LOGINWilliam sudah menunggunya di ujung tangga. Pria itu kembali mengenakan setelan jas tiga lapis yang sempurna. Tak ada jejak kerentanan dari malam sebelumnya. Wajahnya kembali dingin, otoriter, dan tak tersentuh.“Kau tepat waktu,” ujar William singkat. Ia mengulurkan tangannya, sebuah isyarat yang tidak memberikan pilihan bagi Sasha selain menyambutnya.Sasha meletakkan tangannya di atas telapak tangan William. Pria itu langsung menggenggamnya erat, seolah takut jika ia melonggarkan pegangannya satu inci saja, Sasha akan menguap menjadi asap.“Mari kita berangkat. Mobil sudah menunggu,” lanjut William.“Arlan?”“Dia sudah berangkat sejak tadi.”“Kok nggak nunggu?” tanya Sasha sedikit kesal tidak bertemu Arlan pagi ini.“Nanti kamu juga ketemu, ayo! Sudah siang!”Sasha mendengus, sebenarnya dia tak suka diperlakukan seperti ini. Perjalanan menuju kantor berlangsung dalam keheningan yang menyesakkan. Sasha menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung Jakarta yang menjulang tinggi, menya
melonggar, namun ia tidak menjauh. Matanya yang tajam menelusuri wajah Sasha yang kini basah oleh air mata, mencari celah kebohongan di sana, namun yang ia temukan hanyalah kelelahan yang teramat dalam.William bangkit berdiri sepenuhnya. Tubuhnya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan besar yang menelan sosok Sasha. Ia melangkah satu langkah maju, membuat Sasha mundur hingga punggungnya membentur tiang ranjang."Kau pikir aku melakukan ini karena benci?" William berbisik, kali ini suaranya terdengar sangat tenang, ketenangan yang justru lebih menakutkan daripada kemarahannya. "Jika aku membencimu, Sasha, kau tidak akan berada di kamar ini. Kau akan berada di tempat yang jauh lebih gelap."Ia mengulurkan tangan, menghapus air mata di pipi Sasha dengan ibu jarinya. Gerakannya lembut, namun matanya tetap dingin."Kebaikanmu... caramu merawat nenekmu, caramu melahirkan Arlan sendirian... itulah yang membuatku tidak bisa melepaskanmu. Kau adalah satu-satunya hal murni yang pernah meny
William langsung menoleh pada Arlan, wajahnya berubah seketika menjadi sosok ayah yang hangat. "Arlan, sayang, selesaikan makanmu di kamar bersama Bi Mirah ya? Papa dan Mama ada urusan orang dewasa yang harus dibicarakan sebentar." Arlan memandang Sasha ragu. Sasha hanya bisa mengangguk lemah, memberi isyarat bahwa semuanya baik-baik saja. Setelah Mirah membawa Arlan pergi, suasana di ruang makan langsung berubah menjadi dingin dan mencekam. William bangkit dari duduknya, berjalan perlahan mengitari meja hingga ia berdiri tepat di belakang kursi Sasha. Ia membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sandaran kursi, mengurung Sasha. "Dunia luar itu berbahaya, Sasha. Kamu sudah merasakannya sendiri sebulan lalu, bukan? Saat kamu mencoba kabur dan hampir mencelakai dirimu sendiri... dan Arlan," bisik William tepat di telinga Sasha. "Di sekitar kita adalah tempat di mana orang bisa menghilang. Dan aku tidak akan membiarkanmu menghilang lagi. Tidak akan pernah." Sasha memejamkan mata rapa
“Papa, mama ke mana?” tanya Arlan.William tersenyum, lalu mengusap kepala sang anak.“Nanti nyusul. Arlan makan dulu.”“Tapi aku mau sama mama, mama sibuk terus,” protes Arlan yang semakin hari semakin dekat dengan William.William mengusap wajahnya pelan, memberi kode pada Mirah untuk melihat keadaan Sasha di kamar. Akhir akhir ini dia memang lebih suka mendiamkan Sasha. Bukan karena dia sangat membenci Sasha, tapi dia tahu Sasha sedang dia disiplinkan jadwalnya. Mirah mengangguk patuh, segera melangkah menaiki tangga kayu ek yang megah itu dengan langkah tanpa suara. Sementara itu, William kembali memusatkan perhatiannya pada Arlan. Ia menarik kursi di sebelah putranya, membantu memotongkan daging steak yang masih mengepul."Mama sedang belajar untuk menjadi lebih baik, Arlan. Sama seperti Arlan yang belajar membaca, Mama juga sedang belajar untuk selalu ada di samping kita tanpa harus merasa sedih lagi," ujar William dengan nada yang begitu tenang, begitu meyakinkan.Arlan menata
