Home / Romansa / DIPTA / BAB 73 Duri dan Pantikan Bara Kecil

Share

BAB 73 Duri dan Pantikan Bara Kecil

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-05-08 13:53:10

Dipta baru sampai di rumahnya sendiri malam itu. Bukan rumah orang tuanya, hanya rumah pribadi yang biasanya sunyi dan memang sengaja ia biarkan sunyi.Ia masuk, menutup pintu, lalu melepas jasnya pelan. Tidak langsung mandi, ia hanya berdiri sebentar di tengah ruang tamu. Lalu satu per satu ingatan hari itu muncul lagi.

Di mobil sore tadi, Aira yang duduk di sampingnya, pura-pura fokus ke tablet padahal jelas tidak sepenuhnya tenang. Nada suaranya saat menjawab telepon. “Iya, nanti Mama beli
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DIPTA   BAB 116 Yang Tersembunyi di Balik Arus

    Sore menjelang, ruang kerja di Rajendra Engineering mulai lebih tenang. Di dalam ruangannya, Aira tidak benar-benar santai. Laptopnya terbuka, dokumen Andalas Energi masih di layar. Tatapannya fokus. “Rapi, tapi dipaksakan…” Ia bergumam pelan. Jarinya berhenti, lalu ia meraih ponselnya. Menatap nama itu beberapa detik, Arjito Rajendra. Aira menghela napas. “Ya sudah.” Ia menekan tombol panggil. Beberapa detik menunggu sampai akhirnya diangkat. “Ya.” Suara di seberang tenang seperti biasa. Aira tersenyum kecil. “Lagi sibuk?” “Untuk kamu, nggak.” jawab Arjito singkat. Aira terdiam sejenak. “Aku mau tanya sesuatu.” Henig sejenak, “Kerjaan atau pribadi?” Aira menatap layar laptopnya. “Kerjaan.” “Bagus.” Nada suara Arjito berubah sedikit. “Lanjut.” Aira langsung to the point. “Kalau ada perusahaan… yang revisinya terlalu cepat dan terlalu ‘bersih’… biasanya mereka nutup apa?” Sunyi, tidak langsung dijawab. Ada jeda beberapa detik. “Kamu lagi lihat siapa?” tanyanya la

  • DIPTA   BAB 115 Tekanan dan Rencana

    Pagi hari di gedung Rajendra Engineering kembali sibuk seperti biasa. Ada sesuatu yang berbeda, Aira datang lebih pagi dari biasanya. Wajahnya sudah segar, rapi dan terlihat profesional, seolah tidak terjadi apa-apa semalam, meski begit cara dia bergerak lebih hati-hati dan lebih menjaga jarak. Ia langsung masuk ke ruangannya, menyalakan laptop menatap layar dengan fokus atau mungkin memaksa diri untuk fokus. Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Dipta masuk, langkahnya seperti biasa tenang tapi ratapannya langsung mencari satu orang. “Aira.” Aira langsung berdiri. “Iya, Pak.” jawabnya formal dan terdengar berbeda. Dipta menangkap itu. “Kamu udah sarapan?” Aira sedikit terdiam. “Sudah.” jawabnya singkat. Dipta mengangguk kecil. “Obatnya diminum?” Aira mengangguk. “Iya, Pak.” lagi-lagi jawabannya formal dan kali ini lebih jelas. Dipta menatapnya beberapa detik. “Kalau ada yang nggak enak—” “Saya akan bilang.” Aira memotong dengan halus, jarak itu terasa. Dipta tidak

  • DIPTA   BAB 114 Arah yang Sama

    Malam sudah semakin larut. Udara di luar klinik terasa lebih dingin dari biasanya. Aira berjalan pelan keluar, langkahnya masih sedikit lemah. Di sampingnya, Dipta berjalan lebih lambat dari biasanya, seolah menyesuaikan. “Pelan-pelan aja, kita lagi gak ngejar deadline.” Refleks Aira melirik “Saya nggak selemah itu, Pak.” Dipta menatapnya sekilas. “Barusan kamu pingsan.” Aira terdiam. “Itu beda.” Dipta tidak membalas. Ia tetap menjaga jarak yang cukup dekat, kalau Aira goyah ia bisa langsung menahan. Di dalam mobil, suasana kembali sunyi. Mesin menyala, mobil mulai berjalan. Lampu-lampu jalan bergantian melewati kaca. Aira bersandar menatap keluar. Pikirannya kosong atau mungkin terlalu penuh. Beberapa menit berlalu tanpa suara. Sampai akhirnya Dipta membuka pembicaraan lebih dulu. “Kepalamu masih pusing?” Aira menoleh sedikit. “Udah mendingan.” Dipta mengangguk kecil. “Kalau belum enak bilang.” Nada suaranya tetap tenang, hanya saja ada sesuatu yang lebih lembut di

