Home / Romansa / DIPTA / BAB 106 Peringatan dari Andine

Share

BAB 106 Peringatan dari Andine

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-06-17 22:24:02

Mobil tetap melaju dengan tenang, tidak ada yang mengejar dan tidak ada yang mencurigakan lagi di kaca spion. Seolah semuanya biasa saja tapi justru itu yang bikin Aira tidak bisa benar-benar santai. Ia menyandarkan kepalanya ke kursi. Matanya melihat ke luar jendela. Lampu-lampu kota mulai menyala.

“Cuma diawasin…” gumamnya pelan dalam hati. “…tapi kenapa rasanya nggak enak.”

Di sampingnya, Dipta tetap fokus menyetir dengan tenang seperti tidak ada apa-apa dan itu sedikit banyak bikin Aira k
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DIPTA   BAB 106 Peringatan dari Andine

    Mobil tetap melaju dengan tenang, tidak ada yang mengejar dan tidak ada yang mencurigakan lagi di kaca spion. Seolah semuanya biasa saja tapi justru itu yang bikin Aira tidak bisa benar-benar santai. Ia menyandarkan kepalanya ke kursi. Matanya melihat ke luar jendela. Lampu-lampu kota mulai menyala. “Cuma diawasin…” gumamnya pelan dalam hati. “…tapi kenapa rasanya nggak enak.” Di sampingnya, Dipta tetap fokus menyetir dengan tenang seperti tidak ada apa-apa dan itu sedikit banyak bikin Aira kesal. “Bapak kok bisa setenang itu sih…” Aira akhirnya bicara. Dipta melirik sekilas. “Harusnya bagaimana?” “Ya… minimal kesel kek…” protes Aira. Dipta kembali ke jalan. “Untuk apa?” Aira langsung menoleh. “Ya karena… kita diikutin?” “Tidak diikutin.” jawab Dipta cepat Aira ingin menjelaskan lagi. “Tadi—” “Dipantau.” Dipta memotong, nada suaranya tetap datar. “Jadi itu dua hal berbeda.” Aira mengernyit. “Beda gimana?” Dipta menjawab santai. “Kalau diikutin, itu ancaman. Kalau dipanta

  • DIPTA   BAB 105 Di Buntuti

    Aira mencoba melanjutkan makannya, sendok kembali bergerak. Roti diambil, jus diminum, tidak ada yang benar-benar masuk. Fokusnya sudah hilang, matanya memang ke piring tapi pikirannya ke satu titik yang sama memandang jam tangan itu. “Masih dipakai…” Kalimatnya sendiri terulang. Dan jawaban Dipta terlalu sederhana. “Iya... kenapa cuma ‘iya’ sih…” gumamnya dalam hati. Aira menarik napas pelan. Berusaha mengalihkan pikirannya. “Ya mungkin… ya biasa aja…” dia mencoba rasional. “…mungkin emang dia suka modelnya…natau ya… kebetulan aja masih kepakai…” Masuk akal, harusnya masuk akal, kenapa rasanya tidak sesederhana itu? Aira tanpa sadar kembali melirik. Pergelangan tangan itu masih di sana, tenang dan tidak berubah. Dan justru itu, yang membuatnya semakin tidak tenang. “Kalau cuma kebetulan…” “…harusnya udah ganti…” Dia mengerutkan kening sedikit. “…orang kayak dim, jam tangan pasti banyak…” Fakta, Dipta bukan tipe orang yang kekurangan pilihan. Jadi kenapa itu? Kenapa yang itu?

  • DIPTA   BAB 104 Canggung

    Pintu kamar tertutup pelan. ‘Klik.’ Aira bersandar beberapa detik di balik pintu. Tangannya masih menggenggam handle pintu, seolah belum benar-benar siap melepas momen barusan. “Kenapa sih aku ngomong sejauh itu…" gumamnya pelan. Ia menghela napas panjang, lalu akhirnya melepas tangannya dan melangkah masuk lebih dalam ke kamar. Ruangan itu rapi. Lampu hangat menyala lembut. Semua terlihat biasa saja, tapi kepalanya tidak. Aira berjalan ke arah tempat tidur, duduk di tepi ranjang, lalu menatap kosong ke depan. Pikirannya masih di luar di percakapan tad, di pertanyaan Dipta. “Kenapa kamu nggak bilang waktu itu?” Aira menunduk pelan. Tangannya saling menggenggam. “Aku udah bilang…” gumamnya sangat pelan. Bahkan hampir tidak terdengar dia bilang dan dia tidak benar-benar diam. Dia tidak benar-benar pergi tanpa jejak dan dia tetap memberikan. Kado itu, surat itu, foto itu. Hanya saja yang tidak pernah dia siapkan adalah keberanian untuk melihat reaksinya. Aira menarik napas d

