로그인Kegelapan di lorong remang itu seolah bernapas, mengikuti irama jantung Miranda yang berdegup kencang hingga terasa menyakitkan di dada. Ia terengah-engah, tubuhnya bersandar pada dinding beton yang lembap. Ia mengira telah berhasil menjauh dari jangkauan Luca, namun keheningan itu tiba-tiba pecah oleh suara derap langkah sepatu bot yang berat dan berirama.Miranda mencoba memutar tubuh untuk lari ke arah berlawanan, namun ia terlambat. Sebuah tangan besar dengan kekuatan yang luar biasa menyambar rambutnya dari belakang, menjambaknya dengan sentakan yang membuat kepala Miranda terdongak paksa."AKH!" Miranda menjerit kesakitan."Kau pikir kau bisa keluar dari sini hidup-hidup, Dokter?" Suara itu dingin, setajam pisau bedah yang membelah keheningan.George Riciteli. Tanpa belas kasihan, George menjambak rambut Miranda dan menyeretnya keluar dari kegelapan lorong. "Lepas... lepaskan aku!"Miranda terhuyung-huyung, kakinya nyaris tak menyentuh lantai saat ia dipaksa mengikuti langkah
Ketegangan di laboratorium memuncak hingga ke titik didih. Bella, dalam wujudnya yang mengerikan—seperti mayat hidup yang bangkit dari kubur—bersiap untuk melompat dan merobek tenggorokan George serta Miranda. Namun, sebelum maut itu bersentuhan dengan kulit mereka, pintu baja terbuka dentan dentuman keras."Tembak jaringnya! Sekarang!" raung LucaDua orang bodyguard menembakkan peluncur jaring berkekuatan tinggi yang terbuat dari kawat baja tipis namun lentur. Jaring itu membungkus tubuh Bella, menjatuhkannya ke lantai. Bella meraung, sebuah suara yang mengoyak gendang telinga, sementara kuku-kukunya mencakar lantai marmer hingga memercikkan bunga api.Dokter Klaus berlari maju dengan wajah pucat pasi. Tanpa membuang waktu, ia menusukkan jarum suntik berisi serum penenang dosis tinggi langsung ke pangkal leher Bella. Tubuh Bella bergetar hebat selama beberapa detik sebelum akhirnya terkulai lemas di dalam jaring, matanya yang putih keruh perlahan terpejam."Bella!" George menghamp
Sektor 4 – Laboratorium Bawah Tanah, Rusia. Pukul 02.00.Kesunyian di laboratorium itu terasa mencekam, hanya diinterupsi oleh dengung mesin pendingin dan detak jam dinding yang seolah menghitung mundur sisa umur Miranda Ford. Ini adalah hari kelima. Lima hari yang terasa seperti lima abad di neraka. Di bawah kelopak mata Miranda yang menghitam karena kurang tidur, terpancar kecemasan yang akut. Lusa adalah hari Senin. Di belahan bumi lain, di sebuah ruang sidang yang dingin di Manhattan, nasib putranya, Noah, akan ditentukan.Jika ia tidak hadir, Morton—si iblis berwajah malaikat itu—akan menghapus nama Miranda dari hidup Noah selamanya."Waktumu menipis, Dokter."Suara bariton yang berat dan dingin itu menyambar punggung Miranda seperti cambuk. Miranda tersentak hebat, tabung reaksi di tangannya nyaris terlepas. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berdiri di sana. Aroma cerutu mahal dan wangi maskulin yang tajam menandakan kehadiran sang Raja Mafia, George Riciteli.Georg
Sektor 4 – Laboratorium Rahasia, Rusia. Dua puluh empat jam terakhir terasa seperti setahun bagi Miranda Ford. Di bawah pendar lampu fluoresen yang berkedip dingin, ia merasa jiwanya perlahan terkikis. Aroma kimia yang tajam menusuk hidungnya, namun rasa sakit yang paling nyata adalah denyut di kepalanya. Di depannya, mikroskop dan deretan tabung reaksi berisi cairan berwarna biru neon dan ungu gelap menjadi saksi bisu atas keputusasaannya.Berulang kali ia mencoba meracik serum. Namun, setiap kali sampel darah Bella disuntikkan dengan formula baru, sel-sel virus Chimera Omega justru bereaksi lebih agresif, melahap sel darah putih dalam hitungan detik seolah-olah serum itu hanyalah hidangan pembuka bagi sebuah pesta kematian.Miranda menyandarkan punggungnya pada meja laboratorium, nafasnya terengah. Matanya yang sembap melirik ke arah pintu kaca tebal. Di luar sana, tiga orang bodyguard berdiri tegak dengan senapan mesin menggantung di bahu mereka. Mereka bukan manusia bagi Mi
Laut Baltik – Menuju Kepulauan Terpencil Rusia.Malam itu, dunia seolah menghilang bagi Miranda Ford. Perjalanan dari Manhattan ke Rusia terasa seperti mimpi buruk yang terputus-putus. Ia masih ingat rasa dingin yang menjalar di lengannya saat salah satu anak buah George menyuntikkan obat bius di dalam kabin jet pribadi. Setelah itu, kegelapan total.Miranda tersadar dengan rasa pening yang menghantam pelipisnya seperti palu godam. Ia mengerang, mencoba memfokuskan pandangan pada langit-langit ruangan yang tinggi dan dingin. Bau udara di sini berbeda—asin, lembap, dan berbau logam. Saat ia mencoba bangkit, sosok pria jangkung dengan ekspresi datar berdiri di dekat jendela."Kau sudah bangun, Dokter Ford," suara itu rendah dan tegas.Miranda tersentak, jantungnya berpacu. "Kau... pria yang ada di mobil. Di mana aku?""Aku Luca. Tangan kanan Tuan Muda Riciteli," jawab pria itu tanpa menoleh. "Tuan Muda memintamu segera bersiap. Kau sudah pingsan selama dua belas jam selama perjalan
Manhattan, New York – Gedung Pengadilan Negeri, Siang Hari.Udara di dalam ruang sidang terasa menyesakkan, lebih berat daripada beton pencakar langit yang mengepung Manhattan. Miranda Ford duduk dengan jemari yang saling bertautan erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di sampingnya, pengacaranya yang tampak lelah terus merapikan berkas-berkas yang sebenarnya sudah kehilangan taringnya.Di seberang ruangan, Morton Claire duduk dengan angkuh. Pria itu adalah perwujudan dari kekuasaan korup Manhattan; pemilik ECO Company yang raksasa sekaligus pemain kunci di Partai Hitam Putih. Morton tidak hanya menginginkan perceraian; ia menginginkan kehancuran total Miranda dengan merebut hak asuh putra mereka yang berusia empat tahun, Noah Claire.Tok! Tok! Tok!"Sidang ditunda hingga minggu depan," suara Hakim menggelegar, dingin tanpa empati. "Untuk sementara waktu, hak asuh Noah Claire jatuh ke tangan sang ayah, Morton Claire, menunggu hasil investigasi latar belakang lebih lanjut."Dun







