Share

HARUS MEMILIH

last update publish date: 2026-04-24 20:13:34

Kael mengulurkan helm cadangan ke arahnya. “Kalau gitu, kita kabur. Hari ini cuma kita berdua. Kamu mau?”

Elara masih berdiri di depan gerbang asrama, tangannya mencengkeram tali tas sekolahnya erat-erat. Motor hitam Kael sudah menyala, knalpotnya mengeluarkan suara rendah yang menggema di pagi yang sepi itu.

"El, cepetan!” desak Kael pelan, suaranya masih serak karena luka. Matanya yang hitam menatap Elara dengan tatapan yang bikin lutut si gadis lemas. Tatapan memelas dan penuh hasrat. “Aku udah nggak tahan nunggu kamu dari semalam.”

Elara menggigit bibir bawahnya, lalu melirik ke belakang. Beberapa siswi lain sudah mulai keluar dari asrama, saling berbisik sambil menatap motor Kael.

"Aku nggak mau bolos. Baru juga beberapa hari jadi murid pindahan,” bisiknya gugup.

Kael tersenyum tipis, senyum yang selalu berhasil membuat hati Elara jungkir balik. Ia turun dari motor, mendekat sampai tubuh mereka hampir bersentuhan. Tangan besarnya menyentuh pipi Elara dengan lembut, mengusapnya pelan.

"Kemarin kamu bilang mau temani aku, kan?” suaranya rendah, hampir berbisik di telinga Elara. “Takut ketahuan mama kamu lagi?”

Elara tersentak. Kata “mama” langsung mengingatkannya pada ucapan dingin mamanya semalam. Namun sebelum ia sempat menjawab, Kael sudah memakaikan helm ke kepalanya dengan hati-hati, seolah Elara adalah barang paling berharga di dunia ini.

“Naik!" perintahnya lagi, kali ini lebih lembut. “Hari ini kamu milik aku. Nggak ada yang boleh ambil kamu dari aku.”

Tanpa menunggu jawaban lagi, Kael langsung menarik Elara naik ke motornya. Begitu Elara duduk di belakang, tangannya otomatis melingkar di pinggang Kael yang masih terbalut perban. Kael meringis pelan, tetapi ia langsung menutupinya dengan tawa kecil.

“Peluk aku lebih erat, El. Biar lukaku cepet sembuh.”

Motor melaju meninggalkan asrama, angin pagi menerpa wajah mereka. Elara menyembunyikan wajahnya di punggung Kael, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu ini salah. Ia tahu mamanya pasti marah besar jika tahu.

Namun saat ini, satu-satunya yang ia rasakan adalah hangatnya tubuh Kael dan hatinya sedang berbunga-bunga. Mereka berdua menghilang di tikungan jalan menuju pinggir pantai, jauh dari sekolah, jauh dari mata siapa pun.

Sementara di belakang, tanpa mereka sadari, sebuah mobil hitam mengikuti dari kejauhan dengan pelat nomor yang sama sekali tak asing bagi Kael.

Kael masih ngebut di jalan pantai yang sepi, angin menerpa wajah mereka, saat Elara tiba-tiba menoleh ke belakang. Matanya membesar.

“Kael, ada mobil hitam ngikutin kita dari tadi!” serunya panik, tangannya mencengkeram pinggang Kael lebih erat.

Kael melirik spion, rahangnya langsung mengeras. “Black Vipers,” katanya dingin. “Mereka nggak terima kemarin aku gebukin anggota mereka.”

Ia langsung ngegas. Motornya meluncur kencang, dan mobil di belakang ikut mempercepat. Jarak mereka semakin dekat. Elara bisa melihat dua cowok berbadan besar di dalam mobil itu, salah satunya bahkan mengacungkan pisau lipat dari jendela.

"Kael, mereka makin dekat!” teriak Elara panik. Baru kali ini, ia merasa hidupnya terancam dan ketakutan.

“Pegang aku erat-erat!” balas Kael.

