LOGINHari keberangkatan employee gathering di Rajendra Engineering akhirnya tiba. Halaman kantor sudah ramai, karyawan berkumpul di depan beberapa bus besar yang akan membawa mereka ke Puncak, Bogor. Suasana heboh, bercampur tawa dan suara koper digeret. Aira berdiri agak di pinggir. Koper sudah di tangan, namun ia terlihat sedikit bingung. Matanya melirik satu bus, lalu bus lain, tidak banyak yang ia kenal dekat. Sebagian besar masih sebatas rekan kerja formal. “Yang mana ya…” gumamnya pelan. Di saat itu Dipta baru keluar dari gedung. Langkahnya langsung berhenti saat melihat Aira masih berdiri di tempat yang sama. “Belum naik?” tanyanya datar. Aira langsung menoleh. “Saya… masih bingung mau naik bis yang mana, Pak.” jawabnya jujur, agak canggung. Dipta melirik ke arah bus yang sudah penuh karyawan yang ramai dan berisik. Terlalu banyak orang dan entah kenapa itu langsung membuatnya tidak nyaman membayangkan Aira ikut di sana. “Nggak usah.” ucapnya tiba-tiba. Aira langsung men
Pagi di Dipta Niskala Mahesa dimulai seperti biasa rapi, cepat, tanpa banyak jeda. Agenda hari itu jelas, meeting luar dengan klien besar. Dan sesuai ucapannya kemarin, dia tidak membawa Aira ikut serta. “Biar di kantor saja.” Kalimat itu masih teringat, tegas dan profesional. Mobil sudah siap di depan, driver sudah menunggu. Asisten sudah menyiapkan dokumen, tapi entah kenapa Dipta tidak langsung masuk mobil. Ia berdiri sebentar di depan pintu kantor, melirik ke arah dalam seperti kebiasaan kecil yang tidak ia sadari sendiri. Biasanya di sana ada Aira, menyerahkan dokumen terakhir dan mengucapkan “hati-hati, Pak” dengan nada datar tapi sopan, hari ini tidak ada. "Harusnya memang begini.” gumamnya pelan, lalu masuk mobil. Di perjalanan, meeting sudah mulai dipikirkan. Dokumen dicek, catatan dibaca dan ada satu hal kecil yang terus mengganggu ritme pikirannya. Hening yang tidak biasanya ada. Biasanya ada suara ketukan pelan dari meja sekretaris, biasanya ada update singkat dan bia
Meeting di ruang VIP hotel akhirnya selesai. Klien dari Surabaya itu sudah berpamitan dengan sopan, diikuti stafnya yang keluar lebih dulu. Suasana ruangan yang tadi penuh diskusi kini mendadak sunyi. Aira sedang merapikan dokumen di meja seperti biasa, tenang, rapi dan tidak ada yang aneh. Meski ia mulai merasakan sesuatu. Dipta belum berdiri dari kursinya. Biasanya setelah meeting selesai, dia akan langsung memberi instruksi kecil atau bangkit lebih dulu. Kali ini tidak, dia tetap duduk dan diam. Tatapannya ke depan, tapi tidak benar-benar fokus ke apa pun di ruangan itu. Aira melirik sekilas. “Pak?” Tidak ada jawaban langsung, hanya jeda singkat. Baru kemudian Dipta menjawab. “…rapikan file, kita langsung balik.” nada suaranya datar. Aira mengangguk cepat. “Baik, Pak.” Saat ia membungkuk mengambil dokumen, ia merasakan itu lagi. Aura yang berbeda, bukan aura orang yang sedang marah, bukan kesal biasa, radanya ini lebih seperti “tenang yang terlalu dalam”. Dan itu justru yang
Dipta baru sampai di rumahnya sendiri malam itu. Bukan rumah orang tuanya, hanya rumah pribadi yang biasanya sunyi dan memang sengaja ia biarkan sunyi.Ia masuk, menutup pintu, lalu melepas jasnya pelan. Tidak langsung mandi, ia hanya berdiri sebentar di tengah ruang tamu. Lalu satu per satu ingatan hari itu muncul lagi. Di mobil sore tadi, Aira yang duduk di sampingnya, pura-pura fokus ke tablet padahal jelas tidak sepenuhnya tenang. Nada suaranya saat menjawab telepon. “Iya, nanti Mama beli ya.” Lalu suara kecil itu. “Mau es krim. Papa juga mau.” Dipta menutup mata sebentar, bukan karena ia merasa terganggu. Justru karena kalimat itu terlalu “hidup” untuk diabaikan begitu saja. Ia berjalan pelan ke arah jendela rumahnya. Di luar, lampu kota redup. Refleksi dirinya sendiri terlihat di kaca, namun pikirannya tidak sedang melihat dirinya. Melainkan anak kecil yang tadi ia lihat sekilas di depan rumah itu. Askara Satya Rajendra yang lincah berjalan tanpa ragu, tertawa seperti t
