LOGINKael menarik Elara lebih dekat lagi, bibirnya nyaris nyentuh telinga Elara.
"Aku nggak mau kamu pergi sekarang. Mau kamu di sini, temani aku." Kael menatap Elara dengan wajah memelas, mata hitamnya yang biasanya tajam sekarang seperti anak kecil yang takut ditinggal. Bibirnya yang masih berdarah sedikit mengkerut, alisnya turun, suaranya pelan sekali, hampir bergetar. "El, please! Aku nggak minta lama. Cuma malam ini aja. Aku terluka karena kamu." Jempolnya mengusap pinggang Elara lagi, lebih lembut dari sebelumnya, seperti takut kalau gerakan terlalu keras, Elara bakal kabur. Elara merasa dadanya sesak. Wajah Kael yang biasanya angkuh itu sekarang kelihatan rapuh, dan entah kenapa itu bikin hatinya luluh. “Baiklah, aku kirim pesan ke Mama dulu,” bisik Elara akhirnya, suaranya kecil. Beberapa saat kemudian, Elara telah mengirimkan pesan. Ia masukkan ponsel ke tas. Kael tersenyum tipis, langsung menarik Elara kembali ke pangkuannya. Ciumannya kali ini lebih dalam, lebih liar. Tangannya menyusup ke bawah hoodie Elara, menyentuh kulit punggungnya yang hangat. Elara mendesah pelan di antara ciuman mereka. Tangannya memegang bahu Kael yang terluka dengan hati-hati. "Kael, kamu masih sakit." "Sedikit aja! Biar cepet sembuh," ucap Kael lirih dengan suara parau. Mereka baru saja larut dalam cumbuan ketika dering ponsel Elara memecah kesunyian. Elara tersentak, langsung melepaskan diri dari Kael. Dengan napas masih tersengal, ia merogoh tasnya dan melihat nama di layar. “Mama," gumamnya panik. Kael langsung menggeleng, tangannya masih memegang pinggang Elara erat, matanya memohon. "Jangan angkat,” bisiknya. Namun Elara sudah terlanjur menjawab, suaranya berusaha tenang. "Halo, Ma? Iya, aku masih di luar. Maaf, aku nggak bisa dinner malam ini. Aku lagi ada tugas.” Di ujung sana, suara mamanya terdengar tidak terima. “Elara Quinn, mama sudah di depan asrama kamu sekarang. Cepat keluar!” Elara langsung membeku, wajahnya pucat. Kael yang masih memeluk pinggangnya langsung menggeleng pelan. Ia menciumi pipi dan telinga Elara. "Aku lagi di luar, Ma. Ada urusan mendadak," jawab Elara tergagap. Mamanya langsung memotong, suaranya dingin dan tegas. "Urusan apa? Kamu bilang tadi mau dinner sama keluarga baru kita. Sekarang mama sudah nunggu di depan asrama, cepat keluar!" Elara menatap Kael dengan panik, tangannya mendorong dada Kael pelan. "Ma, aku benar-benar nggak bisa sekarang. Besok aja, ya?" Kael langsung menggeleng lagi, bibirnya membentuk kata "jangan" tanpa suara. Namun Elara sudah melepaskan diri dari pelukannya, berdiri dengan kaki gemetar. 'Maaf, Ma. Aku pulang sekarang," ucap Elara pelan sebelum menutup telepon. Kael bangkit meski perih, tangannya langsung meraih lengan Elara. "El, jangan pergi! Kamu kan udah bilang—" "Aku harus pulang, Kael," potong Elara, suaranya bergetar. Matanya berkaca-kaca menatap wajah Kael yang masih pucat dan luka-lukanya. "Mama aku udah nunggu di depan asrama. Aku nggak mau dia curiga." Kael diam sejenak, rahangnya mengeras. Akhirnya ia menghela napas berat, melepaskan pegangannya. "Besok pagi kamu datang lagi," katanya tegas, suaranya serak. "Jangan bohong lagi!" Elara mengangguk pelan, lalu bergegas keluar dari markas