Share

BAB 9 MISI GAGAL

Penulis: Libra Syafarika
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-24 16:00:13

Tubuhku terasa semakin panas, vaginaku berdenyut seolah ingin diterobos. Namun tepat saat itu terjadi, Pak Jefri tiba-tiba menghentikan aksinya.

Aku terperanjat, jantungku berdetak semakin cepat. Napas kami sama-sama memburu seolah hanyut dalam hasrat. Aku kecewa kenapa Pak Jefri berhenti, padahal aku sangat menikmatinya.

Tak ada kata yang mampu kuucapkan sebagai protes. Aku hanya terus menatapnya sambil membatin, 'Ayo, Pak. Lanjutkan...'

"Sepertinya kamu sangat menikmatinya," ucapnya tiba-tiba. "Jika begini... Aku yang memuaskanmu, bukan sebaliknya."

Seketika aku merasa tertampar dengan kata-kata itu. Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal sambil tersenyum ragu.

"M-maaf, Pak. Maafkan saya..." ucapku gugup.

Pak Jefri mengangkat pinggangku—menurunkan dari pangkuannya. "Kamu belum pernah pacaran? Apa ini pertama kalinya?" tanyanya dengan santai.

Aku mengangguk samar, jemariku saling meremas. Aku terus menunduk, tak ber
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • DOSEN KILLER: Skripsi Berbuah Cinta   BAB 185 PENJELASAN YANG MASUK AKAL

    Pak Jefri baru berhenti setelah beberapa detik menciumiku dengan brutal. Ia menangkup pipiku kasar hingga kepalaku terjengat ke belakang. Tatapan matanya penuh bara dengan rahang yang mengeras sempurna."Katakan! Siapa pria yang bersamamu?!" tuntutnya tajam dengan napas yang memburu.Seluruh tubuhku bergetar, air mata menetes tanpa bisa kutahan. "Apa saya perlu menjelaskannya padamu?" balasku dingin dengan napas memburu.Sorot mata Mas Jefri semakin membara. Ia kembali melumat bibirku kasar, merangkulku dengan erat tanpa kelembutan sama sekali. Ia menyentak mantelnya hingga terlepas dan mengoyak jaket yang kukenakan secara kasar.Aku berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari kungkungannya meski tak berhasil. Tenaganya terlalu kuat.Mas Jefri semakin beringas. Kecemburuan telah membuatnya kembali menjadi monster seperti sebelumnya. Ia mengangkat tubuhku paksa sambil terus melumat bibirku tanpa sedikit pun kelembutan. Ia menjatuhkan tubuhku ke sofa, lalu menindihku sambil membuka se

  • DOSEN KILLER: Skripsi Berbuah Cinta   BAB 184 RAYUAN YANG MENDEBARKAN

    Steafen meringis pelan sambil mengucek matanya yang memerah. "Emm... tidak bisakah kamu tenang sedikit, Nona? Berisik sekali," ucapnya santai dengan suara serak khas orang bangun tidur, seraya menegakkan posisi duduknya.​"Tenang?!" teriakku dengan napas memburu. "Wah... kamu ini benar-benar buaya, ya? Bisa-bisanya mengambil kesempatan dalam kesempitan!"​"Apa yang aku lakukan?" tanyanya tanpa dosa, seolah tidak terjadi apa pun. Tubuhnya menegang sesaat sambil menatapku heran, benar-benar tampak seperti orang yang tidak tahu apa-apa.​"Kamu—!" Kata-kataku tersangkut di tenggorokan karena emosi yang sudah di ubun-ubun. "Bisa-bisanya kamu pura-pura lupa setelah apa yang terjadi!"​Steafen menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu mengalihkan pandangan dariku. "Aku tidak tahu kalau otakmu itu ternyata tidak waras," sahutnya dengan nada tinggi. Ia merapatkan jaketnya, lalu memutar tubuh memunggungiku. "Sudahlah. Aku mau tidur lagi. Tolong jangan berisik!" desisnya ketus.​Aku hanya terc

  • DOSEN KILLER: Skripsi Berbuah Cinta   BAB 183 TERJEBAK BERSAMA BUAYA DARAT

    Aku langsung membuang muka, berusaha menepis pikiran gila yang melintas di benak. 'Tidak mungkin. Dunia tidak sesempit ini. Mana mungkin ilustrator jenius itu adalah Steafen yang playboy kelas teri ini,' bisikku dalam hati, mencoba meyakinkan diri sendiri.Dengan wajah yang masih diliputi kebingungan, Steafen melajukan mobilnya menembus jalanan London menuju bandara. Sesampainya di sana, ia mengurus segalanya dengan efisien. Ia menyerahkan tiket pesawat ke tanganku tanpa mengucap sepatah kata pun, lalu berbalik hendak pergi begitu saja."Tunggu!" panggilku spontan.Langkah Steafen seketika terhenti. Ia menoleh dengan wajah datar yang jarang ia tunjukkan. Aku berdeham pelan, merasa agak canggung. "Beri aku nomor rekening atau barcode-mu. Aku akan mentransfer biaya rumah sakit, tiket, dan juga... ganti rugi karena kamu sudah menjagaku."Steafen membalikkan badan sepenuhnya, menatapku dengan satu alis terangkat. Ia melangkah mendekat, lalu mencondongkan tubuhnya ke arahku dengan tangan

