LOGINKael mengulurkan helm cadangan ke arahnya. “Kalau gitu, kita kabur. Hari ini cuma kita berdua. Kamu mau?”
Elara masih berdiri di depan gerbang asrama, tangannya mencengkeram tali tas sekolahnya erat-erat. Motor hitam Kael sudah menyala, knalpotnya mengeluarkan suara rendah yang menggema di pagi yang sepi itu. "El, cepetan!” desak Kael pelan, suaranya masih serak karena luka. Matanya yang hitam menatap Elara dengan tatapan yang bikin lutut si gadis lemas. Tatapan memelas dan penuh hasrat. “Aku udah nggak tahan nunggu kamu dari semalam.” Elara menggigit bibir bawahnya, lalu melirik ke belakang. Beberapa siswi lain sudah mulai keluar dari asrama, saling berbisik sambil menatap motor Kael. "Aku nggak mau bolos. Baru juga beberapa hari jadi murid pindahan,” bisiknya gugup. Kael tersenyum tipis, senyum yang selalu berhasil membuat hati Elara jungkir balik. Ia turun dari motor, mendekat sampai tubuh mereka hampir bersentuhan. Tangan besarnya menyentuh pipi Elara dengan lembut, mengusapnya pelan. "Kemarin kamu bilang mau temani aku, kan?” suaranya rendah, hampir berbisik di telinga Elara. “Takut ketahuan mama kamu lagi?” Elara tersentak. Kata “mama” langsung mengingatkannya pada ucapan dingin mamanya semalam. Namun sebelum ia sempat menjawab, Kael sudah memakaikan helm ke kepalanya dengan hati-hati, seolah Elara adalah barang paling berharga di dunia ini. “Naik!" perintahnya lagi, kali ini lebih lembut. “Hari ini kamu milik aku. Nggak ada yang boleh ambil kamu dari aku.” Tanpa menunggu jawaban lagi, Kael langsung menarik Elara naik ke motornya. Begitu Elara duduk di belakang, tangannya otomatis melingkar di pinggang Kael yang masih terbalut perban. Kael meringis pelan, tetapi ia langsung menutupinya dengan tawa kecil. “Peluk aku lebih erat, El. Biar lukaku cepet sembuh.” Motor melaju meninggalkan asrama, angin pagi menerpa wajah mereka. Elara menyembunyikan wajahnya di punggung Kael, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu ini salah. Ia tahu mamanya pasti marah besar jika tahu. Namun saat ini, satu-satunya yang ia rasakan adalah hangatnya tubuh Kael dan hatinya sedang berbunga-bunga. Mereka berdua menghilang di tikungan jalan menuju pinggir pantai, jauh dari sekolah, jauh dari mata siapa pun. Sementara di belakang, tanpa mereka sadari, sebuah mobil hitam mengikuti dari kejauhan dengan pelat nomor yang sama sekali tak asing bagi Kael. Kael masih ngebut di jalan pantai yang sepi, angin menerpa wajah mereka, saat Elara tiba-tiba menoleh ke belakang. Matanya membesar. “Kael, ada mobil hitam ngikutin kita dari tadi!” serunya panik, tangannya mencengkeram pinggang Kael lebih erat. Kael melirik spion, rahangnya langsung mengeras. “Black Vipers,” katanya dingin. “Mereka nggak terima kemarin aku gebukin anggota mereka.” Ia langsung ngegas. Motornya meluncur kencang, dan mobil di belakang ikut mempercepat. Jarak mereka semakin dekat. Elara bisa melihat dua cowok berbadan besar di dalam mobil itu, salah satunya bahkan mengacungkan pisau lipat dari jendela. "Kael, mereka makin dekat!” teriak Elara panik. Baru kali ini, ia merasa hidupnya terancam dan ketakutan. “Pegang aku erat-erat!” balas Kael. Tiba-tiba Kael belok