Share

GAGAL KENCAN

last update publish date: 2026-04-24 14:15:28

Kael menarik Elara lebih dekat lagi, bibirnya nyaris nyentuh telinga Elara.

"Aku nggak mau kamu pergi sekarang. Mau kamu di sini, temani aku."

Kael menatap Elara dengan wajah memelas, mata hitamnya yang biasanya tajam sekarang seperti anak kecil yang takut ditinggal. Bibirnya yang masih berdarah sedikit mengkerut, alisnya turun, suaranya pelan sekali, hampir bergetar.

"El, please! Aku nggak minta lama. Cuma malam ini aja. Aku terluka karena kamu."

Jempolnya mengusap pinggang Elara lagi, lebih lembut dari sebelumnya, seperti takut kalau gerakan terlalu keras, Elara bakal kabur.

Elara merasa dadanya sesak. Wajah Kael yang biasanya angkuh itu sekarang kelihatan rapuh, dan entah kenapa itu bikin hatinya luluh.

“Baiklah, aku kirim pesan ke Mama dulu,” bisik Elara akhirnya, suaranya kecil. Beberapa saat kemudian, Elara telah mengirimkan pesan. Ia masukkan ponsel ke tas.

Kael tersenyum tipis, langsung menarik Elara kembali ke pangkuannya. Ciumannya kali ini lebih dalam, lebih liar. Tangannya menyusup ke bawah hoodie Elara, menyentuh kulit punggungnya yang hangat.

Elara mendesah pelan di antara ciuman mereka. Tangannya memegang bahu Kael yang terluka dengan hati-hati. "Kael, kamu masih sakit."

"Sedikit aja! Biar cepet sembuh," ucap Kael lirih dengan suara parau.

Mereka baru saja larut dalam cumbuan ketika dering ponsel Elara memecah kesunyian.

Elara tersentak, langsung melepaskan diri dari Kael. Dengan napas masih tersengal, ia merogoh tasnya dan melihat nama di layar.

“Mama," gumamnya panik.

Kael langsung menggeleng, tangannya masih memegang pinggang Elara erat, matanya memohon.

"Jangan angkat,” bisiknya.

Namun Elara sudah terlanjur menjawab, suaranya berusaha tenang.

"Halo, Ma? Iya, aku masih di luar. Maaf, aku nggak bisa dinner malam ini. Aku lagi ada tugas.”

Di ujung sana, suara mamanya terdengar tidak terima.

“Elara Quinn, mama sudah di depan asrama kamu sekarang. Cepat keluar!”

Elara langsung membeku, wajahnya pucat. Kael yang masih memeluk pinggangnya langsung menggeleng pelan. Ia menciumi pipi dan telinga Elara.

"Aku lagi di luar, Ma. Ada urusan mendadak," jawab Elara tergagap.

Mamanya langsung memotong, suaranya dingin dan tegas. "Urusan apa? Kamu bilang tadi mau dinner sama keluarga baru kita. Sekarang mama sudah nunggu di depan asrama, cepat keluar!"

Elara menatap Kael dengan panik, tangannya mendorong dada Kael pelan. "Ma, aku benar-benar nggak bisa sekarang. Besok aja, ya?"

Kael langsung menggeleng lagi, bibirnya membentuk kata "jangan" tanpa suara. Namun Elara sudah melepaskan diri dari pelukannya, berdiri dengan kaki gemetar.

'Maaf, Ma. Aku pulang sekarang," ucap Elara pelan sebelum menutup telepon.

Kael bangkit meski perih, tangannya langsung meraih lengan Elara. "El, jangan pergi! Kamu kan udah bilang—"

"Aku harus pulang, Kael," potong Elara, suaranya bergetar. Matanya berkaca-kaca menatap wajah Kael yang masih pucat dan luka-lukanya. "Mama aku udah nunggu di depan asrama. Aku nggak mau dia curiga."

Kael diam sejenak, rahangnya mengeras. Akhirnya ia menghela napas berat, melepaskan pegangannya.

"Besok pagi kamu datang lagi," katanya tegas, suaranya serak. "Jangan bohong lagi!"

