Home / Romansa / Daddy Sitter / 11. Tidur Bersama

Share

11. Tidur Bersama

Author: Bianca bee
last update publish date: 2026-05-07 18:56:40

Reina menarik tangan Daniel yang sedang berada di ruang kerja. "Dad, ayo temani aku nonton film horor!" serunya penuh semangat. Meskipun tahu betapa takutnya Reina terhadap film-film menegangkan, rasa penasarannya selalu lebih besar.

"Reina, nanti kamu ketakutan, lho," balas Daniel sambil tertawa kecil.

"Tidak, Dad! Aku sudah besar. Aku bisa kok!" jawab Reina percaya diri, meski ia sendiri tahu bahwa ia adalah penakut.

Dengan senyuman, Daniel mengangguk dan mengikuti Reina. Setibanya di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Daddy Sitter   11. Tidur Bersama

    Reina menarik tangan Daniel yang sedang berada di ruang kerja. "Dad, ayo temani aku nonton film horor!" serunya penuh semangat. Meskipun tahu betapa takutnya Reina terhadap film-film menegangkan, rasa penasarannya selalu lebih besar. "Reina, nanti kamu ketakutan, lho," balas Daniel sambil tertawa kecil. "Tidak, Dad! Aku sudah besar. Aku bisa kok!" jawab Reina percaya diri, meski ia sendiri tahu bahwa ia adalah penakut. Dengan senyuman, Daniel mengangguk dan mengikuti Reina. Setibanya di sana, Reina segera mengambil remote TV dan mempersiapkan film horor yang sudah dipilihnya. "Sebentar, Dad! Aku mau mengajak Kak Sarah biar lebih seru," katanya. Reina melesat ke kamar sarah, Reina berdiri di depan pintu kamar Sarah dengan senyum penuh antusias. "Kak Sarah, ayo ikut nonton film horor!" ajaknya, suaranya bersemangat meskipun mata Sarah terlihat sedikit ragu. "Eh... tapi, non Reina... saya nggak terlalu suka film horor," jawab Sarah sambil tersenyum kecut. "Ah, nggak apa-apa,

  • Daddy Sitter   10. Bunga Untuk Sarah

    Setelah dua hari, suasana di rumah terasa lebih ringan Daniel mulai pulih. Meski belum sepenuhnya sehat, Daniel memutuskan untuk pergi bekerja karena banyak pekerjaan yang menumpuk. Setelah sarapan, Reina segera menuju mobil, sementara Daniel kembali ke ruang kerjanya untuk mengambil beberapa berkas yang tertinggal. Saat ia hendak keluar dari rumah, Sarah memanggilnya, "Tunggu, Pak." Daniel menoleh, "Ya, ada apa?" Sarah mendekat dengan sebuah kotak bekal di tangannya. "Ini, bekal untuk Bapak. Jadi, Bapak tidak perlu beli di luar lagi. Saya sudah menyiapkan makanan sehat." Daniel mengambil bekal itu dengan wajah sedikit bingung. "Oh, baik. Terima kasih, Sarah," ucapnya sambil tersenyum tipis, meski dalam pikirannya masih bertanya-tanya mengapa Sarah begitu perhatian pagi ini. Saat masuk ke dalam mobil, Reina memperhatikan tas yang dibawa oleh ayahnya. "Itu apa, Dad?" tanya Reina penasaran. "Bekal dari Sarah," jawab Daniel singkat sambil memasukkan bekal itu ke sampingnya. Reina

  • Daddy Sitter   9. Dekat yang Terlalu Dekat

    Daniel tak menyangka makan siang yang ia beli tadi akan membuatnya keracunan makanan. Setelah diberikan perawatan ringan, dokter di klinik menyarankan agar Daniel beristirahat di rumah. Marlo sahabatnya dengan sigap mengantarnya pulang, namun begitu mereka sampai di depan rumah, Daniel nyaris tak bisa berdiri tegak. Sarah yang tengah sibuk membersihkan rumah karna bi Rika sedang pulang kampung, dikejutkan oleh suara mobil yang berhenti di depan. Melihat Daniel dipapah oleh sahabatnya, wajahnya langsung berubah panik. "Pak Daniel, kenapa ini?" "Dia keracunan makanan, cuma butuh istirahat sekarang. Dokter bilang kondisinya akan membaik setelah beberapa jam, tapi dia harus banyak minum dan makan makanan yang ringan," Marlo menjelaskan sambil memapah Daniel ke dalam rumah. Wajah Daniel tampak sangat pucat, keringat dingin membasahi dahinya, dan gerakannya tampak lemah. Sarah mendekat, berusaha menahan kecemasan yang menguasai dirinya. Setelah Daniel berbaring di tempat tidur, Sarah

