Share

Bab 139

Penulis: Any Anthika
last update Tanggal publikasi: 2026-08-01 21:25:57

Suasana kamar VIP lantai paling atas rumah sakit itu terasa begitu kontras dengan kebingungan yang membendung di dada Emma. Dia sudah sadar kembali setelah mendapat bantuan medis.

"Syukurlah kamu sudah bangun. Mama dan Kakakmu, Kai, hawatir sekali, Nak."

Emma bersandar di tumpukan bantal putih. Wajahnya masih pucat pasi, matanya sembap dan kusam, melukiskan kepedihan atas kepergian ayahnya—satu-satunya pegangan hidup yang dia punya selama ini.

"Tante, biarkan aku ketemu ayah sekarang," uca
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 140

    Emma menatap Kai sebentar, lalu kembali memeluk tubuh Ayahnya yang dingin. Meratapinya sampai suaranya parau. Bila perlu, dia akan menangis sampai air matanya kering. Rosalinda dan Kai berdiri di samping kiri dan kanan, sesekali ibu Rosalinda membelai rambut Emma dengan lembut. "Emma, gue boleh bilang sesuatu?" tanya Kai pelan. "Kalau kamu hanya mau menghibur aku saat ini, nggak ada gunanya, Kai. Biarkan aku menangis sampai puas." "Nggak, gue bukan mau hibur lo, tapi gue mau nunjukin sesuatu." Dari saku jas mewahnya, Kai mengeluarkan sebuah lkertas foto tebal yang sudah agak menguning di bagian pinggirnya. Terlihat ada keraguan di wajahnya, tapi akhirnya Kai mengulurkan kertas itu pada Emma dengan jemari yang sedikit gemetar. "Emma … coba kamu lihat ini sebentar." Suara Kai terdengar berat dan sangat hati-hati. Emma menatap kertas di tangan Kai dengan pandangan kosong, lalu perlahan menerimanya. Itu adalah foto seorang anak perempuan berusia sekitar empat atau lima tahun.

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 139

    Suasana kamar VIP lantai paling atas rumah sakit itu terasa begitu kontras dengan kebingungan yang membendung di dada Emma. Dia sudah sadar kembali setelah mendapat bantuan medis. "Syukurlah kamu sudah bangun. Mama dan Kakakmu, Kai, hawatir sekali, Nak." Emma bersandar di tumpukan bantal putih. Wajahnya masih pucat pasi, matanya sembap dan kusam, melukiskan kepedihan atas kepergian ayahnya—satu-satunya pegangan hidup yang dia punya selama ini. "Tante, biarkan aku ketemu ayah sekarang," ucap Emma lirih. Ibu Rosalinda yang masih menggenggam tangan Emma, menatap anak gadisnnya, seolah takut jika dia mengedipkan mata sedikit saja, gadis di hadapannya akan menghilang dari pandangannya. "Panggil Tante, Mama, Sayang." Emma tidak menjawab, dia melepaskan tangannya dari genggaman Rosalinda, lalu menarik kedua lututnya ke atas, menyembunyikan wajahnya di sana. Sungguh, di saat-saat seperti ini, dia ingin sendiri, menangis dan meratapi kepergian Ayahnya. Kai yang tadinya berdiri di s

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 138

    Mendengar ultimatum Ibu Rosalinda, mata Raka membelalak lebar. "Tante, tolong dengarkan penjelasanku dulu." "Nggak ada lagi yang perlu dijelaskan. Tante sudah tahu semuanya." Napas Raka seperti tertahan di tenggorokan. Pernyataan itu bukan sekadar gertakan sambal. "Dengar! Emma putri kandung Tante, dan sekarang berada dalam perlindungan penuh keluarga besar kami." Raka tidak berani berkata apa-apa lagi. Kekuatan finansial dan jaringan internasional keluarga Kai sama kuatnya dengan jaringan bisnis keluarganya sendiri. Raka menatap Arsen tajam. Semua ini terjadi gara-gara Arsen. Demi memuaskan rasa cemburu dan dominasinya malam ini, Raka baru saja mengorbankan seluruh dinasti keluarganya sendiri. "Kai," panggil Rosalinda tanpa menoleh sedikit pun. "Ya, Ma," jawab Kai pelan, melangkah maju dan berdiri di sisi sang mama. Tangannya terulur pelan hendak memeluk Emma, adik yang telah dia rindukan selama bertahun-tahun. Namun, dia juga sadar dan mengerti kalau Emma butuh waktu un

