Share

Permainan Dimulai

Auteur: DAUN MUDA
last update Date de publication: 2026-03-30 15:02:20

Patah hati mengajarkan bahwa rasa sakit ini bisa mengubahku menjadi seseorang yang … berbahaya.

Tangaku bersedekap dekat jendela apartemen, memandangi lampu kota dari bawah, dan rambut tertiup angin malam. Pemandangan seperti ini menenangkan. Tapi pikiranku sibuk menyusun rencana.

“Adnan, Kenan.”

Dua orang berbeda namun memiliki pintu yang mengarah ke Rifat. Dan aku ada di antara mereka berdua.

Kali ini, aku mau Rifat melihat ketegaranku hingga dia menyesal. Bahwa tanpanya, aku bisa jauh lebih baik, menarik, dan diinginkan. Bukan memohon agar kembali dinikahi.

Cuih !!!

Kini, aku akan membuat diriku dikejar, dicintai, bahkan diperebutkan dua orang yang memiliki kedudukan sekaligus. 

“Rencana sempurna, Dilara.” Sudut bibirku terangkat tinggi.

Tekad ini tidak akan padam sampai Rifat menyesal, mencium kakiku sambil meminta maaf.

"Adnan, Kenan, mari bersenang-senang."

Dengan senyum percaya diri, aku membuka koper alu mengambil kaca dan duduk di sofa.

Ikat rambut kulepas dan menatap wajahku. Jemariku mengusap lapisan make up tipis di pipi yang belakangan ini menjadi favorit setelah gagal menikah.

Bila ingin menang, aku harus mengubah penampilan untuk menyempurnakan kecantikanku.

Tapi, cantik saja tidak cukup, aku harus cerdas. Memberi pendapat yang matang, membuat orang lain nyaman, dan bisa menjadi hangat sesuai kebutuhan. 

Jika Rifat pernah mempermainkan hatiku dua kali, sekarang aku akan mempermainkan dia dan dua lelaki itu sekaligus.

Aku tidak peduli dengan konsekuensinya. Aku sudah lelah menjadi wanita baik jika pada akhirnya dikhianati.

Lalu otakku memikirkan strategi pertama. 

Adnan Aydan.

Jemariku mencari informasi pribadinya di laman internet. Usianya tiga puluh tujuh tahun dan … single.

Aku tersenyum puas. Setidaknya tidak perlu susah payah membuat drama agar kekasihnya cemburu.

Tapi, sepertinya dia tidak mudah didekati. Dua kali bertemu, sikapnya cukup dingin dan tegas. Seolah-olah hidupnya hanya untuk bekerja dan bekerja.

Jadi, aku harus menggunakan kecantikan dan kecerdasan. Jika aku berhasil membuatnya jatuh cinta pada cara kerjaku ditambah sedikit perhatian, maka sisanya tinggal menunggu waktu.

Meski Adnan tidak mudah membuka diri, tapi jika ia mulai memperhatikanku, aku berani taruhan ia tidak akan setengah-setengah memilikiku.

Strategi kedua. Kenan.

Ia berbeda dari Adnan. Bagai kutub utara dan selatan.

Dari pertemuan sore tadi, ia cukup hangat dan terbuka. Jika aku bisa menjadi teman bicara yang asyik, bahkan membuatnya jatuh hati padaku, informasi tentang Mandala Kapital bisa jatuh perlahan padaku.

Cepat atau lambat aku bisa mengetahui isi rahasia perusahaan fintech Rifat. Lalu membiarkan Rifat tahu keberadaanku di sisi Kenan yang lebih dari sekedar teman biasa.

Meski rencana ini berbahaya, atau justru sangat bahaya, dengan mempermainkan perasaan kedua lelaki itu dan perasaanku sendiri, aku tidak akan mundur.

Aku tidak mau dikenang sebagai perempuan yang ditinggalkan lalu dilupakan tanpa perlawanan. Rifat harus tahu, jika aku bisa membalik keadaan menjadi cukup menyakitkan baginya. 

Aku tidak harus mendahulukan emosi. Cukup tenang dan terkontrol agar kemenangan permainan ini jatuh di tanganku.

