Accueil / Mafia / DI ATAS RANJANG MAFIA / 181. Penelitian Yang Gagal

Share

181. Penelitian Yang Gagal

Auteur: Dewa Amour
last update Date de publication: 2026-05-08 20:17:13

Sektor 4 – Laboratorium Bawah Tanah, Rusia. Pukul 02.00.

Kesunyian di laboratorium itu terasa mencekam, hanya diinterupsi oleh dengung mesin pendingin dan detak jam dinding yang seolah menghitung mundur sisa umur Miranda Ford. Ini adalah hari kelima. Lima hari yang terasa seperti lima abad di neraka.

Di bawah kelopak mata Miranda yang menghitam karena kurang tidur, terpancar kecemasan yang akut. Lusa adalah hari Senin. Di belahan bumi lain, di sebuah ruang sidang yang dingin di Manhattan, nasi
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    182. Upaya Kabur Miranda

    Ketegangan di laboratorium memuncak hingga ke titik didih. Bella, dalam wujudnya yang mengerikan—seperti mayat hidup yang bangkit dari kubur—bersiap untuk melompat dan merobek tenggorokan George serta Miranda. Namun, sebelum maut itu bersentuhan dengan kulit mereka, pintu baja terbuka dentan dentuman keras."Tembak jaringnya! Sekarang!" raung LucaDua orang bodyguard menembakkan peluncur jaring berkekuatan tinggi yang terbuat dari kawat baja tipis namun lentur. Jaring itu membungkus tubuh Bella, menjatuhkannya ke lantai. Bella meraung, sebuah suara yang mengoyak gendang telinga, sementara kuku-kukunya mencakar lantai marmer hingga memercikkan bunga api.Dokter Klaus berlari maju dengan wajah pucat pasi. Tanpa membuang waktu, ia menusukkan jarum suntik berisi serum penenang dosis tinggi langsung ke pangkal leher Bella. Tubuh Bella bergetar hebat selama beberapa detik sebelum akhirnya terkulai lemas di dalam jaring, matanya yang putih keruh perlahan terpejam."Bella!" George menghamp

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    181. Penelitian Yang Gagal

    Sektor 4 – Laboratorium Bawah Tanah, Rusia. Pukul 02.00.Kesunyian di laboratorium itu terasa mencekam, hanya diinterupsi oleh dengung mesin pendingin dan detak jam dinding yang seolah menghitung mundur sisa umur Miranda Ford. Ini adalah hari kelima. Lima hari yang terasa seperti lima abad di neraka. Di bawah kelopak mata Miranda yang menghitam karena kurang tidur, terpancar kecemasan yang akut. Lusa adalah hari Senin. Di belahan bumi lain, di sebuah ruang sidang yang dingin di Manhattan, nasib putranya, Noah, akan ditentukan.Jika ia tidak hadir, Morton—si iblis berwajah malaikat itu—akan menghapus nama Miranda dari hidup Noah selamanya."Waktumu menipis, Dokter."Suara bariton yang berat dan dingin itu menyambar punggung Miranda seperti cambuk. Miranda tersentak hebat, tabung reaksi di tangannya nyaris terlepas. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berdiri di sana. Aroma cerutu mahal dan wangi maskulin yang tajam menandakan kehadiran sang Raja Mafia, George Riciteli.Georg

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    180. Terjebak Di Sangkar Raja Mafia

    Sektor 4 – Laboratorium Rahasia, Rusia. ​Dua puluh empat jam terakhir terasa seperti setahun bagi Miranda Ford. Di bawah pendar lampu fluoresen yang berkedip dingin, ia merasa jiwanya perlahan terkikis. Aroma kimia yang tajam menusuk hidungnya, namun rasa sakit yang paling nyata adalah denyut di kepalanya. Di depannya, mikroskop dan deretan tabung reaksi berisi cairan berwarna biru neon dan ungu gelap menjadi saksi bisu atas keputusasaannya.​Berulang kali ia mencoba meracik serum. Namun, setiap kali sampel darah Bella disuntikkan dengan formula baru, sel-sel virus Chimera Omega justru bereaksi lebih agresif, melahap sel darah putih dalam hitungan detik seolah-olah serum itu hanyalah hidangan pembuka bagi sebuah pesta kematian.​Miranda menyandarkan punggungnya pada meja laboratorium, nafasnya terengah. Matanya yang sembap melirik ke arah pintu kaca tebal. Di luar sana, tiga orang bodyguard berdiri tegak dengan senapan mesin menggantung di bahu mereka. Mereka bukan manusia bagi Mi

