LOGINPatah hati mengajarkan bahwa rasa sakit ini bisa mengubahku menjadi seseorang yang … berbahaya.
Tangaku bersedekap dekat jendela apartemen, memandangi lampu kota dari bawah, dan rambut tertiup angin malam. Pemandangan seperti ini menenangkan. Tapi pikiranku sibuk menyusun rencana.
“Adnan, Kenan.”
Dua orang berbeda namun memiliki pintu yang mengarah ke Rifat. Dan aku ada di antara mereka berdua.
Kali ini, aku mau Rifat melihat ketegaranku hingga dia menyesal. Bahwa tanpanya, aku bisa jauh lebih baik, menarik, dan diinginkan. Bukan memohon agar kembali dinikahi.
Cuih !!!
Kini, aku akan membuat diriku dikejar, dicintai, bahkan diperebutkan dua orang yang memiliki kedudukan sekaligus.
“Rencana sempurna, Dilara.” Sudut bibirku terangkat tinggi.
Tekad ini tidak akan padam sampai Rifat menyesal, mencium kakiku sambil meminta maaf.
"Adnan, Kenan, mari bersenang-senang."
Dengan senyum percaya diri, aku membuka koper alu mengambil kaca dan duduk di sofa.
Ikat rambut kulepas dan menatap wajahku. Jemariku mengusap lapisan make up tipis di pipi yang belakangan ini menjadi favorit setelah gagal menikah.
Bila ingin menang, aku harus mengubah penampilan untuk menyempurnakan kecantikanku.
Tapi, cantik saja tidak cukup, aku harus cerdas. Memberi pendapat yang matang, membuat orang lain nyaman, dan bisa menjadi hangat sesuai kebutuhan.
Jika Rifat pernah mempermainkan hatiku dua kali, sekarang aku akan mempermainkan dia dan dua lelaki itu sekaligus.
Aku tidak peduli dengan konsekuensinya. Aku sudah lelah menjadi wanita baik jika pada akhirnya dikhianati.
Lalu otakku memikirkan strategi pertama.
Adnan Aydan.
Jemariku mencari informasi pribadinya di laman internet. Usianya tiga puluh tujuh tahun dan … single.
Aku tersenyum puas. Setidaknya tidak perlu susah payah membuat drama agar kekasihnya cemburu.
Tapi, sepertinya dia tidak mudah didekati. Dua kali bertemu, sikapnya cukup dingin dan tegas. Seolah-olah hidupnya hanya untuk bekerja dan bekerja.
Jadi, aku harus menggunakan kecantikan dan kecerdasan. Jika aku berhasil membuatnya jatuh cinta pada cara kerjaku ditambah sedikit perhatian, maka sisanya tinggal menunggu waktu.
Meski Adnan tidak mudah membuka diri, tapi jika ia mulai memperhatikanku, aku berani taruhan ia tidak akan setengah-setengah memilikiku.
Strategi kedua. Kenan.
Ia berbeda dari Adnan. Bagai kutub utara dan selatan.
Dari pertemuan sore tadi, ia cukup hangat dan terbuka. Jika aku bisa menjadi teman bicara yang asyik, bahkan membuatnya jatuh hati padaku, informasi tentang Mandala Kapital bisa jatuh perlahan padaku.
Cepat atau lambat aku bisa mengetahui isi rahasia perusahaan fintech Rifat. Lalu membiarkan Rifat tahu keberadaanku di sisi Kenan yang lebih dari sekedar teman biasa.
Meski rencana ini berbahaya, atau justru sangat bahaya, dengan mempermainkan perasaan kedua lelaki itu dan perasaanku sendiri, aku tidak akan mundur.
Aku tidak mau dikenang sebagai perempuan yang ditinggalkan lalu dilupakan tanpa perlawanan. Rifat harus tahu, jika aku bisa membalik keadaan menjadi cukup menyakitkan baginya.
Aku tidak harus mendahulukan emosi. Cukup tenang dan terkontrol agar kemenangan permainan ini jatuh di tanganku.