itu. Di luar, Lyra dan Theo sudah menunggu dengan mobil. Mereka langsung mengantar Elara kembali ke asrama tanpa banyak tanya. Sesampainya di depan asrama, tampak mobil mewah mamanya sudah terparkir di sana. Mama Elara berdiri di depan pintu mobil, tangannya bersedekap dengan wajah dingin. "Elara," tegurnya saat Elara turun dari mobil Lyra. "Kamu dari mana? Kenapa baju kamu acak-acakan begitu?" Elara menunduk, tangannya tanpa sadar merapikan hoodie-nya yang kusut. Wajahnya panas, masih merasakan bekas ciuman Kael di bibirnya. “Aku dari perpustakaan, Ma. Bantuin temen ngerjain tugas kelompok,” jawabnya pelan. Ia berusaha mengatur suara setenang mungkin. Mamanya menyipitkan mata, melangkah mendekat. “Perpustakaan sampai malam begini? Dan ini?! Bau rokok!" Elara langsung membeku. Bau rokok dari markas The Sovereigns pasti nempel di bajunya. Ia mundur selangkah, tetapi mamanya sudah menggenggam lengannya. "Kamu ketemu cowok, ya?” suaranya rendah, penuh tuduhan. “Siapa? Jangan bohong sama mama!" Elara menggigit bibir, jantungnya berdegup kencang. Ia bisa merasakan tatapan mamanya menusuk, dan untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar terpojok. "Tadi teman kelompok ada yang merokok. Ma, aku capek. Besok aja kita ngobrol, ya?” bisiknya, hampir memohon. Mamanya diam sejenak, lalu menghela napas panjang. “Masuk! Besok pagi mama jemput lagi. Kita bicara di rumah.” Elara mengangguk cepat, langsung berlari masuk ke asrama tanpa menoleh lagi. Begitu pintu kamarnya tertutup, ia langsung ambruk di kasur, tangannya menutup wajah. "Apa yang aku lakuin?” gumamnya pelan, tetapi di balik rasa takutnya, ada senyum kecil yang tak bisa ia tahan. Ia masih merasakan sentuhan Kael di pinggangnya, suara seraknya yang memanggil namanya. Di luar, mamanya masih berdiri di depan asrama, menatap pintu masuk dengan wajah dingin. Namun matanya menyimpan kecurigaan. Ia mengeluarkan ponsel, menekan nomor seseorang. "Dia mulai berontak. Awasi terus anak itu,” katanya pelan sebelum menutup telepon. Elara langsung mengunci pintu kamarnya, lalu ambruk di kasur. Dadanya masih berdegup kencang, campur antara takut dan sesuatu yang hangat yang nggak bisa ia jelaskan. Ia mengusap bibirnya pelan, masih merasakan ciuman Kael tadi. “Kael, kamu bikin aku gila,” bisiknya sendiri, tersenyum kecil meski matanya berkaca-kaca. Sementara itu, di markas The Sovereigns, Kael masih duduk di sofa dengan dada telanjang. Perban putihnya sudah agak merah karena luka yang terbuka lagi. Theo masuk membawa botol air, melemparnya ke arah Kael. “Lo gila, ya? Diem-diem anak gadis orang mau disekap. Nglindur lo?! Kayaknya lo kerasukan makhluk halus," cerocos Theo, lalu tertawa terbahak-bahak. Kael menangkap botol itu, tetapi matanya kosong menatap lantai. “Dia beda,” jawabnya pelan, suaranya serak. “Gue jadi pengen nikah.” Theo mengangkat alis, lalu tertawa terpingkal-pingkal. "Hah?! Lo habis kena santet? Lo demam?" tanyanya sambil memegang dahi Kael. "Sejak kapan lo jadi bucin gini? Gawat! Bener-bener gawat! Bumi bisa terbelah, gara-gara lo.” Kael diam saja. Ia memegang pinggangnya yang sakit, tetapi senyum kecil muncul di sudut bibirnya yang robek. “Karena dia, bikin gue jatuh cinta. Dada