“Rifat, siap-siaplah. Kali ini, biar aku yang tentuin final story-nya.”

Detail dari proyek Solvio sudah menungguku. Besok, Adnan pasti akan menanyakan perkembangannya. Dan aku harus membawa ide besar yang membuatnya puas.

Karena setiap pekerjaan selalu memliki titik kelemahan, aku membaca ulang konsep proyek ini dan berusaha menutup titik-titik kesalahannya.

Awalnya setengah jam, lalu satu jam, hingga dua jam. Hingga aku menemukan satu kesulitan yang membuatku memerlukan bantuan.

Kemudian aku meraih ponsel di samping laptop, tanpa ragu, lalu menekan kontak yang sangat familiar. Nada sambung terdengar dua kali lalu diangkat.

“Masih bangun?” suara Ayah terdengar tenang di seberang sana.

“Aku butuh pendapat Ayah.”

Seperti biasa, beliau tidak banyak bertanya sebelum aku menjelaskan.

“Ayah akan bantu semaksimal mungkin, Dila.”

Aku mulai menjelaskan dengan urut dan hal yang menurutku janggal.

“Bingo! Itu celah kecil tapi bisa jadi besar kalau diabaikan, Dila. Lalu, apa kamu udah ada solusi?”

“Ada.”

“Jalankan. Jangan ragu.”

Ayah tidak pernah menghakimi jawabanku. Beliau hanya sedikit mengoreksi dan membuatku menemukan jawaban paling sempurna.

“Ini bukan cuma soal proyek, Ayah. Tapi … ada banyak hal yang kupertaruhkan.”

“Itulah bisnis dan hidup, Dila. Pertanyaannya bukan apa yang udah kamu pertaruhkan, tapi apa kamu yakin bisa ngendaliin?”

Aku menatap layar laptop di depanku.

Project Solvio. Adnan. Kenan. Dan semua yang akan datang setelah ini.

“Aku bisa, Ayah.” Tegasku.

Ayah terkekeh pelan.

“Itu baru anakku.”

Persetan dengan perasaan kami berempat.

Keesokan paginya, aku bangun lebih awal dan segera membersihkan diri. Tanganku membuka lemari pakaian. Jemariku memilah pakaian kerja yang tergantung dan berhenti pada setelah berwarna merah.

Aku segera memakainya lalu berdiri tegak dan menatap pantulan diriku sendiri. Sangat cocok dan mengubah aura penampilan menjadi lebih berani, tegas, dan sulit diabaikan.

Blazer yang mencetak jelas tubuh rampingku dan rok pensil selutut yang memperlihatkan betapa jenjang dan seksinya kakiku. Sangat percaya diri dan tidak vulgar.

Aku jarang memakai setelan ini karena terlalu mencolok. Tapi, mulai hari ini, aku harus memperbanyak koleksi warna setelan kerja dan baju yang menarik perhatian Adnan dan Kenan.

Tanganku meminggirkan setelan kerja berwarna gelap dan tidak berniat memakainya di hari-hari berikutnya.

Aku tersenyum puas tanpa gugup menghadapi hari ini. Karena aku tahu apa yang sedang kulakukan.

Alis kubuat sedikit tegas, sedikit eyeshadow warna netral, maskara agar bulu mataku terangkat, blush on tipis di pipi, dan lipstik warna nude mix rose yang menantang, tapi tidak bisa diabaikan.

“Selesai.”

Tenang, profesional, dan hangat jika diperlukan. Setelah menyemprotkan parfum, aku keluar dari apartemen. Pintu unit milik Kenan masih tertutup dan aku hanya tersenyum tipis tanpa berniat mengetuknya.

Bukan masalah. Karena aku akan memulainya dari … Adnan.

Kali ini, aku tidak datang sebagai pegawai baru yang memimpin proyek Adnan, tapi siap membantunya menghancurkan Rifat.

Ketika aku tiba di kantor, Andre yang sedang berbicara dengan staf analisis, langsung berhenti. Pandangannya menelisik wajah, blazer merah, rok merah, kakiku yang putih nan merit, lalu kembali lagi ke wajahku.

“Pagi, Dila.”

“Pagi, Pak An.”

“Hari ini rapat lagi?”

