Se connecterMobil kantor melaju pelan meninggalkan area Rajendra Engineering pagi itu masih agak lengang, langit baru saja benar-benar terang, dan jalanan Jakarta mulai hidup dengan ritme macet yang khas. Di kursi belakang, Aira duduk dengan koper kecil di sampingnya. Laptop sudah masuk tas, dokumen perjalanan juga sudah dia cek dua kali. Tapi tetap saja, tangannya sesekali membuka catatan kecil di ponsel, memastikan tidak ada yang tertinggal. Di sebelahnya, Dipta duduk tenang, seperti biasa. Jasnya rapi, posturnya tegak, mata fokus ke tablet yang berisi agenda perjalanan. Tidak ada percakapan panjang di awal, hanya suara AC mobil dan jalanan yang mulai ramai. Aira melirik ke luar jendela. “Surabaya ya…” gumamnya pelan, lebih ke dirinya sendiri. Dipta tanpa menoleh menjawab. “Iya.” Aira menghela napas kecil. “Kayaknya terakhir ke luar kota itu… lama banget.” Dipta tetap membaca layar. “Biasakan.” Aira langsung nyengir tipis. “Jawaban Bapak selalu kayak gitu ya.” Dipta tidak menanggapi, ta
Ruang meeting akhirnya benar-benar kosong. Tamu sudah pergi, dokumen sudah ditutup dan suasana kantor perlahan kembali ke ritme normal walaupun jam sudah lewat cukup jauh dari jam makan siang. Aira masih duduk di ruang meeting kecil yang tadi dipakai. Laptopnya sudah ditutup tapi dia belum bergerak. “Laper banget…” gumamnya pelan, sambil melirik jam di layar ponsel. Ia menghela napas. “…jam makan siang hilang total.” Tangannya meraih tas kecil di samping kursi. Lalu kotak makan itu keluar, bekal sederhana yang rapi. Aira membuka penutupnya pelan ada rolade, tumis buncis wortel jagung dan sambal ikan teri. “Akhirnya…” gumamnya kecil, hampir lega. Baru saja ia mengambil sendok, pintu ruangan terbuka. Dipta masuk lagi. Langkahnya pelan, matanya langsung menangkap kotak makan di meja. Aira langsung berhenti. “ Ada apa pak?” Dipta berdiri sebentar, seolah hanya lewat dan tidak ada tujuan. “Sudah selesai?” “Sudah.” jawab Aira. Mereka sama-sama terdiam, meski mata Dipta jelas
Pintu rumah kembali terbuka pelan, kali ini bukan Aira. Langkah yang keluar lebih tenang dan lebih berat, Arjito Rajendra. Ia menutup pintu tanpa suara, matanya langsung tertuju ke depan. Di sana masih sama, Dipta berdiri diam bersandar di mobil. Lampu jalan jatuh tepat di atasnya dan dari situ semuanya terlihat jelas. Arjito berjalan mendekat dengan langkahnya pelan dan tidak terburu-buru. Dipta tidak langsung sadar sampai akhirnya suara itu terdengar. “Mau berdiri di situ sampai pagi?” ucap Arjito. Dipta langsung menoleh refleks. “Ayah…” Arjito berhenti beberapa langkah di depannya. Menatap lalu diam beberapa detik, tatapannya turun sedikit mengamati dari atas ke bawah. “Menarik.” Dipta mengernyit tipis. “Apa, Pak?” Arjito tetap datar. “Saya baru tahu… Direktur Rajendra Engineering bisa keluar rumah tanpa jas.” Dipta langsung diam. “... tanpa dasi dan kancing terbuka seperti itu.” Baru di situ Dipta refleks melihat dirinya sendiri. Kancing baju terbuka dua baris, dasinya t
Mobil melaju cepat, lampu jalan berkelebat. Satu persatu terlewati tanpa benar-benar dilihat. Dipta tidak memperhatikan arah. Tangannya tetap di setir dan rahangnya mengeras. Pikirannya masih penuh tentang kamar, Karin, dan foto Askara. Semuanya bercampur menjadi satu. Napasnya berat, sesekali ia menariknya dalam terasa tidak cukup. Mobil berbelok lalu berhenti dan baru saat mesin dimatikan Dipta tersadar. Matanya terangkat menatap ke depan rumah itu, rumah tempat Aira dan Askara berada. Beberapa detik ia hanya diam. “Kenapa aku kesini…?” Ia sendiri tidak tahu atau mungkin tahu tapi tidak ingin mengakuinya. Dipta membuka pintu mobil dan turun. Ia bersandar di samping mobil menatap rumah itu. Lampu masih menyala dan hening malam terasa lebih jelas. Tangannya masuk ke saku mengambil ponsel. Ia menatap layar sebentar lalu mengetik. “Keluar sebentar.” Pesan terkirim, dan ia menurunkan ponsel menunggu. Di dalam rumah, Aira masih duduk di atas tempat tidurnya. Laptop terbuka, ja
