MasukAroma cendana yang menenangkan berpadu dengan bau apek dari ribuan naskah kuno yang memenuhi rak-rak kayu ek tinggi hingga ke langit-langit. Di sana, di bawah cahaya lampu temaram, Don Lazaro berdiri mematung di depan koleksi buku-buku tuanya. Suara derap langkah pantofel mewah yang menggema di lantai marmer memberitahunya bahwa sang cucu telah tiba, namun sang singa tua itu tetap tak menoleh, jemarinya masih asyik menelusuri punggung buku yang usang.George Riciteli berhenti beberapa meter di belakang kakeknya. Ia berdiri tegak, memasukkan kedua tangannya ke saku celana bahan mahalnya, dan menatap punggung Don Lazaro dengan ekspresi malas. "Ada apa memanggilku, Kek?" tanyanya tanpa basa-basi.Don Lazaro menutup buku tebal di tangannya, suara deb buk buku itu memecah kesunyian. Ia memutar tubuhnya, menatap George dengan binar kebahagiaan yang jarang terlihat. Ia berjalan mendekat, menepuk kedua bahu George dengan bangga. "Kau akan segera menikah, George. Mulailah belajar bersikap de
Markas Besar Organisasi EXO, Milan – Pukul 07.00 Pagi.Fajar di Milan menyingsing dengan warna abu-abu baja, sedingin beton-beton yang membangun Markas Besar EXO. Di pelataran luas yang dikelilingi pagar kawat berduri dan menara pengawas, ratusan tentara bayaran berdiri dalam barisan yang sangat rapi. Di antara mereka, Bella Austin Castaro berdiri tegak. Wajahnya yang rupawan kini tertutup oleh topeng ketenangan yang kaku, matanya menatap lurus ke depan seolah jiwanya telah tertinggal di sebuah villa terpencil di perbukitan Como.Elena, yang berdiri beberapa baris di sampingnya, melirik dengan cemas. Ia menyenggol lengan Miller, berbisik pelan, "Apa yang terjadi pada Elang Betina kita di Como? Dia pulang semalam seperti hantu." Miller hanya menggeleng acuh, fokusnya terkunci pada Henry Cirilo yang sedang memberikan pidato taktis di atas podium.Setelah upacara pembubaran, Bella melangkah cepat menuju asrama. Ia mengganti seragam upacaranya dengan stelan taktis militer lengkap, bersi
Kesunyian yang menyakitkan menyelimuti villa tua itu setelah badai emosi mereda. Bella Austin Castaro melangkah menuruni undakan anak tangga batu dengan gerakan mekanis. Seragam taktis hitam EXO yang melekat di tubuhnya terasa seperti kulit kedua yang dingin dan kaku—sebuah pengingat akan jati dirinya yang tak bisa ia lepaskan. Rambut panjangnya diikat kencang ke belakang, menonjolkan rahangnya yang mengeras untuk menahan isak tangis. Di bahunya, ia menyampirkan tas hitam berisi senapan runduk, beratnya seakan mewakili beban dosa yang ia pikul.Di ujung tangga, ia berhenti sejenak. Matanya tertuju pada punggung lebar George Riciteli. Pria itu berdiri mematung di depan jendela besar yang menghadap ke danau, membelakanginya dengan keangkuhan yang melukai. George mendongak, menatap gelapnya langit seolah kehadiran Bella di ruangan itu hanyalah debu yang lewat. Sikap abai itu adalah racun yang paling mematikan bagi Bella.Tanpa sepatah kata pamit, Bella memalingkan wajah, mengusap titi
Matahari sore yang garang menyapu fasad batu kastil tua milik keluarga Jonas, memberikan rona oranye yang tampak seperti karat. Sebuah SUV hitam berhenti dengan decitan ban yang kasar. Fabrizio Jonas melangkah keluar dengan rahang mengeras. Hidungnya dibalut perban putih bersih, kontras dengan wajahnya yang masih lebam keunguan akibat hantaman George malam sebelumnya.Seorang pengawal berlari tergopoh-gopoh menghampirinya. "Tuan Fabrizio! Ada kiriman paket... dari orang tak dikenal. Baru saja tiba di teras utama."Fabrizio menghentikan langkahnya. Matanya menyipit penuh kecurigaan. Di dunia bawah tanah Italia, paket tanpa nama biasanya berarti satu dari dua hal: pesan perdamaian yang palsu atau bom yang akan meratakan gedung. "Siapkan tim penjinak! Malik, periksa!" perintahnya kasar.Malik, asisten setianya, segera maju ke depan. Para bodyguard mengepung sebuah kotak kayu besar yang diletakkan begitu saja di teras marmer. Dengan gerakan hati-hati, mereka mencongkel tutup kotak terse
