MasukAku percaya satu hal.
Jika ingin bertahan di tempat baru, jangan memberi orang lain kesempatan meremehkanmu terlalu lama.
Kadang takdir bekerja dengan cara yang aneh. Ia tidak datang momen besar yang menegangkan atau peristiwa yang berdarah-darah. Tapi justru muncul dalam hal yang tak terduga sama sekali.
Setelah menunjukkan kemampuan terbaik yang kumiliki dalam rapat barusan, aku masih duduk sendiri. Laptop masih terbuka, slide terakhir terpampang di layar proyektor.
Tapi pikiranku melayang ke momen satu hari yang lalu dan kata-kata Adnan barusan.
“Rifat Aydan. Adnan Aydan. Perusahaan milik sepupunya. Clue apa ini?”
Nama belakang mereka sama. Aku pikir itu hal yang wajar karena jaman sekarang nama belakang tidak berarti marga. Dua hari ini aku mengabaikannya dan entah mengapa sekarang hatiku merasa ada yang janggal.
Selama dua tahun berkencan, aku mengenal pria itu hanya sebagai Rifat saja. Kesibukanku sebagai wanita karir, tidak sempat mencari tahu tentang keluarganya. Dan sekarang, kepalaku sangat ramai dengan spekulasi yang muncul.
“Apa ... mereka bersaudara?”
Ini adalah spekulasi terbodoh. Tapi jika Adnan adalah benar-benar sepupu Rifat, itu artinya aku sekarang bekerja untuk keluarga pria yang pernah menghancurkan hidupku.
Pikiran itu membuat sudut bibirku terangkat sedikit.
Ironis. Sangat ironis.
Aku menyandarkan punggung ke kursi, melipat tangan depan dada, dan memikirkan ironi tersebut. Tidak ada rasa bangga bekerja di Monexia andai benar mereka bersaudara.
Bukan karena aku tidak mampu menghadapi Rifat saat peluncuran proyek ini, tapi karena muak!
Aku tidak sudi memberikan tenaga dan pikiranku untuk keluarga dari pria yang pernah menghancurkan dan mempermalukan aku. Bahwa harga diriku tidak akan pernah bisa dibeli dengan apapun.
Andai dari awal aku tahu bahwa perusahaan ini masih memiliki hubungan dengan keluarga Rifat, demi langit dan bumi, aku tidak akan datang di hari pertama bertemu Adnan.
Tanganku segera menutup laptop sedikit keras. Bahwa ini semua belum terlambat. Masih baru dua hari dan aku bisa mengundurkan diri.
Lebih baik aku mencari pekerjaan lain. Toh, aku memiliki pengalaman yang bisa diperhitungkan perusahaan lain. Daripada tetap di sini namun menjadi roda penggerak keluarga RIfat.
Aku segera mematikan proyektor, memasukkan dokumen, dan mematikan lampu ruang rapat. Lalu keluar.
Tekadku, jika hal itu benar, tidak menunggu nanti sore, detik itu juga aku akan pergi sebelum semuanya rumit. Karena aku datang ke kota ini untuk melupakannya. Bukan kembali terjebak dalam bayangan Rifat Aydan.
Dengan segera aku menuju pantry kecil dan menemukan orang yang kucari. Di sana, Andre sedang menuang kopi ke dalam cangkir. Ia melirikku sekilas ketika melihat kedatanganku.
“Masih hidup setelah rapat pertama, Dil?” tanyanya santai.
Aku mengambil botol air mineral dari kulkas kecil.
“Masih, Pak.”
Andre tertawa kecil.
“Bagus.”
Ia menyesap kopinya lalu menatapku serius.
“Presentasimu tadi nggak buruk, Dil.”
“Aku nggak biasa bikin ide jelek, Pak An.”
Andre tertawa lirih mendengar kesombonganku.
“Lumayan untuk pemula.”
