LOGINBAB 89: Keraguan yang MerayapKata-kata Novia bagaikan racun yang menjalar pelan namun mematikan di dalam benak Bilqis. Begitu pintu ruang kerja Andika tertutup rapat setelah Novia dan Roy melangkah pergi, keheningan yang menyisakan kehampaan luar biasa langsung menyergap wanita muda itu.Bilqis melangkah gulai menuju sofa, lalu meluruhkan tubuhnya di sana. Pandangannya kosong menatap lantai marmer yang mengilap. Suara tajam Novia terus bergaung tanpa ampun di dalam kepalanya: “Apa kamu tega melihat pria yang kamu cintai kehilangan gelar, karier, dan harga dirinya hanya karena mempertahankan pernikahan siri ini?”"Mas Andika..." bisik Bilqis dengan suara serak, tercekik oleh rasa bersalah yang teramat dalam.Pria itu telah memberikan segalanya untuk melindungi hubungan mereka. Kecupan hangat di keningnya tadi di hadapan orang tuanya adalah bukti betapa beraninya Andika berdiri memasang badan. Namun, justru keberanian tanpa pamrih itulah yang kini menusuk dada Bilqis. Andika terlal
BAB 72: Alibi Pandangan mata Andika tetap tenang, tak ada sedikit pun riak kegugupan yang terpancar dari wajah tegasnya. Dengan gerakan elegan, ia meletakkan serbet kain ke atas pangkuannya, lalu menyunggingkan senyum tipis—senyum profesional yang biasa ia gunakan saat menghadapi pertanyaan kritis dari para wartawan atau jajaran direksi."Mama tahu sendiri, zaman sekarang edukasi kesehatan bukan cuma dilakukan di dalam ruang praktik," buka Andika dengan suara berat nan mantap. "Pihak marketing produk nutrisi kehamilan itu menawarkan kontrak endorsement resmi dengan nilai yang sangat fantastis untuk akun profesional Dokter Andika dan promosi terpadu di RSIA Kiera."Papi Roy yang mendengarnya langsung mengangguk-angguk paham, ketertarikan tampak jelas di raut wajahnya. "Oh, jadi kamu ambil project endorsement produk medis juga, Dika?""Iya, Papi," jawab Andika lancar tanpa jeda ragu sedikit pun. "Sebagai dokter spesialis obgyn, Andika punya tanggung jawab moral. Andika tidak mau
BAB 71: Jamuan Makan Malam yang Hangat tapi DinginLampu gantung kristal di atas meja makan bernuansa klasik Eropa itu memancarkan pendar cahaya keemasan yang hangat. Denting sendok dan garpu beradu pelan dengan piring porselen bermerek, menciptakan irama hening di tengah makan malam keluarga yang tampak sempurna dari luar.Andika duduk di salah satu sisi meja, mengenakan kemeja formal berwarna biru gelap yang lengannya dilipat rapi hingga siku. Di hadapannya duduk papi Roy—suami kedua mama Novia—seorang pria paruh baya berpenampilan karismatik yang merupakan sahabat dekat Albert. Sementara di ujung meja, mama Novia duduk dengan keanggunan seorang wanita kalangan atas yang selalu memegang kendali."Dika, Papi dengar dari Albert, laporan keuangan dan performa operasional RSIA Kiera bulan ini melesat naik," buka papi Roy memecah keheningan seraya memotong daging steak di piringnya. "Sistem manajemen baru yang kalian terapkan terbukti efektif memotong biaya operasional tanpa mengura
BAB 70: Hampir SajaSuara derum mesin mobil Novia yang perlahan menghilang di balik pagar depan seketika memutus ketegangan yang sejak tadi menghimpit dada. Keheningan kembali melingkupi area dapur, namun kali ini atmosfernya terasa begitu lengang dan menyisakan sisa-sisa rasa panik yang masih membekas."Huff... Hampir saja." Andika menghembuskan nafasnya dengan kasar.Pria itu langsung menyandarkan punggungnya pada tepi meja pantry, menyisir rambut hitamnya ke belakang dengan jemari yang sempat sedikit tegang. Sarafnya yang biasa terlatih tenang di meja operasi sempat berada di titik kritis saat mata ibunya tertuju tepat pada kotak susu di kabinet.Di sampingnya, Bilqis masih mematung di dekat dispenser. Bahunya yang tadi tegang perlahan merosot, disusul helaan napas panjang yang sarat akan rasa lega. Telapak tangannya yang dingin saling bertaut erat."Mas Dika..." suara Bilqis terdengar lirih, hampir berupa bisikan. "Jantungku rasanya mau melompat keluar tadi. Tante Novia tat
BAB 69: Kecurigaan yang MerebakSuasana ruang makan yang tadinya diliputi canda tawa hangat seketika membeku saat langkah kaki Novia makin mendekat ke area dapur. Wanita tua yang selalu tampil anggun dan berkelas itu mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah tempat tinggal anak laki-lakinya."Mama... kok tidak beri kabar dulu kalau mau datang?" Andika mengulang pertanyaannya dengan nada setenang mungkin, berusaha menutupi keterkejutan di wajahnya seraya melangkah mendekati sang ibu.Novia melepas kacamata hitamnya, meletakkannya di atas meja pantry. Tangannya mengibaskan tas bermerek sebelum menatap Andika dengan kening berkerut halus."Mama habis dari rumah tante Naina, sekalian lewat daerah sini jadi Mama mampir," jawabnya santai. Matanya lalu bergulir menatap Bilqis yang berdiri agak kaku di dekat meja makan. "Eh, ada Bilqis juga di sini? Pagi-pagi sekali kamu sudah di rumah Dika, Qis?"Jantung Bilqis berdesir hebat. Rasa panik sempat merayapi dadanya, namun dengan cepat ia men
BAB 68: Pagi yang TerusikKeheningan malam di kamar utama itu terasa begitu sakral. Pijar lampu tidur yang temaram memantulkan bayangan dua tubuh yang saling menempel erat tanpa jarak. Dinding kamar menjadi saksi bisu bagaimana rasa cinta, kerinduan, dan kepasrahan meluap tanpa lagi dihalangi oleh tembok canggung atau rasa takut akan masa lalu.Jemari tegap Andika menyusup lembut di antara sela-sela jemari Bilqis, menguncinya di atas bantal empuk. Napas pria itu memburu pelan, beradu dengan helaan napas Bilqis yang tak kalah tidak teratur. Setiap sentuhan, kecupan, dan buaian lembut yang diberikan Andika terasa begitu intens—sebuah penyatuan yang tak hanya melibatkan fisik, melainkan juga ikatan jiwa yang kian menguat."Mas..." bisik Bilqis seraya memejamkan mata, memeluk leher tegap suaminya rapat-rapat saat gelombang rasa hangat membuncah memenuhi dadanya.Andika mendaratkan kecupan-kecupan halus di sepanjang garis rahang hingga leher mulus Bilqis, menghirup aroma wangi alami tu







