Beranda / Romansa / Dalam Jerat Tuan Maverick / Kisah yang Tak Direncanakan

Share

Dalam Jerat Tuan Maverick
Dalam Jerat Tuan Maverick
Penulis: Ruimoraa

Kisah yang Tak Direncanakan

Penulis: Ruimoraa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-20 18:45:36

Lounge eksklusif di lantai atas sebuah gedung pencakar langit tampak riuh oleh tawa dan gelas berdenting. Lampu temaram menggantung rendah, menyinari wajah-wajah muda berjas mahal dan gaun berkilau. Aroma wine mahal bercampur dengan parfum kelas atas, membentuk atmosfer yang konon disebut elite.

Di pojok ruangan, duduk seorang pria muda yang tak mencoba mencuri perhatian, namun justru sorot mata orang-orang di sana tak bisa luput darinya. Maverick Langston Stonewell, pewaris perusahaan Stonewell Technology, perusahaan rintisan keluarga yang bergerak di bidang pengembangan perangkat lunak dan solusi teknologi keamanan digital. Di bawah kepemimpinannya, Stonewell Technology berkembang pesat menjadi salah satu pemain utama di industri teknologi, terkenal dengan inovasi produk yang selalu di depan zaman.

Dengan latar belakang bisnis yang penuh tekanan dan tuntutan tinggi dari keluarganya, Maverick tumbuh menjadi sosok yang ambisius dan penuh determinasi. Sikapnya yang keras dan karismatik membuatnya disegani sekaligus ditakuti, terutama dalam lingkaran bisnis dan sosialnya. Selain itu, Maverick memiliki reputasi sebagai tuan muda yang tak segan mematahkan lawan-lawan yang menghalangi jalannya.

Maverick bukan hanya sekadar pewaris perusahaan Stonewell Technologies, tetapi juga seorang pria yang selalu mendapatkan apapun yang ia inginkan dengan cara apapun. Maverick merupakan sosok pria yang memancarkan energi panas, bukan sekadar dari segi fisik, melainkan juga dari caranya berinteraksi dan menghadapi segala sesuatu.

Ia mempunyai daya tarik liar dan spontan yang terkadang membuat orang lain tertantang sekaligus was-was. Namun di balik itu semua, ada sisi kontrol dan ketegasan yang membuatnya tetap dihormati. Sifat yang dimilikinya membuatnya menjadi pusat perhatian, sekaligus menimbulkan dinamika yang kuat di lingkungan sekitarnya.

Sorot mata laki-laki itu menatap kosong pada keramaian yang tak benar-benar ia pedulikan. Tangan kirinya masih menggenggam gelas kristal yang sebelumnya berisi bir. Matanya perlahan melirik tajam ke arah kiri ketika seseorang menepuk bahunya.

"Banyak pikiran, bro? Serius banget tuh muka," goda Bima seraya tertawa. Maverick diam, malas menanggapi perkataan Bima.

Perlahan Dewa bergabung, duduk di samping Maverick dan merangkulnya. "Santai, bro. Nih, hadiah dari kami semua. Udah gue bookingin kamar. Special treat, dan lo bakal suka."

Maverick menyipitkan matanya, menatap kartu akses yang disodorkan padanya. "Lagi?" tanya Maverick yang sejujurnya merasa muak.

"Yang kali ini beda, percaya sama gue! Lagian playboy kelas atas kayak lo ga akan pernah ngerasa puas, kan? Haha! Udah sana berangkat!" ucap Dewa seraya menepuk-nepuk bahu Maverick.

Maverick tak langsung menanggapi mereka yang mengaku sebagai temannya itu. Mereka yang sering muncul saat senang dan hilang saat Maverick dalam keadaan kacau. Teman yang manis di permukaan saja.

Maverick menghela napas berat, lalu berdiri dan berbalik dengan kartu akses yang sudah ia bawa. Ia pikir, tak ada salahnya mencoba suasana baru dengan tidur di hotel baru.

---

Hotel yang dituju bukanlah tempat murahan, namun jelas bukan selera Maverick. Hotel yang mereka pilih ternyata tak sekelas dengan omongan mereka, begitu pikir Maverick.

