Beranda / Romansa / Daddy Sitter / 11. Tidur Bersama

Share

11. Tidur Bersama

Penulis: Bianca bee
last update Tanggal publikasi: 2026-05-07 18:56:40

Reina menarik tangan Daniel yang sedang berada di ruang kerja. "Dad, ayo temani aku nonton film horor!" serunya penuh semangat. Meskipun tahu betapa takutnya Reina terhadap film-film menegangkan, rasa penasarannya selalu lebih besar.

"Reina, nanti kamu ketakutan, lho," balas Daniel sambil tertawa kecil.

"Tidak, Dad! Aku sudah besar. Aku bisa kok!" jawab Reina percaya diri, meski ia sendiri tahu bahwa ia adalah penakut.

Dengan senyuman, Daniel mengangguk dan mengikuti Reina. Setibanya di
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Daddy Sitter   16. Tentang perasaan

    Di ruang TV, suasana terasa tenang dengan cahaya lampu yang hangat, menyorot wajah Daniel dan ibunya, Claudia, yang duduk berdampingan di sofa. Reina sudah kembali ke kamar, begitu juga dengan Sarah yang memilih untuk menyendiri sejenak. Claudia, yang masih memandangi Daniel dengan perhatian, membuka percakapan dengan suara lembut, "Bagaimana perasaanmu, Son?" Daniel menatap layar TV sejenak, mencoba merangkai kata-kata sebelum akhirnya menjawab, "Aku baik-baik saja, Mom." Claudia mengamati anaknya dengan pandangan penuh kasih, melihat perasaan campur aduk yang sulit disembunyikan. "Apakah sulit merawat Reina sendirian?" tanya Claudia, suaranya dipenuhi kekhawatiran. "Kau tahu, setelah kepergian itu, aku bisa bayangkan betapa beratnya." Daniel tersenyum tipis, meski ada sedikit kelelahan di matanya. "Tidak, Mom," jawabnya mantap, "Reina anak yang baik dan penurut. Dia tidak banyak meminta, dan kami bisa beradaptasi. Aku rasa kami baik-baik saja." Claudia mengangguk, terlihat leg

  • Daddy Sitter   15. Pesta ulang tahun Reina

    Hari ini adalah hari istimewa untuk Reina, pesta ulang tahunnya diadakan di sebuah kafe yang sudah dihias dengan meriah. Di kamar Reina, Sarah sibuk membantu gadis itu berdandan. Reina tampak antusias, wajahnya ceria, namun ada sedikit gugup di matanya. "Kak Sarah, aku terlihat cantik, nggak?" tanya Reina sambil memutar tubuhnya di depan cermin. Sarah tersenyum lembut, menata rambut panjang Reina yang jatuh tergerai. "Kamu sudah cantik dari sananya, Reina. Tapi biar kakak tambahkan sedikit sentuhan lagi, ya." Sarah mengambil blush on, menyapukan warna lembut ke pipi Reina. Setelah itu, ia menyisir rambut Reina, membuatnya sedikit bergelombang, lalu menyematkan jepit berbentuk bunga kecil di sisi kiri rambutnya. "Ini, selesai. Sekarang lihat lagi," kata Sarah sambil melangkah mundur. Reina memandangi bayangannya di cermin dan tersenyum lebar. "Wah, Kak Sarah, aku seperti princess!" Sarah tertawa kecil, merasa puas dengan hasilnya. "Putri yang paling cantik malam ini," katany

  • Daddy Sitter   14. Kedatangan Oma Claudia

    Siang itu, Daniel berdiri di area kedatangan bandara, matanya sesekali melirik layar monitor. Penerbangan dari Belanda baru saja mendarat, dan ia menunggu dengan sabar di antara kerumunan penjemput lainnya.Tak lama kemudian, pintu kedatangan internasional terbuka. Daniel berdiri lebih tegap, matanya mencari sosok yang sangat dikenalnya. Lalu, ia melihat ibunya, seorang wanita paruh baya dengan rambut beruban yang tertata rapi dan senyum hangat di wajahnya.“Mom!” panggil Daniel sambil melambaikan tangan.Ny. Claudia balas tersenyum, mempercepat langkahnya mendekati putranya. "Daniel, sayang!"Mereka saling berpelukan erat. “Aku merindukanmu, Mom,” ucap Daniel dengan suara lembut.“Mom juga merindukanmu. Dan tentu saja, Reina. Bagaimana cucuku yang manis?”“Dia baik, sangat bersemangat untuk ulang tahunnya. Dia akan sangat senang melihat Ibu,” kata Daniel sambil mengambil koper besar dari tangan ibunya.“Oh, aku tidak sabar untuk memeluknya. Dia pasti tumbuh semakin cantik,” ujar Ny.

