Mag-log inSetelah keluar dari butik, mereka tidak langsung pulang. Langkah Aira justru melambat saat melewati deretan restoran di lantai itu. Perutnya sebenarnya sudah mulai terasa kosong, apalagi sejak tadi hanya fokus memilih baju dan “mengawasi” dua orang di belakangnya, satu suami, satu anak. “Aku lapar.” ucap Aira tiba-tiba. Dipta yang berjalan di sampingnya langsung menoleh. “Dari tadi nggak bilang.” Aira mendengus. “Lagi milih baju mana sempat mikirin makan.” Askara yang dengar kata makan langsung bereaksi paling cepat. “MAKAN??” Nada suaranya naik satu oktaf Aira langsung tertawa kecil. “Iya, makan.” “AYO!” katanya sambil langsung menarik tangan Aira. Dipta hanya menggeleng kecil melihat itu. Mereka akhirnya memilih salah satu restoran yang tidak terlalu ramai tapi cukup nyaman. Tempatnya hangat, tidak terlalu formal, cocok untuk makan santai. Begitu duduk, Askara langsung naik ke kursi dengan semangat, bahkan belum lihat menu. “Aku mau ayam!” Aira menghela napas. “Belum liha
Sore itu, Dipta baru saja sampai rumah, masih dengan kemeja kerja yang belum sempat dia ganti. Ponselnya bergetar terus sejak tadi di mobil, tapi baru sekarang dia benar-benar membuka grup lama yang sudah lama sekali tidak aktif. “SMA Garuda – Angkatan Kita” Nama grup yang bahkan sudah hampir dia lupakan. Begitu dibuka, isinya sudah ramai, David, Angger, Bayu, Raka semuanya muncul lagi dengan gaya yang masih sama seperti dulu, hanya saja sekarang ditambah topik kerja, hidup, dan reuni. Dipta membaca beberapa pesan, sudut bibirnya sedikit naik. “Reuni, ya…” gumamnya pelan. Malamnya, saat Aira sedang duduk santai di ruang tengah sambil scroll sesuatu di ponselnya, Dipta duduk di sebelahnya. “Ada undangan.” katanya tiba-tiba. Aira melirik sekilas. “Undangan apa?” “Reuni SMA Garuda.” Aira langsung berhenti scrolling. Dia menoleh penuh. “Reuni?” Dipta mengangguk. “Yang ngundang anak-anak satu angkatan. Di sekolah.” Aira diam sebentar, mencerna. SMA Garuda, tempat yang punya cuku
Malam sudah benar-benar tenang ketika mereka berdua akhirnya rebahan di ranjang, bukan dengan suasana lelah seperti beberapa hari sebelumnya, tapi lebih ke kondisi “selesai semua urusan hari itu”. Aira bersandar di dada Dipta, posisinya santai, satu tangannya main pelan di ujung selimut, sementara Dipta menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Lampu kamar sudah diredupkan, menyisakan cahaya hangat yang bikin suasana terasa lebih pelan dari biasanya, tidak ada pembicaraan besar. Sampai Dipta tiba-tiba membuka suara. “Kalau kita honeymoon gimana?” Aira yang sedang santai langsung berhenti sejenak. Dia mengangkat sedikit kepalanya, menoleh ke arah Dipta. “Honeymoon?” ulangnya pelan. Dipta mengangguk, tetap tenang. “Iya.” Aira diam sebentar. Bukan karena tidak mengerti, tapi karena kalimat itu terasa agak… terlambat, dalam arti yang tidak buruk, hanya saja baru sekarang muncul di tengah hidup yang sudah cukup panjang mereka jalani. Dia menghembuskan napas pelan. “Kita honeymoon s
Begitu keluar dari kamar mandi, Dipta hanya menemukan kamar yang sudah rapi, rapi dalam versi Aira yang khas. Tidak berantakan, tapi juga bukan tipe rapi yang “hotel banget”. Ada sentuhan hidup di sana, tas yang sudah kembali ke tempatnya, bed cover yang sedikit dirapikan, dan aroma samar sabun yang masih tertinggal di udara tapi Aira tidak ada di sana. Dipta berhenti sebentar di tengah langkah. Matanya menyapu kamar, kosong tidak ada tanda-tamda Aira disana. “Ke dapur lagi…” gumamnya pelan, sudah bisa menebak tanpa perlu banyak berpikir. Dia menghela napas kecil, lalu berjalan santai keluar kamar, masih dengan rambut setengah kering dan pakaian rumah yang sederhana. Cincin di jarinya sesekali memantulkan cahaya saat tangannya bergerak, seperti detail kecil yang sebenarnya tidak dia sadari tapi terus “ikut ada”. Begitu sampai di area dapur, benar saja. Aira sudah di sana. Suasana dapur terbuka itu hangat, bukan hanya karena kompor yang menyala, tapi juga karena suara kecil aktivi