tajam ke kiri, masuk ke sebuah gang kecil di antara gudang-gudang tua. Motornya meliuk-liuk di antara tumpukan kardus dan tong sampah. Mobil hitam di belakang mereka langsung mengikuti dan tertahan di mulut gang. Motor Kael terus melaju di gang sempit itu sampai mereka keluar di jalan kecil lain, lalu langsung belok ke arah hutan kecil di pinggir kota. Elara masih menempel di punggungnya, napasnya tersengal. “Mereka nggak bisa kejar, kan?” Kael menoleh sebentar, senyumnya muncul meski wajahnya pucat karena sedikit nyeri pada luka. “Nggak bisa. Mobil mereka kebesaran. Kita aman, buat sekarang.” Namun di belakang mereka, dari dalam mobil yang terjebak, salah satu cowok Black Vipers mengeluarkan ponsel. "Target kabur lewat gang. Kirim yang lain. Dan bilang ke bos, Kael lagi sama cewek baru itu. Kita selesaikan hari ini juga.” Motor Kael baru saja melambat di pinggir hutan kecil ketika ponsel Elara berdering kencang. Elara melihat nama di layar, langsung wajahnya pucat. “Mama?" Ia mengangkat dengan tangan gemetar. “Halo, Ma?” Suara mamanya terdengar dingin dan tajam di seberang sana. "Kamu di mana, Elara? Mama sekarang sedang berada di ruang guru.” Elara membeku. Kael yang masih duduk di motor langsung menoleh, alisnya bertaut melihat ekspresi Elara. "Ma, aku lagi antar temen berobat,” jawab Elara tergagap, suaranya hampir hilang. "Temen berobat?” Mama Elara tertawa kecil, tetapi suaranya penuh amarah. “Guru BK bilang kamu tidak pakai izin hari ini. Jangan bohong lagi! Kamu sama siapa? Jawab, Elara!” Elara melirik Kael dengan panik. Kael langsung menggeleng pelan, matanya memperingatkan jangan bilang apa-apa. “Aku sekarang sendiri, Ma,” bisik Elara, suaranya mulai bergetar. "Balik sekarang!” bentak mamanya. “Kalau sampai jam makan siang kamu belum di sekolah, mama yang akan cari kamu. Dan kalau ketemu cowok itu, kamu tahu akibatnya.” Telepon langsung ditutup. Elara menatap layar ponselnya dengan mata berkaca-kaca, tangannya gemetar hebat. "Kael, aku harus ke sekolah. Mama tahu aku bolos.” Kael diam sejenak, rahangnya mengeras. Ia turun dari motor, memegang bahu Elara dengan kedua tangannya yang terluka. “Biasanya kalau mama kamu marah, apa hukumannya?” Matanya menatap Elara dalam-dalam, penuh keputusasaan yang menghanyutkan. "Nggak tahu. Baru kali ini aku bikin Mama marah," ucap Elara dengan tatapan sendu. Dengan ekspresi kecewa, Kael terpaksa mengikuti kemauan Elara. Laki-laki ini berbicara lirih,"Pengennya hari ini doang ditemenin kamu. Tapi gimana lagi." Elara menatap Kael dengan tatapan sendu, matanya berkaca-kaca. Angin hutan kecil itu berembus pelan, membawa aroma daun basah dan garam pantai. "Aku harus temui Mama. Bisa berabe urusannya, kalau Mama marah,” ucapnya pelan, suaranya hampir hilang ditelan angin. Kael diam cukup lama. Rahangnya mengeras, tangannya yang memegang bahu Elara perlahan melonggar. Ekspresi kecewa yang dalam terpahat jelas di wajahnya yang masih pucat. Mata hitamnya yang biasanya penuh api sekarang redup, seperti ada sesuatu yang baru saja dipatahkan. Akhirnya ia menghela napas panjang, suaranya lirih, hampir seperti bisikan yang terluka. "Aku cinta kamu, El. Sejak berciuman semalam, wajahmu