ログインRuang meeting pagi itu terasa formal, tenang dan dingin. Dipta duduk di kursi utama, berhadapan dengan tim dari PT. Arkananta Konstruksi Nusantara. Di sampingnya, Aira sudah siap dengan laptop dan beberapa dokumen. Begitu meeting dimulai, Dipta langsung berubah. Nada suaranya tegas, tatapannya fokus dan setiap kata yang keluar terstruktur. “Untuk proyek cabang Bandung, kita tidak hanya fokus ke efisiensi biaya, tapi juga ketahanan struktur dalam jangka panjang.” Semua orang di ruangan itu diam memperhatikan. Aura Dipta memang beda dan itu juga yang membuat satu orang tidak bisa berhenti melihatnya. Sania duduk di sisi kanan meja. Posisinya jelas sebagai salah satu perwakilan divisi tapi fokusnya bukan ke presentasi. Matanya terus ke arah Dipta, bukan sekadar melihat tapi menatap seperti ada sesuatu di sana, entah itu kagum, tertarik atau sisa rasa yang belum benar-benar hilang. Aira yang duduk di samping Dipta, bukan orang yang tidak peka. Sesekali dia mengangkat kepala dari
Aira kembali ke meja, langkahnya santai seperti biasa. “Lama ya?” Dipta langsung berdiri. “Ayo.” Tanpa banyak penjelasan. Aira sempat mengernyit kecil. Biasanya memang Dipta tidak banyak bicara tapi yang ini beda, sikap dan suaranya lebih dingin dan lebih tertutup. Mereka keluar dari restoran setelah Dipta menyelesaikan pembayaran. Udara malam Bandung menyambut, sedikit dingin. Beberapa langkah di trotoar, Aira akhirnya bicara. “Kita mampir minimarket dulu ya.” Dipta mengangguk singkat. “Iya.” Tidak ada komentar lain. Di dalam minimarket, Aira mulai ambil beberapa minuman, snack, dan hal-hal kecil yang biasanya dia suka. Tapi matanya beberapa kali melirik ke arah Dipta yang berdiri diam di dekat rak minuman. Tangannya masuk ke saku, tatapannya kosong ke depan. Aira mendekat. “Kamu kenapa?” Dipta langsung menoleh. “Nggak apa-apa.” Aira mengangkat alis. “Itu ‘nggak apa-apa’ versi kamu yang mana dulu?” Dipta diam sebentar, lalu mengambil satu botol air mineral. “Capek a
Di kamar hotel itu, suasana sudah mulai terasa seperti “rumah sementara”. Aira sedang sibuk menata isi koper di lemari, menyusun pakaian miliknya dan milik Dipta berdampingan dengan rapi. Tanktop dan celana pendeknya membuat gerakannya santai, tidak terlalu formal lebih ke mode nyaman setelah perjalanan panjang. Pintu kamar mandi terbuka. Dipta keluar sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Hanya memakai boxer pendek selutut, tubuhnya masih basah sedikit, rambut acak tapi wajahnya tenang seperti biasa. Aira yang sedang menunduk di depan lemari otomatis melirik, cukup lama. Dipta langsung sadar. “Kenapa?” Aira tetap santai, seperti tidak merasa bersalah. “Nggak apa-apa.” "Nggak apa-apa tapi lihatnya lama.” ucap Dipta. Aira mengangkat alis sedikit. “Aku cuma lihat suamiku.” Dipta menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas pelan. “Lihat apa?” Aira menoleh lagi, kali ini lebih jujur. “Itu... beda aja.” Dipta mengangkat alisnya. “Beda apa?” Aira menjawab s
Jam menunjukkan sekitar 10.50 ketika mobil mulai keluar dari area kota. Dipta duduk di kursi pengemudi dengan fokus penuh, sementara Aira di sampingnya sudah lebih santai, sandar sedikit ke kursi sambil melihat jalan yang mulai berubah jadi lebih lengang. Di belakang, barang-barang sudah tertata rapi tidak terlalu banyak, tapi cukup untuk beberapa hari di Bandung. Beberapa menit pertama perjalanan terasa tenang, hanya suara mesin dan pemandangan luar yang berganti pelan. Aira menoleh ke samping. “Kamu nggak capek bawa mobil sendiri?” Dipta menggeleng. “Lebih tenang kalau aku yang bawa.” Aira mengangguk pelan. “Biasanya kamu nggak suka disetir orang lain ya.” “Iya” jawab Dipta singkat. “…lebih gampang kontrol kalau aku yang pegang.” Aira lalu tersenyum kecil. “Kamu tuh dari dulu emang suka kontrol semuanya ya.” Dipta melirik sekilas. “Bukan semua.” “Apa aja?” tanya Aira penasaran. Dipta tidak langsung jawab, lalu setelah beberapa detik. “Yang penting.” Aira menatap