  • Daddy Sitter   8. Saat Rumah Dipenuhi Cemas

    Setelah menyelesaikan sesi berenangnya, Reina kembali ke rumah dengan ceria, bersiap untuk menghadiri pesta ulang tahun sahabatnya. Begitu tiba di rumah, ia langsung mencari Sarah yang sedang membersihkan dapur. Meskipun Sarah masih merasa sedikit nyeri haidnya. Saat Reina memasuki dapur, ia melihat Sarah yang sedang menyeka permukaan meja dapur. Dengan cepat, Reina mendekat. “Kak Sarah, aku mau minta tolong. Bisa bantu atur rambutku? Aku harus ke pesta ulang tahun sahabatku,” kata Reina dengan nada penuh harapan. Sarah berhenti sejenak, mengelap tangannya dengan lap, dan menatap Reina. “Oh, tentu saja, Non Reina. Aku bisa bantu. Aku pernah ikut kursus kecantikan, jadi sedikit banyak aku mengerti tentang cara-cara merapikan rambut.” Dengan senang hati, Reina menyerahkan alat-alat yang sudah ia siapkan. Mereka berdua memasuki kamar tidur Reina, di mana meja riasnya terletak dengan berbagai alat kecantikan. Reina duduk di depan meja rias, di hadapan cermin besar, sementara S

  • Daddy Sitter   7. Perhatian Daniel yang Tak Terduga

    Pada hari Minggu, suasana rumah Daniel terasa sedikit berbeda. Reina seperti biasa berpamitan riang sebelum pergi berenang bersama teman-temannya. Dengan tas besar di pundaknya, ia tersenyum pada Sarah yang berdiri di dekat pintu. “Kak Sarah, aku pamit dulu ya. Nanti sore baru pulang,” ucap Reina ceria sambil melambaikan tangan. Sarah membalas dengan senyum lembut, “Hati-hati, Non Reina.” Setelah Reina pergi, rumah menjadi sepi. Hanya ada Sarah dan Daniel karena Bi Rika sedang libur mingguan untuk berkumpul dengan keluarganya. Kesadaran bahwa mereka hanya berdua membuat Sarah sedikit gugup, meski ia tetap berusaha menjalankan tugas seperti biasa. Ia mulai beranjak ke dapur untuk menyiapkan makan siang, tetapi tubuhnya mulai terasa tidak enak. Nyeri haid hari pertama mulai datang, membuatnya beberapa kali memegangi perut sambil tetap berusaha bekerja di depan meja dapur. Di ruang keluarga, Daniel memperhatikan dari kejauhan. Ia melihat Sarah tampak pucat dan sering berhenti bergerak,

  • Daddy Sitter   6. Ketika Kendali Mulai Retak

    Dengan lembut, Daniel memegang tangan Sarah yang masih berada di bahunya, mencoba menghentikan sentuhan itu. "Kau bisa kembali tidur, Sarah" ucapnya dengan suara yang nyaris berbisik, berusaha menenangkan dirinya sendiri dan mengembalikan situasi menjadi lebih normal.Sarah menarik tangannya dengan perlahan, menyadari bahwa mungkin ia sudah melampaui batas. "Maaf, Pak. Saya hanya ingin membantu" katanya pelan, menundukkan kepala sebelum mundur perlahan menuju pintu.Sementara itu, Daniel tetap duduk di kursinya, jantungnya berdebar kencang, masih terguncang oleh keintiman yang baru saja terjadi.Sarah keluar dari ruang kerja dengan raut wajah kecewa, dan Daniel bisa merasakan hal itu.Dia bukan tidak menghargai perhatian dan bantuan Sarah, namun ada sesuatu yang tidak bisa dikendalikannya- sesuatu di dalam dirinya yang mulai bangkit, terutama di bawah sana. Pikirannya tak henti-hentinya terjebak pada sentuhan lembut Sarah, bagaimana tangannya menyentuh dan meremas bahunya dengan kehang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status