LOGINDipta baru sampai di rumahnya sendiri malam itu. Bukan rumah orang tuanya, hanya rumah pribadi yang biasanya sunyi dan memang sengaja ia biarkan sunyi.Ia masuk, menutup pintu, lalu melepas jasnya pelan. Tidak langsung mandi, ia hanya berdiri sebentar di tengah ruang tamu. Lalu satu per satu ingatan hari itu muncul lagi. Di mobil sore tadi, Aira yang duduk di sampingnya, pura-pura fokus ke tablet padahal jelas tidak sepenuhnya tenang. Nada suaranya saat menjawab telepon. “Iya, nanti Mama beli ya.” Lalu suara kecil itu. “Mau es krim. Papa juga mau.” Dipta menutup mata sebentar, bukan karena ia merasa terganggu. Justru karena kalimat itu terlalu “hidup” untuk diabaikan begitu saja. Ia berjalan pelan ke arah jendela rumahnya. Di luar, lampu kota redup. Refleksi dirinya sendiri terlihat di kaca, namun pikirannya tidak sedang melihat dirinya. Melainkan anak kecil yang tadi ia lihat sekilas di depan rumah itu. Askara Satya Rajendra yang lincah berjalan tanpa ragu, tertawa seperti t
Hari itu di Mahesa Group suasana cukup formal dari biasanya. Hadiyasa Mahesa sedang berada di ruang meeting utama, ditemani beberapa direksi. Laporan baru saja dibuka. “Kerja sama proyek lanjutan dengan Rajendra Engineering…” Belum selesai kalimatnya, pintu ruangan terbuka. “Maaf terlambat.” suara itu tenang, dingin dan tegas. Semua orang langsung berdiri. Dipta masuk dengan langkah stabil, diikuti beberapa stafnya. Hadiyasa menatapnya beberapa detik. “Dipta.” Dipta mengangguk sopan. “Pak.” sapanya tetap profesional dan tidak ada sapaan lain di luar konteks kerja. Meeting dimulai, pembahasan berjalan seperti biasa. Angka, proyek dan strategi, sdi sudut ruangan ada satu orang yang duduk tidak jauh dari Dipta, ada Humaira Navya Aruna. Aira hari itu ikut sebagai sekretaris pribadi CEO dalam kunjungan kerja dan dari awal masuk ruangan Hadiyasa sudah salah fokus. “Itu…” Hadiyasa menatap Aira sebentar, lalu menoleh pelan ke Dipta. “…sekretaris kamu?” Dipta tanpa menoleh, “Iya
Malam itu Arjito Rajendra baru saja masuk ke rumah setelah seharian di kantor. Belum sempat melepas jas sepenuhnya, ia sudah melihat sesuatu yang familiar, Aira duduk di ruang tamu, diam dan tegak. Wajahnya jelas tidak santai, bahkan dari cara dia menatap saja sudah ketebak, ini bukan obrolan ringan. Arjito berhenti sebentar di pintu. “Waduh.” Ia menarik napas pelan. “Ini pasti soal kerjaan.” Aira langsung berdiri begitu melihat ayahnya masuk. “Yah.” nada suaranya terdengar sopan, tapi ada tekanan halus di dalamnya. Arjito pura-pura tenang. “Iya, kenapa?” Aira tidak langsung menjawab. Ia menunggu ayahnya duduk dulu. Begitu Arjito duduk, barulah Aira ikut duduk lagi, tapi lebih maju sedikit. Posisi siap “interogasi”. “Aira diterima kerja.” Arjito mengangguk pelan. “Bagus dong.” Aira menatapnya. “…di Rajendra Engineering.” Arjito berkedip pelan. "Oh.” Aira langsung menyipitkan mata. “…oh?” Arjito mengangkat tangan sedikit. “Kenapa? Kan bagus.” Aira langsung mencondon
Pagi tiba, di Rajendra Engineering, suasana lobby sudah mulai ramai. Aira datang lebih awal dari jam kerja, bajunya rapi, rambut diikat sederhana. Tangannya memegang ID card sementara yang baru diberikan security. “Bu Aira, nanti akan diantar ke lantai CEO ya” kata resepsionis. Aira mengangguk. “CEO…” Ia masih berpikir biasa saja. Di kepalanya, yang ia bayangkan tetap sosok lama, Iskandar Hadikusuma bukan siapa pun selain itu. Lift naik, angka lantai terus berubah. Aira berdiri diam di samping seorang staf HR yang mengantarnya. “Bu Aira akan langsung bertemu Pak CEO ya” kata staf itu santai. Aira mengangguk. “Baik.” Tidak ada firasat apa pun, lift berhenti. Pintu terbuka, lorong kantor menuju ruangan CEO terlihat lebih tenang dari lantai lain, lebih sunyi dan lebih dingin. Mereka berhenti di depan satu pintu besar kaca buram. “Silakan masuk” kata staf HR. Aira mengangguk. “Terima kasih.” Lalu ia masuk sendiri. Ruangan itu luas, minimalis dan rapi. Di belakang meja besar, sese