Tiba-tiba Kael belok tajam ke kiri, masuk ke sebuah gang kecil di antara gudang-gudang tua. Motornya meliuk-liuk di antara tumpukan kardus dan tong sampah. Mobil hitam di belakang mereka langsung mengikuti dan tertahan di mulut gang.

Motor Kael terus melaju di gang sempit itu sampai mereka keluar di jalan kecil lain, lalu langsung belok ke arah hutan kecil di pinggir kota.

Elara masih menempel di punggungnya, napasnya tersengal. “Mereka nggak bisa kejar, kan?”

Kael menoleh sebentar, senyumnya muncul meski wajahnya pucat karena sedikit nyeri pada luka. “Nggak bisa. Mobil mereka kebesaran. Kita aman, buat sekarang.”

Namun di belakang mereka, dari dalam mobil yang terjebak, salah satu cowok Black Vipers mengeluarkan ponsel.

"Target kabur lewat gang. Kirim yang lain. Dan bilang ke bos, Kael lagi sama cewek baru itu. Kita selesaikan hari ini juga.”

Motor Kael baru saja melambat di pinggir hutan kecil ketika ponsel Elara berdering kencang.

Elara melihat nama di layar, langsung wajahnya pucat.

“Mama?"

Ia mengangkat dengan tangan gemetar.

“Halo, Ma?”

Suara mamanya terdengar dingin dan tajam di seberang sana.

"Kamu di mana, Elara? Mama sekarang sedang berada di ruang guru.”

Elara membeku. Kael yang masih duduk di motor langsung menoleh, alisnya bertaut melihat ekspresi Elara.

"Ma, aku lagi antar temen berobat,” jawab Elara tergagap, suaranya hampir hilang.

"Temen berobat?” Mama Elara tertawa kecil, tetapi suaranya penuh amarah. “Guru BK bilang kamu tidak pakai izin hari ini. Jangan bohong lagi! Kamu sama siapa? Jawab, Elara!”

Elara melirik Kael dengan panik. Kael langsung menggeleng pelan, matanya memperingatkan jangan bilang apa-apa.

“Aku sekarang sendiri, Ma,” bisik Elara, suaranya mulai bergetar.

"Balik sekarang!” bentak mamanya. “Kalau sampai jam makan siang kamu belum di sekolah, mama yang akan cari kamu. Dan kalau ketemu cowok itu, kamu tahu akibatnya.”

Telepon langsung ditutup. Elara menatap layar ponselnya dengan mata berkaca-kaca, tangannya gemetar hebat.

"Kael, aku harus ke sekolah. Mama tahu aku bolos.”

Kael diam sejenak, rahangnya mengeras. Ia turun dari motor, memegang bahu Elara dengan kedua tangannya yang terluka.

“Biasanya kalau mama kamu marah, apa hukumannya?”

Matanya menatap Elara dalam-dalam, penuh keputusasaan yang menghanyutkan.

"Nggak tahu. Baru kali ini aku bikin Mama marah," ucap Elara dengan tatapan sendu.

Dengan ekspresi kecewa, Kael terpaksa mengikuti kemauan Elara. Laki-laki ini berbicara lirih,"Pengennya hari ini doang ditemenin kamu. Tapi gimana lagi."

Elara menatap Kael dengan tatapan sendu, matanya berkaca-kaca. Angin hutan kecil itu berembus pelan, membawa aroma daun basah dan garam pantai.

"Aku harus temui Mama. Bisa berabe urusannya, kalau Mama marah,” ucapnya pelan, suaranya hampir hilang ditelan angin.

Kael diam cukup lama. Rahangnya mengeras, tangannya yang memegang bahu Elara perlahan melonggar. Ekspresi kecewa yang dalam terpahat jelas di wajahnya yang masih pucat. Mata hitamnya yang biasanya penuh api sekarang redup, seperti ada sesuatu yang baru saja dipatahkan.

Akhirnya ia menghela napas panjang, suaranya lirih, hampir seperti bisikan yang terluka.

"Aku cinta kamu, El. Sejak berciuman semalam, wajahmu selalu di pelupuk mataku.”