“Tentu. Sebelum kompetitor masuk pasar duluan.”

Ia tersenyum kecil.

“Well. Kayaknya perang siap dimulai.”

“Aku nggak sabar melibasnya dalam waktu sesingkat mungkin.”

Andre tertawa kecil.

“Cantik. Tapi … serem juga. Oh ya, nanti --- ”

Sebelum Andre sempat mengatakan sesuatu lagi, suara dari belakang membuat kami menoleh.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • DIINGINKAN TIGA PRIA POSESIF   Wanita Yang Sulit Diabaikan

    Suara langkah sepatu yang tegas dan berirama itu memecah percakapan kami.Adnan Aydan berdiri di sana, dengan setelan jas navy yang dipotong sempurna, tangannya memegang sebuah map hitam. Begitu aku menoleh, langkah kakinya terhenti.Kedua mata kami beradu selama beberapa detik. Kemudian aku berdiri lebih tegap dan tersenyum padanya.“Pagi, Pak Adnan.”Pagi ini, aku bukan lagi wanita yang terlihat ‘berusaha tegar’ karena badai masa lalu. Tapi setelan kerja warna merah menyala ini memberi penegasan tentang keberanian dan peringatan dariku. Bahwa kini aku siap membalas siapapun yang menyerang bahkan menyakitiku tanpa alasan jelas.Adnan memperhatikan sekilas riasan wajahku yang tegas, bibir merah menantang, dan binar mata penuh keyakinan tanpa sisa air mata. Sebuah citra wanita sempurna yang mandiri, berbahaya, dan sulit diabaikan.Mata Adnan kemudian sedikit menyipit saat menatapku. Karena Dilara yang ia lihat kemarin siang, berbeda jauh dengan Dilara yang ia lihat pagi ini. Dan aku tah

  • DIINGINKAN TIGA PRIA POSESIF   Permainan Dimulai

    Patah hati mengajarkan bahwa rasa sakit ini bisa mengubahku menjadi seseorang yang … berbahaya.Tangaku bersedekap dekat jendela apartemen, memandangi lampu kota dari bawah, dan rambut tertiup angin malam. Pemandangan seperti ini menenangkan. Tapi pikiranku sibuk menyusun rencana.“Adnan, Kenan.”Dua orang berbeda namun memiliki pintu yang mengarah ke Rifat. Dan aku ada di antara mereka berdua.Kali ini, aku mau Rifat melihat ketegaranku hingga dia menyesal. Bahwa tanpanya, aku bisa jauh lebih baik, menarik, dan diinginkan. Bukan memohon agar kembali dinikahi.Cuih !!!Kini, aku akan membuat diriku dikejar, dicintai, bahkan diperebutkan dua orang yang memiliki kedudukan sekaligus. “Rencana sempurna, Dilara.” Sudut bibirku terangkat tinggi.Tekad ini tidak akan padam sampai Rifat menyesal, mencium kakiku sambil meminta maaf."Adnan, Kenan, mari bersenang-senang."Dengan senyum percaya diri, aku membuka koper alu mengambil kaca dan duduk di sofa.Ikat rambut kulepas dan menatap wajahku

  • DIINGINKAN TIGA PRIA POSESIF   Dua Umpan Sekaligus

    Bila aku memilih pergi, berarti telah menutup dan melupakan perbuatan Rifat. Tapi bila aku memilih tetap bekerja di sini dan membantu Adnan, berarti aku akan melihat wajah Rifat lagi. Tidak sekali, tapi mungkin berkali-kali. Oh Tuhan!Peluang luka di hati yang pernah ia torehkan, bukan berarti tidak akan kembali terbuka. Atau justru makin terbuka lebar.Aku bimbang harus bagaimana. Tapi, ada satu hal yang kupelajari setelah hidupku dihancurkan Rifat lalu menjadi bahan gunjingan orang. Bahwa jika aku terus lari dari takdir yang seakan mendekatkanku padanya, itu artinya aku masih mencintainya.Tidak! Aku harus bangkit dan menebalkan telinga atas apa yang pernah terjadi! Dan aku bersumpah tidak akan memaafkannya sebelum ia mencium kakiku.Akhirnya, hari ini aku memutuskan untuk pindah ke sebuah apartemen di pusat kota setelah memutuskan untuk tetap bekerja di perusahaan Adnan. Jika dia pernah menyinggung masa laluku, berarti dia juga mengetahui hubunganku dengan Rifat. Aku hanya perlu

