LOGINMeski tidur larut malam, Sofia tetap bangun pagi seperti biasanya.
Betapa terkejutnya Sofia, saat mengetahui tak sampai empat jam setelah tombol submit ditekan, sebuah email masuk. “Nexus Gateway?” Sofia mencoba mengingat-ingat. Nama itu terasa asing namun berkuasa. Sebuah raksasa baru di dunia teknologi finansial yang tiba-tiba membukakan pintu lebar-lebar untuknya dengan tawaran kontrak yang sangat menggiurkan. Sofia tahu ini tidak wajar. Tapi, rasa putus asa untuk lepas dari cengkeraman Wira dan Justin jauh lebih besar daripada rasa curiganya. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, kini Sofia sudah berdiri di depan Gedung Nexus Gateway. Sofia melangkah masuk, memaksakan kepalanya tegak meski bekas tamparan semalam masih menyisakan rona tipis yang ia tutupi dengan concealer tebal. Di lantai teratas, Gerry, asisten pribadi Riga, menempelkan ponsel ke telinganya dengan wajah cemas. Panggilan itu langsung diangkat pada nada kedua. “Bos, target sudah di lobi. Dia sedang menuju ruang wawancara dengan Dewan Direksi,” lapor Denis cepat. Di apartemennya, Riga tersentak bangun. Ia baru saja terlelap dua jam setelah semalaman menyelesaikan pekerjaannya. Ia tidak menyangka Sofia akan datang secepat ini. “Tahan dia setelah wawancara. Jangan biarkan dia keluar gedung!” perintah Riga yang langsung bangkit dan lari menuju ke kamar mandi. Karena terburu-buru, Riga menyambar kemeja putih yang sedikit kusut dari kursi. Sambil mengancingkan baju, kilas balik masa lalu menghantam ingatannya. Kata-kata terakhir Sofia beberapa tahun lalu sebelum mereka berpisah dengan penuh kebencian. “Laki-laki yang tak setia seperti dirimu bisa saja tertular penyakit seksual menjijikan, Riga. Jadi… jangan berani-berani menyentuhku lagi dengan tangan kotormu itu!” Luka itu masih terasa, tapi Riga justru tersenyum mengingatnya. Ia menyambar sebuah map cokelat dari laci mejanya, lalu memasukkannya ke dalam tas dengan terburu-buru. *** Wawancara berjalan lancar. Direksi Nexus Gateway terpesona dengan visi strategi Sofia untuk ekspansi perusahaan, seolah mereka memang sudah diperintahkan untuk setuju pada apa pun yang keluar dari mulutnya. Sofia keluar dari ruang wawancara dengan napas lega, ia merasa secercah harapan. Tapi semua itu tidak berlangsung lama, saat di area parkir melihat Riga melangkah mendekatinya. Sofia mengabaikannya dan terus menuju ke mobilnya, tapi Riga bukan pria yang mudah diabaikan. Dengan langkah lebar, ia berhasil menyalip Sofia dan berdiri tepat di depan pintu mobil wanita itu. “Sofia, kita harus bicara.” Bukan sebuah ajakan tapi tuntutan. “Tidak ada yang perlu dibicarakan, Riga.” Sofia terlihat tidak nyaman. Setelah beberapa kali pertemuan tak terduga, Sofia semakin yakin Riga benar-benar membuntutinya. “Lima menit, Sofia. Di kafe seberang,” Riga menahan pintu mobil Sofia dengan telapak tangannya, badannya condong ke depan, mengunci pergerakan Sofia. “Kau baru saja mendapat kontrak kerja yang sangat prestisius, jangan sampai keributan kita di sini menghancurkan reputasi dan masa depanmu.” Ancaman yang efektif, pekerjaan yang baru di dapat Sofia adalah ancang-ancang untuk meninggalkan keluarga Aditama dan Justin. Akhirnya, Sofia menyerah. Bukan karena ia luluh, tapi karena ia butuh ruang tertutup untuk mengakhiri kegilaan ini. Dengan rahang mengeras dan napas memburu karena marah, Sofia akhirnya mengalah. “Lima menit. Tidak lebih.” Kini Riga dan Sofia berada di sebuah kafe privat yang tak jauh dari Nexus Gateway. “Katakan apa yang ingin kau katakan, Riga. Setelah ini, jangan pernah muncul lagi di hadapanku,” ucap Sofia dingin, tangannya bersedekap, menciptakan benteng pertahanan di depan dadanya. Riga tidak langsung menjawab. Ia justru meletakkan sebuah map cokelat yang