Kata-kata itu keluar begitu saja, berat dan tulus, membuat dada Elara sesak. Kael menunduk, dahinya bersandar pelan di dahi Elara, napasnya hangat dan tersengal.

"Aku nggak pernah rasain ini sebelumnya. Suatu saat aku ajak kamu ketemu Papa."

"Mau ngapain, Kael? Kita juga baru dekat beberapa hari," ucap Elara sambil menatap cowok di depannya tanpa kedip.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   KELUARGA BARU

    Salah satu teman Sienna mengambil kain pel kotor dan melemparkannya ke lantai di depan Elara.“Bersihin yang bersih! Siapa tahu Kael datang dan lihat kamu lagi jadi pembantu di sini,” kata gadis itu sambil cekikikan.Sienna mencondongkan wajahnya mendekat, suaranya rendah penuh ancaman.“Dengar, Elara! Ini baru awal. Kalau kamu nggak jauhi Kael, besok-besok bukan seragam kamu doang yang basah. Aku bikin kau dikeluarkan dari sekolah."Tubuh Elara menegang. Air kotor merembes ke sepatu ketsnya yang sudah usang. Ia menggenggam kain pel lebih erat, tetapi tetap diam. Jantungnya berdegup kencang. Ia tak mau memberi Sienna kepuasan dengan menangis di depan mereka.“Apa hak kamu ngomong gitu?” tanya Elara pelan. Suaranya hampir hilang di antara gemericik air.Sienna tertawa kecil mengejek dan bergema di ruang toilet yang kosong. Dua temannya ikut terkikik. Satu di antaranya mengambil ponsel, lalu mulai merekam.“Hak? Gue pacarnya Kael sebelum lo muncul, New Girl. Dia lagi pengen main-main aj

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   SIENNA GIRANG

    Kael tersenyum tipis, lalu kedua tangannya memegang kedua pipi Elara. "Kita nikah," ucapnya tanpa beban."Apaan, sih! Sekolah juga belum kelar," protes Elara, meski hatinya sempat melambung gara-gara omongan Kael barusan. Siapa yang tidak bahagia dicintai secara ugal-ugalan oleh cowok sekeren Kael."Aku nggak mau pisah sama kamu, El. Aku cinta kamu."Elara geleng-geleng kepala mendengarnya. "Emang aku cinta kamu?""Sudah pasti cinta, buktinya semalam mau aku cium," ejek Kael. "Bilang, dong sekarang!""Ogah! Buruan, aku ditunggu Mama!"Dengan berat hati, Kael menghidupkan motor. Perjalanan kembali terasa berat. Kael mengemudikan motor lebih pelan dari sebelumnya. Ia sengaja memperpanjang waktu mereka berdua. Elara memeluk pinggangnya dari belakang, pipinya menempel di punggung Kael yang hangat. Air mata diam-diam mengalir di pipinya. "I love you, Kael," ucapnya lirih."Ngomong apaan? Aku nggak denger!""Nggak ada," balas Elara dan rona merah pipinya tampak jelas pada pantulan kaca spi

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   HARUS MEMILIH

    Kael mengulurkan helm cadangan ke arahnya. “Kalau gitu, kita kabur. Hari ini cuma kita berdua. Kamu mau?”Elara masih berdiri di depan gerbang asrama, tangannya mencengkeram tali tas sekolahnya erat-erat. Motor hitam Kael sudah menyala, knalpotnya mengeluarkan suara rendah yang menggema di pagi yang sepi itu."El, cepetan!” desak Kael pelan, suaranya masih serak karena luka. Matanya yang hitam menatap Elara dengan tatapan yang bikin lutut si gadis lemas. Tatapan memelas dan penuh hasrat. “Aku udah nggak tahan nunggu kamu dari semalam.”Elara menggigit bibir bawahnya, lalu melirik ke belakang. Beberapa siswi lain sudah mulai keluar dari asrama, saling berbisik sambil menatap motor Kael."Aku nggak mau bolos. Baru juga beberapa hari jadi murid pindahan,” bisiknya gugup.Kael tersenyum tipis, senyum yang selalu berhasil membuat hati Elara jungkir balik. Ia turun dari motor, mendekat sampai tubuh mereka hampir bersentuhan. Tangan besarnya menyentuh pipi Elara dengan lembut, mengusapnya pe

