Se connecterBila aku memilih pergi, berarti telah menutup dan melupakan perbuatan Rifat. Tapi bila aku memilih tetap bekerja di sini dan membantu Adnan, berarti aku akan melihat wajah Rifat lagi. Tidak sekali, tapi mungkin berkali-kali.
Oh Tuhan!
Peluang luka di hati yang pernah ia torehkan, bukan berarti tidak akan kembali terbuka. Atau justru makin terbuka lebar.
Aku bimbang harus bagaimana.
Tapi, ada satu hal yang kupelajari setelah hidupku dihancurkan Rifat lalu menjadi bahan gunjingan orang. Bahwa jika aku terus lari dari takdir yang seakan mendekatkanku padanya, itu artinya aku masih mencintainya.
Tidak! Aku harus bangkit dan menebalkan telinga atas apa yang pernah terjadi! Dan aku bersumpah tidak akan memaafkannya sebelum ia mencium kakiku.
Akhirnya, hari ini aku memutuskan untuk pindah ke sebuah apartemen di pusat kota setelah memutuskan untuk tetap bekerja di perusahaan Adnan. Jika dia pernah menyinggung masa laluku, berarti dia juga mengetahui hubunganku dengan Rifat.
Aku hanya perlu bekerja sebaik mungkin dan menunjukkan pada lelaki itu jika akulah pemimpin proyek milik Adnan yang akan menjadi dewi mautnya.
Tanganku memegang satu koper besar dan tas besar di bahu, lalu lift naik menuju lantai dua puluh tiga.
Cermin di dalam lift memperlihatkan penampilanku. Blazer kerja yang sedikit kusut dan rambut yang mulai berantakan setelah seharian di kantor.
Lalu memori enam bulan lalu menyusup ke dalam ingatan. Andai Rifat mau jujur sedikit saja, aku bisa membatalkan semuanya sebelum hari pernikahan itu tiba. Setidaknya, dia hanya melukai hatiku saja. Tidak sampai membuatku dipermalukan di hadapan banyak orang.
Akhirnya, lift berhenti lalu aku berjalan menyusuri lorong dan berhenti di depan pintu 2318.
Ini dia, rumah baruku.
Unit apartemen yang kusewa terdiri dari ruang tamu kecil dengan sofa abu-abu, dapur minimalis, satu kamar, dan jendela menghadap kota.
Aku menyukai apartemen ini karna sunyi. Tidak ada bisikan tetangga, tatapan mengasihi seolah aku hendak bunuh diri, atau percakapan yang mengingatkanku pada hari buruk itu.
Setelah meletakkan koper di lantai aku berjalan menuju jendela. Membuka tirainya lebar-lebar, menampilkan lampu kota di sore hari menjelang malam.
Rasanya bisa bernafas lega tapi ketenangan itu tidak bertahan lama. Ada langkah kaki tergesa-gesa yang membuatku menengok keluar.
Seorang pria berjalan tergesa-gesa setengah berlari lalu menuju unit di sampingku. Membawa paper bag logo supermarket.
Tubuhnya tinggi, memakai kaos hitam sederhana, dan celana jeans. Kami saling bertatapan selama beberapa detik lalu ia tersenyum ramah.
“Tetangga baru?”
Kepalaku mengangguk pelan.
“Aku baru pindah sore ini.”
Ia tidak jagi membuka pintu unit apartemennya, lalu mendekat beberapa langkah. Ekspresinya santai dan nampak bersahabat lalu mengangkat paper bag.
“Kalau kamu butuh sesuatu, gula, kopi, atau sekedar panci, biasanya orang baru lupa bawa hal-hal kayak gitu waktu pindahan, kamu bisa ketuk unitku.”
Aku tersenyum dan sedikit mengangguk.
“Makasih. Kebetulan aku nggak bisa masak, jadi selalu beli.”
“Solusi instan wanita karir.”
Candaannya membuat kami tertawa kecil bersama. Kemudian aku memperkenalkan diri.
“Namaku Dilara.”
“Kenan.”
Ia mengulurkan tangannya kemudian aku menyambutnya. Hangat dan genggamannya santai. Kemudian jemari Kenan menunjuk pintu apartemen di sebelah.
“Aku di 2319.”
“Oh, oke.”
“Kayaknya kita bakal sering ketemu di koridor ini, Dil.”
Aku mengangguk.
“Kayaknya gitu, Ken.”
Kemudian Kenan memperhatikanku sebentar.
“Pindah sendirian?”
“Iya.”
“Kamu kerja di sekitar sini?”
Pertanyaan itu terdengar biasa saja. Namun entah kenapa aku merasa tidak mau menjelaskannya.
