Share

BAB 24 Ekstraksi

Author: Anna Kuhas
last update publish date: 2026-08-11 17:00:41

Ini penculikan!

“Lepasin!” Aku memekik histeris, lalu menghentakan belakang kepalaku sekuat tenaga menghantam rahang pria yang memitingku.

Berhasil. Cengkeramannya melonggar seketika. Tanpa membuang kesempatan, aku memutar badan dan menyikut ulu atinnya hingga pitingannya terlepas sempurna. Aku pikir aku sudah berhasil lolos dan hendak berlari menjauh.

Namun, dua pria lain yang berjalan di depan langsung berbalik dan menerjang cepat ke arahku. Salah s

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DI PELUKAN TUAN PEMBURU BERBAHAYA   BAB 45 Malam Lelang

    Arthur menatap dingin pada Diah dan Duan yang mengekor di belakangku. Kedua pengawal itu masuk ke dalam penthouse dengan tangan yang dipenuhi tumpukan kantong belanja berlogo merek-merek mewah, berjuang menjaga keseimbangan saat melangkah masuk ke dalam penthouse.“Kamu berniat membuka gerai fesyen di rumah saya?” tanya Arthur dengan satu alis terangkat.Dia melepaskan jas hitamnya, dan mengendurkan dua kancing teratasnya sebelum mendaratkan tubuh dengan santai di sofa panjang ruang tengah.Aku meliriknya sekilas lalu berjalan melewatinya dengan raut acuh tak acuh. Namun, ingatan tentang kartu hitam miliknya yang harus segera aku kembalikan membuat aku menghentikan langkah. Aku berbalik, lalu menaruh kartu hitam itu di atas meja rendah di depan Arthur.“Terimakasih atas kemurahan hati anda, Tuan Chairman,” ucapku sarkastik.Arthur tidak terpengaruh oleh sindiranku. Satu sudut bibirnya terangkat, menampilkan senyum miring yang menjengkelkan. Matanya menyapu tumpukan kantong belanjaan d

  • DI PELUKAN TUAN PEMBURU BERBAHAYA   BAB 44 Gaun Di Butik

    Hanya butuh dua kali dering sebelum sambungan teleponku diangkat oleh Arthur. Sambil berjalan mondar-mandir di depan jendela kamar, aku segera mengutarakan keresahanku begitu Diah berlalu dari kamar.“Aku enggak mau belanja bareng Diah,” cetusku, tidak memberi Arthur sapaan basa-basi.“Ada apa, Cassidy?” Suara berat Arthur terdengar tenang dari seberang saluran, diiringi samar-samar gemeresik lembaran dokumen. “Bibirmu masih menginginkanku, sampai-sampai kamu harus menelepon pagi-pagi begini?”Pipi mendadak terasa hangat, tetapi aku menahan napas, menolak terpancing oleh ucapan provokatifnya “Kamu suruh Diah nemenin aku beli gaun buat acara lelang nanti malam?”“Ya, bukankah bagus jika acara belanja ditemani oleh sesama wanita? Duan tidak akan mengerti warna gaun atau perhiasan yang cocok untukmu.”“Tapi enggak sama Diah!” tegasku.“Jangan memicu drama kekanak-kanakan, atau saya batalkan rencana kita ke rumah lelang,” ancam Arthur. Intonasinya berubah rendah, sarat akan otoritas yang

  • DI PELUKAN TUAN PEMBURU BERBAHAYA   BAB 43 Horor Di Pagi Hari

    Kalimatku membuat Arthur membeku. Kuncian jemarinya pada tengkukku sedikit mengendur, bersama wajahnya yang satu sentimeter menjauh. Tidak lebih dari itu, sorot matanya tidak menujukan kemarahan, dan tak ada makian kasar yang keluar dari bibirnya. Padahal aku sudah mengetatkan rahangku mempersiapkan diri untuk reaksi murka Arthur atas penawaran nekat yang baru saja aku tawarkan.Hanya butuh jeda singkat sebelum raut datarnya berubah. Kekehan pelan yang bernada mengejek meluncur dari bibirnya. Manik mata yang masih diselimuti kabut alkohol itu kini menatapku tajam. Keheranan yang sempat membuatnya membeku kini berubah menjadi ketertarikan liar pada tantangan yang disodorkan. Pria siap membeli permainanku.“Menjual daya tarikmu untuk bertransaksi dengan saya?” bisik Arthur rendah, sempat menggetarkan nyali yang susah payah aku pertahankan. “Sebutkan harganya, Cassidy.”“Bawa aku ke Rumah Lelang Larasati,” pintaku tegas tanpa mengedipkan mata, menjaga intonasinya agar tetap dingin dan ta

