共有

bab 80

作者: Azzura Rei
last update 公開日: 2026-02-17 23:19:57

Malam itu berakhir bukan dengan kelelahan yang melegakan, melainkan dengan kehampaan yang tajam. William meninggalkan Sasha di atas tempat tidur bersprai hitam itu tepat ketika semburat fajar pertama menyentuh cakrawala Jakarta. Tanpa kata perpisahan, tanpa kecupan penenang, pria itu hanya mengenakan jubah mandinya dan berlalu ke ruang kerja, kembali menjadi mesin penggerak korporasi yang dingin seolah badai intensitas di dalam kamar tadi hanyalah transaksi bisnis rutin.

Sasha terbangun dengan
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 220

    “Mana mungkin aku seberani itu,” goda Sasha tapi jemari mengusap pipi William dan memicu hasrat terpendam itu keluar.William tertegun sejenak, napasnya tertahan di tenggorokan saat merasakan sentuhan lembut namun tegas dari jemari Sasha. Sentuhan itu tidak terasa seperti perlawanan, melainkan sebuah undangan yang selama ini ia dambakan namun terlalu gengsi untuk diminta. Ia menangkap tangan Sasha, mengecup telapak tangannya lama, lalu menatap istrinya dengan sorot mata yang tak lagi tajam karena kecurigaan, melainkan redup oleh gairah yang mulai membakar."Keberanianmu adalah hal yang paling berbahaya bagiku, Sasha," bisik William, suaranya kini serak dan rendah. Ia menarik Sasha lebih dekat hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka, aroma tubuh Sasha yang menenangkan bercampur dengan udara dingin pegunungan menciptakan kontras yang memabukkan.Sasha hanya tersenyum tipis, membiarkan tubuhnya bersandar sepenuhnya pada dada bidang William."Siapa juga yang menggoda. Aku tidak ingi

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 219

    Sabtu pagi yang dijanjikan tiba dengan langit yang diselimuti kabut tipis, memberikan kesan misterius pada perjalanan mereka menuju sebuah vila pribadi di lereng pegunungan yang jauh dari hiruk-pikuk kota. William tampak lebih rileks, meski kewaspadaannya tidak pernah benar-benar padam. Di kursi belakang, Arlan duduk dengan tenang, jemarinya menggenggam sebuah buku gambar, sesekali menatap keluar jendela dengan tatapan yang jauh melampaui usianya."Lihat itu, Arlan," ujar Sasha lembut, menunjuk ke arah hamparan kebun teh yang menghijau. "Nanti di sana kita bisa jalan-jalan sebentar. Kamu mau menggambar pemandangan?"Arlan mengangguk pelan, memberikan senyum tipis yang jarang terlihat. William yang sedang mengemudi melirik melalui spion tengah, sebuah kilatan kepuasan muncul di matanya melihat pemandangan keluarga kecil yang "harmonis" itu. Baginya, ini adalah kesuksesan; sebuah keteraturan yang berhasil ia paksakan.Setibanya di vila, Sasha menjalankan perannya dengan sempurna. Ia tid

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 218

    "Cinta?" William mengulangi kata itu dengan nada yang seolah mengejek kesucian maknanya. "Cinta itu konsep yang sangat melelahkan, Sasha. Apa yang kita miliki saat ini jauh lebih stabil daripada itu. Ini adalah kepemilikan. Dan di dunia ini, kepemilikan jauh lebih sulit dihancurkan daripada perasaan yang bisa berubah seiring cuaca."Sasha tertawa sumbang, tawa yang penuh dengan kepahitan. "Kamu sakit, Will. Kamu memperlakukan istrimu seperti aset perusahaan. Kamu memanipulasi Arlan, kamu mengasingkan Bu Lastri, dan sekarang kamu berusaha membungkam suaraku dengan paksaan? Kamu pikir ini akan bertahan lama?"William berjalan menuju meja bar kecil di sudut ruangan, menuangkan cairan amber ke dalam gelas kristal. Denting es batu yang beradu dengan kaca terdengar sangat nyaring di ruangan yang sunyi itu."Ini akan bertahan selama aku menginginkannya," jawab William tenang setelah menyesap minumannya. "Besok, supir akan mengantarmu ke galeri. Aku sudah memerintahkan tim keamanan baru untuk