“Rifat, siap-siaplah. Kali ini, biar aku yang tentuin final story-nya.”
Detail dari proyek Solvio sudah menungguku. Besok, Adnan pasti akan menanyakan perkembangannya. Dan aku harus membawa ide besar yang membuatnya puas.
Karena setiap pekerjaan selalu memliki titik kelemahan, aku membaca ulang konsep proyek ini dan berusaha menutup titik-titik kesalahannya.
Awalnya setengah jam, lalu satu jam, hingga dua jam. Hingga aku menemukan satu kesulitan yang membuatku memerlukan bantuan.
Kemudian aku meraih ponsel di samping laptop, tanpa ragu, lalu menekan kontak yang sangat familiar. Nada sambung terdengar dua kali lalu diangkat.
“Masih bangun?” suara Ayah terdengar tenang di seberang sana.
“Aku butuh pendapat Ayah.”
Seperti biasa, beliau tidak banyak bertanya sebelum aku menjelaskan.
“Ayah akan bantu semaksimal mungkin, Dila.”
Aku mulai menjelaskan dengan urut dan hal yang menurutku janggal.
“Bingo! Itu celah kecil tapi bisa jadi besar kalau diabaikan, Dila. Lalu, apa kamu udah ada solusi?”
“Ada.”
“Jalankan. Jangan ragu.”
Ayah tidak pernah menghakimi jawabanku. Beliau hanya sedikit mengoreksi dan membuatku menemukan jawaban paling sempurna.
“Ini bukan cuma soal proyek, Ayah. Tapi … ada banyak hal yang kupertaruhkan.”
“Itulah bisnis dan hidup, Dila. Pertanyaannya bukan apa yang udah kamu pertaruhkan, tapi apa kamu yakin bisa ngendaliin?”
Aku menatap layar laptop di depanku.
Project Solvio. Adnan. Kenan. Dan semua yang akan datang setelah ini.
“Aku bisa, Ayah.” Tegasku.
Ayah terkekeh pelan.
“Itu baru anakku.”
Persetan dengan perasaan kami berempat.
Keesokan paginya, aku bangun lebih awal dan segera membersihkan diri. Tanganku membuka lemari pakaian. Jemariku memilah pakaian kerja yang tergantung dan berhenti pada setelah berwarna merah.
Aku segera memakainya lalu berdiri tegak dan menatap pantulan diriku sendiri. Sangat cocok dan mengubah aura penampilan menjadi lebih berani, tegas, dan sulit diabaikan.
Blazer yang mencetak jelas tubuh rampingku dan rok pensil selutut yang memperlihatkan betapa jenjang dan seksinya kakiku. Sangat percaya diri dan tidak vulgar.
Aku jarang memakai setelan ini karena terlalu mencolok. Tapi, mulai hari ini, aku harus memperbanyak koleksi warna setelan kerja dan baju yang menarik perhatian Adnan dan Kenan.
Tanganku meminggirkan setelan kerja berwarna gelap dan tidak berniat memakainya di hari-hari berikutnya.
Aku tersenyum puas tanpa gugup menghadapi hari ini. Karena aku tahu apa yang sedang kulakukan.
Alis kubuat sedikit tegas, sedikit eyeshadow warna netral, maskara agar bulu mataku terangkat, blush on tipis di pipi, dan lipstik warna nude mix rose yang menantang, tapi tidak bisa diabaikan.
“Selesai.”
Tenang, profesional, dan hangat jika diperlukan. Setelah menyemprotkan parfum, aku keluar dari apartemen. Pintu unit milik Kenan masih tertutup dan aku hanya tersenyum tipis tanpa berniat mengetuknya.
Bukan masalah. Karena aku akan memulainya dari … Adnan.
Kali ini, aku tidak datang sebagai pegawai baru yang memimpin proyek Adnan, tapi siap membantunya menghancurkan Rifat.
Ketika aku tiba di kantor, Andre yang sedang berbicara dengan staf analisis, langsung berhenti. Pandangannya menelisik wajah, blazer merah, rok merah, kakiku yang putih nan merit, lalu kembali lagi ke wajahku.
