共有

bab 246

作者: Azzura Rei
last update 公開日: 2026-05-26 23:56:04

Genggaman tangan William yang semula formal mendadak berubah. Sentakan pelan namun bertenaga dari pria itu membuat tubuh Sasha terdorong maju, menabrak dada bidang William yang keras. Aroma wiski bercampur parfum maskulin yang pekat langsung mengurung indra penciuman Sasha, mengirimkan sinyal bahaya sekaligus gairah yang asing ke seluruh saraf tubuhnya.

“Dan aku ingin bayarannya sekarang,” bisik William, suaranya rendah dan serak, bergetar tepat di ceruk leher Sasha. Hembusan napasnya yang hang
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 283

    William membiarkan tangannya diam di tempatnya, tidak mencoba mengejar atau memaksakan sentuhan yang baru saja ditolak Sasha. Penolakan itu dingin, senyap, namun getarannya terasa begitu kuat di atas kasur yang sama.Di antara mereka berdua, Arlan mendengkur halus. Tangan kecil bocah itu memegang ujung kaus William, sementara kakinya menempel pada paha Sasha. Anak itu menjadi satu-satunya jembatan hidup di atas jurang pemisah yang sengaja mereka bangun malam ini.William menoleh ke samping, menatap ubun-ubun Arlan, lalu beralih pada siluet punggung Sasha yang masih melengkung kaku. Sisi keras kepala William bergolak lagi. Ada bagian dari dirinya yang ingin bangkit, kembali ke ruang kerja, dan menenggelamkan diri dalam baris-baris kode Aegis sampai pagi. Mengapa dia harus bertahan di ranjang ini jika kehadirannya hanya dianggap sebagai gangguan? Dia tidak terbiasa diabaikan seperti ini. Di kampus, kata-katanya didengar. Di dunia digital, perintahnya mutlak.Namun, setiap kali egonya me

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 282

    Malam kian merambat larut, melampaui pelataran sunyi dan menyisakan deru kipas laptop yang berputar konstan di atas meja kerja William. Baris-baris kode hijau dan putih terus bergulir di layar, merefleksikan perang tak kasat mata yang sedang ia bangun dari balik dinding rumahnya sendiri. Setiap ketukan taktis jemarinya di atas papan ketik adalah bentuk perlawanan, penolakan mutlak untuk merunduk pada takdir yang coba didekte oleh ayahnya.Bagi William, melunakkan sikap malam ini terasa seperti sebuah kekalahan total. Jika ia menyerah pada rasa bersalahnya kepada Sasha sekarang, ia merasa bagian dari benteng pertahanannya akan runtuh, menyisakan celah yang bisa dimanfaatkan Aditama untuk mengobrak-abrik privasi yang selama sepuluh tahun ini ia bangun dengan susah payah.Sifat keras kepalanya menuntut satu hal: ia harus kuat, mandiri, dan tak tertembus, bahkan jika itu berarti harus mengorbankan kehangatan di ranjang utamanya untuk sementara waktu.Saat jam digital di sudut layar menun

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 281

    "Sasha, dengar dulu..." William mencoba melangkah maju, tangannya terulur refleks untuk menenangkan. Namun, melihat sorot mata Sasha yang mengeras, ia menahan diri. Jarak dua langkah di antara mereka terasa seperti jurang yang menganga lebar. William menurunkan tangannya, membiarkan helaan napas berat lolos dari bibirnya. Ia memilih tidak membela diri lebih jauh, sadar bahwa setiap kalimat pembenaran hanya akan menyiram bensin ke dalam api amarah istrinya.Sasha tidak berniat memberikan panggung bagi William untuk bersilat lidah. Menghadapi sikap diam William, kemarahannya justru terasa semakin solid, membeku menjadi dinding es yang tebal."Aku tidak butuh penjelasanmu, William. Simpan saja semua teori dan logikamu untuk kelas kuliahmu besok pagi," lanjut Sasha, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang nyaris pecah menjadi tangisan, namun ia menolak terlihat lemah. "Malam ini, kamu sukses membuktikan satu hal. Kamu benci Aditama, tapi kamu memperlakukan orang yang mencintaimu deng

