Home / Mafia / DI ATAS RANJANG MAFIA / 113. Eksekusi Di Balik Bayang-bayang

Share

113. Eksekusi Di Balik Bayang-bayang

Author: Dewa Amour
last update publish date: 2026-02-07 08:47:14

Malam di Pantai Tirania bukan sekadar dingin; ia membeku, seolah-olah alam sendiri tahu bahwa di balik dinding beton tahan khusus Tartarus, sebuah pengkhianatan besar sedang dimasak.

Salju tipis menempel pada kaca jendela mobil CRV hitam yang menepi di bayang-bayang pepohonan.

Di dalam mobil, Paolo menguap lebar, matanya yang merah menatap nanar ke arah gerbang yang dijaga ketat. "Apa sudah ada informasi dari Tuan Muda Carlo?" tanyanya sambil mengunyah permen Kopiko pemberian Sergio.

Rasa kop
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    187. Objek Kesenangan

    Pagi di Manhattan tidak pernah terasa tenang bagi Morton Claire. Di ruang kerjanya yang luas di lantai 40 gedung Claire Tower, suasana terasa mencekam. Morton menggebrak meja kerja mahoninya dengan kekuatan yang membuat laptop dan tumpukan berkas bergetar. "CARI SAMPAI DAPAT! BAGAIMANA BISA SEORANG WANITA DAN ANAK KECIL HILANG DARI RADAR KALIAN?!" raungnya pada dua pria berpakaian hitam yang berdiri menunduk di depannya. Laporan yang ia terima nihil. Noah belum terlacak. Miranda seolah-olah ditelan bumi. Morton jatuh terduduk di kursi kulitnya, memijat pelipisnya yang berdenyut. Warisan Robert Claire bergantung pada keberadaan Noah, dan waktu yang ia miliki semakin tipis. Pintu ruangan terbuka. Seorang wanita berambut merah dengan gaun ketat yang nyaris tidak menyisakan ruang bagi imajinasi melangkah masuk. Monica, sekretaris pribadi sekaligus simpanan rahasia Morton, tersenyum binal melihat kekacauan kekasihnya. Morton mengibaskan tangan, menyuruh mata-matanya keluar. "Tinggal

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    186. Sisi Lain Raja Mafia

    Malam musim semi di Westphalia, Jerman, tidak pernah terasa sehangat bayangan orang awam. Di dalam kediaman megah milik keluarga Claire, udara terasa membeku meski perapian dinyalakan dengan kayu ek terbaik. Ruang makan itu adalah sebuah mahakarya arsitektur Barok, dengan lampu gantung kristal yang membiaskan cahaya ke atas meja panjang dari kayu mahoni. ​Di ujung meja, duduklah sang patriark, Robert Claire. Di usianya yang ke-75, Robert masih memiliki aura yang mampu mengintimidasi siapa pun. Rambut putihnya disisir rapi, kontras dengan setelan jas hitam yang membalut tubuh bugarnya. Sebagai Komisaris Tertinggi dari kekaisaran bisnis yang membentang dari Berlin hingga New York, Robert adalah definisi dari kekuasaan absolut. Namun, malam ini, ia bukan hanya seorang pengusaha; ia adalah seorang hakim bagi ketiga anaknya. ​Matthew Claire, sang putra sulung yang kaku, duduk di sisi kanan bersama istrinya, Nancy. Di seberangnya, Jesica Claire, putri bungsu yang licik, duduk berdam

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    185. Perasaan Aneh Itu Muncul Tiba-tiba

    Sektor 4 – Laboratorium Bawah Tanah, Rusia. Pukul 21.00.​Udara di dalam laboratorium terasa statis, dipenuhi aroma antiseptik yang tajam dan dengung konstan dari mesin pendukung hidup. Miranda Ford berdiri terpaku, matanya tak lepas dari tabung transparan yang berisi tubuh Bella. Di sampingnya, Dokter Klaus dan Aris bekerja dengan presisi tinggi, menghubungkan kateter baru ke vena di leher Bella.​"Sekarang," bisik Miranda.​Aris menekan tombol injeksi. Formula penawar—cairan biru safir yang bening—perlahan mengalir masuk ke dalam sistem peredaran darah Bella. Detik berikutnya, tubuh Bella tersentak hebat. Kejang-kejang singkat itu membuat kabel-kabel monitor bergoyang, namun hanya dalam hitungan sepuluh detik, segalanya kembali tenang. Garis pada monitor jantung menunjukkan ritme yang jauh lebih stabil daripada dua hari lalu.​Klaus menghela napas panjang, sebuah senyuman langka muncul di wajahnya yang keriput. Ia menepuk bahu Miranda dengan bangga. "Luar biasa, Miranda. Aku tid