Begitu pintu kamar dibuka, Maverick langsung menahan napas ketika aroma sintetis menusuk hidungnya. Seperti campuran parfum murahan dan pendingin ruangan yang filternya tak diganti. Dinding-dindingnya terlalu sempit, dengan wallpaper motif bunga merah muda. Ranjang berseprai satin merah terang memantulkan cahaya dari lampu neon biru yang redup dan murahan. Ada cermin besar di atas kepala ranjang, dan dua gelas wine yang entah sudah dipakai atau belum. Melihat itu, senyum miring terbentuk di wajahnya.

"B*jingan...," gumamnya pelan. Ia menarik napas, mengusap wajahnya, lalu berbalik dan keluar tanpa menoleh lagi.

Setelah tiga puluh menit berlalu, sebuah mobil Aston Martin DBS Superleggera berhenti mulus di depan lobi hotel The Ardente. Catnya yang gelap berkilau samar di bawah lampu temaram, memantulkan siluet malam dengan elegansi yang dingin sekaligus mengancam.

Begitu pintu terbuka, aroma maskulin samar menyusup keluar bersama Maverick yang turun dari balik kemudi. Rambut hitamnya berantakan terkena angin, namun justru semakin menegaskan sisi liar yang tak bisa dijinakkan darinya.

Hotel VVIP langganan Maverick berdiri megah di pusat kota. Pintu masuknya sunyi, tak ada keramaian, tak ada wartawan. Hanya petugas berbaju gelap yang langsung mengenali mobil miliknya dan membukakan pintu dengan cepat. "Selamat datang kembali, Tuan Maverick."

Maverick hanya mengangguk singkat tanpa senyum. Ia yang sudah hafal dengan jalannya, langsung menuju lift privat menuju lantai tertinggi. Tempat di mana ia bisa melarikan diri, atau mungkin, menunggu badai berikutnya datang menghantam.

Maverick mengeluarkan kartu dari dalam dompetnya. Kartu akses kamar itu tak seperti milik tamu hotel biasa. Permukaannya hitam matte dengan sentuhan emas di pinggiran yang nampak elegan, mewah dan berkelas. Di tengahnya terukir logo hotel dengan pola timbul halus, yang hanya terlihat jika tertimpa cahaya. Tak ada nomor kamar, hanya chip kecil tersembunyi di balik material logam ringan yang terasa dingin saat disentuh.

Begitu Maverick menggesekkan kartu itu di panel pintu, terdengar bunyi bip lembut disusul dengan suara klik otomatis. Pintu kamar terbuka mulus, memperlihatkan interior VVIP suite yang menandakan tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam ruang seperti itu.

Maverick membuka kancing kemeja atasnya, lalu menggulung lengan kemejanya hingga ke siku, memperlihatkan guratan tato rantai putus yang membelit lengan kirinya. Hitam pekat, tajam, seolah menyimpan kisah kelam yang tak pernah benar-benar sembuh. Saat ia bergerak, sedikit bagian dada kirinya terlihat, di sana terpatri gambar jam rusak tanpa jarum, retak di tengahnya, seolah waktu pernah berhenti untuknya.

Dengan langkah malas, ia membuka kulkas mini dan mengambil sebotol bir. Ia duduk di kursi balkon, menghadap jendela besar yang basah oleh embun malam. Asap rokok tipis menyelip dari bibirnya, dan tatapannya kosong menembus gelap. Dingin malam tak ada apa-apanya dibanding dingin di dadanya.

Matanya melirik pada ponselnya yang bergetar. Nama kakeknya muncul di layar. Ia menatap nama itu cukup lama, lalu menolak panggilan itu.

Hujan turun deras di luar kaca besar kamar hotel VVIP itu. Lampu temaram berpendar hangat di antara lekuk desain interior bergaya klasik modern, menciptakan nuansa sunyi yang nyaris membius. Maverick menatap rokok dan botol birnya yang tinggal setengah dengan pikiran kalut. Ancaman dari kakeknya tentang pernikahan, tekanan bisnis dan kebohongan orang-orang sekitarnya mulai menggerus ketenangannya.