Di sisi lain, kehidupan Dipta berjalan dengan ritme yang terlihat rapi di luar, tapi tidak pernah benar-benar tenang di dalam. Setiap satu bulan sekali, selalu ada kiriman yang datang. Bukan pesan panjang dan percakapan, hanya satu hal yang selalu sama, sebuah foto. Di ruang kerjanya di Jakarta, Dipta duduk sendirian malam itu. Lampu meja menyala redup, laptop terbuka, tapi tidak benar-benar ia lihat. Di tangannya sudah ada amplop kecil yang baru saja diterima. Tanpa nama pengirim dan penjelasan, hanya rutinitas yang sudah ia kenal sejak lama. Ia membuka perlahan, satu foto, lalu satu lagi, foto Askara. Dipta menatap lama, tidak hanya sekadar melihat, seperti sedang mencari sesuatu di dalam wajah kecil itu. Dari bulan ke bulan, perubahan itu makin jelas. Dulu foto pertama bayi kecil yang rapuh, sekarang anak itu sudah bisa duduk tegak, lalu berdiri, lalu mulai berlari kecil. Dan yang paling membuat Dipta diam lebih lama setiap kali melihatnya adalah satu hal, wajah itu. Semakin be
Malam di apartemen Singapura terasa lebih tenang dari biasanya. Humaira Navya Aruna duduk di ruang tamu, berhadapan dengan dua orang paling penting dalam hidupnya sekarang, Arjito Rajendra dan Linda. Di meja kecil itu hanya ada teh yang sudah mulai dingin. Namun percakapan yang akan terjadi tidak akan sesederhana minuman itu. Aira menunduk sebentar. Jarinya saling bertaut, lalu ia menarik napas panjang. “Ayah… Ibu…” Arjito langsung menatapnya. “Kenapa?” Aira diam sebentar, lalu mengangkat wajahnya. “Aku mau balik ke Indonesia.” Linda langsung menoleh cepat. “Balik? Maksudnya kamu mau tinggal di sana?” Aira mengangguk pelan. “Iya.” Arjito tidak langsung bereaksi, meski matanya sudah berubah lebih waspada. “Kamu sudah pikirkan ini matang?” Aira mengangguk lagi. “Aku sudah lama mikir.” Linda menghela napas pelan. “Aira… kamu baru mulai stabil lagi. Kuliahmu juga belum lama selesai. Hidup kamu di sini sudah aman.” Aira menatap ibunya. “Aku nggak mau selamanya aman, Bu.
Pintu apartemen terbuka bahkan sebelum Aira sempat mengetuk dua kali. Dipta sudah berdiri di sana, kaus hitam polos dan celana training abu-abu, rambutnya sedikit basah seperti baru selesai mandi. “Cepat banget bukanya”, Aira mengangkat alis. “Kebetulan lagi di dekat pintu”, jawabnya ringan. Pada
Tempat itu tidak pernah berubah. Kafe semi-terbuka di sudut jalan utama, dengan dinding kaca besar menghadap persimpangan. Lampunya terang, tidak temaram. Meja-meja tersusun rapi, kursi kayu dengan sandaran lurus, dan aroma kopi yang lebih kuat daripada wangi manis sirup seperti di tempat lain, tid
Mobil melaju kembali, lampu jalan mulai menari di kaca depan. Hening, tapi tidak canggung hanya ruang yang penuh konsentrasi. Aira masih merasakan sisa hangat di pergelangan tangannya, sedangkan Dipta memutar-mutar setir dengan tenang, matanya fokus ke depan, tapi pikirannya masih tertuju pada resp
Mesin mobil masih menyala pdalam Dipta duduk tegak di kursi pengemudi, satu tangan di setir dan satu tangan bertumpu ringan di paha. Ia tidak membunyikan klakson dan tidak mengirim pesan. Ia memang datang tepat waktu, tidak lebih cepat dan tidak terlambat. Rumah Aira cukup sederhana, cat pagarnya