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    179. Pertaruhan Nyawa

    Laut Baltik – Menuju Kepulauan Terpencil Rusia.​Malam itu, dunia seolah menghilang bagi Miranda Ford. Perjalanan dari Manhattan ke Rusia terasa seperti mimpi buruk yang terputus-putus. Ia masih ingat rasa dingin yang menjalar di lengannya saat salah satu anak buah George menyuntikkan obat bius di dalam kabin jet pribadi. Setelah itu, kegelapan total.​Miranda tersadar dengan rasa pening yang menghantam pelipisnya seperti palu godam. Ia mengerang, mencoba memfokuskan pandangan pada langit-langit ruangan yang tinggi dan dingin. Bau udara di sini berbeda—asin, lembap, dan berbau logam. Saat ia mencoba bangkit, sosok pria jangkung dengan ekspresi datar berdiri di dekat jendela.​"Kau sudah bangun, Dokter Ford," suara itu rendah dan tegas.​Miranda tersentak, jantungnya berpacu. "Kau... pria yang ada di mobil. Di mana aku?"​"Aku Luca. Tangan kanan Tuan Muda Riciteli," jawab pria itu tanpa menoleh. "Tuan Muda memintamu segera bersiap. Kau sudah pingsan selama dua belas jam selama perjalan

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    178. Permainan Takdir

    Manhattan, New York – Gedung Pengadilan Negeri, Siang Hari.​Udara di dalam ruang sidang terasa menyesakkan, lebih berat daripada beton pencakar langit yang mengepung Manhattan. Miranda Ford duduk dengan jemari yang saling bertautan erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di sampingnya, pengacaranya yang tampak lelah terus merapikan berkas-berkas yang sebenarnya sudah kehilangan taringnya.​Di seberang ruangan, Morton Claire duduk dengan angkuh. Pria itu adalah perwujudan dari kekuasaan korup Manhattan; pemilik ECO Company yang raksasa sekaligus pemain kunci di Partai Hitam Putih. Morton tidak hanya menginginkan perceraian; ia menginginkan kehancuran total Miranda dengan merebut hak asuh putra mereka yang berusia empat tahun, Noah Claire.​Tok! Tok! Tok!​"Sidang ditunda hingga minggu depan," suara Hakim menggelegar, dingin tanpa empati. "Untuk sementara waktu, hak asuh Noah Claire jatuh ke tangan sang ayah, Morton Claire, menunggu hasil investigasi latar belakang lebih lanjut."​Dun

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    177. Harapan Terakhir

    Malam yang seharusnya tenang di Roma berubah menjadi pemandangan apokaliptik. Pelataran luas Kastil Riciteli kini dibanjiri oleh kilatan lampu merah dan biru dari belasan mobil polisi dan ambulans. Puluhan personel kepolisian bersenjata lengkap membentuk barikade, moncong senapan mereka tertuju lurus ke arah pintu jati raksasa kastil yang terbuka separuh, seolah-olah ada naga yang siap menyemburkan api dari dalamnya.Sebuah Rolls-Royce hitam meluncur kencang, mengerem mendadak hingga bannya berdecit di atas kerikil. Belum sempat Luca turun untuk membukakan pintu, George Riciteli sudah menerjang keluar. Wajahnya pucat pasi, matanya memancarkan ketakutan yang belum pernah terlihat selama ia memimpin klan."George, tunggu!" seru Luca, namun George tidak peduli.George membeku saat kakinya melangkah melewati ambang pintu. Bau amis darah yang kental menyengat hidungnya. Kekacauan di dalam kastil itu jauh lebih mengerikan dari medan perang mana pun. Marmer putih yang biasanya mengkilap k

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status