Ia kembali menenggak birnya. Sebanyak apapun yang ia minum, tetap tak bisa menenangkan isi kepalanya yang riuh. Dan malam pun larut dengan Maverick yang mabuk sendirian, tenggelam dalam kemewahan dan kekosongan yang tak bisa dibayar dengan uang.

---

Julia berlari tergopoh-gopoh di lorong, napasnya mulai terengah-engah. Hatinya berdegup kencang, bukan hanya karena kelelahan, tapi juga karena ketakutan yang terus menggerogoti. Ia mencoba menghindar, mencari tempat untuk bersembunyi, berharap bisa menghilang dari jeratan ayahnya yang menjualnya kepada rekan bisnis yang kejam. Kepanikan dan rasa takut menyelimuti pikirannya.

Julia melirik pada suatu pintu yang dibiarkan terbuka, ia memberanikan diri mengintip ke dalamnya. Ketika memastikan kamar itu kosong, ia masuk ke dalam dan bersembunyi di belakang pintu.

Langkah berat Maverick yang baru saja kembali ke kamar berhenti sejenak di lorong kamar hotel VVIP. Matanya tertuju pada pintu kamarnya yang masih sedikit terbuka, dan dari celahnya, ia melihat sosok perempuan muda bersandar di balik pintu.

Maverick masuk perlahan, membuat perempuan yang berada di balik pintu terkejut menatapnya. Mata tajam Maverick yang terasa setajam pisau menyapu dari ujung rambut sampai ujung kaki Julia.

Rambut perempuan itu terurai acak-acakan, sebagian menempel di pelipis yang basah oleh keringat. Mata besarnya terlihat cemas namun tetap jernih, dengan bayangan air mata yang belum jatuh. Struktur wajahnya lembut, rahangnya mungil namun tegas, hidungnya mancung kecil dengan ujung yang sedikit memerah karena dinginnya AC kamar. Bibirnya merekah tipis, pucat namun tetap indah. Sekilas, wangi tubuhnya sempat menyusup samar.

"M-maaf, aku ikut bersembunyi sebentar..." ucap Julia gemetar, jelas sekali ia ketakutan.

Mata Julia membelalak ketika mendengar suara rekan kerja ayahnya yang berteriak memanggil namanya. Dengan cepat ia menarik lengan Maverick membuat laki-laki itu kini masuk ke dalam. Segera setelahnya, Julia menutup pintu dan menempelkan kupingnya pada pintu, merasakan setiap gerakan yang terjadi di luar sana.

Melihat itu, Maverick mengerutkan keningnya. "Who the hell are you?" tanya Maverick, suaranya serak oleh alkohol.

Maverick menatap Julia dengan tatapan dingin yang biasanya ia gunakan saat menghadapi 'perempuan pesanan' dari temannya. Ia yakin ini hanyalah salah satu trik untuk memikatnya, menjebaknya, lalu menjatuhkannya.

Julia menoleh perlahan, lalu sedikit berbisik seraya menghapus jejak air mata di pipinya. "Maaf... aku tidak punya tempat lain untuk bersembunyi. Aku akan segera keluar setelah dia pergi," jelas Julia, suaranya masih terdengar gemetar.

Maverick tersenyum simpul, memikirkan trik baru yang busuk dari seseorang yang lagi-lagi menjual tubuhnya demi uang. Yah meski ada yang berbeda dari permainan kali ini. Perempuan itu tidak bersikap manja, tidak menggoda, bahkan tampak berusaha menjaga jarak.

Julia diam menatap Maverick yang berbalik dan berjalan ke arah sofa, berharap Maverick adalah laki-laki baik yang akan memberinya pertolongan. Laki-laki itu duduk dengan santai, tubuhnya bersandar malas, kakinya dibiarkan terbuka cukup lebar. Kemeja hitamnya yang terbuka beberapa kancing memperlihatkan sebagian dadanya, dan di sana, tepat di dada kiri, Julia dapat melihat dengan jelas tato jam rusak berbalut bunga kecil yang samar terlukis di sela-sela garis tegas tinta hitam.