“Pagi, Dila.”
“Pagi, Pak An.”
“Hari ini rapat lagi?”
“Tentu. Sebelum kompetitor masuk pasar duluan.”
Ia tersenyum kecil.
“Well. Kayaknya perang siap dimulai.”
“Aku nggak sabar melibasnya dalam waktu sesingkat mungkin.”
Andre tertawa kecil.
“Cantik. Tapi … serem juga. Oh ya, nanti --- ”
Sebelum Andre sempat mengatakan sesuatu lagi, suara dari belakang membuat kami menoleh.
Sambil menyambar jas kerjanya di atas meja dengan gerakan kasar, Adnan menatapku tajam."Tapi kita bawa mobil masing-masing. Aku akan ikuti mobilmu dari belakang. Aku nggak mau repot-repot harus nganter kamu pulang setelah makan malam sialan ini selesai."Aku tertawa meremehkan untuk memprovokasi harga dirinya. Lalu melangkah maju, hingga ujung sepatu hak tinggiku nyaris menyentuh sepatunya."Bawa mobil masing-masing? Oh, ayolah, Pak Adnan. Mana ada sepasang kekasih pergi kencan tapi konvoi di jalanan kayak lagi pawai?" sindirku dengan nada manja."Saya mau kita satu mobil. Saya mau duduk manis di sebelah Anda. Layaknya sepasang kekasih yang sesungguhnya."Adnan kemudian mundur agar menjauh dariku."Jangan keterlaluan, Dilara! Aku udah turuti maumu, jangan mendikte gimana cara --- ""Apa harus saya ingatkan lagi tentang alamat rumah orang tua Anda, Pak?" potongku dengan unsur ancaman yang langsung membuat Adnan diam seribu bahasa.Tangannya mengepal kesal dengan mata menatapku geram.
Hatiku bergemuruh mendengar sindiran Adnan yang jelas-jelas keterlaluan dan sengaja dilakukan untuk meruntuhkan harga diriku.Namun, aku menolak untuk terpancing emosi dan terlihat lemah.Perlahan aku menarik nafas dalam-dalam lalu menunjukkan senyum tenang sambil menatap matanya."Benar kata Anda, Pak Adnan. Memang ada masalah di tempat tidur, seperti tuduhan Anda," jawabku santai.Membuat mereka yang hadir di ruang rapat saling lirik."Semalam saya tidur larut karena harus memeriksa ulang seluruh kesiapan sistem Solvio agar tidak ada error sekecil apa pun. Ditambah lagi kemacetan pagi ini sama sekali tidak bersahabat. Tapi saya jamin, keterlambatan setengah jam ini tidak akan mengurangi kualitas hasil kerja keras saya."Mendengar jawabanku yang berkelas dan berani, Adnan menghentikan ketukan pulpennya. Wajahnya sedikit kesal tapi dia segera menguasai diri agar tetap terlihat berwibawa."Bagus kalau begitu. Duduk di tempatmu, Dilara. Kita tidak punya banyak waktu untuk membahas urusa
Begitu melangkah keluar dari ruangan Adnan, aku menuju basemen dengan langkah santai sambil menikmati kemenangan kecil hari ini.Adnan mungkin mengira dia bisa mengendalikan bidak caturnya, tapi dia tidak sadar bahwa papan caturnya sendiri sudah berada di bawah kuasaku.“Jangan harap bisa mengaturku, Adnan. Karena aku datang, untuk menggunakanmu melawan Rifat. Jadi … bersiaplah.” Gumamku pada diri sendiri.Tepat saat aku memarkirkan mobil di basemen apartemen, ponselku bergetar.Sebuah notifikasi pesan masuk dari …“Kenan.”Aku membukanya dan seketika seulas senyum santai dan lepas terbit di bibirku.Kenan mengirimkan sebuah foto. Di atas meja makannya yang sederhana, sudah tertata rapi dua piring nasi goreng dengan kepulan asap tipis, lengkap dengan lauk cumi pedas manis k yang menggoda selera.Di tengah meja, sebuah lilin kecil dinyalakan sebagai pemanis.[Dari Kenan : Sudah siap, Tuan Putri. Cepat datang sebelum cumi pedas manisnya nggak manis lagi.]Kebetulan perutku keroncongan k