“Aku kerja di perusahaan teknologi.”
Kenan mengangguk dan tersenyum.
“Sama dong.”
Mendadak aku sedikit tertarik.
“Oh ya?”
“Ya.”
“Dimana?”
Ia menggaruk tengkuknya sebentar, “Aku kerja di perusahaan fintech.”
Fintech? Apakah dia bekerja di kantor yang Adnan pimpin?
“Apa nama perusahaannya, Ken?”
Kenan menjawab tanpa curiga sedikit pun.
“Mandala Kapital cabang Surabaya. Ini anak perusahaan milik temanku.”
Duar!!!
Mataku menatap Kenan tidak percaya, namun aku segera memasang senyum tipis untuk menutupi kegugupan.
“Temanmu?”
Kenan mengangguk dengan wajah berbinar.
“Kami udah temenan lama.” Lalu ia tertawa kecil. “Lebih tepatnya dari jaman kuliah, Dil.”
“Siapa namanya, Ken?”
Kenan menjawab dengan santai.
“Rifat Aydan.”
Dunia terasa berhenti sebentar, meski hanya satu detik. Kenan melanjutkan tanpa menyadari apa yang meledak di kepalaku.
“Dia yang mendirikan perusahaan fintech itu, Dil. Jujur aja, aku nggak nyangka kalau perusahaannya bakal berkembang secepat ini. Dia teguh sama pendiriannya dan berbakat banget. Aku pengen suatu saat kayak Rifat.”
Lalu Kenan melihat jam di pergelangan tangannya.
“Aku masuk dulu ya, Dil. Perutku udah keroncongan.”
Ia mengangkat kantong plastiknya lagi.
“Kalau kamu butuh sesuatu, ketuk aja pintuku.”
Kepalaku mengangguk kaku.
“Makasih, Ken.”
“Selamat datang di lingkungan baru, Dilara.”
Pintu apartemennya tertutup lalu koridor kembali sunyi. Sedang aku tetap berdiri di depan pintu unit apartemenku tanpa senyum dan dada bergemuruh.
Saat aku masih bersama Rifat, ia pernah bercerita jika posisinya di Mandala Kapital hanyalah manajer keuangan dan riset. Dan ternyata, perusahaan itu ... miliknya.
Kenan berbicara tentang Rifat penuh rasa bangga sebagai sahabat dan menjadi bagian dari perusahaan besar itu.
Aku baru saja pindah ke tempat, gedung, dan lingkungan baru. Dan ternyata tetanggaku adalah sahabat dekat pria yang pernah meninggalkanku di hari pernikahan.
Aku tertawa pelan, tidak percaya dengan kebetulan ini. Bahwa dunia ini benar-benar kecil, bahkan sangat kecil.
Bagaimana takdir membuatku bertemu dengan Adnan dan Kenan dalam waktu bersamaan. Dua lelaki yang berhubungan dengan Rifat.
Hanya dalam waktu dua hari.
Aku pikir cukup menunjukkan ketegaranku pada Rifat melalui proyek milik Adnan, sepupu Rifat sekaligus rival bisnisnya. Tapi takdir memberiku kesempatan dengan tinggal satu apartemen bersama Kenan, sahabat baik yang bekerja untuknya.
Rifat pasti mempercayainya. Bahkan untuk urusan Mandala Kapital, Kenan pasti mengetahui segalanya.
Lalu aku tersenyum penuh makna.
Enam bulan sudah berlalu dan aku baru menyadari bahwa banyak hal tentang Rifat yang tidak pernah ia ceritakan padaku.
Banyak sekali.
Ia tidak pernah benar-benar mengatakan hidupnya padaku seperti ia mengatakannya pada orang lain. Karena Rifat tidak pernah benar-benar serius denganku sejak awal. Membuatnya harus pandai-pandai menyembunyikan jati diri lebih dari yang kubayangkan.
Jika Rifat pernah membuangku seperti boneka usang, kali ini aku akan membuatnya ingat. Bahwa aku pun bisa membalas perbuatannya dengan cara yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidup.
Mengalahkannya melalui Adnan dan Kenan.
Aku akan membantu Adnan memenangkan proyek itu di pasaran, agar proyek Rifat tidak laku. Lalu perlahan menjatuhkan perusahaan fintech miliknya melalui Kenan yang memahami seluk beluk perusahaan Rifat.
Kini, Rifat harus tahu jika Dilara Pasha yang pernah dia lihat enam bulan lalu, telah berubah menjadi wanita yang tidak lagi rapuh atau menangisi kepergiannya.
Inilah Dilara yang sekarang.