  • DOSEN KILLER: Skripsi Berbuah Cinta   BAB 182 SANG PLAYBOY BERAKSI

    Aku spontan mengempaskan tangannya kasar. "Jangan ge-er kamu!" teriakku dengan mata melotot galak.Steafen justru tersenyum nakal, seolah sengaja menikmati reaksiku yang meledak-ledak. "Makanya... diamlah di sini. Kalau keadaanmu makin parah, yang ada aku semakin repot mengurusmu."Aku menghela napas berat, lalu menjatuhkan diri kembali ke kasur tanpa berkomentar lagi. Rasa lelah dan sakit di perut membuatku kehilangan selera untuk berdebat lebih panjang.Tak lama kemudian, Steafen kembali masuk ke ruangan sambil mendorong sebuah kursi roda. "Ayo... aku bantu kamu duduk," ucapnya lembut seraya merentangkan tangan hendak merangkul bahuku."Tidak usah!" tolakku refleks. Gerakan tangannya seketika terhenti, ia tampak tercengang melihat penolakanku yang begitu keras."A-aku bisa sendiri," ucapku gugup sambil membuang muka. Dalam hati aku bergumam gelisah, 'Aku tidak mau terus-menerus bersentuhan fisik dengannya. Bisa-bisa...' Aku mengetuk kepalaku sendiri agar tersadar. 'Ahh... apa yang

  • DOSEN KILLER: Skripsi Berbuah Cinta   BAB 181 RAYUAN SANG PENAKLUK WANITA

    Aku terperanjat dan langsung mendorong dadanya sekuat tenaga. "Suami gadungan!" teriakku dengan mata melotot. "Cepat sana tebus obatnya! Aku sudah mulai kesakitan!""Kamu memerintah atau minta tolong?" Steafen mengangkat ujung alisnya, tampak tersulut emosi karena sikapku yang ketus.Aku spontan menyunggingkan senyum masam, mencoba menahan rasa kesal yang meluap di dada. "Aku minta tolong, Tuan..." sahutku dengan nada manis yang dipaksakan hingga terdengar janggal.Steafen menghela napas berat sambil menyilangkan tangan di dada, menatapku skeptis. "Itu sama sekali tidak terdengar seperti orang minta tolong.""Lantas kamu mau aku bagaimana?!" teriakku dengan gigi mengerat dan mata membelalak lebar.Ia tiba-tiba kembali mencondongkan wajahnya padaku secara mendadak. Gerakannya begitu cepat hingga mataku seketika membulat—aku mematung, menatap wajahnya yang hanya berjarak beberapa sentimeter."Memohonlah dengan tulus, Nona... Bukankah hanya aku yang bisa menolongmu di London?" bisiknya d

  • DOSEN KILLER: Skripsi Berbuah Cinta   BAB 180 SUAMI GADUNGAN

    Aku memaksakan diri untuk bangkit, meski rasa nyeri di area bekas operasi terasa bagai sayatan sembilu yang tajam."Apa yang kamu lakukan?!" teriakku seraya merebut ponsel itu dengan gerakan kasar dan langsung mengakhiri panggilan."Hei, Nona... dia harus tahu keadaanmu di sini," ucap Steafen sembari mengangkat kedua alisnya, tampak tidak merasa bersalah sedikit pun."Jangan ikut campur urusanku! Kamu itu bukan siapa-siapa!" teriakku dengan napas tersengal, menahan perih di perut sekaligus amarah di dada.Sedetik kemudian, ponsel di tanganku kembali bergetar. Nama Mas Jefri berkedip di layar. Tanpa ragu, aku langsung mematikan daya ponsel itu.Steafen menyunggingkan senyum miring. Kedua tangannya bertumpu di terali ranjang, menatapku dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Kamu mengabaikannya lagi? Apa kalian sedang bertengkar hebat?"Aku segera menyembunyikan ponsel di balik selimut sambil menatapnya sinis. "Itu masalah pribadiku, Tuan. Aku akan membayar semua jasamu nanti. Sekarang...

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status