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   GAGAL KENCAN

    Kael menarik Elara lebih dekat lagi, bibirnya nyaris nyentuh telinga Elara."Aku nggak mau kamu pergi sekarang. Mau kamu di sini, temani aku."Kael menatap Elara dengan wajah memelas, mata hitamnya yang biasanya tajam sekarang seperti anak kecil yang takut ditinggal. Bibirnya yang masih berdarah sedikit mengkerut, alisnya turun, suaranya pelan sekali, hampir bergetar."El, please! Aku nggak minta lama. Cuma malam ini aja. Aku terluka karena kamu."Jempolnya mengusap pinggang Elara lagi, lebih lembut dari sebelumnya, seperti takut kalau gerakan terlalu keras, Elara bakal kabur.Elara merasa dadanya sesak. Wajah Kael yang biasanya angkuh itu sekarang kelihatan rapuh, dan entah kenapa itu bikin hatinya luluh.“Baiklah, aku kirim pesan ke Mama dulu,” bisik Elara akhirnya, suaranya kecil. Beberapa saat kemudian, Elara telah mengirimkan pesan. Ia masukkan ponsel ke tas.Kael tersenyum tipis, langsung menarik Elara kembali ke pangkuannya. Ciumannya kali ini lebih dalam, lebih liar. Tangannya

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   KASMARAN

    Elara berjalan menyusuri trotoar. Rambut blonde bergelombangnya dikuncir asal-asalan. Ia memakai hoodie hitam polos, berharap tak ada yang mengenalinya. Harapan itu hancur dalam hitungan detik.Tiga cowok berbadan besar dari geng rival The Sovereigns — kelompok “Black Vipers” — tiba-tiba muncul dari gang kecil, langsung mengepungnya.“Lo temen sebangku Kael Draven, kan?” tanya yang paling tinggi, suaranya penuh ancaman.Elara mundur selangkah, punggungnya menempel tembok. “Aku bukan siapa-siapa. Minggir!”Cowok itu tertawa sinis. “Kayaknya incaran baru Kael."Sebelum Elara sempat bergerak, tangan salah satu dari mereka sudah mencengkeram kerah hoodie-nya.“Lepaskan!”Benturan keras terdengar. Tiba-tiba tubuh cowok itu terpental ke belakang.Kael muncul dari arah belakang, napasnya memburu, mata hitamnya membara seperti api neraka. Tanpa bicara, ia langsung menyerang. Tinju, tendangan, suara tulang beradu. Dua cowok lainnya ikut mengeroyoknya sekaligus.Elara berteriak, “Kael! Stop!”N

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   RAJA TEGA MELELEH

    "Elara Quinn!" panggil Kael lantang, cukup agar semua orang di sekitar mendengar.Elara menghentikan langkahnya. “Apa lagi?”Kael berjalan mendekat dengan langkah santai. “Aku antar pulang.”"Aku naik bus saja.”Kael menyeringai tipis. “Kamu baru sehari di sini dan sudah bikin seluruh sekolah heboh. Naik bus hari ini berarti besok gosipnya akan jauh lebih parah. Naiklah!"Theo di belakang menyeringai. “Boss jarang nawarin orang. Kamu spesial, new girl.”Elara tahu ini jebakan, tetapi menolak di depan umum tanpa alasan masuk akal sama dengan bunuh diri. Ia buru-buru mengeluarkan ponsel dari saku tas ranselnya. Ia pura-pura memencet nomor kontak teman lama dari Oakhaven yang sebenarnya sudah lama tidak dihubungi.“Halo? Rina? Iya, ini Elara,” katanya cepat sambil menempelkan ponsel ke telinga. Suaranya dibuat santai. “Aku sudah di depan gerbang. Kamu jemput di mana? Oh, oke, aku tunggu di halte depan, ya. Sampai ketemu!”Ia mematikan panggilan sebelum “Rina” sempat menjawab apa-apa, lal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status