang politik sudah melakukan koalisi." Seorang bodyguard bergegas maju dan langsung menyalakan korek api untuk bosnya. Michele menghembuskan asap cerutunya ke udara. Kemudian dia berjalan menuju gadis itu. "Kami sudah membantainya dua hari ini. Dia cukup menyenangkan," ucap seorang pria yang berdiri di sekitar. Mereka anak buah Michele. "Benarkah?" Michele menyeringai tipis sambil memandangi gadis yang sedang tergolek tak berdaya di hadapannya. Tubuh gadis itu dipenuhi jejak kekejaman, luka gigitan dan sayatan yang menjadi peta penderitaannya selama dua hari terakhir. Tiga hari yang lalu orang-orang Michele menculik gadis itu dari kampus. Dia putrinya Alberto--si pesaing partai kolega Michele. Mereka hanya di bayar untuk menculiknya karena perang politik yang sedang terjadi di antara dua kubu partai. Emily Castaro, gadis tak berdosa itu harus menjadi korban penculikan, penyekapan dan kekerasan yang dilakukan komplotan para Mafia. Usianya baru 20 tahun, dia nyaris tewas karena penyiksaan yang dialaminya selama dua hari terakhir. "Tinggalkan aku sendiri!" perintah Michele pada semua anak buahnya. "Baik, Bos!" Semua orang pergi. Tinggallah Michele dan Emily di ruangan itu. Pria tinggi dengan gambar tato di pergelangan tangannya tersenyum manis seraya mencondongkan wajahnya pada Emily. Gadis itu menatap Michele penuh amarah dan ketakutan. "Gadis belia yang malang. Sebelum mati kau harus tahu siapa orang di balik semua ini," bisik Michele ke wajah Emily yang pucat. Jemarinya membelai pipi hingga rahang lebam gadis itu. "Tuan, kumohon lepaskan aku. Biarkan aku pulang," lirih Emily dengan tatapan sendu. Suaranya nyaris tidak terdengar. Michele menggeleng."Tidak, Sweetie. Jika kau pulang maka para gangster akan menangkapmu. Ayahmu memiliki banyak masalah dan musuh. Dia yang membuatmu berada di sini," bisiknya lagi. "Itu tidak mungkin," lirih Emily. "Mungkin saja, karena ayahmu lebih memilih partainya daripada putrinya sendiri. Kau tahu itu?" desis Michele, lantas menyeringai tipis. Emily terdiam dalam rasa kecewa. Teganya sang ayah telah menjadikan dia korban untuk kelancaran partainya. Dia tak bisa percaya semua ini. Melihat Emily menangis, Michele mulai muak dibuatnya. Kemudian diraih kawat baja dari saku jas hitam yang membalut tubuh atletisnya. Dengan cepat dia menjerat leher gadis itu. "Aarkkhh!" Emily sangat terkejut saat Michele menjerat lehernya. Dia mengerang kesakitan. Kawat baja itu amat dingin dan tak kenal ampun, mengklaim lehernya dengan eratan mematikan. Dia tak bisa berontak, sebab kedua tangan dan kakinya diikat. Matanya yang basah menatap ke wajah Michele. Tatapan itu memohon padanya. Namun, Bos Mafia sadis menolaknya. Tangannya semakin kuat menjerat leher gadis itu. Tangan dan kaki Emily berhenti bergerak. Mata basah gadis itu melotot ke atas. Bekas kawat baja mengukir sebuah garis merah gelap di leher Emily. Darah segar mulai merembes, menyerupai kalung beludru yang mengerikan. Dia terbaring anggun dalam kebinasaan, seperti patung yang baru saja diukir dengan ketidakpedulian yang brutal. "Tidurlah, Sayangku. Tugasmu sudah selesai di sini," bisik Michele ke telinga Emily. Bibirnya menyeringai tipis melihat gadis itu sudah tak bernyawa lagi.Roma, Italia.Kediaman Don Lazaro Riciteli.Fajar baru saja pecah di cakrawala Roma, namun di dalam kediaman Lazaro Riciteli, atmosfer terasa seberat timah. Kabar mengenai kepulihan George baru saja tiba, namun itu tidak cukup untuk meredakan badai yang sedang bergejolak di benak sang penguasa tua."Tuan Muda sudah mulai stabil. Dokter Arian sedang menjahit lukanya dan memantau kondisinya secara intensif." Ernesto membungkuk dengan hormat, suaranya gemetar oleh kelelahan dan rasa takut yang masih tersisa. Setelah Lazaro mengibaskan tangan dengan gerakan abai, pelayan tua itu segera menghilang di balik pintu mahoni."Sepertinya kita perlu menambah unit pengawal lagi untuk melindungi George. Roma tidak lagi aman untuknya," suara itu berat dan berwibawa, memecah kesunyian ruangan.Carlo Matius Riciteli. Pria itu baru saja menginjakkan kaki di Roma setelah perjalanan panjang. Wajahnya yang tegas menyimpan kesedihan yang mendalam. Seharusnya ia menemui keponakannya, George, namun sang Ra