selalu di pelupuk mataku.” Kata-kata itu keluar begitu saja, berat dan tulus, membuat dada Elara sesak. Kael menunduk, dahinya bersandar pelan di dahi Elara, napasnya hangat dan tersengal. "Aku nggak pernah rasain ini sebelumnya. Suatu saat aku ajak kamu ketemu Papa." "Mau ngapain, Kael? Kita juga baru dekat beberapa hari," ucap Elara sambil menatap cowok di depannya tanpa kedip.Elara baru saja melangkah keluar dari ruang pemulihan ketika sebuah tangan tiba-tiba menarik lengannya. Ia kaget dan berbalik.Marco berdiri di hadapannya, wajah tegang. Jelas sekali pria itu baru saja mengawasi dari celah pintu.“Marco? Kamu—”“Ikut aku,” potong Marco pelan tetapi tegas. Ia menarik Elara ke sudut koridor yang lebih sepi, jauh dari telinga perawat yang lalu-lalang. “Aku dengar semuanya.”Elara menghela napas, melepaskan lengannya. “Kalau begitu kamu sudah tahu. Aku akan pergi setelah Alessandro stabil.”Marco menatapnya dalam. “Kamu serius? Setelah semua yang baru saja terjadi di dalam sana?”“Justru karena itu,” jawab Elara dingin. “Aku sudah bilang ke dia. Aku gak mau lagi jadi penengah. Aku capek, Marco.”Marco mengusap wajahnya, terlihat frustasi. “Tuan Thomas sudah bilang dia gak akan lagi memaksa. Kael juga sudah dilarang menghubungimu. Alessandro baru saja mendonorkan sumsum tulangnya. Dan sekarang kamu mau hilang begitu saja?”Elara menatapnya tajam. “Aku buka
Di ruang pemulihan, perawat membantu Alessandro berbaring di tempat tidur. Infus terpasang di lengannya. Wajahnya masih pucat, tetapi napasnya stabil. Elara duduk di kursi di samping tempat tidur.Beberapa menit berlalu, akhirnya Alessandro membuka suara. “Kamu datang.”“Aku bilang akan menemani sampai selesai,” jawab Elara pelan dengan tatapan penuh perhatian.Alessandro menatap langit-langit. “Marco bilang kamu mengancam Tuan Thomas semalam.”Elara tidak menyangkal. “Aku sudah bilang ke kamu soal itu. Aku marah karena nggak ingin kamu dibatasi oleh urusan mereka.”Alessandro terdiam sejenak. “Aku tetap donor. Bukan karena ancamanmu. Karena aku sudah berjanji.”Elara mengangguk. “Aku tahu.”Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Hanya bunyi monitor yang terdengar. Alessandro akhirnya menoleh ke arah Elara.“Kamu mau pergi, kan?”Elara terkejut. Ia tidak menyangka Alessandro langsung bisa menebak. “Dari mana kamu tahu?”“Dari caramu duduk. Dari caramu menatapku. Seolah ini pertemuan
Elara mendorong pintu tangga darurat dan turun dua tingkat dengan langkah cepat. Napasnya masih belum stabil. Di lantai dasar, ia langsung menuju area parkir karyawan. Dari kejauhan, ia melihat mobil Alessandro masih terparkir di tempatnya.Alessandro berdiri di samping mobil, punggung bersandar pada pintu pengemudi, tangan disilangkan di dada. Wajahnya masih tegang di bawah cahaya lampu parkir yang kuning.Elara mendekat pelan. “Ale!”Alessandro tidak langsung menoleh. Ia hanya menghela napas panjang. “Kamu turun juga.”“Aku sudah menyuruh Kael masuk ke ruangan,” kata Elara cepat. “Aku juga sudah menelepon Marco. Aku bilang ke dia supaya Om Thomas kendalikan Kael. Kalau tidak, aku ancam mereka soal donor.”Alessandro akhirnya menoleh. Matanya masih dingin, tetapi ada sedikit kelelahan di baliknya. “Kamu ancam mereka dengan sumsum tulangku?”Elara mengangguk, menunduk. “Aku tidak tahu cara lain. Aku takut kamu benar-benar pergi.”Alessandro terdiam beberapa detik. Lalu ia membuka pint
