Se connecter
Aku berjalan tergesa masuk ke dalam rumah. Tadi sewaktu aku masih di tempat kerja Mama menelpon, menyuruhku agar cepat pulang karena ada hal penting yang ingin disampaikan.
Saat sampai di ruang tamu, ternyata Mama, Papa, dan juga Clara--adikku sudah berkumpul. Namun anehnya atmosfer di antara mereka tak terlihat baik-baik saja. Bahkan aku melihat Clara berulang kali menghapus air mata. "Duduk, Lin." Papa yang wajahnya terlihat begitu suram kini, mengeluarkan titahnya. "Ada apa, Pa?" Tanyaku sembari duduk di hadapan Papa. "Lin, kamu sayang 'kan dengan keluarga kita?" Tanpa basa-basi Papa melontarkan tanya yang begitu ambigu. Tak perlu kujawab pun pasti mereka tahu jawabannya. "Sayanglah, Pa. Kenapa sih?" Tanyaku lagi yang masih bingung dengan perkataan Papa. "Kamu rela 'kan kalau mengikhlaskan Bima untuk Clara?" Seolah ada petir yang menyambar di atas kepalaku saat mendengar permintaan Papa yang begitu entengnya. "Maksud Papa apa? Jangan bercanda, Pa!" "Papa sedang gak bercanda Alin!" Nada suara Papa yang begitu tegas menambah guncangan kuat di jiwaku. Dua Minggu lagi aku akan menikah dengan Mas Bima--orang yang selama ini begitu kucintai. Tapi apa sekarang? Permintaan gila keluar dari mulut orang terdekatku sendiri. "Lin ... Tolong ya? Cuma keikhlasan hati kamu yang bisa menyelamatkan nama baik keluarga kita." Kali ini Mama memohon dengan meremas erat telapak tanganku. "Aku gak paham apa yang terjadi, Ma, Pa. Coba tolong jelaskan," pintaku karena masih kebingungan. "Adikmu hamil, Lin." Mataku membulat mendengar kabar dari Papa tersebut. Syok hebat rasanya jiwa ini. Walau aku tahu Clara adalah anak yang banyak bergaul dengan berbagai macam orang, tapi aku tak menyangka akan sampai sejauh ini. Apalagi selama ini ia terlihat begitu polos. "Lalu kenapa aku harus merelakan Mas Bima, Pa? Kenapa tak minta orang yang menghamili Clara untuk tanggung jawab?" Protesku. Papa terdengar menghela napas dalam. Matanya menatap tajam pada Clara yang kian dalam tertunduk. "Anak ini tak tahu siapa Ayah dari bayi itu! Dasar anak tak tahu diri! Bisa-bisanya dengan gampangnya memberikan tubuhnya pada banyak lelaki!" Papa murka dan hendak memukul Clara, namun segera ditahan oleh Mama yang kian tersedu. Aku tak sanggup lagi berkata apapun mendengar kabar soal Clara. Syok luar biasa sampai napas pun terasa tercekat. "Mbak Alin, tolong aku ...." Kini Clara bersimpuh di depan kakiku. Tentu aku dilema, pikiranku kacau. Yang harusnya hari-hari menjelang pernikahan kujalani dengan bahagia, namun malah sebaliknya. Masalah besar muncul tanpa diduga. "Mbak gak bisa jawab, Ra," tukasku yang langsung pergi meninggalkan mereka. Tak kuhiraukan suara panggilan Mama juga Clara yang berusaha menahanku. *** "Dek, gak ada makanan?" Aku terkejut luar biasa saat mendengar sapaan dari belakang. Aku pergi ke taman dekat rumah karena ingin menenangkan diri. Sangking penuhnya kepala dengan masalah yang tiba-tiba muncul, aku sampai tak sadar jika di bangku belakang ada seseorang yang tengah tiduran di sana. "Maaf, gak ada Bang," sahutku dengan hanya melirik lelaki itu sekilas. Lelaki yang sepertinya tunawisma itu memang sering berkeliaran di sekitar perumahan kami. Ia tidak gila, namun entah kenapa tinggal di jalanan. Aku yang kasihan sering juga memberinya makanan atau uang jika bertemu, hingga mungkin ia pun sudah mengenalku. "Yah, padahal Abang laper banget." Karena emosi sedang tak baik-baik saja, ingin saja kujawab, 'makanya kerja biar bisa makan.' Namun kata-kata itu tak berani kulontarkan. Sebab melihat tampangnya yang sangar dan tubuhnya yang tinggi besar saja nyaliku sudah ciut. Pernah juga beberapa kali aku melihat lelaki itu bergaul dengan preman pasar, jadi lebih baik aku cari aman dengan lelaki itu. Tak lagi menggubris keberadaan lelaki itu, aku kembali larut dalam renungan. Hati kecil sedikit menghibur jiwa ini, memberi sugesti bahwa tak mungkin Bima bodoh mau-mau saja menikah dengan Clara. Sudah pasti Bima akan