Tepat saat jam pulang kerja, layar ponselku menyala, menampilkan nama yang membuat senyum dingin terbit di bibirku.Adnan.Aku menggeser tombol hijau, menempelkan benda pipih itu ke telinga."Ke ruanganku sekarang. Jangan sampai ada yang lihat," perintahnya singkat.Dan langsung memutuskan sambungan sebelum aku sempat mengiyakan. Suaranya yang kaku memicu alarm kewaspadaan di kepalaku.Aku merapikan sisa berkas di meja lalu melangkah menuju lantai atas. Langkahku tenang, namun otakku bekerja dua kali lebih cepat.Di depan pintu eksekutif itu, aku memasang kembali topeng pegawai yang patuh. Aku mengetuk pintu dua kali lalu melangkah masuk.Adnan perlahan memutar kursi kebesarannya, lalu berdiri. Ia berjalan dan bersandar di tepi meja kerja. Kedua tangannya bersedekap di dada, matanya menatapku dengan sorot dingin."Udah dapat mangsa baru, Dila?" tanya Adnan tiba-tiba.Suaranya terdengar meremehkan sekaligus merendahkanku."Maksud Bapak apa?"Adnan mendengus sinis, senyum tipis yang mere
"Jalan ke klinik kandungan yang sudah kukirim ke ponsel," perintah Adnan pada sopirnya.Sopir itu buru-buru mengangguk dan menginjak pedal gas mengikuti arahan maps.Aku melirik jam di pergelangan tangan. Dengan drama ini, sudah bisa dipastikan kami berdua akan masuk kerja agak siangan. Tapi masa bodoh, toh Solvio tidak akan runtuh hanya karena pimpinannya terlambat beberapa jam demi memastikan reputasinya tetap aman.Sepanjang jalan, pikiranku menyusun langkah-langkah selanjutnya.Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah klinik bersalin swasta elite."Masuklah. Aku tunggu di sini. Ingat, bawa obat dan resepnya ke mobil dan minum di hadapanku,” ucapnya tanpa menatapku.Aku mengangguk dengan raut wajah sendu yang kupaksakan, lalu melangkah keluar dari mobilnya. Begitu kakiku menginjak lantai klinik dan bayangan mobil Adnan terhalang dinding kaca, aku langsung merubah ekspresi wajahku.Dingin, fokus, dan licik.Setelah mendaftar menggunakan nama samara, karena aku tidak sebodoh itu untuk
Aku melangkah mendekati pintu kamar, menyandang tas kerjaku."Saya sudah siap, Pak," ucapku dengan nada dingin yang terluka.Adnan tersentak dari lamunannya, lalu buru-buru memasukkan ponsel ke dalam saku celana. Ia berdehem dan sesekali melirik ke arahku. Lalu berjalan mendahuluiku membuka pintu kamar.“Ayo.”Tidak ada percakapan selama perjalanan menuju apotek. Sopir Adnan, yang sempat kutakut-takuti, terus mencuri pandang lewat spion tengah.Sementara itu, Adnan duduk di sebelahku dan menatap ke luar jendela dengan sorot kosong. Aku tahu pikirannya sedang berkecamuk, terjebak di antara rasa bersalah padaku dan merasa mengkhianati jantung pemberian Vivian.Begitu mobil berhenti di depan sebuah apotek, Adnan langsung merogoh dompetnya. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan menyerahkannya padaku."Beli obatnya sekarang. Aku tunggu di sini," ucapnya tanpa menoleh.Aku mengambil uang itu dengan tangan yang sengaja kubuat sedikit gemetar, lalu keluar dari mobil.Lima menit







