Home / Mafia / DI ATAS RANJANG MAFIA / 139. Milan Dan Ambisi Sang Raja

Share

139. Milan Dan Ambisi Sang Raja

Author: Dewa Amour
last update publish date: 2026-03-24 14:32:45

Pusat Kota Milan – Siang Hari yang Membeku.

Aspal jalanan Milan yang biasanya tertib mendadak berubah menjadi sirkuit maut. Suara raungan mesin quad-turbocharged W16 membelah kesunyian kota, menciptakan resonansi yang menggetarkan kaca-kaca gedung butik mewah di sepanjang jalan.

Sebuah Bugatti Veyron biru metalik melesat layaknya peluru nyasar, berkelok tajam di antara barisan mobil komuter yang terpaksa mengerem mendadak.

Klakson bersahutan, makian para pengemudi tenggelam oleh deru angin da
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    140. Simfoni Peluru Di Tanah Milan

    Milan di malam hari adalah labirin neon yang menyembunyikan dosa-dosa paling gelap di balik kemegahan katedral dan butik-butik mewahnya. Di pinggiran kota yang suram, The Crimson Serpent, bar kasino milik Fabrizio Jonas, bergetar oleh dentuman musik remix yang memekakkan telinga. Namun, getaran itu mendadak berubah menjadi hening yang mencekam saat pintu ganda berbahan mahoni itu ditendang terbuka dari luar.George Riciteli melangkah masuk. Ia tidak datang sebagai tamu; ia datang sebagai malaikat maut dengan selera berpakaian yang sangat mahal. Di belakangnya, Luca dan tiga bodyguard pilihan Klan Riciteli berjalan dengan formasi tempur, tangan mereka siap di balik jas, mencengkeram senjata otomatis.George tidak menunggu basa-basi. Sambil berjalan tenang menuju meja judi VIP di tengah ruangan, ia menghunus revolver peraknya.Duar! Duar! Duar!George menembakkan senjatanya ke arah langit-langit dan meja judi dengan presisi yang menakutkan. Peluru-peluru panas melesat, memecahkan bot

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    139. Milan Dan Ambisi Sang Raja

    Pusat Kota Milan – Siang Hari yang Membeku.Aspal jalanan Milan yang biasanya tertib mendadak berubah menjadi sirkuit maut. Suara raungan mesin quad-turbocharged W16 membelah kesunyian kota, menciptakan resonansi yang menggetarkan kaca-kaca gedung butik mewah di sepanjang jalan. Sebuah Bugatti Veyron biru metalik melesat layaknya peluru nyasar, berkelok tajam di antara barisan mobil komuter yang terpaksa mengerem mendadak. Klakson bersahutan, makian para pengemudi tenggelam oleh deru angin dan dentuman musik tekno yang diputar dengan volume maksimal dari dalam kabin mobil mewah tersebut.Di belakangnya, sebuah SUV hitam melaju dengan susah payah menjaga jarak. Luca mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih. Wajahnya pias. Ia menekan tombol earphone di telinganya untuk kesekian kali."George! Demi Tuhan, pelankan kecepatannya! Kau bisa membuat kita semua berakhir di koran pagi sebagai tumpukan rongsokan!" teriak Luca. "Tuan Besar akan menembak kepalaku tepat di pelipis jika cuc

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    138. Ambisi Sang Predator

    Kegelapan musim dingin di puncak pegunungan menyelimuti asrama para tentara bayaran layaknya kain kafan yang dingin. Namun, di tengah lapangan beton di belakang gedung utama, sebuah api unggun raksasa menyala, mengirimkan lidah-lidah api yang menari ke langit malam yang pekat. Suara gemeretak kayu terbakar beradu dengan tawa kasar para tentara yang sedang merayakan Natal dengan cara paling primitif yang mereka tahu: memanggang daging liar dan menenggak anggur murah. Di sudut lain, petikan gitar yang sumbang melantunkan nada-nada rindu yang terdistorsi oleh dinginnya udara.Dari jendela lantai tiga yang terbuka lebar, Bella Austin Castaro berdiri mematung. Angin malam menyapu wajahnya, namun ia tak bergeming. Matanya menatap kosong ke arah pesta kecil di bawah, sebuah pemandangan yang biasanya ia abaikan, namun malam ini terasa begitu menyakitkan.Di belakangnya, Elena duduk di tepi ranjang dengan wajah pucat. Bella baru saja menumpahkan segalanya—tentang misinya yang gagal, tentan

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    137. Antara Cinta Dan Pengabdian

