Home / Romansa / DIPTA / BAB 41 Belajar dan Gosip Yang Makin Panas

Share

BAB 41 Belajar dan Gosip Yang Makin Panas

Author: Adw_Canss781
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-02 15:27:50

Satu minggu sebelum ujian akhir semester, sekolah terasa lebih tegang dari biasanya. Hampir semua siswa membawa buku ke mana-mana, termasuk Aira. Sore itu, setelah pulang sekolah, ia langsung masuk ke mobil Dipta dengan tas yang terlihat lebih penuh dari biasanya.

Dipta melirik sekilas. “Kamu pindahan?”

Aira mendengus kecil. “Ini buku semua.” Ia membuka tasnya sedikit untuk memperlihatkan isi di dalamnya. “Kimia, biologi, sama fisika.”

Dipta mengangguk kecil. “Berarti hari ini panjang.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • DIPTA   BAB 143 Malam Panjang

    Pintu kamar terbuka pelan. Dipta masuk sambil membawa beberapa kantong makanan di tangannya. Suasana kamar langsung terasa sunyi dan sepi. “Aira?” panggilnya. Tidak ada jawaban. Dia melangkah lebih masuk, menaruh makanan di meja kecil. Matanya menyapu ruangan, tapi memang tidak ada siapa-siapa. Alisnya sedikit berkerut. “Kemana dia…” Lalu terdengar suara air dari kamar mandi. “Oh…” gumamnya pelan, mengangguk kecil. Mungkin lagi di kamar mandi. Tanpa pikir panjang, Dipta mulai membuka satu per satu bungkus makanan, menatanya di atas meja. Gerakannya rapi, teratur, seperti biasa. Sementara itu, di balik pintu kamar mandi Aira berdiri di depan cermin. Dia baru saja selesai mencuci tangan. Perlahan, dia menyemprotkan parfum tipis di pergelangan tangan dan lehernya. Aroma lembut langsung menyebar, tidak menyengat, tapi cukup untuk meninggalkan kesan. Tangannya lalu mengambil lip balm dioleskan tipis di bibirnya. Matanya menatap bayangannya sendiri. Ingatan itu kembali pada ucapan S

  • DIPTA   BAB 142 Rencana Aira

    Setelah sampai di hotel, keduanya tidak langsung banyak bergerak. Seharian di luar, berpindah dari meeting ke lokasi proyek, lalu ke mall, cukup menguras tenaga. Begitu pintu kamar tertutup, suasana langsung terasa lebih tenang. Aira meletakkan kantong-kantong belanjaannya di dekat sofa, lalu menjatuhkan tubuhnya perlahan ke atas tempat tidur. Dia menarik napas panjang, meregangkan tubuhnya sedikit. “Capek juga” gumamnya pelan. Dipta tidak langsung menjawab. Dia hanya meletakkan barang-barang yang dibawanya dengan rapi, lalu duduk di kursi dekat meja, menyandarkan tubuh sejenak. Capek jelas tapi yang lebih terasa justru pikirannya. Masih tertinggal di butik, di percakapan dengan Rendra. Baru saja suasana mulai hening, ponsel Aira berdering. Nama yang muncul di layar langsung membuatnya sedikit tersenyum. “Bunda” ucapnya pelan. Dia langsung mengangkat panggilan itu. Belum sempat bicara banyak, suara kecil yang sangat dikenalnya langsung terdengar dari seberang. “Mamaaa!”

  • DIPTA   BAB 141 Rencana untuk Dipta

    Di sisi lain lokasi proyek, Dipta sedang berbicara dengan Rendra Wijaya cukup serius, membahas teknis lanjutan. Sementara itu, agak menjauh dari mereka, Aira berdiri dengan notenya sedang fokus mencatat seolah tidak peduli dengan sekitar. Langkah kaki seseorang mendekat, Sania. “Sibuk ya.” Aira tidak langsung menoleh dan masih menulis. “Namanya juga kerja.” jawabnya singkat. Sania tersenyum tipis, nada bicaranya masih ringan. “Kamu memang kelihatan profesional.” Aira berhenti menulis, baru menoleh. “Terima kasih.” Beberapa detik awal masih normal. Sampai arah pembicaraan mulai berubah. Sania melirik ke arah Dipta yang sedang berbicara di kejauhan. “Dipta memang seperti itu kalau kerja.” Aira diam menunggu. “Tapi kamu jangan salah paham ya…” lanjut Sania pelan. Aira menatapnya lurus sekarang. “Maksudnya?” Sania tersenyum lebih tipis dan lebih tajam. “Perhatian yang kamu lihat sekarang…" dia berhenti sejenak. “…itu belum seberapa.” Hening. Aira tidak langsung jawab. Sania l

  • DIPTA   BAB 140 Suami?

