Mag-log inDari kejauhan, Dipta sebenarnya tidak sedang benar-benar fokus pada pembicaraan koleganya. Matanya sesekali bergerak dan sejak beberapa menit terakhir arah pandang itu selalu kembali ke satu titik yang sama, Aira. Saat perempuan tadi mendekat dan berbisik, ekspresi Dipta memang tidak berubah. Tapi langkah percakapannya dengan kolega di depannya sempat berhenti sepersekian detik, memang hanya sebentar sangat kecil sampai orang lain tidak sadar. Di sisi Aira, suasana masih tegang. Perempuan itu sudah sedikit menjauh, tapi tatapannya masih menyisakan penegasan yang tidak perlu diucapkan lagi. “Aku cuma kasih tahu ya” katanya santai, “di sini banyak yang tahu posisi Dipta itu gimana.” Lalu dia berbalik, pergi begitu saja, seperti tidak terjadi apa-apa. Aira berdiri diam, matanya mengikuti langkah perempuan itu sebentar, lalu perlahan kembali ke depan. Ekspresinya tetap tenang… tapi jelas pikirannya tidak. “Milih kata juga orang ini” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar. Di
Siang di Rajendra Engineering berjalan seperti biasa. Meeting, laporan, dan ritme kerja yang padat. Tapi sore itu, jam menunjukkan sekitar 15.00 ketika Dipta memanggil Aira ke ruangannya. Aira masuk dengan ekspresi biasa, masih membawa beberapa berkas. “Pak?” Dipta tidak langsung menjawab. Dia menutup file di depannya, lalu bersandar ringan. “Kamu pulang sekarang.” Aira langsung kaget kecil. “Hah? Sekarang?” Dipta mengangguk. "Malam ini kamu ikut saya.” Aira langsung bingung. “Ikut ke mana, Pak?” Dipta menatapnya sebentar. “Makan malam.” jawabnya singkat dan jelas. Aira masih diam. “Makan malam sama siapa?” Dipta menjawab santai, seolah itu hal paling biasa di dunia. "Kolega.” Aira mengernyit. “Kolega perusahaan?” Dipta mengangguk. “Iya.” Aira mulai merasa aneh. “Berapa orang?” Dipta menatapnya sebentar, lalu menjawab ringan: “Banyak.” Aira langsung terdiam. Dipta berdiri, mengambil sesuatu dari meja sampingnya. Sebuah paperbag besar, dia menyerahkannya ke A
Malam itu, Dipta tidak langsung pulang ke rumahnya sendiri. Mobilnya justru berhenti di kediaman keluarga Mahesa. Rumah yang sudah lama ia kenal, tapi jarang benar-benar ia datangi untuk membahas hal “serius” seperti malam ini. Di ruang kerja rumah itu, Hadiyasa Mahesa sedang duduk dengan beberapa dokumen di meja. Lampu ruangannya tidak terlalu terang. Saat Dipta masuk, Hadiyasa langsung menutup map di depannya. “Tumben malam-malam ke sini.” Dipta tidak langsung duduk. “Aku mau tanya sesuatu.” Hadiyasa mengangkat alis sedikit. “Tentang Arjito?” Dipta diam sebentar. “Iya.” Hadiyasa menghela napas pelan, lalu bersandar di kursinya. “Akhirnya kamu tanya juga.” Dipta menatapnya. “Kenapa dia muncul sekarang? Dan kenapa sekali dia datang, kantor langsung seperti itu reaksinya?” Hadiyasa tidak langsung menjawab. Matanya sedikit kosong, seperti sedang menarik memori lama yang sudah lama tidak disentuh. “Arjito itu bukan orang biasa di dunia bisnis” akhirnya dia berkata pelan. “…
Sore itu di gedung Rajendra Engineering, cahaya matahari mulai miring masuk dari kaca-kaca besar kantor. Aktivitas sudah mulai melambat, tapi suasana justru belum benar-benar tenang. Di lantai direksi, Dipta masih duduk di ruangannya. Tangannya mengetuk pelan meja, sementara layar laptop di depannya masih menyala. Pintu diketuk. “Masuk.” ucap Dipta. Asistennya masuk dengan ekspresi agak ragu. “Pak, bawah masih ramai ngomongin Pak Arjito.” Dipta tidak langsung menoleh. “Masih?” “Iya, Pak. Dari siang sampai sekarang belum reda. Malah makin banyak yang nebak-nebak.” jawab asistennya Dipta menutup laptopnya pelan. “…biarkan saja.” Asistennya sedikit bingung. “Tapi Pak, ini sudah mulai dikaitkan ke sejarah perusahaan dan—” “Semua orang selalu butuh cerita” potong Dipta pelan, tapi tegas. “Kalau tidak diberi fakta, mereka bikin sendiri.” Ruangan jadi hening sebentar. Dipta berdiri, berjalan ke arah jendela. Di bawah sana, kantor masih terlihat sibuk, tapi tidak seramai tad