Elara mengangguk pelan, lalu bergegas keluar dari markas itu. Di luar, Lyra dan Theo sudah menunggu dengan mobil. Mereka langsung mengantar Elara kembali ke asrama tanpa banyak tanya.

Sesampainya di depan asrama, tampak mobil mewah mamanya sudah terparkir di sana. Mama Elara berdiri di depan pintu mobil, tangannya bersedekap dengan wajah dingin.

"Elara," tegurnya saat Elara turun dari mobil Lyra. "Kamu dari mana? Kenapa baju kamu acak-acakan begitu?"

Elara menunduk, tangannya tanpa sadar merapikan hoodie-nya yang kusut. Wajahnya panas, masih merasakan bekas ciuman Kael di bibirnya.

“Aku dari perpustakaan, Ma. Bantuin temen ngerjain tugas kelompok,” jawabnya pelan. Ia berusaha mengatur suara setenang mungkin.

Mamanya menyipitkan mata, melangkah mendekat. “Perpustakaan sampai malam begini? Dan ini?! Bau rokok!"

Elara langsung membeku. Bau rokok dari markas The Sovereigns pasti nempel di bajunya. Ia mundur selangkah, tetapi mamanya sudah menggenggam lengannya.

"Kamu ketemu cowok, ya?” suaranya rendah, penuh tuduhan. “Siapa? Jangan bohong sama mama!"

Elara menggigit bibir, jantungnya berdegup kencang. Ia bisa merasakan tatapan mamanya menusuk, dan untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar terpojok.

"Tadi teman kelompok ada yang merokok. Ma, aku capek. Besok aja kita ngobrol, ya?” bisiknya, hampir memohon.

Mamanya diam sejenak, lalu menghela napas panjang. “Masuk! Besok pagi mama jemput lagi. Kita bicara di rumah.”

Elara mengangguk cepat, langsung berlari masuk ke asrama tanpa menoleh lagi. Begitu pintu kamarnya tertutup, ia langsung ambruk di kasur, tangannya menutup wajah.

"Apa yang aku lakuin?” gumamnya pelan, tetapi di balik rasa takutnya, ada senyum kecil yang tak bisa ia tahan. Ia masih merasakan sentuhan Kael di pinggangnya, suara seraknya yang memanggil namanya.

Di luar, mamanya masih berdiri di depan asrama, menatap pintu masuk dengan wajah dingin. Namun matanya menyimpan kecurigaan. Ia mengeluarkan ponsel, menekan nomor seseorang.

"Dia mulai berontak. Awasi terus anak itu,” katanya pelan sebelum menutup telepon.

Elara langsung mengunci pintu kamarnya, lalu ambruk di kasur. Dadanya masih berdegup kencang, campur antara takut dan sesuatu yang hangat yang nggak bisa ia jelaskan.

Ia mengusap bibirnya pelan, masih merasakan ciuman Kael tadi. “Kael, kamu bikin aku gila,” bisiknya sendiri, tersenyum kecil meski matanya berkaca-kaca.

Sementara itu, di markas The Sovereigns, Kael masih duduk di sofa dengan dada telanjang. Perban putihnya sudah agak merah karena luka yang terbuka lagi. Theo masuk membawa botol air, melemparnya ke arah Kael.

“Lo gila, ya? Diem-diem anak gadis orang mau disekap. Nglindur lo?! Kayaknya lo kerasukan makhluk halus," cerocos Theo, lalu tertawa terbahak-bahak.

Kael menangkap botol itu, tetapi matanya kosong menatap lantai. “Dia beda,” jawabnya pelan, suaranya serak. “Gue jadi pengen nikah.”

Theo mengangkat alis, lalu tertawa terpingkal-pingkal. "Hah?! Lo habis kena santet? Lo demam?" tanyanya sambil memegang dahi Kael. "Sejak kapan lo jadi bucin gini? Gawat! Bener-bener gawat! Bumi bisa terbelah, gara-gara lo.”

Kael diam saja. Ia memegang pinggangnya yang sakit, tetapi senyum kecil muncul di sudut bibirnya yang robek. “Karena dia, bikin gue jatuh cinta. Dada gue tiba-tiba sesak ditinggal pergi.”