menolak permintaan Papa, karena akulah orang yang ia cintai. Lagipula hanya orang naif yang mau menanggung jawabi perbuatan buruk orang lain. Ponsel dalam tas berdering, terlihat Papa menelpon. Sebenarnya aku enggan mengangkatnya, tapi karena penasaran apa yang akan dikatakan Papa lagi, aku pun mengangkatnya. "Kamu di mana? Pulang sekarang! Papa sudah menghubungi Bima dan keluarganya supaya datang ke rumah untuk berembuk," ujar Papa tanpa memikirkan perasaanku sedikitpun. "Pa, kenapa Papa setega ini sih sama Alin?" Aku tak dapat lagi menahan air mata yang sejak tadi terus kutahan. Terdengar Papa menghela napas berat di ujung sana. "Maafin Papa, Lin. Papa juga terpaksa melakukan ini, demi kebaikan semuanya." "Demi kebaikan siapa, Pa? Demi kebaikan kalian saja 'kan? Bukan demi kebaikanku!" Ketusku dengan air mata yang mulai meleleh. "Lin, tolonglah mengerti. Sekali ini saja kamu mengalah ya? Papa yakin jika kamu melepaskan Bima, kamu akan dapat yang lebih baik." Begitu enteng Papa berucap. "Sekali ini Papa bilang? Bukannya selama ini aku terus-terusan mengalah untuk Clara, Pa? Bahkan aku rela mengubur cita-citaku, rela tak kuliah, demi Clara bisa kuliah. Dan sekarang, saat aku baru saja akan merasakan kebahagian, Papa tega mencabik-cabik kebahagiaanku!" Karena tak tahan aku langsung mematikan panggilan Papa secara sepihak. Biarlah dianggap tak sopan, aku tak lagi memikirkan kesopanan kini. Hatiku kecewa berat. "Kamu jelek kalau nangis." Tangisku terhenti paksa saat mendengar seseorang berkomentar di bangku sebelah. Aku menoleh dan mendapati tunawisma yang biasa dipanggil Bang Iza itu sudah duduk di bangku sebelah. Walau berjarak tapi tak juga terlalu jauh. Kupikir ia sudah pergi tadi setelah kubilang tak ada makanan. Tapi nyatanya tidak. "Aku memang jelek!" Ketusku dengan menghapus air mata kasar. Sebal rasanya, mau bersedih pun ada saja gangguan. "Iya, tapi kalau nangis makin bertambah jeleknya," sahutnya dengan santai tanpa memikirkan perasaanku.Aku sontak berdiri karena terkejut. Bahkan tangan yang masih berbusa pun kuabaikan."Eh, aku cuma mau nyuci baju Abang, karena udah beberapa hari dibiarkan--."Tanpa memberi kesempatan aku melanjutkan perkataan, lelaki itu dengan cepat menarik hijabku ke belakang dengan keras. Tubuhku makin gemetaran tak menentu melihat kilatan amarah di bola matanya."Maafin aku--."Bluggh ... Bluggh ....Belum selesai aku minta maaf, Bang Iza tanpa ampun memasukkan kepalaku dalam bak air, hingga aku tak bisa bernapas. Aku meronta ingin melepaskan diri, namun tenaga lelaki itu begitu kuat.Syukurnya tak berapa lama ia kembali menarik kepalaku ke atas, hingga aku bisa meraup oksigen sebanyak-banyaknya."Sudah kubilang, jangan sentuh barangku, atau aku akan mengha*bisimu!" Bentak lelaki itu lagi, lalu kembali ia mendorong kepalaku masuk ke air."Tapi sepertinya telingamu ini tak bisa mendengar dengan jelas ya! Biar kucuci sekalian telingamu ini, biar jelas mendengar." Bang Iza semakin dalam menekan ke
Mataku membulat menatap Bang Iza, tak menyangka jika dia tega memberikan aku makanan basi ini. "Abang gak bercanda 'kan?" Tanyaku memastikan.Namun gebrakan tangan lelaki itu di meja langsung membungkam mulutku. Matanya menatapku dengan tajam, raut wajahnya yang sudah seram jadi bertambah semakin seram, membuat tubuhku tanpa sadar bergetar."Kalau aku bilang makan, ya makan!" Bentak lelaki itu, lalu bangkit mendekatiku.Tanpa aba-aba, lelaki itu langsung menarik hijab yang kupakai ke belakang dengan kasar, hingga kepalaku jadi mendongak."Apa perlu aku yang memasukkan makanan ini ke mulutmu, hah?" Ujar Bang Iza dengan mata melotot. Lalu ia meraih nasi tersebut dan memasukkan secara paksa ke mulutku hingga penuh.Nyaris aku muntah karena hampir tersedak nasi dengan sensasi bau basi tersebut."Makan!" Bentaknya lagi masih belum melepaskan hijabku.Aku mengangguk samar dengan air mata yang mulai menetes. Sungguh aku tak menyangka, ternyata begini sikap asli Bang Iza.Setelah melepaskank