Angin musim panas di Milan tidak pernah benar-benar terasa hangat bagi seorang Riciteli. Saat jet VIP pribadi itu menyentuh landasan di padang rumput tandus pinggiran kota, deru mesinnya seolah mengoyak keheningan petang yang lembap. Debu dan kerikil beterbangan, menciptakan badai kecil di sekitar burung besi raksasa yang angkuh itu.Pintu jet bergeser ke samping dengan suara hidrolik yang halus. Dua bodyguard berpakaian taktis segera mengambil posisi, membungkuk dalam-dalam saat George Lazaro Riciteli melangkah keluar.George berdiri di ambang pintu pesawat, membiarkan angin kencang menerpa kemeja sutranya yang mahal. Ia menarik napas panjang, meresapi aroma rumput kering dan polusi tipis yang khas dari kota favorit ayahnya. Milan. Di sinilah dinasti Riciteli menanam akar kekuasaannya, dan di sini pula George merasa takdirnya sebagai "Klan Riciteli" yang tunggal terasa begitu nyata sekaligus menyesakkan.Di bawah sana, Luca Amadeus berdiri di barisan depan bersama sepuluh bodyguard
Fajar menyingsing di atas cakrawala Mediterania, namun cahaya emasnya tidak mampu menyinari kegelapan yang baru saja dilarung ke dasar laut.Dua pria berwajah dingin menjatuhkan bungkusan plastik hitam dari dek kapal cepat. Tubuh Adela yang malang tenggelam, ditelan kedalaman air yang dingin untuk selamanya. Di dunia ini, nyawa seorang gadis tak lebih dari sekadar statistik di bawah kaki klan Riciteli.Beberapa mil dari lepas pantai, sebuah truk pengangkut pakan ternak melaju membelah kabut fajar yang menyelimuti tebing-tebing putih Roma. Di kabin belakang yang sempit dan berbau apek, seorang gadis duduk dengan punggung tegak, dekapannya pada laras senapan panjang begitu posesif.Bella Austin Castaro.Di usianya yang ke-25, ia adalah legenda hidup di dalam barak Organisasi EXO. Tatapannya setajam belati, dan jari telunjuknya adalah hakim bagi siapa pun yang masuk dalam bidikannya. "Elang Betina," begitulah rekan-rekannya menjulukinya.Bella mencengkeram badan senapan laras panjangnya
Sequel dari novel Di Atas Ranjang Mafia season 2 karya DW AMOUR "Darah Riciteli adalah kutukan, dan George adalah puncaknya."Di bawah jari manisnya, Cincin Kepala Naga bukan lagi sekadar simbol kekuatan, melainkan belenggu. George Lazaro Riciteli kini bertahta di atas tumpukan mayat dan kejayaan Roma, namun jiwanya mati di tengah depresi yang menghancurkan. Baginya, dunia hanyalah tentang darah yang tumpah atau kepuasan sesaat di atas ranjang. Dialah raja yang gila sepanjang sejarah Mafia.Bella Austin Castaro, sang sniper berdarah dingin, tidak pernah meleset. Baginya, George hanyalah target yang harus musnah demi kedamaian dunia. Namun, saat teropong bidiknya bertemu dengan mata hijau George yang kelam, segalanya berubah. George menginginkan Bella-bukan hanya tubuhnya, tapi jiwanya. Di bawah atap kastil yang penuh rahasia, Bella menyusup sebagai kekasih, sementara jarinya tetap berada di pelatuk, menunggu waktu yang tepat untuk mengirim sang Raja Mafia ke neraka.Saat cinta menja
Malam di Virginia kian larut, membungkus penthouse mewah itu dalam sunyi yang mencekam namun intim. Di luar jendela, butiran salju masih berjatuhan dari langit yang sepekat tinta, menumpuk di atas dahan-dahan pohon maple yang meranggas. Angin musim dingin sesekali melolong, mengetuk kaca jendela, seolah ingin ikut masuk ke dalam kehangatan yang tersisa.Meghan Crafson berdiri mematung di ambang pintu kamar. Matanya tertuju pada punggung lebar Michele yang berdiri diam di tepi jendela besar. Pria itu menatap hamparan salju dengan tatapan yang sulit diartikan—dingin, namun penuh rahasia."Apa kau akan segera pergi?" bisik Meghan, suaranya nyaris tenggelam oleh desau angin.Michele tidak langsung menjawab. Ia melirik dari sudut matanya, menyunggingkan senyum tipis yang penuh misteri. "Apa jika aku pergi, kau akan baik-baik saja?"Pertanyaan itu menghujam jantung Meghan. Ia tahu jawabannya; tidak. Tanpa pria bajingan ini, dunianya terasa hampa, meski lebih aman. Tanpa sentuhan kasar nam
Musim dingin di Virginia tahun ini terasa jauh lebih menggigit daripada yang pernah dirasakan Meghan di Roma. Salju tebal membungkus kota seperti kain kafan putih, membekukan aktivitas, namun tidak mampu membekukan badai yang bergejolak di dalam dadanya.Di atas penthouse mewah yang menghadap ke pusat kota, dekorasi pesta ulang tahun George telah tertata sempurna. Balon-balon berwarna biru dan perak memenuhi sudut ruangan, sementara meja-meja penuh camilan disiapkan dengan apik. Meghan, dalam balutan dress hitam elegan yang kontras dengan pucat wajahnya, berjalan mondar-mandir memastikan segalanya beres. Namun, matanya terus melirik ke arah jendela yang buram karena embun es.Dua pekan. Dua pekan sejak ia melarikan diri dari bayang-bayang Klan Riciteli. Dan selama dua pekan itu pula, ia harus menyaksikan George—putra kecilnya yang baru berusia lima tahun—tumbuh menjadi sosok yang asing. George tidak lagi ceria; ia lebih banyak diam, menatap kosong ke arah luar, seolah sedang menungg