Mobil melaju pelan menembus jalan malam yang mulai lengang. Lampu-lampu kota memantul di kaca depan, membentuk bayangan yang bergerak pelan seiring laju kendaraan. Di dalam hening, Dipta menyandarkan punggungnya ke kursi. Tangannya tetap di setir, pandangan lurus ke depan tapi pikirannya tidak di jalan. “Mama beneran beli papa buat Aska ya…” Kalimat itu terulang lagi dengan pelan dan jelas dipikirannya. Dipta menarik napas dalam. Tangannya sedikit mengerat di setir, bayangan itu muncul lagi pintu terbuka, langkah kecil, mata yang langsung tertuju padanya dan senyum itu terlihat polos, tanpa ragu dan tanpa beban. “Waah…” Seolah dia memang sudah seharusnya ada di sana. Dipta menelan pelan, selama ini dia hanya melihat dari jauh, sekilas dan cepat tanpa pernah benar-benar berhenti. Dari dalam mobil, dari kejauhan halaman atau dari balik kaca. Cukup untuk memastikan bahwa anak itu baik-baik saja. Tapi malam ini jarak itu hilang dan dia berdiri tepat di depan anaknya sendiri. Tanpa
Suasana di depan pintu swalayan itu masih menyisakan sedikit ketegangan. Orang-orang sudah kembali lalu-lalang seperti biasa, tapi di antara empat orang yang berdiri di sana, rasanya belum benar-benar kembali normal. Indri menarik napas pelan, mencoba merapikan ekspresinya. Tatapannya kembali ke arah Dipta Niskala Mahesa. “Kamu pulang malam ini.” Nada suaranya tidak keras tapi jelas itu bukan sekadar permintaan. Dipta menatapnya. “Kenapa?” Indri menjawab tenang. “Jam delapan ada acara keluarga di rumah.” Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, “Karin menginap. Orang tuanya menitipkan dia sementara di rumah kita.” Di sampingnya, Karin langsung menyahut dengan nada lebih ringan. “Iya, aku mau mulai kuliah di Jakarta, jadi sementara di sana dulu…” Dipta hanya mengangguk kecil, tidak ada respon berlebihan. “Saya lihat nanti.” Indri tidak membantah, namun tatapannya sedikit menahan. “Usahakan.” Tidak ada yang berbicara untuk beberapa saat, lalu tanpa sadar tatapan Indri kemba
Sabtu pagi, jam menunjukkan pukul 06.12. Padahal biasanya Aira baru benar-benar bangun pukul tujuh saat tidak ada sekolah. Matanya sudah terbuka sejak lima belas menit lalu. Ia menatap langit-langit kamar, diam untuk beberapa waktu. Lalu memiringkan tubuh, mengambil ponsel di meja samping ranjang, t
Jum'at, saat jam istirahat pertama selalu jadi waktu yang paling bising di sekolah. Tapi koridor lantai dua hari itu justru terasa lebih lengang. Mungkin karena sebagian besar siswa turun ke kantin. Cahaya matahari masuk dari jendela panjang, memantul di lantai keramik yang sedikit kusam. Aira ber
Ruang musik sudah setengah terbuka ketika Aira datang. Ia memang sengaja datang lebih awal bukan karena terlalu rajin, tapi karena ia butuh ruang sebelum ruangan itu penuh suara dan tatapan. Tasnya ia letakkan di kursi dekat piano. Udara di dalam masih dingin, bercampur aroma kayu dan kabel alat mu
Aira terbangun bahkan sebelum alarmnya berbunyi. Langit di luar jendela kamarnya masih berwarna abu-abu pucat. Cahaya pagi belum sepenuhnya masuk, tapi cukup untuk membuat bayangan lemari dan meja belajarnya terlihat jelas. Ia menatap langit-langit beberapa detik, lalu semalam kembali. Cahaya layar







