Share

Bab 64

Author: Flower Lidia
last update Huling Na-update: 2025-09-27 22:01:17

Pintu terbuka dengan keras. Suara hak tinggi beradu dengan lantai, ritmenya perlahan tapi mengintimidasi. Alisya masuk—anggun sekaligus berbahaya, seperti ular yang meluncur ke sarang mangsa. Dua bodyguard raksasa mengikuti di belakang, membawa sebuah koper hitam.

Ziva menegakkan kepala, menatap lurus. Bianca di sampingnya gemetar, tapi genggamannya pada sandaran kursi menunjukkan tekad untuk tidak menyerah.

Alisya tersenyum tipis. “Ah, akhirnya aku bisa bertemu dengan kalian lagi… tanpa perantara.” Ia bertepuk tangan pelan, lalu memberi isyarat.

Salah satu bodyguard membuka koper, memperlihatkan isi yang membuat Bianca membelalak ketakutan: berbagai alat tajam berkilau—pisau, tang, bahkan kabel listrik.

“Mainan kecilku,” ucap Alisya dingin. “Kalian tahu kan? Aku benci orang yang sok pintar dan mencoba melawan. Dan kebetulan… kalian berdua masuk daftar itu.”

Ziva menahan napas, matanya tetap menusuk. “Kalau kau pikir aku akan takut dengan semua ini, kau salah besar.”

Alisya mendekat,
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • DIJODOHKAN MAMA   Bab 157

    Ziva baru hendak melangkah ke arah pintu, saat suara langkah Reza di luar terdengar makin dekat.Namun tiba-tiba, dari arah kamar kakek Yudistira terdengar bunyi benda jatuh keras, disusul suara napas tersengal.“Ka—Kakek?” panggil Ziva cepat, tubuhnya refleks berbalik.Suara itu makin jelas—suara seperti seseorang yang sedang berjuang menarik udara.Ziva berlari secepat mungkin, karna terhambat kondisi perutnya, ia menahan perutnya sambil membuka pintu kamar.Pemandangan di dalam kamar membuat darahnya membeku.Kakek Yudistira tergeletak di lantai, tubuhnya kaku bergetar hebat, wajahnya pucat pasi, dan mulutnya mengeluarkan busa tipis.“Kakek!” jerit Ziva panik. Ia segera berlutut di samping tubuh tua itu, menepuk pipinya pelan.“Kakek, dengar aku? Kakek, tolong buka mata!”Tangannya gemetar, ia buru-buru meraih ponsel di saku.“Reza! Kakek kejang!” suaranya nyaris histeris saat Reza mengangkat.“Cepat ke kamar, sekarang!”Suara langkah cepat terdengar dari luar—pintu apartemen terb

  • DIJODOHKAN MAMA   Bab 156

    Ziva baru saja menyalakan diffuser aroma lavender di ruang tamu ketika bel pintu berbunyi.Suara “ting-tong” itu terdengar dua kali, cepat dan agak mendesak.Ia menatap jam dinding pukul 09.42.“Kurir?” gumamnya pelan.Padahal, ia tak merasa sedang menunggu kiriman apa pun.Dengan langkah hati-hati, Ziva menuju pintu.Begitu dibuka, seorang kurir dengan seragam abu-abu sudah berdiri di depan. Wajahnya tertutup masker, topinya agak miring.“Paket untuk Ibu Ziva Mangrove.” Ziva menatap tangan kurir itu. Kardusnya kecil, tapi tampak basah di sisi bawahnya — meninggalkan noda hitam di ujung box.“Dari siapa, ya?” tanya Ziva ragu.Kurir itu hanya menggeleng cepat.“Saya cuma diminta antar, Bu. Gak ada nama pengirim.”Tanpa menunggu, ia menyerahkan paket itu dan pergi. Begitu cepat, seolah tak ingin terlibat lebih jauh.Ziva menutup pintu perlahan.Matanya kembali ke arah paket. Ada sesuatu yang… tidak biasa.Lak hitam di sisi atasnya tampak seperti baru dipasang terburu-buru, dan bau ane