Aku tidak menanggapi percakapan itu. Justru bertanya sesuatu yang sekarang mengganggu pikiran.
“Pak Andre?”
Ia mengangkat alis.
“Hmm?”
“Pak Adnan udah lama mimpin Monexia?”
Andre bersandar di meja pantry sambil berpikir.
“Lumayan. Tujuh tahun mungkin.”
Lalu aku bertanya kembali dengan nada senormal mungkin.
“Nama belakangnya kayak sama dengan pebisnis fintech yang lain ya?”
Andre menyipitkan mata sedikit.
“Siapa?”
Aku menatapnya.
“Rifat Aydan.”
Beberapa detik Andre tidak berkata apa-apa. Lalu ia tertawa kecil.
“Jadi kamu udah tahu?”
Aku mengerutkan kening.
“Tahu apa?”
Andre memutar cangkir kopinya perlahan.
“Pak Adnan dan Pak Rifat emang sepupu.”
Kalimat itu terlontar begitu saja tanpa rem. Cukup mengejutkan hingga bulu kudukku meremang.
“Sepupu dekat?” tanyaku.
“Cukup dekat dalam keluarga. Tapi nggak dalam bisnis.”
Aku bisa mengerti maksudnya.
“Mereka nggak akur?”
“Kamu benar-benar pengen tahu gosip keluarga Pak Adnan, Dil?”
“Ya kan … fintech milik Rifat Aydan itu kompetitor kita, Pak An. Seenggaknya, aku harus tahu lah.” Jawabku cepat dan beruntungnya masuk akal.
“Kalau dibilang nggak akur … itu terlalu halus, Dil. Lebih tepatnya … mereka saling bersaing dan menjatuhkan.” Suara Andre dibuat pelan.
“Oh ya?”
“Dulu, Pak Adnan dan Pak Rifat kerja di Monexia Dynamics. Mereka digadang mimpin perusahaan ini karena saking gedenya.”
“Waktu itu mereka mimpin satu proyek besar bersama. Mirip sama proyek yang lagi kita kerjain ini. Proyek itu penting banget. Kalau berhasil, Monexia bakal jadi pemain utama di industri fintech.”
Aku bertanya pelan.
“Lalu apa yang terjadi, Pak An?”
“Peng-khi-a-na-tan.”
Pantry mendadak sangat sunyi.
“Berapa minggu sebelum proyek diluncurin, Pak Rifat mendadak keluar dari perusahaan ini. Sama bawa beberapa tim inti dan konsep proyek. Gila kan?”
“Rifat nyuri ide itu?”
“Secara hukum nggak terbukti. Tapi, orang yang lama di sini jelas tahu. Berapa bulan kemudian Pak Rifat bikin perusahaan fintech sendiri. Pakai konsep yang hampir sama.”
“Lalu keluarga mereka gimana?”
“Terpecah. Nggak kompak. Sebagian keluarga ada nyalahin Pak Rifat. Tapi sebagian lagi justru dukung dia.”
“Kenapa?”
“Karena Pak Rifat berhasil bikin pecahannya Monexia. Perusahaannya berkembang pesat, investor suka, dan media muji-muji. Keuntungannya besar.”
Aku bisa membayangkan semuanya. Rifat memang selalu seperti itu. Kharismatik, meyakinkan, dan selalu tahu bagaimana membuat orang percaya padanya.
Termasuk aku yang menjadi korban dari janji manis pernikahan tapi kemudian ditinggalkan begitu saja.
“Sejak saat itu, keluarga Aydan terpecah, Dil. Berapa tetap kerja di sini, berapa ikut dukung perusahaan baru Pak Rifat. Karena ulah Pak Rifat, dulu perusahaan induk ini hampir runtuh. Bayangin aja, banyak investor pergi. Mau nggak mau proyek batal padahal udah on proses.”
“Lalu?”
