LOGINDibaringkannya tubuh Dellza di tempat tidur. Melihat gadis itu terpejam dan bernapas begitu tenang membuat Altherr ingin memperhatikannya lebih lama. Pria itu duduk di tepi ranjang dan tersenyum menatap wajah manis Dellza Leuzinger. Dengan lembut, ia mengusap wajah gadis itu dan membelai rambut panjangnya. Altherr tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Dalam waktu singkat, hasratnya telah terpaku pada gadis yang seharusnya dia musuhi, mengingat Dellza adalah kekasih Theo Burckhalter.
Tiga pengawal dan Moses yang berada di luar kamar tidak bisa berbuat apa-apa ketika Dellza terus-menerus menggedor pintu. Gadis itu berteriak meminta mereka membukakannya. Pius hanya bisa mengawasi dari kejauhan, bersembunyi di balik pilar. Ia ingin sekali menenangkan Dellza, tetapi para pengawal telah melarangnya mendekati gadis itu, sementara Pius sendiri takut kepada Altherr. Di balik pintu, Dellza masih menggenggam gagangnya meskipun usahanya terasa sia-sia. Ia benar-benar stres. Begitu siuman, pikirannya langsung kembali pada suara tembakan yang didengarnya dan sosok Jarvis yang menjadi korbannya."How could you be such a bastard!" rutuk Dellza dengan geram. "Menembak keluargamu sendiri dan membuatku pingsan. Apa dia juga punya obat selain obat bius?! God! Oh, ponselku?"Dellza menjauh dari pintu dan bergegas menuju tempat terakhir kali ia meletakkan ponselnya. Namun, benda itu tidak ada di sana. Ia terus mencarinya di setiap sudut kamar hingga keadaan ruangan
Mereka berdua tiba di ruang keluarga. Jerome tampak sedang memainkan ponselnya di sofa tunggal. Ia mematikan ponselnya ketika melihat kedatangan Altherr, lalu menyambut sahabatnya itu dengan senyum ramah. Altherr duduk di samping Ben, sementara Ben memanggil pelayan dan memerintahkannya untuk menyiapkan minuman. Tak lama kemudian, Alan dan Julia Samuelson datang. Julia adalah seorang ibu yang memiliki senyum ramah, mirip dengan Jerome. Ia menghampiri Altherr, membelai pipinya dengan lembut, lalu duduk di samping suaminya. Tidak lama berselang, Caroline tiba dengan penampilan seksi seperti biasanya. Di antara semua orang yang berada di ruangan itu, Altherr adalah orang pertama yang diliriknya. Namun, pria itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya."Hi, sexy one!" sapa Ben dengan senyum lebar saat melihat Caroline.Caroline menoleh kepadanya dan membalas sapaan itu dengan senyuman."Hi, Caroline!" sapa Julia dengan ramah. "Kau tampak cantik sekali."
Dibaringkannya tubuh Dellza di tempat tidur. Melihat gadis itu terpejam dan bernapas begitu tenang membuat Altherr ingin memperhatikannya lebih lama. Pria itu duduk di tepi ranjang dan tersenyum menatap wajah manis Dellza Leuzinger. Dengan lembut, ia mengusap wajah gadis itu dan membelai rambut panjangnya. Altherr tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Dalam waktu singkat, hasratnya telah terpaku pada gadis yang seharusnya dia musuhi, mengingat Dellza adalah kekasih Theo Burckhalter. Keluarga Goncalve terbiasa melibatkan orang-orang terdekat Burckhalter sebagai bagian dari balas dendam mereka. Namun, kali ini Altherr harus menyimpang dari tradisi Goncalve, setidaknya demi Dellza. Seandainya gadis itu masuk dalam daftar orang yang harus dibunuh sebagai bagian dari balas dendam, kematian pasti menjadi tujuan utamanya."Gadis biasa ini membuatku menyimpang dari jalurku. Namun, aku masih bisa menjadikannya pion untuk balas dendam," gumam Altherr. "Merebutnya dari
Altherr menegakkan tubuhnya dan membenarkan jasnya. "Kau tidak bisa menerimaku karena hatimu telah diduduki seseorang. I can feel it," ujarnya sambil menatap Dellza lekat-lekat.And you don't want to understand me. Setidaknya, pahamilah bahwa aku tidak menginginkanmu, batin Dellza.Ia kembali duduk sambil menundukkan kepala yang terasa semakin berat. Semua masalah yang menimpanya membuat pikirannya terasa sesak."Beritahu aku siapa pria itu, sayang," ucap Altherr sembari mengembuskan napas dan menyunggingkan senyum tipis.Never mind.Miliarder itu tidak peduli dengan perasaannya. Kini, Dellza berada dalam genggamannya, dan ia tidak akan melepaskannya begitu saja.Begitu Altherr pergi, Dellza bergegas mengunci pintu kamarnya. Setelah itu, ia menghampiri meja, meraih vas bunga, lalu melemparkannya hingga pecah berkeping-keping. Ia bersandar pada meja dengan kedua tangan berpegangan erat di tepinya.Masalahku bukan hanya pe
Area belakang mansion menjadi tujuan Ulrich. Pria tua itu melangkahkan kaki menyusuri jalan menuju kolam renang. Altherr yang sedang berenang menyadari kedatangan sang kakek. Ia pun berenang ke tepi kolam."What's up, old man?" tanya Altherr sambil menyibakkan rambut basahnya ke belakang."I wanna talk to you," jawab Ulrich serius."Later. Lemme finish this," balas Altherr sebelum kembali berenang."Right now!" tegas Ulrich, membuat cucunya menghentikan gerakan.Altherr tak bisa menolaknya lagi. Ulrich tampak serius, seolah ada sesuatu yang mendesak untuk dibicarakan. Altherr pun menurut. Ia keluar dari kolam, mengeringkan tubuh dengan handuk, lalu mengenakan jubah mandi.Ulrich menatap cucunya sebelum melontarkan pertanyaan yang sejak tadi mengganjal pikirannya. "Apa kau tidak bisa membatalkan keinginanmu untuk menikahi Dellza? Aku melihatnya menangis," ujarnya dengan nada penuh kekhawatiran.Altherr tersenyum hambar. "
Beberapa menit kemudian... Dellza menghempaskan tubuhnya ke kasur. Matanya menatap langit-langit kamar. Jadi, Jarvis bukan ayah Altherr yang sebenarnya. Itulah kenapa sikap Altherr sangat kasar pada Jarvis; cara dia bicara dan kejadian di XOV masih terngiang-ngiang di benaknya. Kenapa Jarvis berani mengatakan itu dan menciumnya di depan Altherr? "SHE IS MINE, MOTHERFUCKER!" "SHE IS MINE." "SHE IS MINE." Tiga kata itu berputar di otaknya. Dellza menekan kepalanya dengan tangan. Ucapan Altherr semakin menambah beban pikiran. Dellza baru saja selesai mandi. Ia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi dan rambut yang terbungkus handuk. Ponselnya berdering menandakan ada satu panggilan masuk. Dellza meraih ponselnya di atas kasur. Johnny, sahabat laki-lakinya, menghubunginya pagi ini. Gadis itu lantas menerima panggilan tersebut. "Hal—" ucapannya terputus dan ekspr