  • Daddy Sitter   13. Ulang tahun Reina

    Setelah sampai di rumah, Daniel dan Sarah segera bergegas ke dapur untuk mempersiapkan kejutan ulang tahun Reina. Langkah pertama yang mereka lakukan adalah membuat kue ulang tahun. Dengan semangat, Sarah mulai mencampurkan bahan-bahan di mangkuk besar. Ia menghidupkan mixer dan melihat adonan berputar. Sesekali, ia mencolek adonan yang menempel di dinding mangkuk dan merasakan teksturnya. "Bagaimana, Pak?" tanyanya dengan penuh semangat, mengharapkan pujian.Tanpa menjawab, Daniel mendekat dan membawa jari Sarah yang terkena adonan ke mulutnya. "Saya rasa sudah pas," katanya dengan nada serius, namun dengan senyuman di wajahnya.Sarah terkejut dan mendapati dirinya tersipu. "Ahh.. iya pak," jawabnya gugup, padahal bukan itu yang ingin ia tanyakan. Dia terdiam sejenak, merasakan detak jantungnya berdegup kencang."Sarah, saya akan memompa balon. Kamu lanjutkan saja cakenya," kata Daniel sambil mundur sedikit untuk memberikan ruang.Sarah mengangguk, lalu memasukkan adonan kue ke dala

  • Daddy Sitter   12. Persiapan ulang tahun Reina

    Pagi itu, suasana rumah masih sunyi ketika Daniel sudah berada di dapur. Sarah berdiri di depan kompor, mengaduk masakan dengan gerakan teratur. Aroma hangat menyebar, membuat pagi terasa lebih hidup. "Sarah..." panggil Daniel pelan. Sarah menoleh. "Ya, Pak?" Daniel mendekat beberapa langkah, lalu menurunkan suaranya. "Besok Reina ulang tahun. Saya ingin menyiapkan kejutan tengah malam." Ekspresi Sarah langsung berubah cerah. "Benarkah? Wah... tentu, Pak. Saya akan bantu. Apa rencananya?" "Kita buat sederhana saja. Kue, dekorasi kecil di ruang tamu. Reina tidak suka yang berlebihan, tapi dia selalu menghargai hal yang tulus." Sarah mengangguk dengan semangat. "Kalau begitu, izinkan saya membuat kuenya. Saya ingin membuat yang spesial untuknya." Daniel memperhatikan Sarah sejenak, lalu tersenyum tipis. "Baik. Nanti siang kita beli bahan-bahannya." "Reina pasti akan sangat senang," ucap Sarah dengan tulus. Suara langkah kaki terdengar dari lantai atas, membuat percakapan merek

  • Daddy Sitter   11. Tidur Bersama

    Reina menarik tangan Daniel yang sedang berada di ruang kerja. "Dad, ayo temani aku nonton film horor!" serunya penuh semangat. Meskipun tahu betapa takutnya Reina terhadap film-film menegangkan, rasa penasarannya selalu lebih besar. "Reina, nanti kamu ketakutan, lho," balas Daniel sambil tertawa kecil. "Tidak, Dad! Aku sudah besar. Aku bisa kok!" jawab Reina percaya diri, meski ia sendiri tahu bahwa ia adalah penakut. Dengan senyuman, Daniel mengangguk dan mengikuti Reina. Setibanya di sana, Reina segera mengambil remote TV dan mempersiapkan film horor yang sudah dipilihnya. "Sebentar, Dad! Aku mau mengajak Kak Sarah biar lebih seru," katanya. Reina melesat ke kamar sarah, Reina berdiri di depan pintu kamar Sarah dengan senyum penuh antusias. "Kak Sarah, ayo ikut nonton film horor!" ajaknya, suaranya bersemangat meskipun mata Sarah terlihat sedikit ragu. "Eh... tapi, non Reina... saya nggak terlalu suka film horor," jawab Sarah sambil tersenyum kecut. "Ah, nggak apa-apa,

  • Daddy Sitter   10. Bunga Untuk Sarah

    Setelah dua hari, suasana di rumah terasa lebih ringan Daniel mulai pulih. Meski belum sepenuhnya sehat, Daniel memutuskan untuk pergi bekerja karena banyak pekerjaan yang menumpuk. Setelah sarapan, Reina segera menuju mobil, sementara Daniel kembali ke ruang kerjanya untuk mengambil beberapa berk

  • Daddy Sitter   9. Dekat yang Terlalu Dekat

    Daniel tak menyangka makan siang yang ia beli tadi akan membuatnya keracunan makanan. Setelah diberikan perawatan ringan, dokter di klinik menyarankan agar Daniel beristirahat di rumah. Marlo sahabatnya dengan sigap mengantarnya pulang, namun begitu mereka sampai di depan rumah, Daniel nyaris tak b

  • Daddy Sitter   7. Perhatian Daniel yang Tak Terduga

    Pada hari Minggu, suasana rumah Daniel terasa sedikit berbeda. Reina seperti biasa berpamitan riang sebelum pergi berenang bersama teman-temannya. Dengan tas besar di pundaknya, ia tersenyum pada Sarah yang berdiri di dekat pintu. “Kak Sarah, aku pamit dulu ya. Nanti sore baru pulang,” ucap Reina c

  • Daddy Sitter   6. Ketika Kendali Mulai Retak

    Dengan lembut, Daniel memegang tangan Sarah yang masih berada di bahunya, mencoba menghentikan sentuhan itu. "Kau bisa kembali tidur, Sarah" ucapnya dengan suara yang nyaris berbisik, berusaha menenangkan dirinya sendiri dan mengembalikan situasi menjadi lebih normal.Sarah menarik tangannya dengan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status