gue tiba-tiba sesak ditinggal pergi.” *** Keesokan paginya, Elara baru saja keluar dari asrama dengan seragam sekolah ketika sebuah motor hitam berhenti mendadak di depannya. Kael turun dari motor, ia segera membuka helm. Wajahnya masih pucat, tetapi tatapannya membuat jantung Elara berhenti sejenak. “Naik,” katanya singkat, suaranya tegas sekaligus lembut. Elara melirik sekeliling, takut ada yang melihat. “Kael, kamu masih luka. Nggak usah—”Elara baru saja melangkah keluar dari ruang pemulihan ketika sebuah tangan tiba-tiba menarik lengannya. Ia kaget dan berbalik.Marco berdiri di hadapannya, wajah tegang. Jelas sekali pria itu baru saja mengawasi dari celah pintu.“Marco? Kamu—”“Ikut aku,” potong Marco pelan tetapi tegas. Ia menarik Elara ke sudut koridor yang lebih sepi, jauh dari telinga perawat yang lalu-lalang. “Aku dengar semuanya.”Elara menghela napas, melepaskan lengannya. “Kalau begitu kamu sudah tahu. Aku akan pergi setelah Alessandro stabil.”Marco menatapnya dalam. “Kamu serius? Setelah semua yang baru saja terjadi di dalam sana?”“Justru karena itu,” jawab Elara dingin. “Aku sudah bilang ke dia. Aku gak mau lagi jadi penengah. Aku capek, Marco.”Marco mengusap wajahnya, terlihat frustasi. “Tuan Thomas sudah bilang dia gak akan lagi memaksa. Kael juga sudah dilarang menghubungimu. Alessandro baru saja mendonorkan sumsum tulangnya. Dan sekarang kamu mau hilang begitu saja?”Elara menatapnya tajam. “Aku buka
Di ruang pemulihan, perawat membantu Alessandro berbaring di tempat tidur. Infus terpasang di lengannya. Wajahnya masih pucat, tetapi napasnya stabil. Elara duduk di kursi di samping tempat tidur.Beberapa menit berlalu, akhirnya Alessandro membuka suara. “Kamu datang.”“Aku bilang akan menemani sampai selesai,” jawab Elara pelan dengan tatapan penuh perhatian.Alessandro menatap langit-langit. “Marco bilang kamu mengancam Tuan Thomas semalam.”Elara tidak menyangkal. “Aku sudah bilang ke kamu soal itu. Aku marah karena nggak ingin kamu dibatasi oleh urusan mereka.”Alessandro terdiam sejenak. “Aku tetap donor. Bukan karena ancamanmu. Karena aku sudah berjanji.”Elara mengangguk. “Aku tahu.”Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Hanya bunyi monitor yang terdengar. Alessandro akhirnya menoleh ke arah Elara.“Kamu mau pergi, kan?”Elara terkejut. Ia tidak menyangka Alessandro langsung bisa menebak. “Dari mana kamu tahu?”“Dari caramu duduk. Dari caramu menatapku. Seolah ini pertemuan
Elara mendorong pintu tangga darurat dan turun dua tingkat dengan langkah cepat. Napasnya masih belum stabil. Di lantai dasar, ia langsung menuju area parkir karyawan. Dari kejauhan, ia melihat mobil Alessandro masih terparkir di tempatnya.Alessandro berdiri di samping mobil, punggung bersandar pada pintu pengemudi, tangan disilangkan di dada. Wajahnya masih tegang di bawah cahaya lampu parkir yang kuning.Elara mendekat pelan. “Ale!”Alessandro tidak langsung menoleh. Ia hanya menghela napas panjang. “Kamu turun juga.”“Aku sudah menyuruh Kael masuk ke ruangan,” kata Elara cepat. “Aku juga sudah menelepon Marco. Aku bilang ke dia supaya Om Thomas kendalikan Kael. Kalau tidak, aku ancam mereka soal donor.”Alessandro akhirnya menoleh. Matanya masih dingin, tetapi ada sedikit kelelahan di baliknya. “Kamu ancam mereka dengan sumsum tulangku?”Elara mengangguk, menunduk. “Aku tidak tahu cara lain. Aku takut kamu benar-benar pergi.”Alessandro terdiam beberapa detik. Lalu ia membuka pint