Hari itu di Mahesa Group suasana cukup formal dari biasanya. Hadiyasa Mahesa sedang berada di ruang meeting utama, ditemani beberapa direksi. Laporan baru saja dibuka. “Kerja sama proyek lanjutan dengan Rajendra Engineering…” Belum selesai kalimatnya, pintu ruangan terbuka. “Maaf terlambat.” suara itu tenang, dingin dan tegas. Semua orang langsung berdiri. Dipta masuk dengan langkah stabil, diikuti beberapa stafnya. Hadiyasa menatapnya beberapa detik. “Dipta.” Dipta mengangguk sopan. “Pak.” sapanya tetap profesional dan tidak ada sapaan lain di luar konteks kerja. Meeting dimulai, pembahasan berjalan seperti biasa. Angka, proyek dan strategi, sdi sudut ruangan ada satu orang yang duduk tidak jauh dari Dipta, ada Humaira Navya Aruna. Aira hari itu ikut sebagai sekretaris pribadi CEO dalam kunjungan kerja dan dari awal masuk ruangan Hadiyasa sudah salah fokus. “Itu…” Hadiyasa menatap Aira sebentar, lalu menoleh pelan ke Dipta. “…sekretaris kamu?” Dipta tanpa menoleh, “Iya
Malam itu Arjito Rajendra baru saja masuk ke rumah setelah seharian di kantor. Belum sempat melepas jas sepenuhnya, ia sudah melihat sesuatu yang familiar, Aira duduk di ruang tamu, diam dan tegak. Wajahnya jelas tidak santai, bahkan dari cara dia menatap saja sudah ketebak, ini bukan obrolan ringan. Arjito berhenti sebentar di pintu. “Waduh.” Ia menarik napas pelan. “Ini pasti soal kerjaan.” Aira langsung berdiri begitu melihat ayahnya masuk. “Yah.” nada suaranya terdengar sopan, tapi ada tekanan halus di dalamnya. Arjito pura-pura tenang. “Iya, kenapa?” Aira tidak langsung menjawab. Ia menunggu ayahnya duduk dulu. Begitu Arjito duduk, barulah Aira ikut duduk lagi, tapi lebih maju sedikit. Posisi siap “interogasi”. “Aira diterima kerja.” Arjito mengangguk pelan. “Bagus dong.” Aira menatapnya. “…di Rajendra Engineering.” Arjito berkedip pelan. "Oh.” Aira langsung menyipitkan mata. “…oh?” Arjito mengangkat tangan sedikit. “Kenapa? Kan bagus.” Aira langsung mencondon
Bel istirahat baru saja berbunyi. Kantin sekolah sudah mulai ramai oleh suara siswa yang saling bercakap. Aira duduk di salah satu meja bersama Nadhira dan Lestari. Nadhira sedang bercerita tentang guru matematika mereka yang tiba-tiba memberi kuis dadakan pagi tadi.“…terus dia bilang ini cuma lat
Pagi itu terasa berbeda bagi Aira, bukan karena cuaca dan bukan karena jadwal pelajaran, tapi karena sejak membuka mata, ada satu wajah yang langsung muncul di kepalanya, Dipta. Aira berdiri di depan cermin kamar, merapikan rambutnya. Tangannya sempat berhenti beberapa detik ketika bayangan semalam
Hening menyelimuti apartemen. Lampu kuning lembut dari plafon menyorot ke meja belajar mereka. Aira duduk di kursi, buku catatan dan pulpen di tangan, tapi matanya tak lepas dari Dipta. Dipta berdiri di dekat papan tulis, menunjukkan diagram anatomi tubuh manusia. Tapi jaraknya kini lebih dekat dar
Sore hari, diruang utama rumah Aira. Lampu hangat, rak buku rapi, layar komputer menyala. Aroma kopi hangat dari cangkir di sampingnya. Arjito Rajendra, duduk di kursi kulit hitam, mata fokus menatap layar. Jari-jarinya mengetik cepat, membuka profil Mahesa Group, berita lama, dan forum diskusi bis