Aira masih belum berhenti juga. Nada bicaranya santai, tapi jelas ada sengaja di sana semacam “menarik pelan” reaksi dari orang yang di sebelahnya. “Terus dulu kamu nggak pernah segini jauh jaraknya. Sekarang malah kayak takut sendiri.” Dipta akhirnya menghela napas panjang. Ia tidak kesal mendengar ucapan Aira, justru sekarang ia tau bahwa ini sudah masuk tahap “oke ini disengaja.” “Kamu sengaja ya?” Aira langsung diam sepersekian detik, lalu jawab dengan tenang. “Iya.” Dipta menoleh. “Kenapa?” Aira menatapnya sekilas, lalu kembali menatap langit-langit. “Kamu lucu kalau gini.” Dipta langsung diam. Dan diamnya Dipta justru membuat Aira semakin yakin kalau Dipta terpancing. Aira lanjut pelan, masih dengan nada ringan. “Dulu kamu nggak segini hati-hati... Kalau di kamar, kamu nggak pernah jaga jarak kayak sekarang.” Dipta mengalihkan pandangan sebentar, lalu menjawab pelan tapi jelas. “Dulu beda.” Aira menoleh. “Beda karena apa?” Hening sebentar. Dipta akhirnya menjawab juju
Askara memang bukan anak yang “baru mulai belajar” seperti kebanyakan anak seusianya. Sejak usia sekitar 1,5 tahun, dia sudah terbiasa melihat huruf, angka, dan pola bahasa setiap hari. Bukan dengan cara dipaksa belajar, tapi lewat kebiasaan kecil di rumah yang tanpa sadar membentuknya. Aira sering menulis kadang di notes, kadang di buku kecil untuk urusan pekerjaannya sebagai penulis novel online. Huruf-huruf itu sering dibuat besar, sengaja, karena ada satu “pembaca kecil” yang selalu penasaran di dekatnya dan pembaca itu adalah Askara. Awalnya hanya menunjuk “Ini apa?” Lalu berubah jadi mengeja pelan. “…A… I… R… A…” Lama-lama anak itu jadi terbiasa. Sampai akhirnya bukan hanya huruf, tapi juga angka, pola, dan logika sederhana ikut masuk tanpa terasa. Sekarang, saat masuk usia playgroup, Askara sudah jauh lebih maju dibanding anak seusianya. Dia sudah bisa membaca kata-kata sederhana dengan cukup lancar, mengenali angka tanpa ragu, bahkan mulai memahami konsep dasar penjumlahan
Malam itu terasa panjang. Dipta bahkan tidak ingat sejak kapan ia benar-benar mencoba tidur. Ia hanya berbaring, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang terus berputar tanpa henti. Foto itu masih ada di sampingnya, surat itu belum ia lipat kembali dan setiap kali ia memejamkan mata yang mun
Dipta berdiri di depan nakas, tangannya sudah hampir menyentuh kotak kecil itu kado dari Aira. Jaraknya tinggal beberapa senti, tapi seperti ada sesuatu yang menahan. Ia hanya menatapnya, diam dan ragu. "Tok.Tok." Pintu diketuk pelan, sebelum sempat menjawab, pintu itu sudah terbuka. Hadiyasa M
Rumah itu berdiri jauh lebih megah dari yang terakhir kali ia ingat. Arjito Rajendra berdiri di depan gerbang besar, matanya menatap lurus ke arah bangunan luas dengan arsitektur modern yang menjulang elegan. Dulu, tempat ini tidak seperti ini. Masih besar, iya. Tapi belum semewah dan sedingin seka
Perjalanan pulang terasa seperti mimpi yang terlalu panjang. Aira tidak benar-benar ingat bagaimana ia keluar dari klinik, tidak ingat bagaimana ia naik kendaraan dan tidak ingat jalan yang ia lewati. Semuanya seperti lewat begitu saja, seolah tubuhnya berjalan sendiri, sementara pikirannya terting