  • DIPTA   BAB 103 Kenyataan

    Malam di sekitar hotel terasa lebih hidup. Lampu jalan menyala hangat, suara kendaraan tidak terlalu ramai, dan angin malam sesekali lewat pelan. Setelah selesai makan, Aira dan Dipta tidak langsung kembali ke kamar. Mereka memilih berjalan kaki sebentar, langkah mereka sejajar tidak terlalu dekat dan tidak juga jauh. Aira menarik napas panjang. “Enak juga ya…” Dipta melirik sekilas. “Apa?” Aira tersenyum senang. “Kayak gini. Jalan malam, nggak mikirin kerjaan.” Dipta memperhatikan Aira. “Sementara, tunggu nanti. Aira langsung nyengir. “Iya sih… tetap aja besok dikejar lagi.” Beberapa langkah mereka lalui dalam, tapi bukan diam yang canggungebih ke nyaman. Aira melihat ke arah jalan. Pak.” “Ya.” sahut Dipta seperti biasa. Bapak capek nggak sih?” tanya Aira. Dipta menatap ke depadepan"Sudah biasa.” Aira menghela napas kecil. “Jawaban standar banget…” Dipta tidak menanggapi. Lalu tiba-tiba, Dipta bicara. “Nama lengkap Askara siapa?” Langkah Aira sedikit melam

  • DIPTA   BAB 102 Malu

    Di kamar sebelah, Dipta sudah duduk kembali di depan laptopnya. Namun tidak ada satu pun kalimat di layar yang benar-benar dia proses. “Ada kecoak…” gumamnya pelan. Tangannya berhenti di atas keyboard. Biasanya dia bisa fokus bahkan di tengah rapat paling rumit. Tapi sekarang yang muncul di pikirannya bukan laporan proyek dan bukan timeline pekerjaan. “Aira panik tadi…” Dia menghela napas pelan. Lalu menutup laptopnya. “…harusnya aku tetap tenang.” Beberapa detik hening. Dia bersandar di kursi, memandang ke arah pintu connecting door yang tadi dia lewati. “Kenapa malah jadi ribet…” gumamnya lagi. Di kamar sebelah, Aira masih berdiri di depan cermin, wajahnya masih merah. “Aku tadi teriak kayak orang kesurupan…” bisiknya. Dia menutup wajah. “…dan dia langsung masuk.” ia berhenti. “…ya ampun.” Dia langsung ambil handuk tambahan, lalu buru-buru mengeringkan rambutnya. Gerakannya cukup panik. "Lupakan, lupakan, lupakan…” Di kamar Dipta. Dipta berdiri lagi, berjalan ke arah pintu c

  • DIPTA   BAB 101 Surabaya

    Mobil kantor melaju pelan meninggalkan area Rajendra Engineering pagi itu masih agak lengang, langit baru saja benar-benar terang, dan jalanan Jakarta mulai hidup dengan ritme macet yang khas. Di kursi belakang, Aira duduk dengan koper kecil di sampingnya. Laptop sudah masuk tas, dokumen perjalanan juga sudah dia cek dua kali. Tapi tetap saja, tangannya sesekali membuka catatan kecil di ponsel, memastikan tidak ada yang tertinggal. Di sebelahnya, Dipta duduk tenang, seperti biasa. Jasnya rapi, posturnya tegak, mata fokus ke tablet yang berisi agenda perjalanan. Tidak ada percakapan panjang di awal, hanya suara AC mobil dan jalanan yang mulai ramai. Aira melirik ke luar jendela. “Surabaya ya…” gumamnya pelan, lebih ke dirinya sendiri. Dipta tanpa menoleh menjawab. “Iya.” Aira menghela napas kecil. “Kayaknya terakhir ke luar kota itu… lama banget.” Dipta tetap membaca layar. “Biasakan.” Aira langsung nyengir tipis. “Jawaban Bapak selalu kayak gitu ya.” Dipta tidak menanggapi, ta

  • DIPTA   BAB 22 Tempat Yang Sama, Posisi Yang Berubah

    Tempat itu tidak pernah berubah. Kafe semi-terbuka di sudut jalan utama, dengan dinding kaca besar menghadap persimpangan. Lampunya terang, tidak temaram. Meja-meja tersusun rapi, kursi kayu dengan sandaran lurus, dan aroma kopi yang lebih kuat daripada wangi manis sirup seperti di tempat lain, tid

  • DIPTA   BAB 21 Langkah Lebih Dekat

    Mobil melaju kembali, lampu jalan mulai menari di kaca depan. Hening, tapi tidak canggung hanya ruang yang penuh konsentrasi. Aira masih merasakan sisa hangat di pergelangan tangannya, sedangkan Dipta memutar-mutar setir dengan tenang, matanya fokus ke depan, tapi pikirannya masih tertuju pada resp

  • DIPTA   BAB 19 Hari Pertemuan Kedua

    Sabtu pagi, jam menunjukkan pukul 06.12. Padahal biasanya Aira baru benar-benar bangun pukul tujuh saat tidak ada sekolah. Matanya sudah terbuka sejak lima belas menit lalu. Ia menatap langit-langit kamar, diam untuk beberapa waktu. Lalu memiringkan tubuh, mengambil ponsel di meja samping ranjang, t

  • DIPTA   BAB 18 Perubahan dan H-1 Pertemuan

    Jum'at, saat jam istirahat pertama selalu jadi waktu yang paling bising di sekolah. Tapi koridor lantai dua hari itu justru terasa lebih lengang. Mungkin karena sebagian besar siswa turun ke kantin. Cahaya matahari masuk dari jendela panjang, memantul di lantai keramik yang sedikit kusam. Aira ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status