  • DIJODOHKAN MAMA   Bab 155

    “Selamat malam, Pak. Atas nama pasien siapa, ya?”“Yudistira Prasetyo,” jawab Reza cepat.Petugas itu membuka berkas, memeriksa beberapa lembar dokumen, lalu berkata,“Untuk sementara biaya perawatan awal sudah ditanggung dari asuransi keluarga. Tapi nanti akan ada tambahan observasi di ruang rawat intensif, jadi mohon tanda tangan di sini, Pak.”Reza menandatangani tanpa banyak bicara.Matanya hanya fokus pada tulisan-tulisan di kertas itu, tapi pikirannya melayang pada sosok Kakek yang kini sedang beristirahat di kamar rawat.Selesai urusan administrasi, seorang dokter berpakaian putih datang menghampiri.“Maaf, Anda keluarga Pak Yudistira?” tanyanya sopan.“Iya, saya cucunya. Reza Fernander.”Dokter itu tersenyum kecil. “Baik, saya dokter Satria, yang menangani beliau.”Reza berdiri tegak, ekspresinya berubah serius.“Bagaimana kondisi Kakek saya, Dok? Tadi dokter bilang sudah sadar, tapi saya ingin tahu lebih detail.”Dokter menghela napas pelan.“Beliau memang sudah sadar, dan se

  • DIJODOHKAN MAMA   Bab 154

    Ziva langsung bangkit, menahan lengannya sendiri agar tidak panik.“Za, ayo kita ke sana sekarang.”Reza masih diam beberapa detik sebelum akhirnya sadar.“Iya…”Suaranya serak.“Iya, ayo.”Ziva mengambil tas kecil dan bergegas, sementara Reza dengan cepat meraih kunci mobil dan ponsel yang hampir jatuh dari tangannya.Begitu mereka keluar dari apartemen, suara lift yang biasanya terdengar biasa saja kini terasa berat.Di dalam lift, keduanya terdiam.Ziva memegang tangan Reza pelan, mencoba menenangkan. 🌸🌸🌸🌸🌸Bunyi langkah kaki Reza dan Ziva terdengar cepat di koridor rumah sakit yang dingin dan tenang.Suara roda brankar, aroma disinfektan yang menusuk, dan cahaya putih lampu-lampu di langit-langit membuat suasana semakin mencekam.Ziva yang sedang hamil berusaha mengimbangi langkah Reza yang terburu-buru, tangannya menggenggam lengan suaminya kuat-kuat.“Za... pelan sedikit, aku takut jatuh,” ucapnya dengan napas tersengal.Reza langsung memp

  • DIJODOHKAN MAMA   Bab 153

    DING DONG! DING DONG! DING DONG!!!Reza yang baru meneguk setengah cangkir kopinya sontak hampir tersedak.Ia melirik jam dinding. Jam tujuh pagi.“Siapa sih pagi-pagi begini udah bertamu?” gumamnya dengan alis berkerut.Begitu membuka pintu, Reza langsung membeku.Bukan satu. Bukan dua. Tapi tiga kurir ekspedisi berdiri rapi di depan pintu apartemen sambil membawa tumpukan kardus setinggi dada.Di belakang mereka—masih ada satu lagi yang mendorong troli penuh paket tambahan.“Pak Reza, pengiriman untuk Ibu Ziva, ya”Suara itu terdengar hampir bersamaan dari tiga arah berbeda.Reza melongo. “...Ibu Ziva?”Salah satu kurir tersenyum sopan, “Iya, Pak. Total ada dua puluh tiga paket. Mohon tanda tangannya, ini sisanya masih di bawah.”Reza mengedip dua kali.“Dua puluh... tiga?”Kurir lain menimpali dengan santai, “Iya, Pak. Dan paketnya sudah di bayar lunas.”“Lunas?” gumam Reza, menatap deretan logo butik mewah dan parfum internasional di tiap kardus.Ia menarik napas panjang. Baiklah

  • DIJODOHKAN MAMA   Bab 152

    Malam itu apartemen terasa berbeda.Biasanya, setelah makan malam, Ziva dan Reza akan duduk bersama di ruang tamu — ngobrol ringan, menonton film, atau sekadar membahas hal-hal kecil yang lucu.Tapi malam ini, suasananya sunyi.Reza duduk di meja kerja kecil di pojok ruangan, menatap layar laptop dengan fokus yang tak biasa.Earphone menempel di telinganya, beberapa berkas menumpuk di meja.Sementara Ziva duduk di sofa, menatap televisi yang sudah lama menyala tapi tak ia perhatikan.Sesekali, Ziva melirik ke arah Reza.Ia sempat berharap Reza menoleh, menyapa, atau sekadar bertanya apakah ia sudah makan buah seperti biasa.Tapi yang terdengar hanya ketikan laptop dan sesekali nada dering notifikasi email.Setelah menunggu cukup lama, Ziva akhirnya bersuara pelan,“Za… kamu belum istirahat dari tadi.”Reza tak langsung menjawab. Butuh waktu beberapa detik sebelum ia melepas earphone dan menoleh sambil mengusap wajah.“Hmm? Oh, iya. Maaf, sayang. Lagi banyak banget kerjaan. Perusahaan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status