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 137

    "Emma ..." Suara Ibu Rosalinda bergetar hebat. Tanpa peduli pada gaun mahalnya yang menyapu lantai yang kotor, Rosalinda berlutut dan langsung merengkuh tubuh Emma yang gemetar hebat dari pelukan Arsen ke dalam pelukannya. Kehangatan dekapan itu terasa begitu familier, sama seperti kehangatan yang Emma rasakan saat wanita itu memeluknya pertama kali. Dan juga saat mereka memasak bersama di dapur rumah besar itu. "Kamu sudah terlalu lama menanggung beban ini sendirian, Nak," bisik Rosalinda dengan tangis yang akhirnya pecah. Wanita itu mencium puncak kepala Emma berkali-kali, mengusap punggung gadis itu yang terguncang hebat. Emma yang matanya sudah sembap dan hampir kehilangan kesadaran berbisik parau. "Tante ... Ayah udah nggak ada ... Ayah ninggalin aku ... Aku benar-benar sendiri sekarang." "Sshh, kamu nggak sendirian, Sayang. Kami semua ada di sini untuk menemanimu," tangis Ibu Rosalinda pilu. Emma memperdalam pelukannya, ucapan Rosalinda sedikit menghibur hatinya yang

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 136

    "Arsen, aku—" bisik Emma menghindar. "Jangan sentuh dia dengan tangan kotor lo itu, Arsen," potong Raka tajam. Dia melangkah maju, menepis tangan Arsen dari leher Emma lalu memasukkan tangannya ke dalam saku celana dengan gaya yang amat dominan. "Emma pasrah di bawah sentuhan gue di kamar mandi tadi. Dan tanda itu? Itu cuma bukti kecil kalau dia milik gue, bukan punya lo." "Bangsat lo, Raka!" Arsen mengepalkan tinjunya, hendak mendaratkan bogem mentah tepat ke wajah Raka. Brak! Pintu ganda ruang operasi mendadak terdorong buka dengan kasar. Dokter Setiawan melangkah keluar dengan pakaian operasi yang masih bersimpah bercak darah. Wajah sang dokter pucat pasi, matanya memancarkan rasa duka yang teramat berat, membuat perkelahian antara Arsen dan Raka seketika terhenti. Seluruh perhatian mereka teralih pada sang dokter. "Dokter ...?" Suara Emma bergetar hebat. Dia mencoba berdiri dengan lutut yang lemas. "Gimana keadaan Ayah saya, Dok? Operasinya lancar, kan? Ayah selamat, kan?"

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 135

    Sepuluh menit perjalanan yang terasa seperti neraka itu akhirnya usai. Mobil Raka berhenti berdecit tepat di depan pintu lorong gawat darurat rumah sakit. Tanpa membuang waktu, Raka menarik tangan Emma, menuntunnya berlari menelusuri koridor rumah sakit yang dingin dan beraroma antiseptik yang menusuk indra penciuman. Mereka tiba di depan lorong ICU. Lampu indikator ruang operasi masih menyala redup, dan beberapa suster tampak berlarian panik membawa kantung darah. “Nona Emma!” Suster Indah berlari menghampiri dengan papan jepit di tangannya dan kertas dokumen. “Baguslah Nona cepat sampai! Kondisi Pak Bagas kritis, pendarahan dalam terjadi lagi. Kami butuh persetujuan keluarga detik ini juga!” “Saya anaknya! Saya setuju, Suster! Lakukan apa saja, tolong selamatkan Ayah saya!” tangis Emma pecah, jemarinya yang gemetar menyambar pulpen dan membubuhkan tanda tangannya di atas lembar persetujuan. Dokter Setiawan keluar dari pintu steril ruang operasi, mengangguk cepat. “Tim bedah s

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 7

    Bab 7Emma yang tadinya siap marah, langsung berhenti di tempat. Ia memicingkan mata, berusaha melihat jelas wajah pemilik suara itu.Dan detik berikutnya, hidupnya terasa makin kacau. “Kai?” ucap Emma kaget sekaligus melongo. Dari semua manusia di muka bumi, kenapa harus dia?Kai. Salah satu angg

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 6

    Lapangan parkir belakang kampus mulai terasa sepi. Hanya tersisa beberapa kendaraan yang berkilau tertimpa cahaya matahari senja. Aspal menguarkan hawa hangat sisa panas sejak siang.Setengah berlari Emma menuju ke tempat ia memarkirkan sepedanya. Ia harus bergegas pulang, mungkin ia masih sempat m

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 5

    Udara pagi masih segar ketika Emma mengayuh sepedanya pelan menyusuri jalan menuju kampus. Tas ransel tergantung di punggungnya, bergerak naik turun mengikuti irama kayuhan kakinya. Rambutnya yang terikat sederhana ikut bergoyang tertiup angin pagi. Gerbang kampus menjulang tinggi di depannya, sam

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 4

    Malam ini, Emma tidak bisa tidur. Pikirannya tidak bisa tenang sedikit pun. Ayahnya sudah berkali-kali berkata padanya. Tidak masalah dia tidak bisa masuk universitas itu. Jalan masih panjang. Emma masih bisa mengejar mimpi yang lain.Emma juga merasa lega karena ayahnya tidak kecewa. Tapi bukan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status