ANMELDENSetelah sampai di rumah, Daniel dan Sarah segera bergegas ke dapur untuk mempersiapkan kejutan ulang tahun Reina. Langkah pertama yang mereka lakukan adalah membuat kue ulang tahun. Dengan semangat, Sarah mulai mencampurkan bahan-bahan di mangkuk besar. Ia menghidupkan mixer dan melihat adonan berputar. Sesekali, ia mencolek adonan yang menempel di dinding mangkuk dan merasakan teksturnya. "Bagaimana, Pak?" tanyanya dengan penuh semangat, mengharapkan pujian.Tanpa menjawab, Daniel mendekat dan membawa jari Sarah yang terkena adonan ke mulutnya. "Saya rasa sudah pas," katanya dengan nada serius, namun dengan senyuman di wajahnya.Sarah terkejut dan mendapati dirinya tersipu. "Ahh.. iya pak," jawabnya gugup, padahal bukan itu yang ingin ia tanyakan. Dia terdiam sejenak, merasakan detak jantungnya berdegup kencang."Sarah, saya akan memompa balon. Kamu lanjutkan saja cakenya," kata Daniel sambil mundur sedikit untuk memberikan ruang.Sarah mengangguk, lalu memasukkan adonan kue ke dala
Pagi itu, suasana rumah masih sunyi ketika Daniel sudah berada di dapur. Sarah berdiri di depan kompor, mengaduk masakan dengan gerakan teratur. Aroma hangat menyebar, membuat pagi terasa lebih hidup. "Sarah..." panggil Daniel pelan. Sarah menoleh. "Ya, Pak?" Daniel mendekat beberapa langkah, lalu menurunkan suaranya. "Besok Reina ulang tahun. Saya ingin menyiapkan kejutan tengah malam." Ekspresi Sarah langsung berubah cerah. "Benarkah? Wah... tentu, Pak. Saya akan bantu. Apa rencananya?" "Kita buat sederhana saja. Kue, dekorasi kecil di ruang tamu. Reina tidak suka yang berlebihan, tapi dia selalu menghargai hal yang tulus." Sarah mengangguk dengan semangat. "Kalau begitu, izinkan saya membuat kuenya. Saya ingin membuat yang spesial untuknya." Daniel memperhatikan Sarah sejenak, lalu tersenyum tipis. "Baik. Nanti siang kita beli bahan-bahannya." "Reina pasti akan sangat senang," ucap Sarah dengan tulus. Suara langkah kaki terdengar dari lantai atas, membuat percakapan merek
Reina menarik tangan Daniel yang sedang berada di ruang kerja. "Dad, ayo temani aku nonton film horor!" serunya penuh semangat. Meskipun tahu betapa takutnya Reina terhadap film-film menegangkan, rasa penasarannya selalu lebih besar. "Reina, nanti kamu ketakutan, lho," balas Daniel sambil tertawa kecil. "Tidak, Dad! Aku sudah besar. Aku bisa kok!" jawab Reina percaya diri, meski ia sendiri tahu bahwa ia adalah penakut. Dengan senyuman, Daniel mengangguk dan mengikuti Reina. Setibanya di sana, Reina segera mengambil remote TV dan mempersiapkan film horor yang sudah dipilihnya. "Sebentar, Dad! Aku mau mengajak Kak Sarah biar lebih seru," katanya. Reina melesat ke kamar sarah, Reina berdiri di depan pintu kamar Sarah dengan senyum penuh antusias. "Kak Sarah, ayo ikut nonton film horor!" ajaknya, suaranya bersemangat meskipun mata Sarah terlihat sedikit ragu. "Eh... tapi, non Reina... saya nggak terlalu suka film horor," jawab Sarah sambil tersenyum kecut. "Ah, nggak apa-apa,
Setelah dua hari, suasana di rumah terasa lebih ringan Daniel mulai pulih. Meski belum sepenuhnya sehat, Daniel memutuskan untuk pergi bekerja karena banyak pekerjaan yang menumpuk. Setelah sarapan, Reina segera menuju mobil, sementara Daniel kembali ke ruang kerjanya untuk mengambil beberapa berkas yang tertinggal. Saat ia hendak keluar dari rumah, Sarah memanggilnya, "Tunggu, Pak." Daniel menoleh, "Ya, ada apa?" Sarah mendekat dengan sebuah kotak bekal di tangannya. "Ini, bekal untuk Bapak. Jadi, Bapak tidak perlu beli di luar lagi. Saya sudah menyiapkan makanan sehat." Daniel mengambil bekal itu dengan wajah sedikit bingung. "Oh, baik. Terima kasih, Sarah," ucapnya sambil tersenyum tipis, meski dalam pikirannya masih bertanya-tanya mengapa Sarah begitu perhatian pagi ini. Saat masuk ke dalam mobil, Reina memperhatikan tas yang dibawa oleh ayahnya. "Itu apa, Dad?" tanya Reina penasaran. "Bekal dari Sarah," jawab Daniel singkat sambil memasukkan bekal itu ke sampingnya. Reina
Daniel tak menyangka makan siang yang ia beli tadi akan membuatnya keracunan makanan. Setelah diberikan perawatan ringan, dokter di klinik menyarankan agar Daniel beristirahat di rumah. Marlo sahabatnya dengan sigap mengantarnya pulang, namun begitu mereka sampai di depan rumah, Daniel nyaris tak bisa berdiri tegak. Sarah yang tengah sibuk membersihkan rumah karna bi Rika sedang pulang kampung, dikejutkan oleh suara mobil yang berhenti di depan. Melihat Daniel dipapah oleh sahabatnya, wajahnya langsung berubah panik. "Pak Daniel, kenapa ini?" "Dia keracunan makanan, cuma butuh istirahat sekarang. Dokter bilang kondisinya akan membaik setelah beberapa jam, tapi dia harus banyak minum dan makan makanan yang ringan," Marlo menjelaskan sambil memapah Daniel ke dalam rumah. Wajah Daniel tampak sangat pucat, keringat dingin membasahi dahinya, dan gerakannya tampak lemah. Sarah mendekat, berusaha menahan kecemasan yang menguasai dirinya. Setelah Daniel berbaring di tempat tidur, Sarah
Setelah menyelesaikan sesi berenangnya, Reina kembali ke rumah dengan ceria, bersiap untuk menghadiri pesta ulang tahun sahabatnya. Begitu tiba di rumah, ia langsung mencari Sarah yang sedang membersihkan dapur. Meskipun Sarah masih merasa sedikit nyeri haidnya. Saat Reina memasuki dapur, ia melihat Sarah yang sedang menyeka permukaan meja dapur. Dengan cepat, Reina mendekat. “Kak Sarah, aku mau minta tolong. Bisa bantu atur rambutku? Aku harus ke pesta ulang tahun sahabatku,” kata Reina dengan nada penuh harapan. Sarah berhenti sejenak, mengelap tangannya dengan lap, dan menatap Reina. “Oh, tentu saja, Non Reina. Aku bisa bantu. Aku pernah ikut kursus kecantikan, jadi sedikit banyak aku mengerti tentang cara-cara merapikan rambut.” Dengan senang hati, Reina menyerahkan alat-alat yang sudah ia siapkan. Mereka berdua memasuki kamar tidur Reina, di mana meja riasnya terletak dengan berbagai alat kecantikan. Reina duduk di depan meja rias, di hadapan cermin besar, sementara S