***

Keesokan paginya, Elara baru saja keluar dari asrama dengan seragam sekolah ketika sebuah motor hitam berhenti mendadak di depannya.

Kael turun dari motor, ia segera membuka helm. Wajahnya masih pucat, tetapi tatapannya membuat jantung Elara berhenti sejenak.

“Naik,” katanya singkat, suaranya tegas sekaligus lembut.

Elara melirik sekeliling, takut ada yang melihat. “Kael, kamu masih luka. Nggak usah—”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   MISI PENYELAMATAN

    Di dalam mobil yang melaju kencang, Elara menarik napas tersengal. Ia menatap Kael yang memegang setir dengan tangan gemetar dan mata merah.“Kael, hentikan mobil ini!” teriaknya, meski sedikit bergetar. “Kamu tidak bisa melakukan ini!”Kael tidak menjawab. Rahangnya mengeras. Ia hanya terus menginjak gas, membawa Elara menjauh dari rumah von Hohenzollern. Jalan berliku di antara hutan mulai mereka masuki. Pohon-pohon tinggi menutupi langit.Elara menarik sabuk pengamannya lebih kencang, lalu mencoba membuka kunci pintu. Namun pintu terkunci.“Kael!” suaranya naik. “Dengar aku! Ini penculikan. Kamu sedang menghancurkan dirimu sendiri!”Kael akhirnya berbicara, suaranya serak dan rendah. “Aku tidak menculikmu. Aku hanya tidak mau kehilangan kamu lagi.”“Kehilangan?” Elara tertawa pahit. Air matanya mulai mengalir. “Kamu sudah kehilangan aku sejak lama. Dan sekarang kamu semakin menjauhkanku.”Kael mengertakkan gigi. Kecepatan mobil semakin tinggi. “Aku akan bawa kamu ke tempat yang ama

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   KAEL CULIK ELARA

    Elara menyandarkan kepala di bahu Alessandro. Mereka diam cukup lama, hanya mendengarkan angin dan suara daun yang bergesekan. Tiba-tiba Maria menghampiri mereka dengan wajah panik.“Ale… Elara…” suaranya sedikit tersengal. “Ada masalah.”Alessandro langsung berdiri. “Ada apa, Ma?”Maria menggenggam erat ponselnya. “Tuan Thomas menelepon. Kael sudah tahu. Dia tahu kalian menikah. Dia tahu soal pernyataan keuskupan. Dia sedang dalam perjalanan ke sini.”Elara membeku. “Ke sini? Ke rumah ini?”Maria mengangguk dengan wajah pucat. “Tuan Thomas bilang Kael pergi tanpa bilang-bilang semalam. Tiketnya ke Frankfurt. Dia akan tiba dalam hitungan jam.”Alessandro mengerat rahangnya. “Bagaimana dia bisa tahu begitu cepat?”“Mungkin seseorang di keuskupan Milan membocorkan info,” jawab Maria. “Bisa juga dari notaris. Tuan Thomas sendiri yang menghubungi Mama. Dia minta kita berhati-hati. Kael dalam kondisi tidak stabil.”Elara bangkit dari bangku, tangan masih digenggam Alessandro. “Dia tidak bi

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   PERNIKAHAN SEDERHANA

    Elara membuka mata. Senyum kecil terukir di bibirnya. Alessandro masih memegang tangannya, ibu jarinya mengusap punggung tangan Elara pelan.Maria yang berdiri di barisan belakang mengusap air matanya diam-diam. Mr. Bauer membungkuk hormat, lalu menyerahkan dua salinan akta pernikahan yang sudah ditandatangani dan distempel.“Selamat, Tuan dan Nyonya Bianchi,” katanya formal dengan suara hangat.Elara menatap nama di akta itu lama. Elara Bianchi. Bukan nama yang dipaksakan dan datang dari rasa takut. Nama yang ia pilih dengan hatinya.Mereka keluar dari kapel. Udara pagi Jerman terasa segar. Kabut sudah mulai tipis, menyisakan sinar matahari yang lembut di antara pohon-pohon tua. Alessandro melepas jas dan menyampirkannya di bahu Elara karena angin masih dingin.“Gimana rasanya?” tanyanya pelan.Elara menghela napas panjang, lalu tersenyum. “Begitu ringan dan lega. Seperti aku akhirnya bisa bernapas dengan benar.”Alessandro mengangguk. Ia meraih pinggang Elara dan menariknya ke dalam