tadi dibawanya dari apartemen ke atas meja. Ia menggesernya perlahan ke arah Sofia. “Buka,” perintah Riga pendek. Sofia mengerutkan dahi, namun rasa penasaran mengalahkannya. Ia membuka map tersebut dan matanya membelalak. Itu bukan kontrak kerja, bukan pula dokumen bisnis. Itu adalah hasil Medical Check-up menyeluruh yang dilakukan Riga di sebuah rumah sakit ternama di Singapura. Hasilnya sempurna. Semuanya negatif. Terutama pada bagian panel penyakit menular seksual yang dulu pernah menjadi bahan hinaan Sofia. “Aku tidak membawa penyakit apa pun, aku bersih.” Sofia tertegun. Ia memandangi deretan angka dan hasil laboratorium yang menyatakan betapa sehatnya kondisi fisik pria di depannya. Riga memberanikan diri meraih tangan Sofia. “Seperti janjiku dulu, jika aku bisa membuktikan diriku bersih, dan aku sudah menjadi laki-laki yang pantas untuk mendampingi seorang Sofia Ambarita Aditama, aku akan datang melamarmu.” Suasana hening. Sofia terdiam kala teringat peristiwa lama itu. Sedangkan Riga, memutar otak menyusun kalimat romantis Sial. Gugup membuat otak Riga seolah tidak berfungsi, hanya kalimat singkat yang keluar dari mulutnya. “Aku melamarmu untuk menjadi istriku.” Bukannya merasa lega atau terharu atas pembuktian dan lamaran dari Riga yang tiba-tiba, tangan Sofia justru bergetar. Tanpa sadar, jemarinya bergerak menyentuh permukaan perutnya di balik pakaian. Sofia tertawa getir yang terdengar seperti rintihan. Riga menawarkan tubuh yang prima, sementara dia memiliki tubuh yang cacat.Sofia meletakkan selembar catatan berisi poin-poin perjanjian di hadapan Bara. Pengacara muda itu menghentikan gerakan penanya. Matanya menyipit, membaca baris demi baris dengan dahi berkerut.“Tolong buatkan draft perjanjian untuk memastikan tidak ada celah bagi pria itu untuk menuntut lebih.” Meski terdengar tenang, tapi ada getar lelah yang tidak bisa Sofia sembunyikan.Bara mendongak, menatap sahabat sekaligus klien setianya itu dengan tatapan tak percaya. “Sofia, apa ini? Pernikahan kontrak? Dua tahun?”“Ya.”“Riga Argantara?” Suara Bara meninggi. Terkejut, tapi sadar mengapa Sofia tidak mau menyebut nama pria itu. “Kau yakin?”Sofia hanya mengangguk.“Aku tahu, ditinggalkan saat menjelang akad pasti sangat menyakitkan dan memalukan. Tapi apa harus bertindak sejauh ini? Apa yang membuatmu tidak bisa memaafkan Justin, bukankah dia sudah minta maaf dan akan segera menikahimu setelah Selena sembuh.”Sofia membuka mulutnya lalu tertutup lagi, seolah bingung untuk bercerita.“Masalahn
“Simpan saja kertas itu,” ucap Sofia dengan tegas dan sikap yang dingin seperti biasanya. Ia tidak ingin lagi terlihat rapuh. “Mungkin kau sehat secara fisik, tapi itu tidak menghapus fakta bahwa kau pernah mengkhianatiku.”Sofia bangkit, menyampirkan tas di bahunya, siap untuk mengakhiri drama ini selamanya. Namun, suara bariton Riga kembali menghentikannya, kali ini dengan nada yang lebih dingin dan penuh perhitungan.“Dua kali pernikahanmu harus batal, kau yakin Justin benar-benar menginginkanmu?” Riga menyesap kopinya tanpa menoleh ke Sofia.Langkah Sofia terhenti, tapi detak jantungnya berpacu. “Selama ini kau memata-mataiku?”“Ya,” jawab Riga tanpa jeda dan rasa bersalah. Tak ada yang perlu ditutupi lagi. “Sejak perjodohanmu dengan Justin diumumkan.”“Gila. Kau benar-benar sudah gila, Riga.”“Kamu yang gila, membiarkan dirimu menjadi tumbal.”Sofia terdiam, tidak menampik tuduhan itu.“Aku tahu perjodohanmu dengan Justin bukan tentang cinta. Tapi tentang Baskara Energy yang di a