“Pak Adnan putar otak sama keluarga Aydan yang tetap disini. Mereka bangun semuanya lagi dari sisa modal dan kepercayaan yang ada. Sekarang, perusahaan ini perlahan udah kembali jadi pemain meski nggak sebesar punya Pak Rifat. Dan mereka bakal jadi rival abadi di industri fintech.”
Aku berkata pelan,
“Sepupu yang saling menghancurkan?”
Andre tertwa kecil.
“Kurang lebih gitu.”
Aku terdiam cukup lama. Semua potongan informasi itu perlahan mulai tersusun di kepalaku.
Adnan.
Rifat.
Sepupu.
Saingan bisnis.
Keluarga tidak akur.
Meski aku berusaha menjauh dari kenangan lama, seolah takdir menuntunku untuk kembali bermuara pada satu orang.
Rifat.
Andre kemudian berkata lgi.
“Karena Pak Adnan udah nunjuk kamu buat mimpin Project Solvio, kamu harus siap ngadepin perusahaan Pak Rifat, Dil. Karena cepat atau lambat … kamu bakal ketemu mereka di pasar yang sama.”
"Perusahaan Pak Rifat lagi bagus-bagusnya. Nggak mudah jatuhin dia sama black campaign murahan. Kamu benar-benar harus putar otak dan strategi biar proyek ini berhasil ngunggulin milik Pak Rifat. Aku cuma dukung dari belakang. Selebihnya, kamu dan tim yang harus pro aktif."
Andre kemudian berjalan keluar dari pantry, meninggalkanku sendirian.
Lalu aku tertawa pelan karena beginilah jalan cerita yang Tuhan berikan. Bahwa aku masih terhubung dengan Rifat melalui perusahaan ini. Dan berdiri di tengah medan perang kedua keluarga Aydan yang terpecah belah.
Aku menatap air mineral di tangan sbelum kuletakkan di meja.
Bila mengundurkan diri sekarang, semuanya akan selesai. Hidupku tenang tanpa bayang-bayang Rifat. Lalu mencari pekerjaan lain dan melanjutkan hidup.
Tapi, bayangan enam bulan silam tiba-tiba muncul. Tangisan, bisikan para tamu, dan kursi pengantin yang kosong. Membuat dadaku bergejolak.
Aku sudah janji pada diriku sendiri untuk mengubur kenangan buruk itu. Tapi takdir kembali membawaku kesana.
Kalau aku tetap bekerja di sini, aku tidak cuma memuluskan proyek milik Adnan, tapi juga membantunya mengalahkan perusahaan Rifat.
Aku menutup mata sebentar. Pilihan sulit ini ada di tanganku.
Pergi atau tetap tinggal?
“Kamu nggak perlu kaget atau panik kalau tiba-tiba ada black campaign yang keluar nyerang produk kita di pasaran."Seketika itu juga, Adnan menatapku dengan wajah penuh tanya."Apa maksudmu?"Aku menyandarkan punggung ke sofa, menatapnya sungguh-sungguh."Serangan itu datangnya dari Mandala Kapital. Rifat mau bikin Solvio cacat di mata publik, supaya produk dari perusahaannya tetap mendominasi pasar."“Rifat bukan orang bodoh yang ceroboh membiarkan strategi internalnya bocor ke luar."Aku menyunggingkan senyum tipis, memutar gelas anggur di depanku."Rifat memang nggak bodoh, Adnan. Dia pakai salah satu orang kepercayaannya di Mandala Kapital untuk nyusun strategi kotor itu."Aku menjeda kalimatku, mengingat laptop belasan juta milik Kenan yang kini sudah jadi rongsokan. Ada sedikit rasa bersalah yang melintas, namun segera kutepis jauh-jauh. Demi menghancurkan Rifat, semua bidak harus rela dikorbankan."Tapi sayangnya, orang kepercayaannya itu punya sedikit hati nurani. Dia kayak ngg