Di koridor yang sepi, langkah Elara terdengar tergesa. Di dalam hatinya, ia tahu keputusan ini akan membawa konsekuensi. Namun malam ini, ia hanya ingin pergi.“Elara!”Tiba-tiba terdengar suara Kael.Elara membeku di tempat. Napasnya tertahan. Ia pelan-pelan berbalik. Di ambang pintu ruang isolasi, Kael berdiri tegak. Satu tangan menenteng botol infus yang masih tersambung ke lengannya.Sementara tangan lainnya memegang tiang infus agar tidak goyah. Wajahnya yang semula pucat kini tampak segar. Matanya jernih. Napasnya stabil. Tidak ada tanda-tanda orang yang baru saja koma dan kritis beberapa jam lalu.Elara membelalak dengan tubuh terpaku. Ia tidak bisa mempercayai penglihatannya. “Kael…?”Kael tersenyum tipis, meski masih sedikit pucat di bibir. “Kamu mau ke mana?”Elara mundur satu langkah, jantungnya berdegup kencang. “Kamu sadar? Bagaimana bisa? Dokter bilang kamu koma—”“Aku gak tahu,” potong Kael pelan. Ia melangkah keluar koridor dengan hati-hati, botol infus bergoyang di ge
“Ada perubahan pada respons neurologis pasien," ucap perawat tersebut.Elara terkejut sekaligus penasaran. “Perubahan apa?”Perawat menatap layar monitor, lalu berkata dengan suara pelan.“Sepertinya pasien mulai memberikan respons.”Thomas langsung mendekati kaca.“Kael?”Di dalam ruangan, jari Kael kembali bergerak. Kali ini lebih jelas.Kemudian secara perlahan, monitor menunjukkan pola aktivitas otak yang sebelumnya hampir tidak terlihat. Dokter mengerutkan kening, lalu berkata,“Ini aneh.”“Apa yang aneh, Dok?” tanya Alessandro.Dokter tidak langsung menjawab. Namun tatapannya terpaku pada hasil monitor.“Secara medis, seharusnya belum ada respons seperti ini.”Elara menatap Kael dengan napas tertahan. Kemudian layar monitor di samping tempat tidur tiba-tiba menampilkan angka yang berubah cepat.Dokter mendekat, lalu berkata,“Jangan sentuh pasien!"Semua orang terdiam. Itu pertama kalinya sejak Kael kehilangan kesadaran, bibir pria itu bergerak.Hanya satu kata yang keluar. “Elar
Tubuh Elara menggeliat pelan di bawah mulut Alessandro. Setiap isapan membuat perutnya berdenyut. Putingnya semakin sensitif, basah oleh lidah dan air liur Alessandro.Ketika Alessandro menggigitnya pelan lalu langsung mengisap lagi, Elara menggigit bibirnya sendiri, menahan suara yang hampir lolos lebih keras.Elara menahan napas, tubuhnya sedikit menggeliat. “Ale... Aaah."Jemari lentik Elara meraba milik Alessandro yang mengeras di balik celana.Sementara tangan Alessandro menyusuri pinggang Elara, lalu turun lebih rendah. “Kamu sudah basah,” bisiknya serak.Elara mendesah. "Punya kamu juga. Aah..besar ...tegang, Honey.""Kamu menginginkan juga, Sayang?"tanya Alessanndro.Elara mengangguk lemah, menariknya lebih dekat. “Iya… masukin. Aku mau rasain kamu.”Alessandro mengecup bibirnya kasar, lalu membuka baju dan celana. Elara pun melepaskan kain yang tersisa di tubuh.Tampak batang Alessandro yang tegang dan berurat. Ia membuka kedua paha Elara, lalu mendorong miliknya masuk perlah