Julia menelan ludah, pandangannya sempat terpaku. Tato di lengan pria itu tadi masih bisa ia maklumi, banyak laki-laki punya tato seperti itu. Tetapi ketika melihat tato di dada laki-laki itu, ada sesuatu yang membuat perutnya sedikit mengerut. Sekilas, ia ragu. Apakah laki-laki ini benar-benar orang baik? Atau justru sebaliknya, seseorang yang terlalu berbahaya untuk dimintai bantuan?

"Sini," titah Maverick terdengar dingin, sama seperti tatapannya yang juga menatap dingin pada Julia.

Julia memainkan jemarinya, menatap arah lain karena merasa ragu untuk mendekati Maverick.

"Aku bilang ke sini," ulang Maverick, suaranya berat dan tak terbantahkan.

Dengan langkah ragu, Julia mulai mendekat. Ia pikir laki-laki ini akan marah, memintanya membayar kompensasi karena masuk ke kamar orang lain sembarangan dan menyuruhnya pergi. Namun mata Maverick mulai menganalisis, menatap Julia dari ujung kepala hingga kaki, membuat Julia merasa sedikit tak nyaman.

"Biasanya..." Maverick menahan perkataannya, membuat Julia kini menatapnya dengan serius, menunggu kalimat berikutnya.

"Perempuan yang masuk ke kamar ini tahu harus melakukan apa," sambung Maverick seraya memainkan gesper sabuknya perlahan.

Julia membeku seketika, memproses perkataan Maverick barusan. "Maaf?"

Tangan Maverick perlahan membuka gesper sabuknya dan menarik sabuk kulit itu hingga terlepas sepenuhnya dari celana hitam yang saat ini ia kenakan. "Puaskan aku," titah Maverick dengan santai, ia menatap wajah pucat Julia dengan senyum tipis.

"Kenapa diam saja? Cepat! Bukankah teman-temanku yang mengirimmu ke kamar ini?" ucap Maverick setengah muak.

"Jangan sembarangan kalau bicara! Aku bukan perempuan seperti itu," sahut Julia dengan tegas. Getar dalam suaranya tetap tak bisa disembunyikan.

Maverick berdiri, mendekat pada Julia dengan dagu sedikit terangkat seolah menantang. Matanya tak lepas dari sosok perempuan yang berdiri tak jauh darinya, menguji seperti biasa. Ketika Maverick menyentuh jemari Julia, perempuan itu spontan menepis tangan besar Maverick. "Jangan sentuh aku!" pekik Julia membuat Maverick merasa sedikit heran.

"Hoo, sekarang cara mainnya begini, ya?" Julia mengerutkan keningnya mendengar perkataan Maverick, masih tak mengerti dengan apa maksudnya.

"Bukankah seharusnya, kamu bersimpuh di hadapanku dan..." Maverick memajukan wajahnya, mendekat pada Julia. Dengan nakal, ia menjilat bibirnya sendiri lalu tertawa, membuat Julia bergidik menatapnya.

Julia mundur satu langkah. Wajahnya tegang, matanya berkaca-kaca namun ia tetap berdiri dengan tegak. "Aku bukan perempuan seperti itu! Aku hanya butuh tempat untuk sembunyi. Hanya itu." Maverick menyeringai melihat mata tajam Julia yang kini tertuju padanya. Dan baginya, ini cukup menarik. Ada rasa penasaran dalam dirinya yang tiba-tiba menyala.

Julia segera berbalik, berlari cepat menuju pintu kamar. Langkah besar Maverick dengan cepat menyamai langkahnya dengan Julia, ia mengeluarkan kartu akses dari saku celananya lalu menekankan kartu itu ke panel sensor. Suara 'bip' singkat terdengar, disusul dengan lampu indikator berkedip merah, menandakan pintu sudah terkunci.