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    184. Sebuah Kelemahan

    Sektor 4 – Laboratorium Bawah Tanah, Rusia. Pukul 10.00.​Cahaya lampu laboratorium terasa lebih menyengat pagi ini, menusuk ke dalam retina mata Miranda Ford yang memerah. Tangannya yang terbungkus sarung tangan lateks tampak gemetar saat ia menuangkan cairan katalis ke dalam tabung reaksi. Pikirannya tidak sinkron dengan gerakan tangannya. Setiap kali ia memejamkan mata untuk fokus, memori tentang semalam kembali menghantamnya seperti ombak pasang.​Sentuhan dingin pistol George di balik roknya, napas pria itu yang berbau anggur dan kekuasaan, serta kata-kata yang merendahkan harga dirinya—semuanya berputar bagai kaset rusak. Miranda membenci getaran yang sempat menjalar di sarafnya semalam.Hubungannya dengan Morton selama bertahun-tahun hanyalah kontrak dingin tanpa gairah; Morton memperlakukannya seperti trofi yang bisa dipajang atau dipukul sesuka hati. Namun, kekejaman George berbeda. Ada intensitas yang mengerikan, sebuah gairah predator yang membuat Miranda merasa kembali

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    183. Emosi Dan Hawa Nafsu

    Kegelapan di lorong remang itu seolah bernapas, mengikuti irama jantung Miranda yang berdegup kencang hingga terasa menyakitkan di dada. Ia terengah-engah, tubuhnya bersandar pada dinding beton yang lembap. Ia mengira telah berhasil menjauh dari jangkauan Luca, namun keheningan itu tiba-tiba pecah oleh suara derap langkah sepatu bot yang berat dan berirama.Miranda mencoba memutar tubuh untuk lari ke arah berlawanan, namun ia terlambat. Sebuah tangan besar dengan kekuatan yang luar biasa menyambar rambutnya dari belakang, menjambaknya dengan sentakan yang membuat kepala Miranda terdongak paksa."AKH!" Miranda menjerit kesakitan."Kau pikir kau bisa keluar dari sini hidup-hidup, Dokter?" Suara itu dingin, setajam pisau bedah yang membelah keheningan.George Riciteli. Tanpa belas kasihan, George menjambak rambut Miranda dan menyeretnya keluar dari kegelapan lorong. "Lepas... lepaskan aku!"Miranda terhuyung-huyung, kakinya nyaris tak menyentuh lantai saat ia dipaksa mengikuti langkah

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    182. Upaya Kabur Miranda

    Ketegangan di laboratorium memuncak hingga ke titik didih. Bella, dalam wujudnya yang mengerikan—seperti mayat hidup yang bangkit dari kubur—bersiap untuk melompat dan merobek tenggorokan George serta Miranda. Namun, sebelum maut itu bersentuhan dengan kulit mereka, pintu baja terbuka dentan dentuman keras."Tembak jaringnya! Sekarang!" raung LucaDua orang bodyguard menembakkan peluncur jaring berkekuatan tinggi yang terbuat dari kawat baja tipis namun lentur. Jaring itu membungkus tubuh Bella, menjatuhkannya ke lantai. Bella meraung, sebuah suara yang mengoyak gendang telinga, sementara kuku-kukunya mencakar lantai marmer hingga memercikkan bunga api.Dokter Klaus berlari maju dengan wajah pucat pasi. Tanpa membuang waktu, ia menusukkan jarum suntik berisi serum penenang dosis tinggi langsung ke pangkal leher Bella. Tubuh Bella bergetar hebat selama beberapa detik sebelum akhirnya terkulai lemas di dalam jaring, matanya yang putih keruh perlahan terpejam."Bella!" George menghamp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status