Seolah sedang bermimpi, semua hal yang tak pernah kusangka terjadi begitu saja. Seharusnya hari ini jadi hari pernikahanku dengan Mas Bima, tapi yang ada malah kami berdua akan menikah dengan pasangan yang berbeda.Ya, hari ini adalah hari pernikahanku. Papa yang takut terjadi hal yang tak diinginkan denganku, memilih melangsungkan pernikahan kami bersama-sama dengan Clara. Semua diurus mereka dengan serba cepat.Yang mirisnya, sejak pagi aku selalu mendengar pembicaraan orang-orang yang terus menjelekkanku."Kenapa pengantinnya jadi ada dua?" Celetuk salah satu ibu-ibu yang sedang rewang."Kamu belum dengar gosip memangnya?""Gosip apa, Bu?""Si Alin selingkuh, padahal sudah dekat dengan hari H pernikahannya. Mana selingkuhannya gembel pula.""Iya, kasihan si Clara. Ia jadi terpaksa menggantikan jadi pasangan Si Bima. Baik sekali Clara, merelakan dirinya demi menyelamatkan nama baik keluarga," timpal ibu-ibu yang lain.Ingin saja aku meraih mic dan berteriak menjelaskan apa yang sebe
"Clara ... Ini gak seperti yang kamu kira, Ra," jelasku buru-buru mendekat ke gadis itu.Namun, belum sempat lagi aku memberikan penjelasan yang sesungguhnya, ia sudah berteriak duluan dengan heboh."Ma, Pa, banguuun! Ada lelaki aneh yang mau macem-macem sama Mbak Alin!" Teriak Clara dengan volume yang begitu tinggi, hingga membuat kedua orang tua kami yang mungkin sudah di alam mimpi itu terbangun.Buktinya pintu kamar mereka langsung terbuka begitu mendengar teriakan Clara."Ada apa sih, Ra, malam-malam teriak-teriak," gerutu Mama yang sepertinya masih setengah sadar."Liat, Ma, Pa. Mbak Alin tadi pergi keluar malam-malam dengan lelaki aneh ini. Bahkan tadi aku liat mereka ciuman di teras," adu Clara dengan menambah-nambahi bumbu."Enggak, Pa. Itu enggak benar! Clara salah paham."Wajah Papa yang tadi masih sayu karena baru bangun, seketika berubah. Raut marah terpancar jelas di wajah Papa."Aku gak salah paham, Pa. Ini ada buktinya." Clara dengan begitu percaya dirinya menunjukkan
Tubuhku bergetar hebat karena perasaan takut benar-benar mendominasi. Apalagi hujan yang semakin lebat membuat suasana bertambah mencekam. Bahkan bungkusan nasi goreng yang tadi kubawa sudah tercecer entah kemana."Tolong lepasin saya ...." Berulang kali aku memohon saat para preman itu menyeretku semakin jauh ke dalam gang sempit."Kubilang diam! Atau aku akan benar-benar merobek mulutmu itu!" Bentak salah satu pria yang sepertinya ketua di kumpulan itu."Ckckck! Sekumpulan ban*ci sedang beraksi ternyata."Langkah para preman yang tengah menyeretku terhenti, kala mendengar celotehan dari arah belakang.Aku yang sangat familiar dengan suara tersebut pun refleks menoleh, membuat pria yang tak lain adalah Bang Iza itu juga kaget. Sepertinya ia baru sadar jika akulah yang jadi sandera kini."Ck! Mengganggu saja cecunguk satu ini. Bereskan dia!" Titah ketua preman itu lagi seraya memberi isyarat pada anak buahnya.Mereka pun langsung melepaskanku dan beralih pada Bang Iza kini. Aku ingin
"Kamu jangan bicara yang aneh-aneh, Alin! Tak ada yang mau bernasib seperti Clara, begitu juga Clara sendiri!"Aku hanya memutar bola mata mendengar tanggapan Ayah. Memilih meninggalkan mereka dan masuk kembali ke kamar adalah jalan terbaik. Dunia mereka selalu diisi dengan Clara, karena aku di keluarga ini hanyalah berupa figuran semata.Dulu aku sempat berpikir jika aku ini adalah anak pungut. Tapi saat mendengar nenek pernah bercerita tentang kelahiranku, juga menunjukkan foto-fotoku saat baru lahir, prasangka buruk itu pun hilang.Aku terus mengurung diri di kamar hingga perut terasa keroncongan karena memang belum makan malam. Tapi dari luar sama sekali tak terdengar aktivitas mereka makan. Sepertinya mereka memang sudah makan di luar tadi dan tentunya tanpa mengingat aku.Walau enggan, terpaksa aku keluar kamar. Syukurnya keadaan rumah sudah sepi. Sepertinya mereka semua sudah masuk dan beristirahat masing-masing di kamarnya.Aku meringis saat membuka tudung saji di meja makan,