    Ruang meeting pagi itu terasa formal, tenang dan dingin. Dipta duduk di kursi utama, berhadapan dengan tim dari PT. Arkananta Konstruksi Nusantara. Di sampingnya, Aira sudah siap dengan laptop dan beberapa dokumen. Begitu meeting dimulai, Dipta langsung berubah. Nada suaranya tegas, tatapannya fokus dan setiap kata yang keluar terstruktur. “Untuk proyek cabang Bandung, kita tidak hanya fokus ke efisiensi biaya, tapi juga ketahanan struktur dalam jangka panjang.” Semua orang di ruangan itu diam memperhatikan. Aura Dipta memang beda dan itu juga yang membuat satu orang tidak bisa berhenti melihatnya. Sania duduk di sisi kanan meja. Posisinya jelas sebagai salah satu perwakilan divisi tapi fokusnya bukan ke presentasi. Matanya terus ke arah Dipta, bukan sekadar melihat tapi menatap seperti ada sesuatu di sana, entah itu kagum, tertarik atau sisa rasa yang belum benar-benar hilang. Aira yang duduk di samping Dipta, bukan orang yang tidak peka. Sesekali dia mengangkat kepala dari

  • DIPTA   BAB 139 Kejahilan Aira

    Aira kembali ke meja, langkahnya santai seperti biasa. “Lama ya?” Dipta langsung berdiri. “Ayo.” Tanpa banyak penjelasan. Aira sempat mengernyit kecil. Biasanya memang Dipta tidak banyak bicara tapi yang ini beda, sikap dan suaranya lebih dingin dan lebih tertutup. Mereka keluar dari restoran setelah Dipta menyelesaikan pembayaran. Udara malam Bandung menyambut, sedikit dingin. Beberapa langkah di trotoar, Aira akhirnya bicara. “Kita mampir minimarket dulu ya.” Dipta mengangguk singkat. “Iya.” Tidak ada komentar lain. Di dalam minimarket, Aira mulai ambil beberapa minuman, snack, dan hal-hal kecil yang biasanya dia suka. Tapi matanya beberapa kali melirik ke arah Dipta yang berdiri diam di dekat rak minuman. Tangannya masuk ke saku, tatapannya kosong ke depan. Aira mendekat. “Kamu kenapa?” Dipta langsung menoleh. “Nggak apa-apa.” Aira mengangkat alis. “Itu ‘nggak apa-apa’ versi kamu yang mana dulu?” Dipta diam sebentar, lalu mengambil satu botol air mineral. “Capek a

  • DIPTA   BAB 138 Di Hampiri Masa Lalu

    Di kamar hotel itu, suasana sudah mulai terasa seperti “rumah sementara”. Aira sedang sibuk menata isi koper di lemari, menyusun pakaian miliknya dan milik Dipta berdampingan dengan rapi. Tanktop dan celana pendeknya membuat gerakannya santai, tidak terlalu formal lebih ke mode nyaman setelah perjalanan panjang. Pintu kamar mandi terbuka. Dipta keluar sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Hanya memakai boxer pendek selutut, tubuhnya masih basah sedikit, rambut acak tapi wajahnya tenang seperti biasa. Aira yang sedang menunduk di depan lemari otomatis melirik, cukup lama. Dipta langsung sadar. “Kenapa?” Aira tetap santai, seperti tidak merasa bersalah. “Nggak apa-apa.” "Nggak apa-apa tapi lihatnya lama.” ucap Dipta. Aira mengangkat alis sedikit. “Aku cuma lihat suamiku.” Dipta menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas pelan. “Lihat apa?” Aira menoleh lagi, kali ini lebih jujur. “Itu... beda aja.” Dipta mengangkat alisnya. “Beda apa?” Aira menjawab s

  • DIPTA   BAB 12 Pertemuan dan Lebih dari Sekedar Pedas

    Jam di dinding kamar Aira menunjukkan pukul 15.12. Ia sudah membuka lemari sejak lima menit lalu, tapi belum juga mengambil keputusan.“Kenapa sih susah banget cuma mau makan?” gumamnya pelan.Tangannya menyentuh beberapa gantungan baju. Blus putih? Terlalu formal. Kaos oversized? Terlalu santai. A

  • DIPTA   BAB 8 Persaingan & Flirty Close Call

    Hari-hari berlanjut, Aira tiba di sekolah lebih awal dari biasanya. Hari ini ada latihan OSIS untuk kegiatan lingkungan sekolah, yang ia ikuti bersama teman dekatnya Nadhira dan Lestari. Meski pagi masih terasa sejuk, hati Aira sedikit berdebar karena ia tahu kemungkinan akan bertemu Dipta di area s

  • DIPTA   BAB 7 Perhatian

    Pagi itu, udara di SMA terasa hangat, tapi tidak menusuk. Cahaya matahari menembus jendela kelas XI IPA 2, menyorot buku catatan Aira yang rapi. Ia duduk di bangku dekat jendela, mencoba fokus pada pelajaran Biologi. Tapi pikirannya sering melayang ke seseorang yang ia lihat beberapa kali dalam beb

  • DIPTA   BAB 6 Chemistry dan Konflik kecil

    Hari itu, Dipta duduk di kelas XII IPS 1 sambil membaca catatan ekonomi. Tapi matanya tidak sepenuhnya fokus pada buku, tatapannya sesekali tertuju ke kelas XI IPA 2, tepatnya ke Aira yang sedang menulis catatan di meja dekat jendela.“Hmm… berbeda dari yang lain", pikirnya dalam hati.Bukan karena

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status