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 217

    Tapi Tuan... Non Sasha sangat menderita. Dia mengira saya dibuang. Tuan tahu sendiri betapa hancurnya hati dia kalau menyangkut orang-orang dari masa lalunya." Bu Lastri menunduk, jemarinya yang keriput saling bertautan.William terdiam. Keheningan di ruangan itu terasa berat, hanya interupsi suara detak jam dinding yang elegan. "Dia perlu belajar bahwa dunia tidak hanya berputar di atas perasaan, Bu. Dia harus cukup kuat untuk berdiri sendiri tanpa bergantung pada nostalgia."William kemudian berbalik, memberi kode pada Hendri untuk menyerahkan sebuah map cokelat kepada Bu Lastri."Apa ini, Tuan?""Sertifikat kepemilikan rumah di kampung halaman Anda. Atas nama Anda, sudah lunas. Ada dana pensiun yang sudah saya siapkan di rekening tersebut," ucap William dingin, seolah sedang membicarakan kontrak bisnis biasa. "Setelah pengobatan ini selesai, Anda punya pilihan. Anda kembali ke rumah saya sebagai 'kepala rumah tangga' dengan tugas yang jauh lebih ringan, atau menikmati masa tua di

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 216

    Suasana sarapan di kediaman William sangat tegang. Arlan duduk di antara kedua orang tuanya, merasakan aura dingin yang memancar dari ayahnya."Ayah, kenapa Uti tidak boleh ikut sarapan bersama kita lagi?" tanya Arlan polos.William tidak mengalihkan pandangan dari tablet di tangannya. Berpikir jika mungkin. Sasha yang meminta Arlan bertanya. “Apa? Tidak semua apa yang diucapkan oleh Allah adalah perintah,” sahut Sasha.William mengusap kepala Arlan . "Dia punya tugas lain di dapur, Arlan. Belajarlah untuk membedakan antara keluarga dan pekerja."Sasha meletakkan garpunya dengan denting yang cukup keras, dia tahu William sedang bersandiwara. "Dia adalah keluarga bagi Arlan, Will. Kamu tidak bisa menghapus itu hanya dengan satu kalimat perintah."William menatap Sasha, matanya dingin dan menusuk. "Keluarga ditentukan oleh darah dan tanggung jawab hukum, Sasha. Sisanya adalah fungsionalitas. Jika kamu terus mendidik Arlan dengan sentimentalitas seperti ini, dia tidak akan bertahan di d

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 215

    "Tak sadarkah selama ini kamu menyakitiku, Will? Aku tahu kamu sudah banyak sekali perubahan. Meski semua itu karena Arlan. Namun, Bu Lastri adalah orang yang berjasa bagiku. Dia merawat Arlan sejak kandungan, berjualan keripik demi bisa mencukupi kebutuhanku.”William bergeming, dia hanya fokus pada keluhan Sasha. Namun, tak ada reaksi apapun tentang keluhan William.William tetap membisu, membiarkan keheningan yang menyesakkan menyelimuti ruang di antara mereka. Sepasang matanya yang tajam tetap terpaku pada Sasha, bukan dengan tatapan penuh simpati, melainkan dengan ketenangan yang dingin, seolah setiap kata yang keluar dari mulut Sasha hanyalah data yang sedang ia proses, bukan jeritan hati.Sasha menyeka air mata yang jatuh di pipinya dengan kasar. "Kamu dengar aku, kan? Bu Lastri bukan sekadar pengasuh bagi Arlan. Dia adalah nyawa di rumah ini saat kamu sibuk dengan duniamu!"Mendengar itu, barulah ada sedikit pergerakan. William menghela napas panjang, sangat perlahan. Ia memp

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 98

    Sasha menelan ludah, merasakan dinginnya ancaman di balik sentuhan lembut William. Namun, alih-alih menjauh, ia justru melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka hingga ia bisa merasakan deru napas William yang berat.Ia tahu, satu-satunya cara untuk membungkam kecurigaan William malam ini

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 96

    William menengok sebelum menutup pintu. "Ohya, Sha. Apa yang aku lakukan padamu adalah bentuk penyelamatan. Termasuk nyawa nenekmu yang kapan saja bisa dipanggil Tuhan. Dan aku, bukan malaikat penolongmu jika kamu berani melakukan pemberontakan."Kata-kata William menusuk, mengoyak sisa-sisa harapa

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 95

    "Sudah baca semua," bisik William, suaranya serak, namun ada nada berbahaya di dalamnya. "Aku ingin tahu, apa yang kau temukan di dalam 'proyek' pribadiku, Sasha?"Sasha menegang, namun ia tidak lagi gemetar. Ketakutan itu lenyap, digantikan oleh bara api yang membakar di dadanya. Ia menatap layar

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 94

    "Kenapa Bapak salah paham? Saya hanya ingin menyiapkan sarapan. Bukan untuk merayu Bapak, tapi ini ucapan terima kasihku, Pak," isaknya lirih, suaranya tercekat. Sasha masuk kembali ke kamar, mengunci pintu dengan derit pelan. Tangisnya yang tertahan kini pecah, deras mengalir membasahi pipi. Ia m

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status