William tidak menjawab. Ia justru menarik Sasha masuk ke dalam dekapannya, sebuah pelukan yang terasa seperti belenggu. "Aku tidak menyembunyikannya, Sasha. Aku hanya menjauhkannya agar kamu tidak punya distraksi untuk melarikan diri dariku lagi. Kamu hanya butuh aku. Hanya aku."Sasha merasa mual. Pria di depannya ini benar-benar gila. Dua sisi yang ia lihat pagi tadi bukanlah sebuah perbedaan karakter, melainkan sebuah strategi manipulasi yang sangat rapi. William menggunakan kasih sayangnya pada Arlan sebagai umpan, dan menggunakan keselamatannya serta orang-orang yang ia cintai sebagai ancaman.Sore itu, Sasha hanya bisa mengurung diri di kamar setelah makan siang yang terasa seperti menelan duri. Ia menatap ke luar jendela, melihat William yang sedang bermain bola dengan Arlan di taman bawah. Dari kejauhan, William terlihat seperti malaikat pelindung bagi anak itu. Namun Sasha tahu, di balik tawa renyah itu, ada iblis yang siap mencabik-cabik siapapun yang mencoba merusak kesemp
Materi kuliah pagi itu terasa seperti dengungan lebah di telinga Sasha. Meski matanya menatap tajam ke arah slide presentasi yang ditampilkan Nina, pikirannya justru terbang jauh ke gedung perkantoran megah milik William. Ia membayangkan pria itu duduk di kursi kebesarannya, mungkin sedang menatap layar monitor dengan tatapan dingin yang sama saat ia menatap Sasha tadi malam."Interaksi sosial yang sehat membutuhkan transparansi," suara Nina memecah lamunan Sasha. "Tanpa kejujuran, relasi hanya akan menjadi panggung sandiwara di mana salah satu pihak akan merasa tercekik oleh ekspektasi pihak lain."Sasha mencatat kalimat itu dengan penekanan ekstra. Itulah kata yang paling tepat menggambarkan posisinya saat ini. Ia merasa seperti burung dalam sangkar emas; diberi makan terbaik, disayangi dengan cara yang posesif, namun pintu sangkarnya terkunci rapat dan kuncinya disembunyikan di balik jas mahal William. Sama seperti dulu dan sialnya dia kembali.Setelah kelas berakhir, Sasha bergeg
“Pak Heri, boleh saya bicara sebentar?”Sasha menghampiri sang pemilik usaha saat rekan-rekan lain sedang sibuk bercerita riang tentang hidangan rendang pari yang semalam mereka nikmati. Pak Heri sedang membersihkan bibirnya dengan serbet kain, wajahnya masih merona karena keceriaan tadi malam. Ia
Suasana di gudang logistik benar-benar berubah menjadi panggung pemujaan bagi Adrian. Restoran yang dipilih bukan sekadar tempat makan biasa. itu adalah sebuah rumah makan bernuansa Jawa modern yang hangat, dengan alunan instrumen kecapi yang menenangkan. Sasha datang dengan langkah berat, mengenak
Suasana di gudang logistik tempat Sasha bekerja terasa berbeda. Tidak ada lagi mobil mewah yang terparkir mencolok di depan pintu masuk. Tidak ada lagi pesan singkat yang menanyakan tekanan darah. Namun, setiap jam makan siang, sebuah kotak bekel higienis dengan menu seimbang, karbohidrat kompleks,
Sasha menarik tangannya dengan sentakan kasar, seolah sentuhan Adrian adalah api yang membakar kulitnya. Ia mematung, menatap jemari Adrian yang masih berada di dekat gesper sabuk pengamannya dengan tatapan penuh kewaspadaan. Suasana di dalam kabin mobil yang tadinya terasa hangat dan protektif, se