    Markas Besar Organisasi EXO, Perbukitan Milan – Hari Natal, Pukul 13.00 Siang.Angin pegunungan yang menggigit tulang menyapu pelataran markas EXO, sebuah benteng beton yang tersembunyi di antara tebing-tebing kapur yang menjulang tinggi. Di sini, Natal hanyalah sebuah tanggal di kalender; tidak ada pohon cemara yang dihias, tidak ada nyanyian damai, yang ada hanyalah aroma minyak senjata dan dinginnya disiplin militer.Bella Austin Castaro melangkah menyusuri koridor panjang yang diterangi lampu neon pucat. Setiap langkah pantofel taktisnya bergema di lantai granit, menciptakan irama yang kontras dengan kekacauan di dalam dadanya. Pikirannya masih tertinggal di atas ranjang kapal The Black Siren, tertinggal pada sentuhan George yang masih terasa membekas di kulitnya."Bella! Kau kembali!"Sebuah pekikan senang memecah kesunyian koridor. Elena, rekan satu tim sekaligus satu-satunya orang yang Bella anggap teman di tempat terkutuk ini, berlari menghampiri. Mereka berpelukan singkat—s

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    136. Obsesi Di Atas Kanvas

    Kastil Riciteli, Roma – Hari Natal, Pukul 11.00 Siang.Matahari musim dingin menggantung pucat di langit Roma, namun sinarnya cukup untuk membuat cat biru metalik pada Bugatti Veyron itu berkilau layaknya berlian mentah. Mobil itu merambat pelan, membelah jalanan setapak yang dipayungi pohon-pohon cemara yang berselimut salju tipis, menuju pelataran luas Kastil Keluarga Riciteli. Bangunan tiga lantai itu berdiri megah, sebuah monumen kekuasaan yang telah bertahan selama ratusan tahun, menjaga rahasia-rahasia berdarah di balik dinding batunya yang kokoh.Di pelataran, barisan bodyguard berpakaian jas hitam berdiri kaku bak patung prajurit Romawi. Mereka membungkuk serempak saat pintu Bugatti terangkat ke atas dengan suara hidrolik yang halus. George Lazaro Riciteli keluar. Sang Putra Mahkota, sang predator dengan garis wajah yang dipahat sempurna oleh ketampanan dan kekejaman, melangkah dengan acuh tak acuh. Mantel wol hitamnya berkibar ditiup angin dingin, sementara Luca mengikuti

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    135. Puncak Gairah Terlarang

    Pesta telah usai, menyisakan keheningan yang mencekam di lorong-lorong kapal pesiar mewah itu. Para tamu undangan, yang sebagian besar adalah sisa-sisa penguasa bawah tanah, telah kembali ke bilik mereka masing-masing, terbuai oleh alkohol dan janji-janji kekuasaan. Dua orang penjaga berseragam hitam membungkuk hormat saat Dante Cosla melintasi pintu kamar Bella. Dante, sang arsitek dendam yang kini mulai dimakan usia, tidak menaruh kecurigaan sedikit pun. Ia hanya melihat pintu yang tertutup rapat, mengira senjata rahasianya—Bella—sedang beristirahat setelah berhasil menjerat Marques Jonas.Malam di Mediterania terasa begitu tenang, dingin, dan sunyi. Dua bodyguard yang berjaga di depan pintu Bella mulai memejamkan mata, bersandar pada dinding kayu yang dingin, membiarkan kantuk menguasai mereka di bawah pengaruh sisa sampanye pesta.Namun, di balik pintu kamar nomor 202, suasana temaram itu meledak oleh frekuensi gairah yang memburu. Cahaya bulan yang masuk melalui celah gorden pe

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    59. Kembali Ke Virginia

    "Michele!"Meghan berteriak melihat mobil-mobil mewah itu melaju meninggalkan area gedung apartemen. Dia bergegas lari meninggalkan kamar.Itu Michele!Ya, dia melihatnya!Jose yang sedang bermain catur bersama Alando dibuat terkejut melihat Meghan melintas. Gadis itu berlari tidak jelas. Ada apa i

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • DI ATAS RANJANG MAFIA    56. Dia Duniaku

    Tirai putih melambai-lambai terkena tiupan angin sore. Di tepi garis jendela, Meghan duduk mendekap kedua lututnya seorang diri.Waktu terasa lamban meninggalkan dentingnya. Laut Mediterania dan kenangannya, entah di mana Tuan Mafia saat ini.Pihak kepolisian sudah menutup kasus dan menghentikan pe

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • DI ATAS RANJANG MAFIA    61. Kecelakaan Rekayasa ( Ending )

    "Aku muak denganmu, Jose!""Meghan!"Jose bergegas menyusul Meghan. Wanita itu pergi keluar dari unit apartemen setelah terjadi perdebatan di antara mereka.Meghan membuang wajah jengah pada Jose. Ia menoleh satu kali ke arah pintu sebelum benar-benar hengkang dari sana.Perdebatan yang baru saja t

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • DI ATAS RANJANG MAFIA    58. Dia Belum Mati

    Musim panas di Roma. Cuaca terang bak lampu-lampu ratusan wat yang tergantung di langit.Tembok putih St. Angelo Bridge terlihat usang dan kering karena terpaan sinar ganas sang mentari setiap harinya.Meghan berjalan-jalan seorang diri di sekitar jembatan. Matanya memindai ke sekeliling.Dilihatny

    last updateLast Updated : 2026-03-24
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status