  • DI PELUKAN TUAN PEMBURU BERBAHAYA   BAB 42 Minibar

    Sudah lewat tengah malam dan pikiran tentang Kompas Hyade di dalam daftar barang lelang terus menjagaku dari rasa kantuk. Rasa ragu sempat menyelinap saat memikirkan cara supaya bisa ikut Arthur ke acara lelang itu. Acara itu pasti dihadiri oleh orang-orang penting negara ini, termasuk Prabu Digdaya. Arthur jelas tidak akan membiarkanku berada di tempat terbuka yang membahayakan nyawaku.Namun, semakin aku berpikir, semakin aku yakin bahwa kompas itu bisa menuntunku pada astrolab. Bahkan mungkin, ada petunjuk mengenai hilangnya Papa. Apapun resikonya, aku harus ikut.Kaki telanjangku menapakkan langkah di marmer dingin ruang tengah. Aku sudah tahu harus ke mana mencari Arthur selarut ini. Arthur dan minibar di tengah malam memang tidak bisa dipisahkan. Pria itu biasa duduk berlama-lama di bawah remangnya lampu minibar yang menggantung rendah.Punggung tegap Arthur menyambutku ketika aku menginjakkan kaki di area bar. Di tangannya botol wiski yang hampir habis digenggam erat. Tanpa ge

  • DI PELUKAN TUAN PEMBURU BERBAHAYA   BAB 41 Rumah Lelang

    Sensasi dingin menjalar dari ujung jemari hingga ke dasar tengkuk. Diah, gadis muda yang begitu telaten merawatku dengan senyum lembutnya ternyata adalah eksekutor lapangan berdarah dingin. Jika aku membandingkan garis waktu kabar kematian Rajh di berita dengan hari di mana aku bertemu Diah, sungguh mengerikan membayangkan bahwa dia baru saja merenggut nyawa seseorang.Malam itu, setelah seharian aku dikurung Arthur di ruang arsip museum, Diah menyambutku dengan secangkir teh hangat dan memastikan aku nyaman di kamar tamu. Senyum ramahnya, benar-benar menipuku. Rasa mual mendadak mengocok perutku.Derap langkah salah satu pengawal Arthur yang melintas di koridor area servis membuyarkan lamunanku. Suara pintu yang tertutup menandakan ia masuk ke salah satu ruangan. Aku tidak boleh ketahuan.Dengan napas tersengal yang kutahan sekuat tenaga, kumatikan layar ponsel itu. Kubersihkan sidik jariku pada kain kemeja, mengembalikan ponsel dan vial obat ke dalam kotak karton, lalu menyelipkanny

  • DI PELUKAN TUAN PEMBURU BERBAHAYA   BAB 40 Pembunuh Sebenarnya

    Berjam-jam aku habiskan di depan laptop untuk melakukan riset. Puluhan jurnal yang terebar di internet aku baca perlahan. Sebagian besar teori sudah kukuasai, tetapi beberapa jurnal baru terbitan luar negeri tetap memberiku petunjuk serta pemahaman baru.Aku hampir melupakan makan siang kalau bukan Diah yang mengingatkan. Gadis itu berdiri mematung di ambang pintu tanpa berani melangkah sejengkal pun melewati batas ruang kerja Arthur.“Bisa bawakan ke sini makan siang saya?” pintaku tanpa menoleh ke arahnya. Jurnal yang sedang ku baca di layar monitor terlalu menarik untuk aku tinggalkan.Walau pun tidak langsung menjawab, sudut mataku menangkap anggukan kecil dari Diah yang masih berdiri canggung di ambang pintu. Lalu beberapa menit kemudian makan siang pun di antar Diah, lengkap dengan potongan buah dan air putih dingin.Waktu bergulir cepat. Duan akhirnya muncul menemuiku di ruang kerja Arthur sambil membawa dua cangkir teh dan satu kotak bronis panggang yang dia sodorkan di depanku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status