LOGINVera meracau di sela jeritan pasrahnya yang tak lagi tertahan oleh rasa apa pun, apalagi malu.Lapisan keringat baru kembali bercucuran, membasahi lehernya yang mendongak kaku. Walau kulit punggungnya terasa semakin perih, Vera justru semakin gila menuntut gerakan yang lebih brutal.Dante menggeram berat, merasakan jepitan di dalam diri Vera yang semakin panas dan berdenyut kencang seiring dengan gairah wanita itu yang berada di puncak.Menuruti permintaan liar Vera, Dante mencengkeram paha bagian dalam Vera semakin erat hingga memerah, memantapkan posisinya, lalu menaikkan tempo hantamannya menjadi jauh lebih cepat dan bertenaga, memompa habis-habisan di dalam diri Vera.Di bawah selimut yang menyembunyikan mereka, mereka bergerak dengan tempo yang penuh semangat, vulgar, dan menguras sisa stamina.Kamar itu dipenuhi oleh jeritan kepuasan Vera yang bersahutan dengan erangan rendah Dante. Setiap dorongan dalam posisi baru itu membawa Vera selangkah lebih dekat ke ujung pelepasan, hi
Vera mendesah keras, matanya membelalak kuat saat rasa padat dan panas itu meroket memenuhi rongga dirinya hingga ke rahim. Punggungnya refleks melengkung dari atas kasur, pantatnya terangkat menuntut remasan tangan Dante. “Oh!” Ia segera memalingkan wajahnya ke samping, menggigit bibir bawah demi menahan suara pasrah yang lebih mendesah lirih yang dapat lolos begitu saja, sementara ekspresinya memperlihatkan gairah yang tersiksa karena nikmat yang terlalu kuat. Jangan dulu terlalu banyak mengerang dan mendesah! Ini baru dimulai! Lalu Dante mulai bergerak dengan irama yang stabil, menarik keluar kejantanan hampir seluruhnya sebelum menghantamkannya kembali ke titik terdalam Vera dengan sensasi yang memabukkan. Setiap sentuhannya terasa begitu nyata, panas, dan mengeluarkan suara basah beradunya kulit mereka yang sensual. Dante membungkuk, menyatukan kening mereka. “Katakan padaku, Vera. Siapa satu-satunya pria yang berhak merobek pertahananmu seperti ini?” Vera memejamkan mat
Vera bertanya dengan suara yang rendah, nyaris berbisik namun bergetar oleh amarah yang tertahan di dada.Dan ia tidak menunggu jawaban. Langsung melanjutkan. “Aku sudah kehilangan segalanya. Termasuk orang yang sempat kuanggap sebagai sahabat.”Vera melirik Lyra yang salah tingkah karena ucapannya.Dengan tenang, Dante meletakkan alat makannya perlahan, menyeka sudut bibirnya dengan serbet, lalu mendongak menatap Vera.“Anggaplah begitu,” ucap Dante datar. Ia melirik Lyra sekilas. “Tapi dia ke sini untuk menyesali yang telah ia lakukan padamu. Bermaksud mengembalikan semua bantuanku agar hubungan kalian dapat kembali seperti sebelumnya.”Vera mengerjapkan mata. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya.“Dia tidak ingin berada di bawah perlindunganku lagi. Kau tahu artinya, bukan?” Dante tersenyum tipis, menempatkan tatapan dalam dan tajam pada sang tawanan.Vera menelan kengerian dalam hatinya. Membayangkan Lyra kembali berada dalam bahaya— karena pimpinan Nico tidak mungkin melepask
Sopir Dante membawa Lyra ke Villa del Velo. Tempat itu masih dihuni oleh Kaelan. Dengan atau tidak perintah dari sang ayah, ia tetap memutuskan untuk menetap di sini.Bahkan ia tahu siapa perempuan yang kini berdiri bingung di teras.“Ma-maaf ...” Lyra bergumam lirih, namun matanya tampak bergerak liar menilai Kaelan dengan cepat. “Aku—”“Kau temannya Vera, dan Dante memintamu untuk menginap di sini karena diusir Vera dari The Apex. Benar begitu?”Kehalusan, namun ketepatan ucapan Kaelan membuat Lyra menelan ludah. Ada ketegangan yang hadir perlahan, ketika pria di hadapannya itu mulai bicara.Sama seperti Dante, Kaelan pun memiliki daya pikat yang mengintimidasi. Namun dengan cara yang sangat berbeda.“Ya,” angguk Lyra akhirnya. Matanya tidak sedikit pun lepas dari Kaelan.Tatapan lembut yang tajam, senyum tipis yang bermakna samar, dan ucapan yang tenang itu seakan menghipnotis Lyra dengan cepat.“Selamat datang kalau begitu, Nona …” Kaelan menggantung ucapannya, tersenyum sedikit l
Satu minggu telah berlalu sejak kepulangan mereka dari Silveridge. Karena semuanya tampak berjalan terlalu normal, malah justru membuat Vera waspada.Dante benar-benar memegang ucapannya. Pria itu memberi Vera ruang napas lebih luas, tidak lagi mengurungnya seperti tawanan di bawah pengawasan ketat.Sore itu, Vera pulang dari kantor dengan bahu yang terasa kaku. Dante sedang berada di luar kota untuk urusan bisnis selama dua hari, dan Vera berharap bisa menikmati keheningan apartemen The Apex sendirian.Namun, saat ia melangkah masuk ke ruang tengah, aroma sabun mandi yang feminin dan segar menyapa indera penciumannya. Tapi bukan aroma sabun yang biasa ia pakai.Vera mengerutkan kening. Ia berjalan perlahan menuju area kamar tamu, dan langkahnya terhenti seketika.Pintu kamar tamu terbuka. Lyra keluar dari sana, mengenakan jubah mandi putih tebal milik The Apex. Rambutnya basah, dibalut handuk kecil, dan wajahnya tampak segar.“Vera? Oh, kau sudah pulang!” Lyra menyapa dengan nada ria
Lyra mendongak. Ada gurat lega yang sangat nyata di wajahnya, meski memar di pipinya masih tampak jelas. Padahal itu kartu nama “Kau tahu, Vera? Semalam saat aku melihat si bajingan Nico Rourke tergeletak tidak bernyawa di lantai klub dengan bersimbah darah ... aku merasa seperti baru saja bangun dari mimpi buruk selama setahun.”Vera terdiam. Ia ingat betapa licinnya Nico Rourke selama ini. “Nico memang sudah mati, Lyra. Tapi kau tahu dia tidak bekerja sendirian. Masih ada bosnya, masih ada orang-orang di atasnya yang mungkin tidak suka kalau anjing penjaga mereka dibunuh begitu saja.”Lyra mengangguk, namun anehnya, ia tidak ketakutan seperti biasanya. Justru ia mengetukkan kartu nama pemberian Dante ke meja. “Aku tahu. Makanya aku merasa lega karena kartu ini. Nico mungkin cuma pion, tapi pria yang tidur di kamarmu semalam itu ... dia adalah raja yang bisa meratakan seluruh papan catur kalau dia mau.”Vera menyandarkan punggungnya, menatap Lyra dengan tatapan yang sulit dipahami b