Pelan, dingin, berbahaya, dan berdiri di sisi musuhnya.
Kemudian aku meraih ponsel di samping laptop tanpa ragu, lalu menekan kontak yang sangat familiar. Nada sambung terdengar dua kali sebelum akhirnya diangkat.
“Masih bangun?”
“Kamu nggak perlu kaget atau panik kalau tiba-tiba ada black campaign yang keluar nyerang produk kita di pasaran."Seketika itu juga, Adnan menatapku dengan wajah penuh tanya."Apa maksudmu?"Aku menyandarkan punggung ke sofa, menatapnya sungguh-sungguh."Serangan itu datangnya dari Mandala Kapital. Rifat mau bikin Solvio cacat di mata publik, supaya produk dari perusahaannya tetap mendominasi pasar."“Rifat bukan orang bodoh yang ceroboh membiarkan strategi internalnya bocor ke luar."Aku menyunggingkan senyum tipis, memutar gelas anggur di depanku."Rifat memang nggak bodoh, Adnan. Dia pakai salah satu orang kepercayaannya di Mandala Kapital untuk nyusun strategi kotor itu."Aku menjeda kalimatku, mengingat laptop belasan juta milik Kenan yang kini sudah jadi rongsokan. Ada sedikit rasa bersalah yang melintas, namun segera kutepis jauh-jauh. Demi menghancurkan Rifat, semua bidak harus rela dikorbankan."Tapi sayangnya, orang kepercayaannya itu punya sedikit hati nurani. Dia kayak ngg
Mendengar nama itu disebut dari mulutku, tubuh Adnan menegang. Sorot matanya yang semula dipenuhi kejengkelan kini berubah menjadi kewaspadaan."Rifat?" Adnan mengulang nama sepupunya sendiri.Aku mengangkat kepalaku dari pundaknya. Lalu menyunggingkan senyum miris karena luka masa lalu."Aku ada di Monexia bukan karena kebetulan, Adnan. Aku memilih menjeratmu bukan karena aku mendambakan posisi biar bisa disisimu. Tapi aku datang untuk menghabisi Mandala Kapital.”Kemudian aku menoleh dan menatapnya dengan sorot sungguh-sungguh.“Aku mau lihat Rifat jatuh, hancur, kalau perlu sampai dia miskin. Nggak punya apa-apa lagi di dunia ini."“Dila? Kamu serius?”"Aku mau sepupumu yang brengsek itu tahu kalau aku bisa dapatin apa pun yang kumau, termasuk lelaki yang kesuksesannya ada di atas dia. Yaitu … kamu."Aku menatap kedua mata Adnan tanpa keraguan.Tiba-tiba, aku tertawa namun terdengar sinis dan dingin. Lalu melepaskan cekalan tanganku di lengannya. Kemudian bersandar di sofa dengan ga
Sambil menyambar jas kerjanya di atas meja dengan gerakan kasar, Adnan menatapku tajam."Tapi kita bawa mobil masing-masing. Aku akan ikuti mobilmu dari belakang. Aku nggak mau repot-repot harus nganter kamu pulang setelah makan malam sialan ini selesai."Aku tertawa meremehkan untuk memprovokasi harga dirinya. Lalu melangkah maju, hingga ujung sepatu hak tinggiku nyaris menyentuh sepatunya."Bawa mobil masing-masing? Oh, ayolah, Pak Adnan. Mana ada sepasang kekasih pergi kencan tapi konvoi di jalanan kayak lagi pawai?" sindirku dengan nada manja."Saya mau kita satu mobil. Saya mau duduk manis di sebelah Anda. Layaknya sepasang kekasih yang sesungguhnya."Adnan kemudian mundur agar menjauh dariku."Jangan keterlaluan, Dilara! Aku udah turuti maumu, jangan mendikte gimana cara --- ""Apa harus saya ingatkan lagi tentang alamat rumah orang tua Anda, Pak?" potongku dengan unsur ancaman yang langsung membuat Adnan diam seribu bahasa.Tangannya mengepal kesal dengan mata menatapku geram. A