  • DIPTA   BAB 113 Aira Pingsan

    Malam di gedung Rajendra Engineering mulai benar-benar sepi. Lampu di beberapa lantai sudah dimatikan. Aira keluar dari lift, langkahnya pelan. Tas masih di tangannya, bahunya sedikit turun. Hari itu terlalu panjang, fisiknya lelah dan pikirannya lebih lelah. Ucapan demi ucapan berputar di kepalanya. Rania, meeting, Dipta. “Cukup…” Ia bergumam pelan. Langkahnya terus maju ke arah pintu keluar, tapi saat sampai di area lobi pandangan Aira mulai kabur. Lampu terlihat berbayang, suara di sekitarnya mulai jauh. Langkahnya goyah, tangannya mencoba berpegangan ke meja resepsionis. “Ra?” Suara itu terdengar samar. Tubuhnya kehilangan keseimbanga dan ambruk. 'BRUK.' Tubuh Aira jatuh. “AIRA!” Suara itu langsung pecah di lobi. Beberapa orang panik dan dari arah belakang Dipta berlari. Dia benar-benar terlihat panik. “Aira! Aira!” Ia langsung berlutut di samping tubuh Aira,engangkat kepalanya. “Aira, denger aku.” Tidak ada respon, wajahnya pucat dan.apasnya pelan. “Air! Cepa

  • DIPTA   BAB 112 Rania Meledak

    Pagi hari di lantai eksekutif Rajendra Engineering berjalan seperti biasa. Aira sudah duduk di ruangannya sejak pagi lebih cepat dari biasanya. Laptop sudah menyala, jadwal sudah tersusun dan dokumen sudah rapi. Namun hari ini ada yang berbeda. Ekspresinya lebih tenang dan lebih dingin, seolah sudah mengambil keputusan. ‘Tok.’ Tanpa menunggu jawaban, pintu langsung terbuka. Rania masuk seperti kemarin dan seperti biasanya. “Pagi.” Nada suaranya santai. Aira mengangkat kepala menatapnya. “Pagi." jawabnya singkat dan datar. Rania sedikit mengernyit. Ia masuk lebih dalam, menutup pintu di belakangnya. “Udah siap perang lagi hari ini?” Aira menutup laptopnya pelan. “Kerja, bukan perang.” Jawaban itu langsung tanpa senyum. Rania tersenyum tipis. “Iya… kerja.” Ia berjalan santai ke sofa lalu duduk. “Tapi dari kemarin kelihatannya kamu lumayan menikmati posisi itu ya.” Aira tidak langsung jawab. “Posisi apa?” Rania menyandarkan tubuhnya. “Yang beda sendiri.” Aira menatapnya

  • DIPTA   BAB 111 Tekanan Dua Arah

    Sore, langit Jakarta mulai gelap. Lampu-lampu kota menyala satu persatu. Di lantai eksekutif Rajendra Engineering sebagian besar karyawan sudah pulang, koridor mulai sepi. Di dalam ruangannya Dipta masih duduk di balik meja. Laptop terbuka, beberapa dokumen tersebar. Pikirannya masih fokus pada satu hal, Andalas Energi. ‘Tok… tok…’ Dipta tidak langsung menjawab, tatapannya masih di layar. ‘Tok… tok…’ Lebih pelan kali ini. “Masuk.” Pintu terbuka dan tanpa perlu melihat pun Dipta sudah tahu siapa yang masuk, Andine. “Masih sibuk?” Suaranya ringan, seolah tidak ada ketegangan sebelumnya. Dipta menutup laptopnya perlahan baru menatap. “Perlu apa?" tanyanya langsung tanpa basa-basi. Andine tidak tersinggung, justru tersenyum tipis. “Langsung ke inti ya…” Ia melangkah masuk. Menutup pintu di belakangnya. “Bagus. Aku juga nggak suka muter-muter.” Ia duduk tanpa diminta, percaya diri seperti biasa. “Aku cuma mau pastikan…” Ia menatap Dipta. “…kamu sudah lihat revisi terbaru

  • DIPTA   BAB 62 Keputusan

    Malam itu terasa panjang. Dipta bahkan tidak ingat sejak kapan ia benar-benar mencoba tidur. Ia hanya berbaring, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang terus berputar tanpa henti. Foto itu masih ada di sampingnya, surat itu belum ia lipat kembali dan setiap kali ia memejamkan mata yang mun

  • DIPTA   BAB 61 Putri yang Hilang

    Dipta berdiri di depan nakas, tangannya sudah hampir menyentuh kotak kecil itu kado dari Aira. Jaraknya tinggal beberapa senti, tapi seperti ada sesuatu yang menahan. Ia hanya menatapnya, diam dan ragu. "Tok.Tok." Pintu diketuk pelan, sebelum sempat menjawab, pintu itu sudah terbuka. Hadiyasa M

  • DIPTA   BAB 60 Kedatangan dan Pukulan Kenyataan

    Rumah itu berdiri jauh lebih megah dari yang terakhir kali ia ingat. Arjito Rajendra berdiri di depan gerbang besar, matanya menatap lurus ke arah bangunan luas dengan arsitektur modern yang menjulang elegan. Dulu, tempat ini tidak seperti ini. Masih besar, iya. Tapi belum semewah dan sedingin seka

  • DIPTA   BAB 59 Kosong dan Hampa

    Setelah dua hari pemeriksaan di klinik, malam itu dirumah tidak lagi sama, suasana rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Pintu utama terbuka pelan. Arjito Rajendra akhirnya pulang setelah beberapa hari berada di Singapura untuk urusan kantor pusat. Biasanya, setiap kali ia pulang, Aira akan menya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status