Hotel La Vola, ComoUdara di dalam kamar VIP itu terasa statis, dipenuhi bau mesiu dan aroma kematian yang pekat. George Riciteli berdiri dengan angkuh, moncong senjatanya hanya berjarak beberapa inci dari kening Fabrizio Jonas. Namun, tepat saat jarinya hendak menekan pelatuk untuk mengakhiri garis keturunan Jonas, sebuah kilatan cahaya muncul dari arah pintu yang hancur.DUAR!Peluru kaliber .45 melesat, merobek bahu kiri George. Hantaman itu begitu keras hingga tubuh George tersentak ke samping. Bella menjerit, suaranya melengking memecah ketegangan. Barisan bodyguard Kelabang Hitam yang tadinya ciut, kini menyibak, memberi jalan bagi sesosok pria bermuka pucat dengan mata cekung yang memancarkan kebengisan dingin.Dominico Jonas. Sang predator yang sedang sekarat itu melangkah maju, pistolnya masih mengepulkan asap. Fabrizio, yang menyadari kesempatannya, segera bangkit dan melayangkan tendangan brutal ke ulu hati George. George terjerembab ke lantai marmer yang dingin. Dalam s
Pesisir Pantai Como – Pukul 22.00.Deru mesin mobil yang meraung memecah kesunyian pesisir pantai yang berbatu. Sebuah sedan hitam berhenti dengan sentakan kasar di depan sebuah gudang tua yang tersembunyi di balik dinding tebing. Pintu mobil terbuka secepat kilat, dan dua orang bodyguard berotot besar menyeret Marques Jonas keluar seperti seonggok daging tak berharga.Marques, yang beberapa jam lalu masih merasa menjadi pemenang, kini hanya bisa berteriak parau meminta pertolongan yang tak kunjung datang. Suaranya tenggelam oleh suara ombak yang menghantam karang. Carlo Matius Riciteli, dengan topeng perak yang memantulkan cahaya bulan, melangkah keluar dari kegelapan. Tawa dinginnya pecah, bergema mengerikan di telinga Marques."Bawa dia ke ruang bawah tanah," perintah Carlo datar. "Biarkan dia mencium aroma kematiannya sendiri," perintah Carlo.Sambil menaiki tangga batu menuju kastil tua di atas tebing, Carlo merogoh ponselnya dan menghubungi Luca. Wajahnya yang tersembunyi di b
Malam di Pantai Tirania bukan sekadar dingin; ia membeku, seolah-olah alam sendiri tahu bahwa di balik dinding beton tahan khusus Tartarus, sebuah pengkhianatan besar sedang dimasak. Salju tipis menempel pada kaca jendela mobil CRV hitam yang menepi di bayang-bayang pepohonan.Di dalam mobil, Paol
Fajar hampir menyingsing di cakrawala Pantai Tirania, namun kegelapan masih enggan beranjak dari gedung Tahanan Khusus yang kini dikepung api dan debu. Di luar gerbang, kekacauan pecah layaknya medan perang. Suara dentuman meriam dari kapal Georgino bersahut-sahutan dengan rentetan senapan mesin p
Malam itu di markas besar Klan Riciteli, udara tidak lagi berbau mesiu dan ketakutan, melainkan aroma kemenangan yang mahal. Di tengah aula besar yang diterangi lampu kristal, Carlo berdiri mematung di hadapan Michele."Michele, maafkan kebodohanku..." suara Carlo bergetar, matanya menatap lantai,
Lonceng tengah malam berdentang dari kejauhan, suaranya teredam oleh deru ombak yang menghantam tebing di bawah Tahanan Khusus Pantai Tirania. Udara sedingin es menusuk hingga ke tulang, membuat napas para penjaga berubah menjadi uap putih di bawah sorot lampu halogen yang temaram.Jose Alexander







