FAZER LOGINCahaya pagi merayap pelan melalui tirai, menerpa ranjang di mana Dipta masih tertidur dengan tenang. Aira membuka mata perlahan, tubuhnya sudah lebih segar dibanding kemarin. Nafasnya masih lembut, tapi matanya tertuju pada sosok di sampingnya Dipta, yang benar-benar tampak damai. Ia tersenyum kecil, menahan rasa geli di hati. Tanpa sadar, tangannya bergerak pelan, mencoba menyentuh hidung Dipta dengan ujung jarinya. Bergumam pelan ia berkata, “Hmm.. apa kamu memang selalu seperti ini saat tidur nyenyak…?” Dipta membuka satu matanya sedikit tanpa disadari oleh Aira, ia menatap Aira sebentar, tapi tetap pura-pura tidur. Aira tersenyum lebih lebar, merasa sedikit gemas dan juga terpesona memandangi wajah Dipta yang tenang dan damai. Ia terus menyentuh hidung Dipta, kali ini lebih lembut. “Sudah… belum?”, suara Dipta tiba-tiba terdengar, halus tapi mengandung nada menggoda. Aira terkejut, wajahnya langsung memerah. Tangan yang tadi menyentuh hidung Dipta langsung menarik diri. “A
Sinar matahari siang menyusup lebih tajam ke jendela apartemen. Suasana hangat dan nyaman, tapi ada ketegangan halus di udara. Dipta duduk di sofa, Aira di dekatnya sambil menyeruput cokelat panas yang baru saja dibuat Dipta. Tapi, ada sesuatu berbeda di dalam minumannya sedikit racikan yang membuat tubuh Aira cepat bereaksi, denyut jantung meningkat, sensasinya lebih intens dari biasanya. Aira menelan, wajahnya memerah, tubuhnya tiba-tiba terasa panas. “Kak… rasanya… aneh”, gumamnya, sedikit gemetar. "Aneh kenapa?", tanya Dipta. Aira menarik nafas untuk mengontrol dirinya. "Tubuhku.. tubuhku rasanya aneh" Dipta menatapnya dengan tatapan tajam tapi tenang. “Ah… aku kira kamu akan tetap tenang”, ujarnya santai. Lalu menahan diri, seakan menolak dulu, tapi tatapannya membuat Aira tidak bisa berkata apa-apa. Aira menggigit bibir, mulai memohon tanpa sadar, suaranya bergetar. “Kak… tolong… aku… aku nggak kuat…” Dipta tersenyum tipis, menguasai situasi. “Hmm… baiklah… tapi ada
Malam itu, Aira di kamar sendirian. Suara hujan pelan di luar jendela menambah suasana hening. Ponsel bergetar, notifikasi masuk dari Dipta. Dipta: “Udah makan belum? Jangan sampe kelaparan, kamu lagi banyak pikiran kan?” Aira menatap layar, jari-jari gemetar sedikit. Ia tersenyum tipis, tapi hatinya terasa hangat. Aira membalas. Aira: “Aku… udah makan siang tadi. Tapi capek banget sama sekolah. Gosip tentang aku… mulai bikin aku nggak fokus.” Dipta: “Gosip lagi? Siapa yang nyebar?” Aira menunduk, mengetik pelan, Aira: “Aku nggak tau pasti… cuma dengar beberapa orang di koridor ngomongin aku sama kamu. Aku… aku nggak nyaman.” Dipta: “Jangan khawatir, mereka cuma bergosip. Aku bakal urus ini. Kamu nggak perlu dengar omongan mereka.” Hati Aira berdegup lebih cepat. Kata-kata Dipta terdengar menenangkan, tapi juga membuatnya merasa hanya Dipta yang bisa mengerti dan melindunginya. Aira: “Makasih… Kak Dipta. Aku seneng banget kamu seperhatian ini.” Dipta: “Itu wajar.
Satu minggu sebelum ujian akhir semester, sekolah terasa lebih tegang dari biasanya. Hampir semua siswa membawa buku ke mana-mana, termasuk Aira. Sore itu, setelah pulang sekolah, ia langsung masuk ke mobil Dipta dengan tas yang terlihat lebih penuh dari biasanya. Dipta melirik sekilas. “Kamu pindahan?” Aira mendengus kecil. “Ini buku semua.” Ia membuka tasnya sedikit untuk memperlihatkan isi di dalamnya. “Kimia, biologi, sama fisika.” Dipta mengangguk kecil. “Berarti hari ini panjang.” Aira bersandar di kursinya. “Memang harus.” Mobil melaju menuju apartemen Dipta seperti biasanya, tempat itu sudah menjadi lokasi belajar mereka hampir setiap hari dalam beberapa minggu terakhir. Begitu sampai, Aira langsung menuju meja makan, ia bahkan lebih dulu mengeluarkan buku sebelum Dipta sempat duduk. “Aku mau mulai dari biologi", katanya. Dipta menarik kursi di depannya. “Kamu belum kapok?” Aira menatapnya. “Kalau aku tidak ngerti sekarang, pas ujian nanti lebih kapok.” Dipta
Ujian akhir semester semakin dekat, suasana sekolah berubah. Koridor yang biasanya ramai sekarang lebih sering dipenuhi siswa yang membawa buku dan catatan, termasuk Aira. Namun berbeda dengan sebagian besar teman-temannya, Aira jarang belajar di rumah lagi, karena waktunya lebih banyak justru dihabiskan di apartemen Dipta. Hari itu sepulang sekolah mereka langsung menuju ke sana. Lift apartemen berhenti di lantai tempat unit Dipta berada, Aira sudah terlihat sangat familiar dengan tempat itu sekarang. Ia bahkan berjalan lebih dulu menuju pintu unit sebelum Dipta sempat membuka kunci. “Cepat buka”, katanya sambil memegang buku biologi di tangannya. Dipta meliriknya. “Kamu lebih panik dari yang ujian.” Aira langsung menatapnya kesal. “Sepuluh hari lagi ujian... dan aku tidak mau nilai biologiku jelek.” Begitu pintu terbuka, Aira langsung meletakkan tasnya di sofa. “Aku bawa buku biologi sama fisika”, katanya sambil mengeluarkan buku dari tas. Dipta menaruh tasnya di kursi,
Bel istirahat baru saja berbunyi. Koridor lantai dua mulai ramai oleh siswa yang keluar dari kelas masing-masing, sebagian menuju kantin dan sebagian lagi hanya berdiri di sepanjang lorong sambil mengobrol. Di dekat tangga, Dipta berdiri sambil menatap layar ponselnya, ekspresinya datar seperti biasa. Ia tampak sedang membaca sesuatu, tidak lama kemudian langkah seseorang berhenti di depannya. Dipta mengangkat pandangan, ternyata Rania. Gadis itu berdiri dengan tangan menyilang di dada, tatapannya langsung menatap Dipta tanpa basa-basi. “Bisa bicara sebentar?”, nada suaranya tenang, tapi jelas bukan sekadar mengajak ngobrol santai. Dipta memasukkan ponselnya ke saku. “Sekarang?” Rania mengangguk. “Sebentar saja.” Dipta tidak terlihat keberatan. Ia melangkah menjauh sedikit dari keramaian koridor, Rania mengikutinya. Mereka berhenti di dekat jendela yang menghadap ke lapangan sekolah. Beberapa detik hening, Rania tampak menimbang kata-katanya, setelah itu akhirnya ia langsung bert