Meski tidur larut malam, Sofia tetap bangun pagi seperti biasanya.Betapa terkejutnya Sofia, saat mengetahui tak sampai empat jam setelah tombol submit ditekan, sebuah email masuk.“Nexus Gateway?”Sofia mencoba mengingat-ingat. Nama itu terasa asing namun berkuasa. Sebuah raksasa baru di dunia teknologi finansial yang tiba-tiba membukakan pintu lebar-lebar untuknya dengan tawaran kontrak yang sangat menggiurkan.Sofia tahu ini tidak wajar. Tapi, rasa putus asa untuk lepas dari cengkeraman Wira dan Justin jauh lebih besar daripada rasa curiganya.Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, kini Sofia sudah berdiri di depan Gedung Nexus Gateway. Sofia melangkah masuk, memaksakan kepalanya tegak meski bekas tamparan semalam masih menyisakan rona tipis yang ia tutupi dengan concealer tebal.Di lantai teratas, Gerry, asisten pribadi Riga, menempelkan ponsel ke telinganya dengan wajah cemas. Panggilan itu langsung diangkat pada nada kedua.“Bos, target sudah di lobi. Dia sedang menuju ru
Bukan tanpa alasan Wira memberi syarat agar Sofia harus sudah menikah dalam waktu satu bulan.Investor dan dewan komisaris membutuhkan kepastian dan stabilitas keluarga Aditama. Siapa pun suaminya, yang penting Sofia terikat dalam pernikahan yang sah secara hukum untuk mengamankan posisi saham.Selain itu, Wira sangat mengetahui kehidupan pribadi putri sulungnya. Sofia tidak memiliki teman, baik laki-laki maupun perempuan. Saat masih kecil dia fokus belajar, dan sekarang fokus pada perusahaan.Hanya satu teman laki-laki Sofia yang Wira kenal, Bara. Tapi Wira sangat yakin putrinya mustahil menikah dengan sahabatnya yang berprofesi sebagai pengacara tersebut.“Sebenarnya Papa ada dendam apa dengan kelahiranku di dunia?” Suara Sofia bergetar, bukan karena takut, tapi amarah yang sudah lama mengendap. “Mengapa Papa sangat ingin menghancurkan hidupku?”Wira terdiam mendengarkan kalimat pedas dan sorot mata tajam putrinya yang terasa menelanjangi nurani. Sebagai orang tua dia sadar terlalu
Ucapan Sofia bukan sekadar penolakan yang menginjak harga diri, tapi badai yang akan menghancurkan semua rencana Justin.Cinta Justin memang untuk Selena yang mampu menjadi candu dan pelampiasan hasratnya. Sebagai pengusaha, dia realistis cinta tidak mampu membayar utang dan memperbesar perusahaannya, dan menikah dengan Sofia adalah kesepakatan yang sangat menguntungkan.“Hubungan kita tidak bisa dilanjutkan,” ucap Sofia dengan nada datar, tatap matanya dingin pada buket bunga pemberian Justin yang terlihat layaknya sampah.“Kenapa?” Justin menatap dengan wajah memelas. “Sekali lagi aku minta maaf atas kejadian kemarin. Semua terjadi begitu cepat, aku tidak mungkin membiarkan Selena terluka di pinggir jalan… karena dia adikmu.” Demi sebuah tujuan besar, Justin rela merendahkan harga dirinya.Sofia tersenyum menyeringai dengan tatapan tajam, semakin muak dengan kepalsuan Justin. “Kau tidak capek terus bersandiwara?”Justin terdiam, menyadari Sofia tidak main-main dengan ucapannya.“Hub
“Selena...” Wira langsung menghambur, memeluk putrinya. “Mana yang sakit?”Selena, yang masih bersandar di dada Justin, melepaskan pelukan pria itu perlahan. Ia menyambut pelukan papanya dengan wajah yang sengaja dibuat lesu.“Selena baik-baik saja, Pa. Untung tadi ada Kak Justin yang menolong.”Wira menghela napas lega, mengusap puncak kepala Selena berkali-kali memastikan keadaannya baik-baik saja.Setelah yakin Selena aman, tatapan Wira beralih pada Justin yang berdiri di sisi ranjang. Tak ada kilat curiga, tak ada pertanyaan mengapa calon menantunya itu justru berada di rumah sakit, bukan pelaminan. Baginya, kehadiran Justin adalah bentuk kepedulian yang wajar.“Justin, kebetulan kau di sini,” ujar Wira, dengan suara kembali berat dan berwibawa. “Tadi Sofia bilang dia akan ke rumah sakit dan memberi kabar. Tapi dia tidak memberi kabar apa pun, pulang-pulang bilang ingin membatalkan pernikahan kalian. Selamanya.”Rahang Justin mengeras sesaat, namun ia segera memasang raut wajah pr