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   PROSESI NIKAH

    Pagi tiba dengan cahaya lembut yang menyelinap lewat celah gorden. Elara membuka mata pelan. Alessandro masih duduk di lantai di samping sofa, kepala tersandar di tepi bantal.Tangan mereka masih saling menggenggam. Alessandro terlihat kelelahan, tetapi wajahnya tenang.Elara mengusap punggung tangan pria itu pelan. Alessandro langsung terbuka matanya.“Pagi,” bisiknya serak.“Pagi,” jawab Elara. “Kamu tidak tidur di kasur?”Alessandro tersenyum tipis. “Takut kamu butuh sesuatu di tengah malam.”Elara menggeleng pelan, lalu menariknya naik ke sofa. “Istirahatlah sebentar. Aku sudah jauh lebih baik.”Alessandro menurut, berbaring di sisi Elara dengan hati-hati. Mereka diam beberapa saat, hanya mendengarkan napas satu sama lain.Beberapa jam kemudian, ponsel Alessandro bergetar. Ada pesan dari Maria.[Tiket ke Frankfurt sudah siap. Keberangkatan lusa malam. Mr. Bauer akan menjemput di bandara. Rumah utama sudah dibersihkan.]Alessandro menunjukkan pesan itu ke Elara. Wanita itu membaca,

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   KEMBALI KE MILAN

    "Aku semakin yakin setelah lihat kamu tersiksa seperti ini. Biarlah tidak jadi anak dari Tuan Thomas. Aku juga tidak peduli jika sikapku ini membuat aku tidak mendapat hak waris. Bagiku kau segalanya," ucap Alessandro dengan tegas.Elara terdiam lama. Air matanya kembali mengalir dan kali ini hatinya semakin mantap menapaki masa depan bersama Alessandro.“Baik,” bisiknya. “Aku mau.”---Dua hari kemudian, setelah kondisi Elara stabil, mereka terbang ke Milan. Maria sudah menunggu di bandara dengan wajah tegang tapi. Saat pasangan itu tiba, Maria segera memeluk Elara singkat, lalu menatap Alessandro.“Semua sudah diatur,” kata Maria pelan. “Pastor yang dulu membantu Mama sudah siap memberikan keterangan resmi. Kita harus ke keuskupan pagi ini.”Perjalanan menuju keuskupan berlangsung dalam keheningan. Elara duduk di kursi belakang, tangan masih digenggam Alessandro. Di dalam hatinya, rasa takut dan lega bercampur aduk.Begitu tiba, mereka disambut oleh seorang pastor senior dan notaris

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   TITIK TERANG

    Elara terdiam lama setelah mendengar penjelasan Alessandro. Matanya menatap langit-langit kamar yang putih, tetapi fokusnya kosong. Semua beban yang selama ini ia tahan seolah menumpuk sekaligus dalam dadanya.Bibirnya bergetar. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah. Ia menangis dalam diam, bahu-bahunya bergetar pelan. Bukan tangisan histeris, tetapi tangisan orang yang sudah terlalu lelah menahan segalanya sendirian.Alessandro langsung berdiri dari kursi, mendekat, lalu duduk di tepi tempat tidur. Tanpa banyak kata, ia meraih tubuh Elara dan memeluknya dengan hati-hati, menyandarkan kepala wanita itu di bahunya.“Ssh… menangislah,” bisiknya pelan. “Tidak apa-apa biar hatimu lega. Aku di sini untukmu."Elara membalas pelukan itu lemah, jari-jarinya mencengkeram baju Alessandro. Isaknya semakin terdengar, tetapi pelan-pelan melembut di dalam pelukan yang hangat itu. Alessandro mengusap punggungnya dengan gerakan lambat, memberi ruang bagi Elara untuk melepas semua yang sel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status