Maverick menjatuhkan kartu itu ke lantai, meluncur halus di lantai marmer, berhenti hanya beberapa sentimeter dari kaki Julia. Tanpa pikir panjang, Julia membungkuk untuk meraih kartu itu. Namun sebelum jari-jarinya menyentuh kartu, lengan kokoh Maverick melingkar di pinggangnya dari belakang dan menarik tubuhnya ke dalam pelukan lelaki itu.

"Pintunya sudah terkunci," bisik Maverick. Suaranya dalam, pelan, namun menggetarkan. Napas hangatnya menyapu sisi wajah Julia. "Dan sekarang, kamu milikku sampai aku bilang selesai."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dalam Jerat Tuan Maverick    Dalam Jangkauannya

    Besoknya di kantor, Maverick tampil seperti biasa. Gagah, berwibawa, namun dengan sorot mata yang berbeda. Tatapannya ke arah Julia terasa lebih dalam, seperti ada lapisan intensitas tak kasatmata yang hanya bisa dirasakan oleh Julia sendiri. Terkadang lelaki itu berdiri di pintu ruangannya, tampak seperti meninjau aktivitas sekitar, padahal matanya fokus hanya ke satu titik, Julia. Ia sengaja berdiri di sana lebih lama, memperhatikan cara Julia mengatur rambut, mengetik, bahkan sekadar mengambil pulpen.Julia yang duduk di meja luar ruang presdir, mengetik laporan dengan tenang, meski dadanya terasa sesak. Bukan karena tugas yang berat, namun karena ia sadar, ia sedang diawasi. Saat ia mengangkat kepala, mata mereka sering sekali bertemu. Tatapan itu membuat Julia menegang. Ia buru-buru kembali fokus ke layar komputer, pura-pura tak terganggu. Suasana kantor terasa semakin aneh bagi Julia. Maverick mungkin tak pernah terang-terangan, namun selalu hadir di radius terdekatnya. Di teng

  • Dalam Jerat Tuan Maverick    Kamu Punya Nyali untuk Pergi?

    Ruangan kerja Maverick siang itu terasa lebih hening dari biasanya. Arga duduk di seberang meja, sambil membahas laporan mingguan. Selesai urusan, Maverick sempat diam beberapa detik sebelum akhirnya bertanya pelan tanpa menoleh. "Si sekretaris baru... siang ini dia ngapain?"Arga yang sedang berdiri sambil merapikan dokumen, menjawab dengan santai, "Siang ini gue ajak makan siang bareng. Sekalian mau gue jelasin detail kerjaannya, apa aja yang harus dia urus tiap harinya."Maverick berhenti menulis. Ujung penanya terhenti di atas kertas, tidak bergerak. Nadanya datar namun ada sedikit ketegangan terselip. "Berdua doang?""Iya," jawab Arga tanpa curiga. "Biar dia ga kaku juga kerja di sini. Kasihan kan, anaknya kayaknya canggung banget."Maverick tak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan dengan ekspresinya yang tetap dingin. Namun sebenarnya, darahnya mendidih."Ngapain juga harus berdua? Emang harus sambil makan siang? Kenapa ga ngobrol di sini aja??"Mata Maverick sempat melirik jam d

  • Dalam Jerat Tuan Maverick    Jejak di Hidungku

    Lantai atas gedung Stonewell Technology selalu sunyi. Monitor menyala di meja, kode dan data real-time terus mengalir di layar, serta aroma kopi premium sudah menjadi bagian dari atmosfer. Namun hari ini, fokus Maverick terpecah oleh seseorang di luar ruangannya. Julia duduk di meja resepsionis eksekutif, tepat di depan ruang kerja Maverick. Maverick memijat pelipisnya, berpikir mengapa tak sejak lama ia mengganti tembok ruangannya dengan kaca, jika begitu ia dapat melihat Julia kapanpun ia mau. Ruang kerja yang tertutup rapat itu seakan menjadi kotak pengurung pikirannya. Biasanya fokusnya tajam, namun pagi ini entah mengapa layar monitor terasa kabur, dan tumpukan dokumen terasa lebih berat dari biasanya. Pikirannya terus melayang ke luar, ke seseorang yang kini hanya terpisah satu tembok darinya.Maverick yakin perempuan semalam itu Julia. Caranya menghindar pagi ini, diamnya, semua semakin memperkuat keyakinan itu. Tapi kenapa harus diam? Kenapa seolah tak terjadi apa-apa?Suara