Mendengar nama itu disebut dari mulutku, tubuh Adnan menegang. Sorot matanya yang semula dipenuhi kejengkelan kini berubah menjadi kewaspadaan."Rifat?" Adnan mengulang nama sepupunya sendiri.Aku mengangkat kepalaku dari pundaknya. Lalu menyunggingkan senyum miris karena luka masa lalu."Aku ada di Monexia bukan karena kebetulan, Adnan. Aku memilih menjeratmu bukan karena aku mendambakan posisi biar bisa disisimu. Tapi aku datang untuk menghabisi Mandala Kapital.”Kemudian aku menoleh dan menatapnya dengan sorot sungguh-sungguh.“Aku mau lihat Rifat jatuh, hancur, kalau perlu sampai dia miskin. Nggak punya apa-apa lagi di dunia ini."“Dila? Kamu serius?”"Aku mau sepupumu yang brengsek itu tahu kalau aku bisa dapatin apa pun yang kumau, termasuk lelaki yang kesuksesannya ada di atas dia. Yaitu … kamu."Aku menatap kedua mata Adnan tanpa keraguan.Tiba-tiba, aku tertawa namun terdengar sinis dan dingin. Lalu melepaskan cekalan tanganku di lengannya. Kemudian bersandar di sofa dengan ga
Sambil menyambar jas kerjanya di atas meja dengan gerakan kasar, Adnan menatapku tajam."Tapi kita bawa mobil masing-masing. Aku akan ikuti mobilmu dari belakang. Aku nggak mau repot-repot harus nganter kamu pulang setelah makan malam sialan ini selesai."Aku tertawa meremehkan untuk memprovokasi harga dirinya. Lalu melangkah maju, hingga ujung sepatu hak tinggiku nyaris menyentuh sepatunya."Bawa mobil masing-masing? Oh, ayolah, Pak Adnan. Mana ada sepasang kekasih pergi kencan tapi konvoi di jalanan kayak lagi pawai?" sindirku dengan nada manja."Saya mau kita satu mobil. Saya mau duduk manis di sebelah Anda. Layaknya sepasang kekasih yang sesungguhnya."Adnan kemudian mundur agar menjauh dariku."Jangan keterlaluan, Dilara! Aku udah turuti maumu, jangan mendikte gimana cara --- ""Apa harus saya ingatkan lagi tentang alamat rumah orang tua Anda, Pak?" potongku dengan unsur ancaman yang langsung membuat Adnan diam seribu bahasa.Tangannya mengepal kesal dengan mata menatapku geram. A
Hatiku bergemuruh mendengar sindiran Adnan yang jelas-jelas keterlaluan dan sengaja dilakukan untuk meruntuhkan harga diriku.Namun, aku menolak untuk terpancing emosi dan terlihat lemah.Perlahan aku menarik nafas dalam-dalam lalu menunjukkan senyum tenang sambil menatap matanya."Benar kata Anda, Pak Adnan. Memang ada masalah di tempat tidur, seperti tuduhan Anda," jawabku santai.Membuat mereka yang hadir di ruang rapat saling lirik."Semalam saya tidur larut karena harus memeriksa ulang seluruh kesiapan sistem Solvio agar tidak ada error sekecil apa pun. Ditambah lagi kemacetan pagi ini sama sekali tidak bersahabat. Tapi saya jamin, keterlambatan setengah jam ini tidak akan mengurangi kualitas hasil kerja keras saya."Mendengar jawabanku yang berkelas dan berani, Adnan menghentikan ketukan pulpennya. Wajahnya sedikit kesal tapi dia segera menguasai diri agar tetap terlihat berwibawa."Bagus kalau begitu. Duduk di tempatmu, Dilara. Kita tidak punya banyak waktu untuk membahas urusan
