MasukSatu minggu telah berlalu sejak kepulangan mereka dari Silveridge. Karena semuanya tampak berjalan terlalu normal, malah justru membuat Vera waspada.Dante benar-benar memegang ucapannya. Pria itu memberi Vera ruang napas lebih luas, tidak lagi mengurungnya seperti tawanan di bawah pengawasan ketat.Sore itu, Vera pulang dari kantor dengan bahu yang terasa kaku. Dante sedang berada di luar kota untuk urusan bisnis selama dua hari, dan Vera berharap bisa menikmati keheningan apartemen The Apex sendirian.Namun, saat ia melangkah masuk ke ruang tengah, aroma sabun mandi yang feminin dan segar menyapa indera penciumannya. Tapi bukan aroma sabun yang biasa ia pakai.Vera mengerutkan kening. Ia berjalan perlahan menuju area kamar tamu, dan langkahnya terhenti seketika.Pintu kamar tamu terbuka. Lyra keluar dari sana, mengenakan jubah mandi putih tebal milik The Apex. Rambutnya basah, dibalut handuk kecil, dan wajahnya tampak segar.“Vera? Oh, kau sudah pulang!” Lyra menyapa dengan nada ria
Lyra mendongak. Ada gurat lega yang sangat nyata di wajahnya, meski memar di pipinya masih tampak jelas. Padahal itu kartu nama “Kau tahu, Vera? Semalam saat aku melihat si bajingan Nico Rourke tergeletak tidak bernyawa di lantai klub dengan bersimbah darah ... aku merasa seperti baru saja bangun dari mimpi buruk selama setahun.”Vera terdiam. Ia ingat betapa licinnya Nico Rourke selama ini. “Nico memang sudah mati, Lyra. Tapi kau tahu dia tidak bekerja sendirian. Masih ada bosnya, masih ada orang-orang di atasnya yang mungkin tidak suka kalau anjing penjaga mereka dibunuh begitu saja.”Lyra mengangguk, namun anehnya, ia tidak ketakutan seperti biasanya. Justru ia mengetukkan kartu nama pemberian Dante ke meja. “Aku tahu. Makanya aku merasa lega karena kartu ini. Nico mungkin cuma pion, tapi pria yang tidur di kamarmu semalam itu ... dia adalah raja yang bisa meratakan seluruh papan catur kalau dia mau.”Vera menyandarkan punggungnya, menatap Lyra dengan tatapan yang sulit dipahami b
Itu suara Lyra. Belum sempat Bastian berdiri, pintu depan sudah terbuka.Lyra melangkah masuk ke ruang makan dengan napas tersengal dan wajah yang masih menyisakan memar kecil dari keributan semalam.“Kau gila, ya?!” Lyra langsung menghampiri Vera, mengabaikan Bastian dan Evander, bahkan seolah tidak sadar ada sosok berbahaya seperti Dante di sana. “Kenapa kau pergi begitu saja semalam? Aku mencarimu ke seluruh klub! Kau tahu betapa takutnya aku saat melihat Nico tergeletak seperti itu dan kau menghilang?”Vera berdiri, mencoba menenangkan temannya. “Lyra, pelankan suaramu. Aku baik-baik saja.”“Baik-baik saja kepalamu! Kau hampir mati karena ulah brengsek itu!” Lyra memaki, tangannya bergerak aktif saat mengomel. “Lain kali kalau kau mau jadi pahlawan, setidaknya bawa senjata. Dan jangan matikan ponselmu!”Vera hanya bisa menghela napas, menerima omelan itu tanpa membantah. Memang salahnya yang datang ke Velvet Abyss tanpa persiapan, malah menerima tawaran menjebak dari Nico dengan
“Ya, teruskan, Vera. Lagi,” bisik Dante. Menjilati pipi Vera dan membiarkan wanita itu bertindak semaunya.Kuku-kuku Vera dengan segera mencakar dada Dante hingga menimbulkan garis darah yang samar-samar.Dan ia terus menggigit bahu pria itu setiap kali guncangan di dalam dirinya terasa semakin hebat. “Ooh, sial! Sialan kau, Dante!”Dante masih saja diam menikmati, membiarkan Vera dan otak yang kacau karena pengaruh obat.Akhirnya, Vera baru berhenti saat tubuhnya benar-benar kaku karena orgasme yang berkepanjangan. Seketika jatuh pingsan di pelukan Dante dengan sisa-sisa gairah yang masih berdenyut di sekujur tubuhnya.***Kepala Vera berdenyut hebat keesokan paginya. Ia mengerang, mencoba menggerakkan tubuhnya yang terasa remuk dan pegal di bagian-bagian sensitif.Ia merasakan beban berat di pinggangnya. Sebuah lengan berotot yang penuh dengan bekas luka kecil melingkar di sana. Lengan yang sangat ia hafal milik siapa. Vera membeku. Perlahan menoleh ke samping.Dante Obsidian sedan
“Vera? Kau kenapa?” Nada tanya suara Lyra terdengar panik. Vera berhenti berjalan. Napasnya mulai tidak teratur. “Lyra …” Ia menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. “Bawa aku … ke mobilku ...” Lyra menatap Vera tajam. “Aku sudah bilang jangan minum itu, bodoh. Kau pikir pria seperti Rourke akan main adil?” Vera mencoba menjawab, tapi kakinya tiba-tiba goyah. “Vera—hei, Vera!” Tubuh Vera langsung ambruk. Lyra refleks menangkap bahu Vera, tapi seseorang lebih cepat. Sebuah tangan kasar melingkar di pinggang Vera dan menarik wanita itu menjauh dari Lyra. “Temanmu biar diurus anak buahku,” bisik Nico di telinga Vera. “Kau ikut aku, Vera Nyx.” Lyra langsung maju, meraih lengan Vera. “Lepaskan dia, Rourke.” Matanya terbelalak dengan rahang mengetat. “Urusanmu denganku, jangan libatkan Vera!” Nico hanya tersenyum tipis. “Sudah terlambat, Lyra. Dia duluan yang ikut campur.” “Selesaikan dulu urusan kita, Nico,” cegat Lyra, matanya mulai gelisah menatap Vera yang tubuhnya sudah
Vera menutup pintu kamar ibunya rapat-rapat, seolah-olah kayu tua itu bisa menahan kebisingan dari luar—terutama suara Bastian dan Evander yang masih terdengar samar di lantai bawah. Ia duduk di tepi tempat tidur. Aroma kamarnya masih sama. Campuran bedak lili yang lembut dan bau buku tua. Semuanya tampak tidak tersentuh. Seprai yang sudah pudar warnanya tetap tertata rapi, persis seperti saat Vera terakhir kali meninggalkan rumah ini. Vera merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar yang remang-remang. Bayangan ibunya seolah muncul di kursi dekat jendela, tempat ibunya dulu sering duduk sambil menyisir rambut Vera setiap pagi. Kenangan-kenangan kecil seperti suara tawa ibunya yang lembut dan jemari hangat yang mengusap dahinya, membuat dada Vera terasa sesak. Di sini, ia merasa menjadi Vera yang dulu, sebelum memutuskan melanjutkan hidup di Arcadia City. Sampai pada hubungan yang ia kira aman bersama Dante—cuma sebagai teman malam, lalu berakhir tertawan pada pria bajingan i