  • DIINGINKAN TIGA PRIA POSESIF   Sepupu Saling Menghancurkan

    Aku percaya satu hal. Jika ingin bertahan di tempat baru, jangan memberi orang lain kesempatan meremehkanmu terlalu lama.Kadang takdir bekerja dengan cara yang aneh. Ia tidak datang momen besar yang menegangkan atau peristiwa yang berdarah-darah. Tapi justru muncul dalam hal yang tak terduga sama sekali.Setelah menunjukkan kemampuan terbaik yang kumiliki dalam rapat barusan, aku masih duduk sendiri. Laptop masih terbuka, slide terakhir terpampang di layar proyektor.Tapi pikiranku melayang ke momen satu hari yang lalu dan kata-kata Adnan barusan.“Rifat Aydan. Adnan Aydan. Perusahaan milik sepupunya. Clue apa ini?”Nama belakang mereka sama. Aku pikir itu hal yang wajar karena jaman sekarang nama belakang tidak berarti marga. Dua hari ini aku mengabaikannya dan entah mengapa sekarang hatiku merasa ada yang janggal.Selama dua tahun berkencan, aku mengenal pria itu hanya sebagai Rifat saja. Kesibukanku sebagai wanita karir, tidak sempat mencari tahu tentang keluarganya. Dan sekarang

  • DIINGINKAN TIGA PRIA POSESIF   Pria Bodoh

    Beruntungnya, di kota baru ini, aku tidak benar-benar memulai dari awal. Pengalaman pernah ikut meninjau laporan keuangan dan memimpin tim kecil untuk proyek cabang baru perusahaan milik keluarga, memiliki nilai tambah.Didukung oleh rekan bisnis papa yang mempermudah aku diterima di Monexia Dynamics.Aku menatap pantulan diriku dari kaca lift. Memakai setelan kerja hitam dengan rambut ditata rapi dan wajah penuh tekad.Lalu lift sampai di lantai tujuanku. Di depanku terbentang lorong kantor Monexia yang luas dan lantai mengkilap. Ini adalah perusahaan teknologi besar yang sedang berkembang pesat. Dan mulai hari ini, di sinilah tempatku bekerja.Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum menuju meja sekretaris. Lalu wanita di sana tersenyum ramah.“Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?”“Aku Dilara. Aku memiliki jadwal bertemu direktur hari ini.”Jantungku berdetak sedikit lebih cepat karena gugup ketika sekretaris itu mengetuk pintu sang direktur. Padahal aku pernah berada di posisi le

  • DIINGINKAN TIGA PRIA POSESIF   Tanpa Mempelai Pria

    “Mbak, apa mempelai prianya ... masih di perjalanan?”Aku mengerutkan kening sedikit.“Rifat belum datang?”“Belum.”Aku menghela nafas karena kebiasaan Rifat akhir-akhir ini yang sering terlambat. Terlalu sibuk dengan jabatan barunya.Namun hari ini adalah hari pernikahan kami. Seharusnya dia mengutamakannya.“Tunggu bentar ya? Dia pasti segera sampai.” Aku kembali seorang diri di dalam kamar lalu mataku menatap jam dinding.10.05 pagi.Upacara pernikahan seharusnya dimulai pukul sepuluh tepat. Aku pikir lima menit keterlambatan bukan masalah besar.Aku mengambil ponsel dan mengirim pesan ke nomer Rifat, tapi hanya tercentang satu. Kembali aku mengirimkan pesan dan hasilnya sama. Lalu aku menekan tombol panggil tapi tidak terhubung.Firasatku mulai tidak enak hingga sepuluh menit berlalu, lima belas menit, lalu dua puluh menit.Suara bisikan tamu jga mulai membuatku resah. Awalnya pelan tapi makin jelas.“Pengantin prianya belum datang?”“Kok lama banget ya?”“Apa terjadi sesuatu?”

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status