Begitu melangkah keluar dari ruangan Adnan, aku menuju basemen dengan langkah santai sambil menikmati kemenangan kecil hari ini.Adnan mungkin mengira dia bisa mengendalikan bidak caturnya, tapi dia tidak sadar bahwa papan caturnya sendiri sudah berada di bawah kuasaku.“Jangan harap bisa mengaturku, Adnan. Karena aku datang, untuk menggunakanmu melawan Rifat. Jadi … bersiaplah.” Gumamku pada diri sendiri.Tepat saat aku memarkirkan mobil di basemen apartemen, ponselku bergetar.Sebuah notifikasi pesan masuk dari …“Kenan.”Aku membukanya dan seketika seulas senyum santai dan lepas terbit di bibirku.Kenan mengirimkan sebuah foto. Di atas meja makannya yang sederhana, sudah tertata rapi dua piring nasi goreng dengan kepulan asap tipis, lengkap dengan lauk cumi pedas manis k yang menggoda selera.Di tengah meja, sebuah lilin kecil dinyalakan sebagai pemanis.[Dari Kenan : Sudah siap, Tuan Putri. Cepat datang sebelum cumi pedas manisnya nggak manis lagi.]Kebetulan perutku keroncongan ka
Tepat saat jam pulang kerja, layar ponselku menyala, menampilkan nama yang membuat senyum dingin terbit di bibirku.Adnan.Aku menggeser tombol hijau, menempelkan benda pipih itu ke telinga."Ke ruanganku sekarang. Jangan sampai ada yang lihat," perintahnya singkat.Dan langsung memutuskan sambungan sebelum aku sempat mengiyakan. Suaranya yang kaku memicu alarm kewaspadaan di kepalaku.Aku merapikan sisa berkas di meja lalu melangkah menuju lantai atas. Langkahku tenang, namun otakku bekerja dua kali lebih cepat.Di depan pintu eksekutif itu, aku memasang kembali topeng pegawai yang patuh. Aku mengetuk pintu dua kali lalu melangkah masuk.Adnan perlahan memutar kursi kebesarannya, lalu berdiri. Ia berjalan dan bersandar di tepi meja kerja. Kedua tangannya bersedekap di dada, matanya menatapku dengan sorot dingin."Udah dapat mangsa baru, Dila?" tanya Adnan tiba-tiba.Suaranya terdengar meremehkan sekaligus merendahkanku."Maksud Bapak apa?"Adnan mendengus sinis, senyum tipis yang mere
Sepuluh menit berlalu tanpa jawaban. Aku mendesah, hampir menyerah, hingga sebuah notifikasi muncul.[Pak Adnan : Tunggu di mejamu. Lima belas menit lagi.]Hanya itu.Singkat, padat, dan otoriter.Namun, bibirku menyunggingkan senyum kemenangan penuh kepuasan.Aku mematikan layar ponsel, membiarkan
Sebuah headline berita nasional dari kanal bisnis terkemuka muncul dengan foto yang sangat kukenali.ifat berdiri di atas panggung megah dengan senyum kemenangan yang memuakkan, memegang trofi berlapis emas.‘Rifat Aydan Dinobatkan Sebagai Pengusaha Fintech Tersukses Tahun Ini. Mandala Kapital Pimpi
Bagas meletakkan segelas kopi di mejaku dengan mata berbinar."Sukses besar, Dil! Begitu aku masukin kode yang dikirim Pak Adnan semalam, semua sistem keamanan prototipe kita langsung sinkron.”Aku menarik nafas lega. "Bagus. Bentar lagi tim inti pasti datang. Kita nggak punya banyak waktu."Tepat p
Pertanyaan Adnan seolah-olah menegaskan bahwa dia mengerti jika aku telah mengetahui hubungan kekeluargaan antara dirinya dan Rifat.Tapi aku tersenyum lalu menatapnya. Seolah aku tidak mengerti hubungan keduanya. "Sebagai pemimpin Project Solvio, tentu saya butuh perhatian penuh dari Anda selaku D