  • Dalam Jerat Tuan Maverick    Wajah yang Tak Asing

    Langkah Maverick memasuki lobi kantor langsung menarik perhatian semua yang ada di sana. Aura pria itu begitu dominan, seperti gelombang kekuatan yang mengalir tanpa perlu ia berteriak. Tatapan tajam dan sikap percaya diri yang nyaris mengintimidasi membuat ruangan yang luas itu seakan menyusut. Para pegawai, terutama wanita, tak bisa menahan pandangannya, terpesona sekaligus sedikit waspada.Di belakang Maverick, Arga melangkah dengan cara yang berbeda. Aura Arga lebih hangat dan mudah didekati, namun tetap ada kekuatan di balik kelembutannya. Senyumnya yang tulus dan sikapnya yang rendah hati membuat suasana jadi sedikit lebih ringan. Ia bukan hanya sebagai ajudan, tapi juga pelindung sekaligus teman yang bisa diandalkan.Maverick dan Arga melangkah menuju kantor presiden direktur, sebuah ruangan besar yang berada di lantai paling atas. Di dalam, ada meja kerja besar berdesain modern, kursi kulit hitam yang kokoh dan rak buku yang rapi dengan koleksi dokumen dan barang pribadi Maver

  • Dalam Jerat Tuan Maverick    Malam yang Mengubah Segalanya

    "Ohh... God... Kenapa mereka ga pernah bilang rasanya bisa senikmat ini," erang Maverick, menyadari betapa nikmatnya penyatuan yang ia rasakan saat ini.Julia mencengkeram punggung Maverick dengan kuat, air mata dan keringat bercampur menjadi satu membasahi wajahnya. Maverick mengangkat kepalanya, lalu mengecup ujung mata Julia yang berair. Laki-laki itu dengan santai mengibas-ngibaskan rambutnya yang mulai lembab, membiarkan helaian gelap itu terurai bebas.Maverick menyandarkan dahinya ke pundak Julia, napasnya masih terasa berat dan panas, namun ada senyum tipis di bibirnya. "Panggil namaku, Lia…" bisiknya rendah, serak dan dalam.Julia yang masih setengah sadar dan terbuai, menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya memanggil. ".. Martin…"Maverick menghentikan gerakan pinggulnya, ia mengangkat kepalanya dan menatap Julia dengan tajam, rahangnya mengeras."Apa?" Julia membuka matanya perlahan ketika suara itu terdengar dingin, tegas dan menekan."Maverick," ucap Maverick terdengar

  • Dalam Jerat Tuan Maverick    Kesalahan yang Menggoda

    Julia menggigit bibir bawahnya, tangannya mengepal, berusaha tetap tegar. "Sepertinya ada salah paham di sini, aku bukan perempuan bayaran seperti yang kamu maksud!" ucap Julia seraya berusaha melepaskan pelukan Maverick darinya.Maverick menghela napas pendek, ia menghirup aroma parfum dari belakang telinga Julia yang menguar samar. Terasa hangat, woody dan memabukkan. "Aneh," ucap Maverick pelan, "Perempuan lain, ketika ada di posisi kamu saat ini, mereka akan langsung memulai permainan. Mereka suka ketika aku begini. Tapi kamu…"Mata tajam Maverick melirik wajah Julia, menelusuri ketegangan di rahang perempuan itu, menelusuri sorot penuh amarah dan ketakutan di mata perempuan itu. ".. Kamu membuatku penasaran."Maverick sedikit memiringkan kepala, mengamati Julia seolah mencoba membaca pikirannya. Julia kembali mencoba melepaskan diri, namun tenaganya jauh dari kata cukup."Aku bisa membayar dua kali, tiga kali, ah bahkan sepuluh kali lipat dari yang teman-temanku berikan, tapi...

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status