Di koridor yang sepi, langkah Elara terdengar tergesa. Di dalam hatinya, ia tahu keputusan ini akan membawa konsekuensi. Namun malam ini, ia hanya ingin pergi.“Elara!”Tiba-tiba terdengar suara Kael.Elara membeku di tempat. Napasnya tertahan. Ia pelan-pelan berbalik. Di ambang pintu ruang isolasi, Kael berdiri tegak. Satu tangan menenteng botol infus yang masih tersambung ke lengannya.Sementara tangan lainnya memegang tiang infus agar tidak goyah. Wajahnya yang semula pucat kini tampak segar. Matanya jernih. Napasnya stabil. Tidak ada tanda-tanda orang yang baru saja koma dan kritis beberapa jam lalu.Elara membelalak dengan tubuh terpaku. Ia tidak bisa mempercayai penglihatannya. “Kael…?”Kael tersenyum tipis, meski masih sedikit pucat di bibir. “Kamu mau ke mana?”Elara mundur satu langkah, jantungnya berdegup kencang. “Kamu sadar? Bagaimana bisa? Dokter bilang kamu koma—”“Aku gak tahu,” potong Kael pelan. Ia melangkah keluar koridor dengan hati-hati, botol infus bergoyang di ge
“Ada perubahan pada respons neurologis pasien," ucap perawat tersebut.Elara terkejut sekaligus penasaran. “Perubahan apa?”Perawat menatap layar monitor, lalu berkata dengan suara pelan.“Sepertinya pasien mulai memberikan respons.”Thomas langsung mendekati kaca.“Kael?”Di dalam ruangan, jari Kael kembali bergerak. Kali ini lebih jelas.Kemudian secara perlahan, monitor menunjukkan pola aktivitas otak yang sebelumnya hampir tidak terlihat. Dokter mengerutkan kening, lalu berkata,“Ini aneh.”“Apa yang aneh, Dok?” tanya Alessandro.Dokter tidak langsung menjawab. Namun tatapannya terpaku pada hasil monitor.“Secara medis, seharusnya belum ada respons seperti ini.”Elara menatap Kael dengan napas tertahan. Kemudian layar monitor di samping tempat tidur tiba-tiba menampilkan angka yang berubah cepat.Dokter mendekat, lalu berkata,“Jangan sentuh pasien!"Semua orang terdiam. Itu pertama kalinya sejak Kael kehilangan kesadaran, bibir pria itu bergerak.Hanya satu kata yang keluar. “Elar
Tubuh Elara menggeliat pelan di bawah mulut Alessandro. Setiap isapan membuat perutnya berdenyut. Putingnya semakin sensitif, basah oleh lidah dan air liur Alessandro.Ketika Alessandro menggigitnya pelan lalu langsung mengisap lagi, Elara menggigit bibirnya sendiri, menahan suara yang hampir lolos lebih keras.Elara menahan napas, tubuhnya sedikit menggeliat. “Ale... Aaah."Jemari lentik Elara meraba milik Alessandro yang mengeras di balik celana.Sementara tangan Alessandro menyusuri pinggang Elara, lalu turun lebih rendah. “Kamu sudah basah,” bisiknya serak.Elara mendesah. "Punya kamu juga. Aah..besar ...tegang, Honey.""Kamu menginginkan juga, Sayang?"tanya Alessanndro.Elara mengangguk lemah, menariknya lebih dekat. “Iya… masukin. Aku mau rasain kamu.”Alessandro mengecup bibirnya kasar, lalu membuka baju dan celana. Elara pun melepaskan kain yang tersisa di tubuh.Tampak batang Alessandro yang tegang dan berurat. Ia membuka kedua paha Elara, lalu mendorong miliknya masuk perlah