Hatiku bergemuruh mendengar sindiran Adnan yang jelas-jelas keterlaluan dan sengaja dilakukan untuk meruntuhkan harga diriku.Namun, aku menolak untuk terpancing emosi dan terlihat lemah.Perlahan aku menarik nafas dalam-dalam lalu menunjukkan senyum tenang sambil menatap matanya."Benar kata Anda, Pak Adnan. Memang ada masalah di tempat tidur, seperti tuduhan Anda," jawabku santai.Membuat mereka yang hadir di ruang rapat saling lirik."Semalam saya tidur larut karena harus memeriksa ulang seluruh kesiapan sistem Solvio agar tidak ada error sekecil apa pun. Ditambah lagi kemacetan pagi ini sama sekali tidak bersahabat. Tapi saya jamin, keterlambatan setengah jam ini tidak akan mengurangi kualitas hasil kerja keras saya."Mendengar jawabanku yang berkelas dan berani, Adnan menghentikan ketukan pulpennya. Wajahnya sedikit kesal tapi dia segera menguasai diri agar tetap terlihat berwibawa."Bagus kalau begitu. Duduk di tempatmu, Dilara. Kita tidak punya banyak waktu untuk membahas urusan
Begitu melangkah keluar dari ruangan Adnan, aku menuju basemen dengan langkah santai sambil menikmati kemenangan kecil hari ini.Adnan mungkin mengira dia bisa mengendalikan bidak caturnya, tapi dia tidak sadar bahwa papan caturnya sendiri sudah berada di bawah kuasaku.“Jangan harap bisa mengaturku, Adnan. Karena aku datang, untuk menggunakanmu melawan Rifat. Jadi … bersiaplah.” Gumamku pada diri sendiri.Tepat saat aku memarkirkan mobil di basemen apartemen, ponselku bergetar.Sebuah notifikasi pesan masuk dari …“Kenan.”Aku membukanya dan seketika seulas senyum santai dan lepas terbit di bibirku.Kenan mengirimkan sebuah foto. Di atas meja makannya yang sederhana, sudah tertata rapi dua piring nasi goreng dengan kepulan asap tipis, lengkap dengan lauk cumi pedas manis k yang menggoda selera.Di tengah meja, sebuah lilin kecil dinyalakan sebagai pemanis.[Dari Kenan : Sudah siap, Tuan Putri. Cepat datang sebelum cumi pedas manisnya nggak manis lagi.]Kebetulan perutku keroncongan ka
Tepat saat jam pulang kerja, layar ponselku menyala, menampilkan nama yang membuat senyum dingin terbit di bibirku.Adnan.Aku menggeser tombol hijau, menempelkan benda pipih itu ke telinga."Ke ruanganku sekarang. Jangan sampai ada yang lihat," perintahnya singkat.Dan langsung memutuskan sambungan sebelum aku sempat mengiyakan. Suaranya yang kaku memicu alarm kewaspadaan di kepalaku.Aku merapikan sisa berkas di meja lalu melangkah menuju lantai atas. Langkahku tenang, namun otakku bekerja dua kali lebih cepat.Di depan pintu eksekutif itu, aku memasang kembali topeng pegawai yang patuh. Aku mengetuk pintu dua kali lalu melangkah masuk.Adnan perlahan memutar kursi kebesarannya, lalu berdiri. Ia berjalan dan bersandar di tepi meja kerja. Kedua tangannya bersedekap di dada, matanya menatapku dengan sorot dingin."Udah dapat mangsa baru, Dila?" tanya Adnan tiba-tiba.Suaranya terdengar meremehkan sekaligus merendahkanku."Maksud Bapak apa?"Adnan mendengus sinis, senyum tipis yang mere
Adnan menghela nafas panjang lalu menatapku dengan sorot datar dan tak tersentuh. Seolah-olah kilatan gairah di matanya beberapa menit lalu hanyalah halusinasi akibat sisa dehidrasi."Dila, dengar. Kejadian di lift dan apa yang baru aja terjadi di pantry, aku mau itu jadi yang terakhir.”“Kamu harus
Dibalik pintu kayu yang tipis ini, aku bisa mendengar suara langkah kaki pria itu di atas lantai koridor.Kenan.Tangan kanan Rifat.Pionku yang kusiapkan untuk menghancurkan Rifat dari dalam.'Sial! Kenapa dia keluar waktu aku baru datang!' Batinku geram.Jika dia melihatku di sini, bersama Adnan A
Lima belas menit sebelum jarum jam menunjuk angka lima, aku keluar dari ruangan tim Solvio.Suasana kantor mulai riuh dengan suara kursi yang bergeser dan percakapan ringan rekan kerja yang bersiap pulang, namun bagiku, ini adalah waktu untuk menyusun kembali puing-puing strategi yang mulai berserak
Aku pulang ke apartemen dengan perasaan bersemangat dan puas. Kemenangan di kantor hari ini adalah hal yang kuharapkan. Bahkan rasa nyeri yang sesekali berdenyut di pergelangan kaki seperti bukan masalah.Sesampainya di unit, aku segera mandi. Air hangat begitu menenangkan dan meluruhkan ketegangan