Saat Aira masih di kamar mandi, suara air yang jatuh ke lantai keramik memenuhi kamar mandi dengan ritme yang stabil. Rumah sudah kembali tenang, hanya tersisa suara itu dan napas lelah dari dua orang yang baru saja menjalani hari cukup panjang dengan cara masing-masing. Dipta masuk kamar dengan langkah pelan. Dasinya sudah dilepas, jasnya disampirkan di kursi, dan dua kancing atas kemejanya dibiarkan terbuka. Bukan karena gaya, tapi lebih ke tubuhnya yang butuh ruang untuk bernapas setelah seharian penuh aktivitas dan perjalanan. Begitu masuk, matanya langsung menangkap satu hal, tas Aira tergeletak di atas ranjang, seperti biasa. Dipta hanya tersenyum kecil. “Habit baru…” gumamnya pelan, nyaris tidak terdengar. Dia mendekat, merapikan posisi tas itu sedikit ke sisi ranjang, seolah kalau tidak dia rapikan, nanti Aira sendiri akan lupa dan menumpuknya dengan barang lain lagi. Tangannya baru saja hendak menarik tas itu sedikit ketika matanya berhenti pada sebuah paperbag kecil di s
Begitu Aira masuk ke butik perhiasan itu, suasananya langsung terasa tenang dan rapi lampu hangat, kaca-kaca display yang memantulkan kilau emas dan berlian, serta pelayan toko yang menyambut dengan senyum sopan. Aira awalnya tidak langsung bicara banyak. Dia hanya berjalan pelan, melihat-lihat beberapa cincin yang dipajang, sampai akhirnya matanya berhenti di satu etalase khusus. Cincin yang ada di jari manisnya sendiri. Bukan yang baru dia pakai hari ini, tapi yang sudah lama bersama dia. Yang Dipta berikan, yang tidak pernah dia benar-benar pikirkan “nilai” nya, karena sejak awal itu terasa lebih seperti sesuatu yang personal. Aira menoleh ke pelayan toko. “Kalau model cincin kayak yang ini… kira-kira harganya berapa ya?” Pelayan itu sedikit terdiam. Matanya langsung fokus ke cincin di jari Aira, ada jeda sejenak terlihat. “Boleh saya lihat sebentar, Nyonya?” Aira mengangguk, lalu dengan hati-hati melepas cincinnya dan menyerahkannya. Gerakannya pelan, hampir refleks menjaga s
Hari itu, Dipta duduk di kelas XII IPS 1 sambil membaca catatan ekonomi. Tapi matanya tidak sepenuhnya fokus pada buku, tatapannya sesekali tertuju ke kelas XI IPA 2, tepatnya ke Aira yang sedang menulis catatan di meja dekat jendela.“Hmm… berbeda dari yang lain", pikirnya dalam hati.Bukan karena
Pagi menjelang siang, lapangan sekolah lebih sepi dari biasanya. Angin tipis membuat dedaunan bergetar, dan cahaya matahari yang mulai miring menembus sela-sela pepohonan. Aira duduk di bawah pohon besar, buku biologi di pangkuan, mencoba memahami diagram sel yang rumit. Tiba-tiba, suara ringan
Suasana kelas XI IPA 2 pagi itu lebih tegang dari biasanya. Kertas ulangan biologi sudah dibagikan, masih tertutup di atas meja masing-masing siswa. Suara kipas angin berputar terasa lebih keras karena hampir semua orang diam. Aira duduk tegak. Tangannya berada di atas meja, jari-jarinya saling b
Bel pulang berbunyi nyaring, menggema sampai ke lorong-lorong gedung IPS. Siswa kelas XII IPS 1 mulai beranjak dari kursi mereka. Suara kaki kursi bergeser dan ritsleting tas yang ditarik bersahutan. Di antara keramaian itu, Dipta tetap bergerak dengan ritmenya sendiri. Ia merapikan buku ekonominya