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 280

    "Jadi diam dan jangan banyak berkomentar!"Kalimat itu menggantung berat di udara kabin mobil, dingin dan tajam. Detik itu juga, napas Sasha tertahan. Kata-kata William barusan bukan lagi sekadar bentuk pertahanan diri dari trauma masa lalunya itu adalah batasan mutlak yang sengaja ditarik William untuk membungkamnya.Sasha menatap suaminya yang masih menatap lurus ke depan dengan rahang mengeras. Rasa terkejut akibat rem mendadak tadi kini bergeser menjadi rasa perih yang menjalar di dadanya. Bukan karena dia takut pada amarah William, melainkan karena untuk pertama kalinya, William menggunakan nada otoriter yang sangat familier. Nadanya persis seperti Aditama saat memotong pembicaraan orang lain di meja makan tadi.Sasha melepaskan sabuk pengamannya dengan gerakan pelan yang sengaja dibuat dingin. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela samping, menatap lampu-lampu jalanan kota yang berkelebat kabur di balik kaca yang mulai berembun."Baik," ucap Sasha, suaranya mendadak datar, kehi

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 279

    Kirana tampak tersentuh, matanya kembali berkaca-kaca mendapat kelonggaran yang tidak pernah ia duga sebelumnya dari sang ayah. "Papa... makasih."William yang menyaksikan itu hanya bisa menahan tawa sinis di dalam hati. Sungguh pikir William tak sampai jika hanya ingin membuat Kirana terharu. Aditama sengaja melonggarkan cengkeramannya pada Kirana malam ini hanya untuk membangun reputasi baru sebagai 'Papa yang pengertian' di hadapan mereka, sekaligus membuat posisi William yang tetap menjaga jarak terlihat semakin tidak rasional.William melirik jam tangan kronograf di pergelangan tangannya. Jarum panjang baru saja menyentuh angka dua belas, menandakan tepat satu jam telah berlalu sejak mereka berpindah ke ruang tengah. Jam sembilan malam."Waktu kita sudah habis," ujar William tegas sambil berdiri dari posisinya.Ia dengan cekatan namun lembut mengangkat tubuh Arlan yang sudah terlelap ke dalam dekapannya. Kepala balita itu terkulai nyaman di pundak William. Sasha pun ikut bangki

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 278

    Bisikan Sasha mendarat lembut di telinga William, membawa riak batin baru di tengah kepalanya yang hampir mendidih. William menoleh sedikit, menatap sepasang mata istrinya. Ia tahu Sasha tidak sedang tunduk pada manipulasi Aditama; Sasha hanya sedang menggunakan logika dinginnya. Menghadapi singa tua yang sedang berakting menjadi korban dengan cara menyerang balik secara frontal hanya akan membuat mereka terlihat sebagai monster di mata Kirana.William memejamkan mata sesaat, mengatur napasnya yang sempat memburu. Bahunya yang semula tegang perlahan melonggar.“Kamu gak tahu siapa dia.”“Setidaknya dia orang yang sudah tua. Kita bisa menganggap beliau orang lain jika kamu keberatan.”"Satu jam," ucap William akhirnya, suaranya datar tanpa emosi, namun cukup keras untuk memutus isak tangis Kirana.Aditama yang mendengar itu diam-diam menarik sudut bibirnya tipissangat tipis hingga nyaris tak terlihat!.Sebelum kembali memasang topeng wajahnya yang layu dan penuh syukur. "Terima kasih,

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 104

    "Oh Tuhan,” gumam Sasha frustrasi, meremas kertas tagihan itu hingga kusut. Jemarinya bergetar. William benar-benar tidak main-main. Ia telah mencabut semua bantuan. Bagaimana aku akan membayar ini? pikirnya, matanya menatap nenek yang terlelap pulas. Aku harus menemukan pekerjaan. Sekarang.Pagi b

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 100

    Sasha merasakan seluruh persendiannya melemas. Nama yang tertera di layar ponsel William bukan sekadar gertakan; itu adalah nomor telepon rumah tempat neneknya dirawat. Jari William melayang di atas tombol panggil, seolah-olah ia sedang memegang detonator yang siap menghancurkan satu-satunya dunia

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 99

    Sasha menatap pintu apartemen. Detik ini atau tidak sama sekali. Udara malam yang sepi terasa berat, membebani paru-parunya. Sebuah bisikan dari dalam dirinya, yang sudah lama terbungkam, kini berteriak: Pergi. Sekarang.Ia berbalik perlahan, langkahnya seperti bulu di atas marmer dingin. William t

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 98

    Sasha menelan ludah, merasakan dinginnya ancaman di balik sentuhan lembut William. Namun, alih-alih menjauh, ia justru melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka hingga ia bisa merasakan deru napas William yang berat.Ia tahu, satu-satunya cara untuk membungkam kecurigaan William malam ini

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status