MasukSatu minggu sebelum ujian akhir semester, sekolah terasa lebih tegang dari biasanya. Hampir semua siswa membawa buku ke mana-mana, termasuk Aira. Sore itu, setelah pulang sekolah, ia langsung masuk ke mobil Dipta dengan tas yang terlihat lebih penuh dari biasanya. Dipta melirik sekilas. “Kamu pindahan?” Aira mendengus kecil. “Ini buku semua.” Ia membuka tasnya sedikit untuk memperlihatkan isi di dalamnya. “Kimia, biologi, sama fisika.” Dipta mengangguk kecil. “Berarti hari ini panjang.” Aira bersandar di kursinya. “Memang harus.” Mobil melaju menuju apartemen Dipta seperti biasanya, tempat itu sudah menjadi lokasi belajar mereka hampir setiap hari dalam beberapa minggu terakhir. Begitu sampai, Aira langsung menuju meja makan, ia bahkan lebih dulu mengeluarkan buku sebelum Dipta sempat duduk. “Aku mau mulai dari biologi", katanya. Dipta menarik kursi di depannya. “Kamu belum kapok?” Aira menatapnya. “Kalau aku tidak ngerti sekarang, pas ujian nanti lebih kapok.” Dipta
Ujian akhir semester semakin dekat, suasana sekolah berubah. Koridor yang biasanya ramai sekarang lebih sering dipenuhi siswa yang membawa buku dan catatan, termasuk Aira. Namun berbeda dengan sebagian besar teman-temannya, Aira jarang belajar di rumah lagi, karena waktunya lebih banyak justru dihabiskan di apartemen Dipta. Hari itu sepulang sekolah mereka langsung menuju ke sana. Lift apartemen berhenti di lantai tempat unit Dipta berada, Aira sudah terlihat sangat familiar dengan tempat itu sekarang. Ia bahkan berjalan lebih dulu menuju pintu unit sebelum Dipta sempat membuka kunci. “Cepat buka”, katanya sambil memegang buku biologi di tangannya. Dipta meliriknya. “Kamu lebih panik dari yang ujian.” Aira langsung menatapnya kesal. “Sepuluh hari lagi ujian... dan aku tidak mau nilai biologiku jelek.” Begitu pintu terbuka, Aira langsung meletakkan tasnya di sofa. “Aku bawa buku biologi sama fisika”, katanya sambil mengeluarkan buku dari tas. Dipta menaruh tasnya di kursi,
Bel istirahat baru saja berbunyi. Koridor lantai dua mulai ramai oleh siswa yang keluar dari kelas masing-masing, sebagian menuju kantin dan sebagian lagi hanya berdiri di sepanjang lorong sambil mengobrol. Di dekat tangga, Dipta berdiri sambil menatap layar ponselnya, ekspresinya datar seperti biasa. Ia tampak sedang membaca sesuatu, tidak lama kemudian langkah seseorang berhenti di depannya. Dipta mengangkat pandangan, ternyata Rania. Gadis itu berdiri dengan tangan menyilang di dada, tatapannya langsung menatap Dipta tanpa basa-basi. “Bisa bicara sebentar?”, nada suaranya tenang, tapi jelas bukan sekadar mengajak ngobrol santai. Dipta memasukkan ponselnya ke saku. “Sekarang?” Rania mengangguk. “Sebentar saja.” Dipta tidak terlihat keberatan. Ia melangkah menjauh sedikit dari keramaian koridor, Rania mengikutinya. Mereka berhenti di dekat jendela yang menghadap ke lapangan sekolah. Beberapa detik hening, Rania tampak menimbang kata-katanya, setelah itu akhirnya ia langsung bert
Koridor sekolah masih ramai oleh siswa yang baru keluar kelas.Rania berjalan bersama dua temannya, namun langkahnya melambat ketika beberapa siswa dari kelas lain lewat di dekat mereka. Suara mereka tidak terlalu pelan, justru cukup jelas untuk terdengar. “Eh… itu Rania, kan?”, ucap siswa yang melihat Rania lewat. “Yang katanya dulu dekat sama Dipta?”, tanya temannya. Langkah Rania langsung berhenti. Ia tidak menoleh, tapi telinganya menangkap setiap kata. “Terus kenapa malah Aira yang jadi pacarnya?”, tanya siswa lain. “Padahal kan dulu semua orang kira mereka pacaran.” Seseorang tertawa kecil. “Jangan-jangan selama ini cuma Rania yang geer.. kali aja dia yang ngejar Dipta.” Rania merasakan rahangnya menegang, tangannya perlahan mengepal di samping tubuhnya. Temannya yang berdiri di sampingnya langsung menoleh tidak nyaman. “Ran… mereka cuma ngomong sembarangan.” Rania tidak menjawab. Ia tetap berdiri diam beberapa detik, tatapannya kosong ke arah depan. Namun piki
Pagi itu rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Aira baru saja selesai membuat sarapan sederhana untuk dirinya sendiri, roti panggang dan segelas susu. Ia duduk di meja makan sambil memegang ponselnya. Percakapan dengan Dipta semalam masih terbuka di layar, Aira tersenyum kecil tanpa sadar. Ia baru saja akan menggigit rotinya ketika bel rumah berbunyi. 'Ting' Aira mengerutkan kening. “Siapa yang datang pagi-pagi begini…”, gumamnya pelan. Ia berjalan menuju pintu depan. Begitu pintu dibuka, Aira langsung membeku. Dipta berdiri di sana dengan jaket tipis dan tangan dimasukkan ke saku celana, tatapannya santai seperti biasa. “Aku pikir kamu masih tidur”, ucap Dipta santai. Aira masih terlihat sedikit kaget. “Kak Dipta?” “Kenapa?” Dipta menaikkan alisnya sedikit. “Tidak boleh?” Aira cepat menggeleng. “Bukan begitu… cuma… kamu kenapa pagi-pagi ke sini?” Dipta menatapnya beberapa detik, lalu menjawab ringan, “Kamu bilang semalam sendirian.” Aira tidak langsung menjawab.
Suara hujan terdengar pelan di luar jendela apartemen. Rintiknya jatuh perlahan di kaca, menciptakan irama lembut yang menenangkan. Aira membuka matanya perlahan. Beberapa detik pertama, ia hanya menatap langit-langit kamar dengan pikiran masih kosong, lalu kesadarannya kembali sedikit demi sedikit. Ruangan itu terasa hangat, selimut tebal menutupi tubuhnya, saat Aira bergerak sedikit ia langsung menyadari sesuatu. Tubuhnya terasa berbeda, ada rasa pegal yang halus dan sedikit nyeri yang membuatnya menahan napas sejenak. Aira menoleh ke samping, tempat di sebelahnya kosong. Ia langsung menarik selimut lebih tinggi, menyadari tubuhnya yang masih polos, pipinya memerah. Jam digital di meja samping tempat tidur menunjukkan 15.07. “Aku… tidur selama itu?”, gumam Aira pelan. Baru saja ia hendak duduk ketika pintu kamar terbuka perlahan, Dipta masuk. Di tangannya ada dua cangkir, begitu melihat Aira sudah bangun, langkahnya sedikit berhenti. “Kamu sudah bangun.” Aira menatapnya, en