Hari itu ruang rapat pemegang saham di gedung Rajendra Engineering terasa lebih tegang dari biasanya. Para direksi sudah duduk rapi. Layar presentasi menampilkan grafik kenaikan yang terus naik tajam, bulan pertama 15%, lalu bulan kedua dan ketiga digabung, total lebih dari 35%. Angka yang terlalu bagus untuk dianggap “kebetulan”. Di kursi utama, Dipta Niskala Mahesa duduk tenang seperti biasa. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi berlebihan. Tapi tangannya yang sesekali menyentuh meja, menunjukkan dia tahu hari ini bukan hari biasa. Lalu pintu ruang rapat terbuka, suara kecil gesekan pintu saja sudah cukup membuat beberapa kepala menoleh dan suasana langsung berubah. Arjito Rajendra masuk, sendirian tanpa perwakilan dan tanpa kabar sebelumnya. Beberapa orang langsung saling pandang, ada yang refleks berdiri setengah, ada yang langsung menegakkan duduk. Sudah lama sekali, belasan tahun yang mungkin hampir dua dekade sejak sosok itu benar-benar hadir di ruang ini. Arjito melangkah pe
Perjalanan pulang dari hotel menuju kantor Rajendra Engineering berlangsung seperti biasa—tenang, tapi heningnya terasa “berisi”. Dipta memilih menyetir sendiri sejak awal keberangkatan. Tidak ada supir, tidak ada pihak ketiga. Hanya dia dan Humaira Navya Aruna di kursi sebelah. Di dalam mobil, Aira awalnya sibuk melihat jalanan dari jendela. Tapi lama-lama, dia mulai merasa suasananya agak berbeda. “Pak.” panggilnya pelan. Dipta tidak langsung menoleh. “Hm? jawabnya singkat. “Tadi meetingnya lancar ya?” Aira mencoba membuka percakapan ringan. "Lancar.” jawab Dipta tetap datar. Hening lagi. Aira kembali menatap ke luar jendela. “Aneh banget suasana sekarang…” gumamnya pelan dalam hati. Di sisi lain, Dipta fokus mengemudi. Tangannya stabil di setir. Sementara pikirannya tidak sepenuhnya “kosong”. Masih ada satu adegan yang terus muncul ulang di kepalanya, nomor yang diberikan Aira tanpa ragu dan tanpa curiga. Dipta menghela napas pelan, bukan marah dan bukan juga kaget
Jum'at, saat jam istirahat pertama selalu jadi waktu yang paling bising di sekolah. Tapi koridor lantai dua hari itu justru terasa lebih lengang. Mungkin karena sebagian besar siswa turun ke kantin. Cahaya matahari masuk dari jendela panjang, memantul di lantai keramik yang sedikit kusam. Aira ber
Ruang musik sudah setengah terbuka ketika Aira datang. Ia memang sengaja datang lebih awal bukan karena terlalu rajin, tapi karena ia butuh ruang sebelum ruangan itu penuh suara dan tatapan. Tasnya ia letakkan di kursi dekat piano. Udara di dalam masih dingin, bercampur aroma kayu dan kabel alat mu
Aira terbangun bahkan sebelum alarmnya berbunyi. Langit di luar jendela kamarnya masih berwarna abu-abu pucat. Cahaya pagi belum sepenuhnya masuk, tapi cukup untuk membuat bayangan lemari dan meja belajarnya terlihat jelas. Ia menatap langit-langit beberapa detik, lalu semalam kembali. Cahaya layar
Lift sudah menunggu ketika mereka memasuki lobi apartemen. Lampu di dalamnya terang, dindingnya dilapisi cermin dari sisi ke sisi. Pantulan mereka langsung terlihat begitu pintu terbuka. Aira melangkah masuk lebih dulu, lalu berdiri sedikit ke samping. Dipta masuk setelahnya dan menekan tombol lant







